Sinema Indonesia

3 Hari Untuk Selamanya (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Saturday, 16 of June , 2007 at 12:51 pm

Film kelima Riri Riza adalah road movie tentang dua orang yang sepupuan bernama Yusuf dan Ambar (Nicholas dan Adinia), keduanya baru lulus SMA, yang naik mobil dari Jakarta ke Jogja dengan misi mengantar seperangkat piring dan gelas antik untuk prosesi acara pernikahan kakaknya Ambar. Perjalanan yang seharusnya cuma sehari jadi tiga hari. Tiga hari yang (seharusnya) merubah hidup mereka.

3 Hari Untuk Selamanya (seharusnya) sejiwa dengan film-film yang berjalan karena disetir lebih oleh karakter-karakternya ketimbang plot (bahasa pinternya “character-driven“, katanya sih) yang (seharusnya) menarik penonton ke dalam dunia yang didiami karakter-karakternya dengan atmosfer yang pekat, dengan musik yang menghanyutkan (atau tanpa musik sama sekali) dan ide-ide yang dengan kuat mencuatkan kegelisahan karakter-karakternya. Lihatlah lagi Y Tu Mama Tambien, Lost in Translation, Waking Life, atau (kalau anda beruntung) Chuck & Buck di mana dua dari filmmaker favorit kami, Chris Weitz dan Paul Weitz yang bertanggung jawab atas film-film supercool seperti About A Boy dan American Pie berperan sebagai aktor.

Riri Riza patut diberi pujian karena konsisten membuat film karena ingin menyuarakan sesuatu ketimbang jadi pedagang film dan karena mau mengambil resiko menangani genre di negeri di mana bahkan reviewer dari media paling top saja nge-bash film ini karena “tidak ada ceritanya”.

Riri juga berhak atas kredit karena berhasil membuat road movie yang lebih berhasil ketimbang road movie yang dielu-elukan sebagai salah satu milestone perfilman Indonesia yang berjudul Cinta Dalam Sepotong Roti yang sepretensius judulnya.

Masalahnya, 3 Hari Untuk Selamanya belum berhasil menjadi sajian yang solid. Saat di beberapa sisi oke banget, di sisi lain masih kurang ngaceng.

Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti berhasil menciptakan penampilan duo yang cukup megang, rileks, dan sangat believable. Sayangnya, pilihan para pemain pendukungnya terasa mengganggu. Selain Agus Ringgo Rahman yang lebih over-exposed dari bulu dada Jeremy Thomas (atau lipgloss-nya Jeremy Teti), pemunculan Tarsan sebagai Pak Haji mesum lebih disturbing ketimbang amusing.

Kalau sebagian besar penonton dan reviewer secara koor bilang “flaaaaat…” sebenarnya tidak bisa disalahkan juga. Bahkan momen yang paling berhasil di film ini at best saja masih terasa kayak kopi decaf (sok ye banget dah, gue). Dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalah sutradara dan penulis skenario. Penulis skrip Sinar Ayu Massie sudah cukup cerdas tidak terjebak untuk memberikan Nicholas dan Adinia karakter-karakter yang stereotip. Sekalipun keduanya seharusnya bertolak belakang, yang satu gaul banget dan into free sex, tapi yang lebih tidak gaul tidak digambarkan culun. Tapi dialog-dialog yang diberikan ke mereka lebih bikin geli ketimbang jujur. Bukankah kalimat “orang yang gagal adalah orang nggak pernah mencoba” lebih cocok dibaca di kartu Harvest ketimbang di film yang maunya cerdas dan cool? Justru kami tidak punya masalah dengan dialog-dialog yang katanya remeh temeh, asal sutradaranya bisa membuatnya jadi amusing buat diikuti kayak film Don’t Come Knocking (ada kok di Menteng). Sayangnya, ini yang nggak selalu berhasil dibangun Riri Riza.

Film-film sejenis 3 Hari Untuk Selamanya biasanya, sekalipun di permukaan tenang, mengeluarkan aura dan energi yang dihasilkan dari kegelisahan yang dirasakan dan ingin diventilasikan oleh filmmakernya. Lost in Translation adalah hasil dari kesepian yang dirasakan Sofia Coppola atas perkawinannnya yang gagal bersama Spike Jonze (katanya). Easy Rider adalah kegelisahan Dennis Hopper dan Peter Fonda tentang hidup di Amerika pada jaman itu. Untungnya lagi, kedua film itu didukung oleh soundtrack berisi lagu-lagu berenergi eksplosif. Sayang sekali lagu-lagu Float yang mengisi 3 Hari Untuk Selamanya terlalu nge-float untuk mampu memberi power pada film ini.

Tapi film ini bukan sepenuhnya merupakan kegagalan. Film ini bahkan lebih baik dari Gie dan masih memiliki momen-momen precious, terutama yang dihasilkan dari interaksi Nicholas-Adinia. Dan setelah menyaksikan film-film sampah yang neverending, film ini memberikan setitik pencerahan dan Riri Riza layak diberikan penghargaan untuk mencoba.

Sutradara: Riri Riza
Penulis: Sinar Ayu Massie
Pemain: Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Tarsan, Agus Ringgo Rahman
Produser: Mira Lesmana
Produksi: Miles Films, Sinemart
Durasi: 112 menit

Official Site
Jadwal Tayang Blitz
Jadwal Tayang 21

Category: Review

109 Comments

Comment by Odi

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 1:09 pm

Sayang di Semarang film ini nggak masuk, kira-kira VCD-nya bakal ada nggak ya ? Atau harus nunggu setahun spt VCD-nya Berbagi Suami.

Comment by dc

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 1:18 pm

kapan nih masuk BALI ayo dong Miles Film lebih banyak banyak copi film buat daerah daerah lain. banyak kok yang pengen dapet hiburan bermutu ditengan serbuan film film sampah lokal………..

Comment by cahbagus

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 2:14 pm

bagus…
banyak yang bilang flat, ceritanya datar
tapi ada nilai plusnya
terlihat sang pembuat cerita tidak ingin melibatkan tokoh ke dalam sebuah konflik yang jlimet yg malah bisa terkesan dibuat-buat. justru ini terlihat sangat alami. kayak kehidupan kita sehari2 yg.. yah, begitu itu..
ditambah aktingnya adinia, wuih..ckckckck, hebat oi. niko sih biasa aja.

Comment by brothers

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 2:19 pm

dua bintang? ga salah? satu aja deh bintangnya, ni film garing abis, ending mengecewakan, dialog over the topnya malah bikin ngakak (kudos utk kartu Harvest)..dan satu hal lagi, ga bisa menangkap kegelisahan anak muda sekarang….masih datar dan kurang berani..

(nanti pasti ada orang yang komentar hanya orang bego yang ga ngerti film ini, so generic)

oh yeah..

tertanda
Brother karamazov

Comment by Potato_King alias pembenci titit(yaph..i hate you)

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 3:20 pm

Asti…asti ..I love you…

Comment by Potato_King alias pembenci titit(yaph..i hate you)

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 3:24 pm

Mas Dodi,lost In Translation bukan Road movie….
yang lebih pantes dikasih label road movie itu
Sideways ama Little Miss Sunshine…

Comment by eggophilia

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 3:55 pm

IMHO, secara konflik Cinta Dalam Sepotong Roti lebih puguh, cuma garin “gagap” kalo disuruh bertutur pake dialog. I myself prefer CDSR :D

Comment by eggophilia

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 3:56 pm

oh ya, adegan yusuf ngeliatin penari tayub itu reminiscent Cinta Dalam Sepotong Roti juga kayanya

Comment by elp

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 6:15 pm

gw makin gak ngerti, 3 hari u selamanya lo bilang pencapaian riri yang lumayan?
sebenarnya apa arti 3 hari itu?
apa yang diubah??

Comment by floweRE

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 6:39 pm

stuju ama cah bagus
mang konfliknya gak berasa “tajem” bgt tapi sedap aja
cuma emang endingnya gak enak bgt…gak asik aja sebagai cara menutup rangkaian ceritanya

Comment by fun

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 7:15 pm

refresh my mind lah….

ditengah serbuan film2 horor ‘gak banget’ ternyata gw masih bisa ngerti kalo film bermutu di indo tuw masih ada…..

akting nicholas juga keliatan santai,gak kaku kayak film2 dy sebelumnya…
n adinia juga keliatan mature banget ngebawain perannya….

konflik yang ada juga gak gitu njelimet,tapi berkesan banget….

hanya satu yang gw sesalkan,ending yang (wewwww) gantung….
mungkin maksud si riri supaya kita bisa berfikir sendiri mo jadi apa kelanjutannya,gt kali yah???
tapi keliatannya gagal deh mas….
n adegan gempa d jogja ituw…
(duh mas,jadul banget sih???dah setaon gitu loh……..)

but eniwei,secara keseluruhan ni film gak bisa dibilang gagal koq…
setiap momennya bikin ni film terasa ’something’ nya…

setuju ma SI,2 bintang….

Comment by Reno

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 10:16 pm

Lost In Translation road movie??? Bwahwahwahwahwahwahwahwa….
Road movie dari Hongkong?

Comment by Reno (tapi yang palsu)

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 10:19 pm

Wah…akhirnya SI bisa juga buat review yang gak sekedar ngasal dan ‘mendidik’ (gitu sih kayaknya)…

saya sih belum nonton filmnya karena larangan dibawah 18 tahun dan keterbatasan bioskop itu…
hah tunggu bajakannya saja lah…

bagaimana ini yang sudah nonton apa filmnya memang banyak adegan ‘gituan’nya?

Comment by indira

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 10:37 pm

Ah, pada gak nyimak. Kan Lost In Translation disebut dlm konteks bkn sebagai road movie kalee. Coba baca baik2 deh,payah.
Btw, excellent review! Very well put.

Comment by James Potter

Made Saturday, 16 of June , 2007 at 10:41 pm

Ini pengalaman gue ketiga kalinya nonton di Blitz. Pengalaman kedua gue belom sempet gue review di sini. Langsung ke yang ketiga aja ya.
Blitz-nya sih masih sama dan ngga pindah. Tapi karena film ini gue jadi tau bahwa ngga semua auditorium yang tersedia punya kapasitas yang sama. Tadi gue nonton di Audi 5 dengan kapasitas mungkin cuma setengah dari Audi 1 atau 2, tapi rasanya sih lebar layarnya tetep sama. Yang bikin gue kagum sih meskipun udah sampe di Audi 5 tapi tetep pake tata suara dolby system.
Yang rada ajaib sih filmnya tadi itu.
Yang gue tau sih tema road movie kayak gini susye untuk menarik perhatian penonton. Jelasnya di Indonesia sih jarang tema kayak gini, yah tertariklah gue nonton. Apalagi diproduseri Miles dan disutradarai Riri Riza. Dan gue sudah ‘ancang2’ dengan ngedengerin Soundtrack-nya by Float. Kebeneran gue kenal dengan salah satu personilnya Float.
Jalan cerita filmnya cukup baik. Di dalamnya banyak banget idiom2 anak muda yang baru kemaren lulus esema. Biarpun gue dari generasi yang lebih tua, tapi karena punya adik yang beda jauh usianya dan sering ngobrol dengan temen2 yang seumuran adik gue, dapet juga feel idiom2 anak muda Jakarta yang ada di dalam film ini.
Gue nyantai aja liat gaya gaul anak muda yang digambarkan secara jelas dalam film ini. Anak muda Jakarta yang clueless digambarkan dengan baik dalam film ini. Pokoknya kalo lo mau liat Nicholas Saputra dalam peran yang berbeda lagi, silakan liat sendiri film ini.
Cuman yang rada mengganggu ada beberapa potong memotong di beberapa bagian.
Setau gue film ini sudah pake rating yang hanya boleh ditonton untuk usia 18 tahun ke atas saja. Tapi koq masih ada cut dalam adegan yang bikin filmnya aneh.
Ending juga terasa kena cut begitu aja, sehingga gue ngga ngeh dengan mau endingnya.
Gue bingung juga; sebenernya beberapa cut ini terjadi karena editornya yang payah, karena crew Blitz-nya yang masih perlu ditatar ato emang dari LSF-nya dirilis begitu?
Kayaknya perlu nih nanti dirilis DVD versi director’s cut. Saya tunggu loh Mbak Mira dan Mas Riri.

Comment by moviefreak

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 12:42 am

Sumpah, pas film ini kelar, dibelakang gue ada yg nyeletuk “film apaan nih?” dan gue setuju karena karena gue juga gak bisa nangkep film ini nyeritain apaan…???.. Mas Riri tolong jelasin dong, atau balikin duit gue.. Terus ending-nya itu loh, duh bikin sakit hati!… Gue jadi kepikiran lagi kalo produser nya emang udah pesimis film ini bakal laku, makanya cuma ditayangin di 5 bioskop, karena kalo mereka optimis mereka pasti bakal bikin roll film yang banyak dan diputer di tiap bioskop kayak film yg lain..

Duh Mas Riri, what’s wrong with u?, kok film ini kayak dibuat oleh sutradara amatiran sih, rata banget, gak ada klimaknya, jauh banget sama Sideways.. kalo mas Riri yg gue puja aja udah spt ini, gue jadi tambah males nonton film Indo..

Btw, yg gue inget dari film ini cuma pahanya Adinia…he2.
To Adinia : “O baby, you are so hot sayang, come to papa honey.. I love you so sweetheart.. muach,muach..”. He2,mesum.

Comment by LoVe4sHarE

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 9:53 am

hahhahahah…

ne pelm klo gw bilang bagus lah !!!

mayan menghibur setelah banyakpelm ga penting muncul!!! yg pasti setelah berbagi sumi yah…
klo berbagi suami 10 ne pelm kek na 7 de…

beberapa kekurangannya se menurut gw ne pelm ga jelas motivasinya untuk dibikin road movie….

gemap di jogja pun ga jelas…

lagian soal lu suka secara fisik ama sodara lo… tu kan ga mungkn banget kan …. coba de pkir klian isa suka ga ama sepupu klian pasti ga lah….. kecuali penganut inses yah !!! >,

Comment by goya pakayo

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 10:43 am

ok lah dibanding film2 yg kluar seangkatan sama film ini (horor2 tai >.

Comment by bigger

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 10:44 am

si Reno smartass masih disini? get a life dude!
tumben si Reno kaga berucap2 lagi, IQnya jadi tiarap kale…

filmnya baru aja kemaren gw tonton dan kayanya dua bintang kelebihan, satu bintang aja deh..film ga jelas dialog maksa (sok posmodernisme gitu) dan ga bisa bikin ending…..D’oh!..bahkan MALAM JUMAT KLIWON dan LOVE IS CINTA endingnya aja masih bagus (ngebungkusnya gitu, walau 5 kancut utk film MALAM JUMAT KLIWON saya setuju)…

I want my money back!

Padahal kalau mau laku si Riri Riza masukin aja hantu di mobilnya Nico/Adinia, hantunya transgender lagi, jadilah Y tu mama tambien transgender horor reloaded… *sengaja maksa*

Comment by me1st

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 3:02 pm

terlalu…umh….biasa. nothing really special. rasanya kek nonton handycam-an gue sama temen2 pas roadtrip ke bali. =\ i was expected more,though.

SI reviewnya serius amat kali ini.
+D

Comment by Nico Rahardian

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 4:44 pm

emang, pasti bnyk yg bilang endingnya garing, tapi lihat donk… itu semua kan hasil sensoran, kita ga bisa liat sepenuhnya… endingnya sensor mulu, tapi gw bilang sih da keren bgt, float cocok, 3 hari tuk selamanya, nice..
cuma gw ngerasa ttng gempa itu ga penting kynya, bagaimanapun kayanya uda terlalu basi

Comment by verde

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 6:06 pm

waw gua suka bgt…terlepas dari endingnya yang yah gtu deh!!
tp setidaknya nih film masuk dalam daftar “film wajib tonton” gue

dan satu lagi…two tumbs up
buat adnia wirasty,gile…gua tmbah suka ma cewek satu ini…..

note : sayang film ini tidak dapat kita saksikan secara utuh karena ada pemotongan hampir 8 adegan menurut mba miles di kapanlagi.com,yang bikin beliau naik pitam ampe nganjam cuman mau edarin film hasil karya selanjutnya di pasaran luar indonesia…

kira2 adegan apa aja ya????
ada yang tau….

btw tolong ngeposin di forum SI list kmu tentang film indo you must see “sepuluh tahun terakhir (97-2007).kita tukar2an list kali aja ada yang terlewat di list gua…tengs….

Comment by vanya

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 8:09 pm

gw blom nonton dan ga pengen nonton..males nonton film indonesia lagi palagi filmnya riri. but gw kasih komen krn empet juga liat reviewnya SI yg suka ngerendahin film film lain. kalo film film komersil spt horor ga mutu ya boleh aja tapi kalo cinta dalam sepotong roti. hmm..emang yg ngasih review dah pernah bikin film yg labih bagus atau jangan jangan sama jeleknya dgn CDSR nya garin. gw emang ga demen CDSR nya garin dan gw ga suka film film dia yg spt puisi tapi gw respek ama karya dia. just that..ga usah sirik kalo ada film lain yg dikasi julukan road movie monumental. daripada orang orang SI yg bisa nya kutip film sana sini..about a boy lah..apa lah. baru bisa nonton film gituan aja sptnya dah bikin film nya. gw juga dah nonton segala macem film …tuh bajakan di glodok banyak. ngapain dateng ke bioskop cuma nonton film temen temennya anak SI yg sampah itu.

Comment by DOROTHEA-DE-BATE

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 8:50 pm

betul sekali,dibandingin ama CDSR-nya garin yag puitis,film ini jauhhhhh….Apalagi temanya jga gak “nonjok”(ini persepsi gw)
Masih lebih keren Eliana,Eliana,road movie pertamanya Riri.
Alaahhh….bernentilah meremndahkan film2…apa kalian para reviewer SI ga pernah mikirin taste and class orang lain?

mungkin perlu ditambahkan begini di bawah setiap review SI:
“Ini hanyalah pendapat kami atas film ini.Pendapat Anda tentu aja boleh gak sama ama pendapat kami”
supaya gak ada fanatik-fanatik yang superdumb kayak titit.

————-

Dari SINEMA INDONESIA:

Kami mohon maaf kalau ada yang terganggu dengan postingan flammer-flammer seperti Bodothea-De-Bate dan Reno (yang kalau dia sepinter yang dia pikir, dia pasti tau kalau kami juga tidak bilang kalau Lost in Translation adalah road movie).

Alasan kami meng-approve comment-comment dari mereka (selain sebagai hiburan dan bukti bahwa stupidity is funny) adalah sebagai reminder bahwa hidup berdemokrasi berarti kita harus bisa mentoleransi pendapat orang lain yang berbeda class-nya dari kita, no matter how low). :D

Btw, “Ini hanyalah pendapat kami atas orang ini.Pendapat Anda tentu aja boleh gak sama ama pendapat kami”

Ferry Siregar

Comment by yudythbastian

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 9:18 pm

HEH RENO!! LOST IN TRANSLATION ITU EMANG ROAD MOVIE DARI HONGKONG, DAN ELU DARI HINDUSTAN!!!

Gue ga liat SI nyebut LOST IN TRANSLATION sebagai road movie, yang ada SI cuman mau nunjukkin bagian tentang Character Driven.

Lo kayak anak SMA yang lulus tapi gara2 nyontek, ketauan gobloknya. Baca lagi donk paragraf 2, cermat, jangan pake jejogetan!

Comment by gebenx

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 10:49 pm

to vanya: belom nonton aja udah ngumpat2 ga jelas. kalo yg udah nonton gpp, minta uangnya dibalikin, bilang film itu jelek or sampah , nah elo, belom nonton udah ribut.

ngeritik itu hak setiap orang, itu kan nunjukin kita juga perhatian sama film indonesia. kritik itu membangun, membangun itu kritik (taufik ismail). walau si belom buat film (or udah, kita kan ga tahu, lo tahu?) itu haknya dy. kita2 jg tertolong sama review mereka yg udah ngasih tahu mana film indonesia yg bagus or jelek. gw nyesel baget waktu cew gw ngajakin nonton love is cinta, bener2 kurang bagus (apalagi endingnya..), coba gw dah baca si waktu ntu, kn mendingan nonton yg laen.

kalo film2 yg jelek udah ga pada kita tonton (horor2, cinta2an ga mutu bla3..), tentunya filmmaker akan berusaha membuat film yg lebih berkualitas dong.. nah, kalo film indonesia udah berkualitas banget, kan ga bisa tuh dijelek2in sama orang luar, dan orang indonesia pun bisa bangga dengan filmnya sendiri! ga malah memaki2 kyk sekarang (spt yg gw contohin di atas, sedihnya..). nah, dengan tidak nonton film2 yg ga mutu, tentunya kita jg ikut membangun perfilman indonesia kan?

semoga film2 indonesia makin berkualitas! amien..

Comment by moviefreak

Made Sunday, 17 of June , 2007 at 11:02 pm

Reno liat SI nulis Lost In Translation itu sbg road movie???Bwahwahwahwahwahwahwa…..
Road movie dari Hongkong?

he2, malu tuh…

Comment by DOROTHEA-DE-BATE

Made Monday, 18 of June , 2007 at 12:19 am

Dasar Ferry..dikritikin gitu aja sakit hati…

bwat Ferry:
anda sudah salah kalau penikmat film-film Giuseppe Tornatore se-low-class orang-orang seperti Anda(malah saya merasa jauh lebih tinggi)

well,whatever you says then!

Comment by Dubtastic

Made Monday, 18 of June , 2007 at 12:57 am

Huahahahaaa…
Bodothea-de-bate penikmat Giuseppe Tornatore sodara-sodara. plok… plok… plok… hebaaaat…. plok… plok-plok… :) )))))

Comment by moviefreak

Made Monday, 18 of June , 2007 at 3:27 am

@Bodothea-de-bete..
Ferry tu gak cuma merendahkan kalee, dia juga muji sebagian film contohnya film 3haus ini dikasih bintang, padahal menurut gue kancut abies, apalagi endingnya!.
Yang gue liat, kebanyakan SI merendahkan film yg emang rendah, sebagai penikmat Gueisepye Siapatuhnamanye, elo pasti berontak kan kalo MJK misalnya dikasi bintang, atau Suster Ngepot..

Yah, syukur2 produser film2 low class itu nyadar and tau malu terus kepacu untuk bikin film sekelas Malena atau Cinema Paradiso..

he2 ketinggian ya mimpi gue..

Comment by moviefreak

Made Monday, 18 of June , 2007 at 4:09 am

@vanya
Yang sirik tu elo kali, banyak yang suka tuh ama commentnya SI, biarpun gak semuanya setuju…

Kalo lo gak suka, elo mendingan bikin website tandingan, judulnya “Sinema Bajakan Glodok”. Huahahaha…

Btw, kalo respect ma film indo, jangan beli bajakannya donk… malu ah.. Bwahwahwahwahwahwahwa..(ketawa setannya reno).

Comment by pas

Made Monday, 18 of June , 2007 at 10:15 am

Nonton di Blok M (soalnya di Blitz kayaknya mahal). Kalo Gie “filmnya begitu panjang sampe saya ngantuk tapi soundnya begitu keras sampe saya gak bisa tidur”, di 3 hari… ini saya bete juga. Sebel banget sekaligus heran liat karakternya si Ambar. Kok langsung inget mama & nangis2 ‘hanya’ karena ngeliat kecelakaan lalu lintas? Kayaknya kurang ‘kena’ aja. Mirip pilem jaman dulu, waktu mo ‘berbuat’, trus batal gara2 denger azan… Tapi yah… nonton ini asik juga, bisa liat perutnya Nico ke atas. Tapi bener juga ya, kok langsung putus begitu aja? Kak Riri, kuka’bu-ka’bu lampe’na. Tena caritayya. Tapi kalo bisa, besok2 kalo bikin film lagi pake Nico dan Asty aja ya. Mereka bagussss! Eh, Float lumayan, kok.

Comment by OmFeb

Made Monday, 18 of June , 2007 at 11:11 am

wajar banget kalau miles, cuma mau nanyangin ini di 5 kota. dan itupun dengan bioskop yang terbatas!!! karena memang akan banyak penonton yang mungkin akan sedikit sekali mengapresiasikan film ini..!!!

dari segi teknis, film ini oke…..semua kru yang dibawa oleh miles adalah kru yang selama ini sudah sering berkerja sama dengan mira maupun riri, jadi kekompakan mereka sudah gak bisa dianggap sebelah mata.
dari segi kreatif, masih kurang. ceritanya emang flat, walaupun untuk dialog oke, karena nico dan ardinia w. bisa ngebuat dialog santai banget, dna bener2 seperti orang akan berpekalanan jauhh….

2 bintang udah oke…

dan sinar ayu sepertinya masih harus banyak belajar lagi, memainkan fantasi yang lebih liar. tapi masih dalam lingkup menghargai kode etik.

Comment by lemozz

Made Monday, 18 of June , 2007 at 11:27 am

gue rasa bagus koq filmnya.. new fresh air di tengah2 film2 lain…. i just like it… kalau kata sepupu gue, ‘cukup menghibur’..
pada optimis napa terhadapa perfilman kita… kritik membangun gitu…

Comment by fufu

Made Monday, 18 of June , 2007 at 12:27 pm

Ups…kali ini aku nggak sependapat dengan SI :) Dua bintang, tapi itu masalah selera dan dari sisi mana melihat film-nya…

Pertama kali tahu tentang film dengan judul yang sangat catchy banget ini, terasa keren dan wajib tonton…dan aku juga sangat menghargai usaha Riri Riza dengan Miles production membuat film dengan tema yang sangat jarang mau di garap…

Semuanya udah dapat…pemain (Buat Adinia, gila…actingnya pas banget, salut) materi cerita juga bagus, setting dan juga musiknya lumayan…tapi sangat disayangkan…film ini nggak punya tujuan dengan konflik yang minim serta agak sedikit dipaksakan…adegan 17 tahun keatas, lima menit sebelum film berakhir…tujuannya untuk apa…??? Aku pikir adegan itu akan ada dipertengahan film…waktu mereka berduaan di tengah malam di dalam mobil…adegan 17 tahun keatas itu malah terkesan jadi lucu ketimbang dapat dimaklumi…

Di awal film sangat bagus…setelah itu…kosong….rasanya kayak kelewatan sesuatu…tapi saat itu aku nggak ketiduran koq…

But, thank you anyway for Riri and crew…

Comment by writeforlife

Made Monday, 18 of June , 2007 at 1:09 pm

i like this movie.
i like the ending, bikin film ini ga flat =)

Comment by wawawawawaw

Made Monday, 18 of June , 2007 at 1:51 pm

selain dari masalah2 teknis…film ini BAGUS…..
nice job untuk Riri Riza dan Miles Productions..
I LIKE!!!

Comment by bodat

Made Monday, 18 of June , 2007 at 2:12 pm

Gue suka filmnya…layak tonton lah..

Comment by vivid95

Made Monday, 18 of June , 2007 at 4:38 pm

gue lebih suka film PSIKOPAT endingnya dahsyat !

Comment by cahbagus

Made Monday, 18 of June , 2007 at 6:39 pm

oot
sontreknya dibikin album gak?

Comment by titit

Made Monday, 18 of June , 2007 at 6:54 pm

ROTFLMAO @Potato_kiking alias pembenci titit :
dude..get a life!! pasti elo tipe orang nerd yg nongkrong di depan komputer 24 jam dan ngobrol sama komputer loe…serius banget sih loe! nyantai aja kaleee…huehehehe

Comment by dsaint

Made Monday, 18 of June , 2007 at 6:59 pm

yaahhh….
repiunya SI serius kali inih…
tidur lagi ahhhh…

z…zz…zzz…zzzz…zzzzz

Comment by anakkesyan

Made Monday, 18 of June , 2007 at 8:26 pm

hohohoo…jangan marah2 dong…mari semua berdamai saja.

biarpun filmnya blum maksimal, tapi harus setuju dong sama SI, paling ngga Riri and the crew udah mau nyoba untuk bikin film2 kayak gini. susah lho untuk bikin film semacem ini di suatu masa dimana film2 horror sampah dan film2 cinta kacangan merajai pasar. i’m talking about susah dapet modal dan susah balik modal juga. tapi toh mereka tetep jalan terus kan? mereka berani ambil resiko. dan sialnya udah gitu masih kena potong sensor juga.

mungkin hasilnya emang blum seperti yg diinginkan banyak orang, tapi ya itu dia pentingnya belajar kan? kalo ngga ada yg berani bikin film2 kayak gini dan ngga ada yg mau mendukung film2 kayak gini, sampe 10 tahun lagi film indo masih bakal sampah trus. harus diinget, film indo itu jadi kacrut karena penontonnya juga. kalo kita masih nonton film2 horror sampah itu, ya mereka bakal PD aja bikin film2 kayak gituan mulu.

review2 dari SI itu penting tau, apalagi dalam case 3HAUS. soalnya gua bilang itu kritik yang membangun. itu bisa jadi bahan perkembangan buat riri dan para filmmaker indo lain. paling ngga mereka tau pandangan dari orang2 yang udah nonton banyak film luar. mereka tau, untuk ke depannya, apa yg harus diperbaiki, apa yg harus dipertahankan. dari situ kita harapkan film indo ke depannya bakal makin maju. pelan2 lah…yg jelas, dukung terus film indonesia, dengan catatan, film2 indonesia yg emang niatnya jadi bagus.

jadi, jangan ada yg kesel lah sama kritiknya anak2 SI. mereka kan hanya berusaha menyampaikan apa yg kurang di film ini dgn cara mereka sendiri. dan jangan ngomong soal “ngga bisa bikin film aja komentar!!”. kalo misalnya kita nyobain makanan trus ngga enak, apa kita pasti bisa bikin yg lebih enak? blum tentu kan? tapi itu gunanya kritik. supaya yg masak (diharapkan) bisa bikin lebih enak lagi di masa mendatang.

jadi yah…maju terus Sinema Indonesia.

eh, btw, soal tulisan yg Don’t come knocking(ada kok di menteng…), emang di menteng ada tempat jual/sewa dvd yah? dimana? bagi2 info dong bosss!! thank u.

Comment by Anti_Reno

Made Monday, 18 of June , 2007 at 10:39 pm

uummmmm…. anu
reno dah mati kah?

Comment by nRm

Made Tuesday, 19 of June , 2007 at 9:41 am

gue mencoba mencari “surprise” dari awal film ini tayang tapi kok ga nemu ya?
Adinia dan Nicko kurang bagus ah menurut gue aktingnya..
Adinia mesti belajar dulu tuh sama Halle Berry di Monster’s Ball. Nicko kurang cupu, mimiknya masih serius gitu, ga lepas kayak di Janji Joni.
ini film kedua yang gue agak kecewa dari Miles setelah Garasi.
mudah-mudahan ML & RR bisa cari aktor lain selain Nicko. Udah bosen dipasang sama dia terus, meskipun ngga setiap film RR ada Nicko sbg aktornya.

Comment by Hazel

Made Tuesday, 19 of June , 2007 at 10:28 am

cuman 2 bintang ya? 3 bintang dehhh … apa 2.5 deh 2.5 …?
gue suka ni film. was enjoying every minute of it. eh, kcuali yang pas scene di gempa itu kali yah … kayanya ga banget deh kalo cuman dibikin gitu doank …
endingnya ga masalah buat gue … akting adinia wirasti keren! she’s indeed the talented indonesian young actress. sementara orang2 kita justru mengelu2kan dian sastro. that is soooo overrated.

Comment by halo cinda

Made Tuesday, 19 of June , 2007 at 11:54 am

hwee..setelah bbrp review SI terakhir aku ga sehati,,ni review bagus..
ng,,filmnya santai..mang ni yg dipengenin filmakernya de,,so,bukannya filmnya gada isinya,,n aku nikmatin..score-nya bagus.. walopun tetepan takpikir kurang ngasi konflik bawaan pada menit2 pertama ..dan transisinya banyak yg kasar de kykny,,bukan yg pas ganti rol-ganti rol gt loh y,,dan bukan yg sensor2an..
btw,,agak2 OOT ni,,kataku bahasa2 narkoba yg dipake di film ini mencerminkan bobroknya polisi negara kita.. filmmaker,penonton,dan semua orang tau dan akrab dgn istilah2,cara2 transaksi,suasana dunia narkoba,,media jg dah sering ngungkapin rahasia umum begituan,,tp sampe saat ini polisi seolah2 gada usahanya..impoten!!
oia,,ak mo tanya ni,,mang klo dah deket lama n sepupuan gt bisa y berakhir dengan ngehe’??benar2 konflik batin n emosi y ugal2an untuk ini..
btw lagi,,ko commentku yg di MJK dipotong2 y??kan ga nyakitin sapa2..misalny yg kata ‘dalam hal ini ak setuju ma Reno’,,usul ni,,klo SI dah repot2 motong2 komen,,mbok sekalian repot dikit lg ngirim alesanny k e-mail kita,,ya toh,,wong dah dikasih alamat email kok..wkey..

Comment by indira

Made Tuesday, 19 of June , 2007 at 3:32 pm

Buat halo cinda: Mungkin komen lo dipotong karena cara nulis lo gak enak, disingkat2 gak genah hehehe.

Anakkesyan: Belajar sih belajar, tapi kan ini udah film ke-5, mestinya udah lebih genah, ya gak sih? Eliana2 aja film ke.. 2 ya? Tapi dapet banget. Was Eliana Eliana just a fluke? I certainly hope not.

Comment by fitataglance

Made Tuesday, 19 of June , 2007 at 8:16 pm

review yg cerdas…tapi IMPO, film in emang flat bgt…
gak ada isi yg gw dapet..emang susah sihh bikin road movie..tapi little miss sunshine pun masih so much entertaining..mungkin idealisme diperluin..tapi jangan sampe bikin jadi egosentris…mungkin gak sih..endingnya tuh bukan yang kita liat di bioskop2..mungkin..gak sih endingnya yang kena cut?jadi di mata kita endingnya ngambang..dan cuman Miles+RR yg ngerasain ngenesnya…

Comment by moviefreak

Made Tuesday, 19 of June , 2007 at 10:38 pm

gue kok masi inget terus ama Adinia ya… hik,hik, cool banget actingnya tapi sayang filmnya gak ada ceritanya.. coba ada konflik yang greget dan ending yang bikin puas, gak gantung diri gitu.
Duh Adinia, I thing I’m in love with you bebeh, kamu hot banget sieh, didunia ini ada juga ya cewek seperti kamu,lovable banget.. kamu tuh orang yg enak banget buat dicayang,apalagi dipeluk, dicium keningnya pelan lalu..ngobrol bareng sambil rebahan sampai pagi.. he2, tuh kan kangen kamu lagi…hik,hik..

Comment by anakkesyan

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 8:16 am

indira: gua rasa eliana2 itu beda ya…karena eliana2 itu jauh lebih simpel, dalam hal ini pembuatannya. modalnya lebih kecil, melibatkan lebih sedikit orang, dan mungkin lebih ngga ada beban bagi riri ngebuatnya. trus mungkin dari segi ceritanya, si riri emang udah punya dasar cerita yg bener2 kuat, jadi dia bisa bikin itu secara lebih personal, bener2 seperti apa yg dia mau. tapi kalo 3HUS kan lebih besar, melibatkan banyak orang, dan kayaknya dasar ceritanya pun dirunding sama banyak orang gt. skripnya pun yg nulis bukan riri sendiri kan?. jadi yah…rasanya itu emang suatu produksi yg beda aja.

Comment by Maggie

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 9:29 am

Salut buat Riri Riza n the gank krn udah bikin film dengan tantangan yg cukup tinggi! Pertama, film ini syutingnya pasti cape n ribet bgt krn mostly di jalan raya, dmn tingkat kesulitan cukup tinggi. Sound juga ga ada masalah, walopun di-shoot di pinggir jalan. Kedua, berani bikin sesuatu yg ga mainstream di Indonesia saat ini (sounds cliche but two thumbs up for them).

Overall film ini emg ga terlalu nampol,but… di beberapa faktor cukup kuat ko. Gw suka chemistry niko ama adinia. Adinia aktingnya pol! Dialog mereka juga lancar aja gtu, ga ada beban.. Dan yg penting GA BERLEBIHAN KAYA SINETRON. Scene-scenenya juga bagus. Mas Riri berhasil mengangkat keindahan daerah2 wisata dan pemandangan sepanjang perjalanan jakarta-yogya itu. Gw sampe jadi pengen road trip jkt-yogya.. Hehe..

Tapi kelemahan emang masih pada cerita yg buat sebagian org datar or malah ga ada cerita sama sekali. Mungkin kurang ‘turning point’ kali ya.. Masa cuma karena curhat ke niko doang, trus adinia langsung bisa ngambil keputusan yg (dy rasa) besar? And.. gw jg masih ga sreg ama editingnya.. Kaya ada yg kurang gtu..

Yah.. buat Mas Riri, terus berkarya ya mas! Gpp, cari aja org2 luar negeri yg lebih apresiatif buat mendanai film kita. Dari pada sama org dalem negeri tapi disuruh bikin filmnya horor lagi atau cinta2 abg lagi.. Bosen kan…

Comment by senimansinting

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 9:52 am

ni film oke laaaahhh…
yang saya kurang cuma adegan anu2an nya yang berada di ending.
kalo menurut saya akan lebih bagus kalo di taro di perjalanan mereka.karena scene itu punya bobot paling berat untuk mengubah hidup mereka selamanya (road movie toh?)
soundtrack bagus dan “kena” bgt buat film ini.
tapi film ini bener2 ngingetin saya sama film Y Tu Mama Tumbien.
scene kecelakaan,secene si nico pipis di pohon (same shot with Y Tu Mama Y Tumbien).
tapi gpp sih,riri mungkin terinspirasi sama film itu.
yg jelas sih gw lumayan nikmatin film ini.
kecuali pemotongan2 adegan oleh LSF.
i hate them!
overall,,
this movie so much better than Mengejar Mas-Mas.

Comment by anaksetan

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 10:19 am

@halo_cinda : cinda anaksetan juga bukan? penempatan dimana?

Comment by lovable

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 10:45 am

minta reviewnya coklat stroberi sama lantai 13 dongs …
thanks

Comment by sarr

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 11:02 am

bagus kok filmnya. sebagai anak muda yg emang beneran baru lulus sma, gue ga merasa ada yg berlebihan dr karakternya. emang kenyataan yg ada di generasi muda indonesia kan skrg kyk gitu. or at least anak2 muda yg tinggal di kota2 besar. semuanya western minded. dialognya juga bagus. sometimes agak flat, tp sisipan2 menggelikan kayak, “mbay.. jangan nangis dong mbay. cewek.. godain kita dong.” itu justru bikin melek lagi. walaupun klo dipikir2 line yg itu lame bgt.

btw, bintangnya tambahin 1 dong. jadi 3. hehe.

Comment by Ksatria Film

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 12:48 pm

Ini film untuk turis, titik. harusnya gak perlu riri yang bikin, cukup orang-orang dari departemen bud-par. Mari kita itung lokasi2 pariwisata : Bandung, pantai indramayu (kali), kebun teh, ciater, rumah tarzan (bagi yg pelancong yang suka haji pervert dan mbok-mbok pencuri, kalo beruntung bisa ngeliat mereka ml), kebun tebu, mesjid hijau yang gede banget (itu dimana ya), sendang sono, sawah, dan terakhir jogja dengan sisa-sisa gempanya. (kalo ada yang kurang, tambahin, ya). Dan semua lokasi tsb bakal lebih asik kalo dibarengin cimeng dan ngiprit selama perjalanan dan diakhiri oleh ml ama sepupu sendiri. Wow, it is indeed a vacation for the sick!

Comment by Reno

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 5:57 pm

Sorry to dissapoint you, guys, but this time, i couldn’t agree more with SI’s review on 3 Hari Untuk Selamanya. Keep up the good work… please 1000x.

Comment by Reno

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 6:11 pm

Cuman….. masa si senimansinting membandingkan fillm ini dengan Mengejar Mas-Mas? Puhleeesssee… even they’re not in the same genre gitu looohhh??

Yang bikin gue terganggu malah cara nyimengnya si dua tokoh culun kita… cimeng bukan rokok jadi cara ngisepnya juga beda atuh…. Pasti para pecandu cimeng yang nonton film ini bete berat ngeliat dua anak kecil buang-buang asep cimeng kemana-mana. Riset dong, Mas Riri… Bahwa kalo nyimeng itu jadinya ketawa-ketiwi gak jelas, bukannya lancar jaya berjelimet ria ngomongin tentang hidup. Apalagi jebal-jebul nyambung cimeng kayak lokomotif. Yang ada malah ngantuk tidak tertahankan, bukannya sigap gagah membawa mobil dalam sebuah perjalanan jarak jauh.

Yang lainnya mungkin lebih ke treatment karakter Niko yang sama sekali nggak berkembang… Treatment buat Adinia udah pas, sayang aja Niko dibikin jalan ditempat. He’s a fine actor, tho.

Comment by Reno

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 6:32 pm

Just crossed my mind: kenapa yah SI gak brani mengolok-olok filmnya Riri-Mira? Takut dikucilkan dari keanggotaan MFI? Bwahwahwahwahwahwahwahwahwa!!!

Comment by bodat

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 6:36 pm

filmnya kayak home alone ya? hehehe.. tp overall bagus lah menurut gw cukup bisa membuat gw untuk ingin pergi jalan2 ke jawa make mobil tanpa harus mengetahui jalan

Comment by teman - teman

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 6:49 pm

no, bukannya itu rokok-ganja? (bukan ganja 100%) jadi kaga usah ndalem2 ngisepnya..lagian juga kita ga pernah tau seberapa banyak persentase campuran ganja dengan rokoknya..kan bisa aja banyakan bakonya daripada ganjanya?? alias ganjanya cmn dijadiin aroma doang..

Comment by borix

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 6:54 pm

filmnya kayak home alone ya?? hehehe.. tapi gw cukup puas nontonnya, cukup bisa membuat gw pengen pergi ke jawa make mobil tanpa harus membawa peta..

Comment by tando-wi yahya

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 7:59 pm

uda…film di indonesia yg plg bagus cmn “kala”…dan sbagainya…
kalo ntn GIE…yg gw seruin dr stu adl menghitung jmlh pemain…
kalo 3 hari utk slamanya…itu…gak seru ah…

Comment by QD

Made Wednesday, 20 of June , 2007 at 8:10 pm

sebenarnya saya berharap lebih dengan film ini ….
tp salah satu yg menarik buat saya justru seperti yang ditangkap oleh salah seorang teman saya …. kenapa ketika ambar & yusuf udah nyampe di sendang, malah jalannya muter lagi ke secang?? padahal dari sendang kan jogja-nya dah deket …. hehehe ^_^

Comment by moviefreak

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 1:02 am

Busyet deh si Reno masi hidup.. ?!. Bos, filmnya Riri-Mira itu banyakan yang idealis, yang nyeni gitu, gak pantes lah di olok2 kayak film2 sodara2 lo yang India yang bisanya cuman bikin horor yang membodohi masyarakat demi ketebelan isi dompet mereka..

Yah kalo tolak ukur lo film yg bagus itu yg bisa ngehasilin duit banyak, ya cocok lah lo gabung ma India2 itu..

Tapi terlepas dari gak memuaskannya film ini, gue sih masih salut aja ma Riri-Mira karena mereka selalu berusaha bikin film2 yg bermutu, gak terjebak tuk bikin film2 “asal bisa ngehasilin duit” kayak produser ama sutradara2 horor itu, atau yg bikin film percintaan yg lebih horor dari film horor..kayak love is cinta.. hiiyyy, najis tralala trilili..

Comment by damien

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 11:18 am

Jadi pengen nonton, Riri-Mira OK lah, punya prinsip.Gua yang buta film pun selalu menantikan kehadiran film-filmnya…

Comment by Endang Bambang

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 11:22 am

@ Reno.
Diem deh. Penting ya komen lo?

Comment by Andrzej Wajda

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 11:23 am

adegan 17 tahun keatasnya seperti apa sih? ada nudity gak? kalo ada gw mau nonton! hehehe… just kidd’n

Comment by titit

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 11:59 am

@Reno : siapa bilang mereka ga berani ngritik Miles-Riri…mereka ngehujat Gie abis2an trus ga suka ama Garasi….udah deh..just read their reviews..comment loe yg ga penting simpen aja buat temen2 imajinasi loe….

Comment by senimansinting

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 12:51 pm

@reno, mr.u-think-u-know-it-all :
syapa bilang saya ngebandingin secara genre antara 3HUS dengan Mengejar Mas-Mas?
anda salah berarti. kenapa saya bilang film ini so much better dari mengejar mas-mas ya dari segi entertaining nya.
film ini lebih menghibur aja untuk saya.
sekali lagi, UNTUK SAYA.
kalau anda sepintar yang anda kira,mestinya anda ngerti dooonnnnnnggg….

oiya,untuk masalah nyimeng,kalo bung reno blm pernah nyimeng di mobil sambil jalan2, please just SHUT ur fucking mouth.
temen2 saya nyantai2 aja tuh jalan2 sambil nyimeng, sambil ngomongin hidup,trs ketawa-ketiwi g jelas dh.
mereka juga sering nyimeng sambil belajar buat ujian mid test.
hasilnya bagus2 aja tuh.

jadi saran saya,lebih baik bung reno berhenti berusaha terlihat pintar daripada itu semua akan memperlihatkan kebodohan2 bung reno sendiri.

ntar malu lhooooo….

Comment by it's me

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 3:31 pm

i think it’s great movie….
Bener banget kalo ini satu titik pencerahan di perfiliman indonesia…setelah indonesia diserang hantu2 yang ga jelas n kapan tahun datangnya….satu film ini aku masukin dalam list film yang “CUKUP LAYAK UNTUK DITONTON”….2 karakter yang digambarkan ambar n yusuf cukup kuat dan mencerminkan anak muda jaman sekarang getho….hahaha…pergaulan jaman sekarang yang sudah tak memperhatikan status keluarga…hahahha…ya semuanya realistis ajalah…n jujur aku setuju dengan endingnya yang nurut kebanyakan orang “ga jelas” ato “apa sih ini?”
ya nurut aku cuma…baik cerita, film atopun dalam kehidupan nyata tidak segala sesuatu nya bisa dijelaskan dan diceritakan….hidup ambar n yusuf tentu saja tidak akan berakhir ampe kapanpun….kecuali habis itu mereka tabrakan n mati…hahaha it’s over d…huem…n kalo diliat dari endingnya…aku cuma nangkep satu hal…ya dengan sangat wajar yusuf punya pacar…karna mau mereka ML berapa kalipun…mereka masi dalam status “Family”…so….it’s impossible aja untuk bersatu….huem gta aja d…hehehehe
2 bintang pantes banget buat 3 hari untuk selamanya….

Comment by Reno

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 4:40 pm

Bwahwahwahwahwahwahwa…. kayanya yang menghujat gue lebih heboh daripada review-reviewnya SI. Wakakakakakak! Yaa..itung-itung amal bikin SI makin sering didatengin.

Comment by Afterglow

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 5:01 pm

3 Hari Untuk Selamanya… I like.
Reno…. I like to hate.

Comment by reese

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 5:08 pm

udah ah! capek deh betengkar terus!

Comment by tuki

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 6:17 pm

bintang 2?
are u kidding me?

udah pake nikolas cuma bisa kaya gitu?

Comment by DOROTHEA-DE-BATE

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 7:46 pm

whatevah here,Mr.Reno dkk…

Gw mw liat review berikutnya….Banyak yang dah nunggu neehh….
Mari kita prediksikan :
LANTAI 13-mungkin 4 kancut
COKLAT STROBERI- 2 kancut,banyak ynag benci ama ney film
MAAF(KEPANJANGAN!)-monty Tiwa sucks.Gw berharap dikasih 5 kancut aja…….
KAMULAH SATU-SATUNYA-3 bintang(maunya!)trailernya looks promising

Comment by moviefreak

Made Thursday, 21 of June , 2007 at 10:22 pm

Ren, tanpa lo kita uda sering datengin SI kok, hihi, ge-er banget sih lo, kita menghujat lo supaya pergi dari SI, elonya aja tebel kulit muka kyk Indihe2 itu… Yg ada diotak kita elo tu stupid, jadi sia2 deh kalo mo sok pinter disini..cape2in otak lo, entar elo tambah bego lagi saking kecapean muter otak tuk kelihatan pinter didepan kita2..

Btw, film Maaf Saya Meng..apalah tu namanya bener2 SUCK!, Monthy Tiwa mendingan gak jadi sutradara lah, MENGERIKAN… 5 kancut setuju!.

Comment by yudythbastian

Made Friday, 22 of June , 2007 at 12:43 am

reno tuh bangga bener bikin orang ribut. dia pikir dia sesuatu yang berharga. padahal sih kita ribut biar dia diem aja. dia pikir dia siapa? Ranee Mukherjee?

Comment by yudythbastian

Made Friday, 22 of June , 2007 at 12:53 am

dan satu lagi, kayaknya reno pengen banget masuk MFI deh. kenapa ga boleh? filmnya yang kemaren nyolong musik orang laen. parah.

dan gue setuju ama SI, filmnya belum maksimal, tapi bagus buat usahanya riri bikin perfilman indonesia makin rame, jadi ngga bosen pilihan filmnya itu-itu melulu.

Comment by Mayo

Made Friday, 22 of June , 2007 at 12:29 pm

Gue berpikir(cuma mikir) kalo Riri-Mira bikin film jelek super jelek yang ga patut tonton kaya MALAM JUMAT KLIWON dll, SI pasti menghina-dina juga kok.
Kalo pada merhatiin, kalo filmnya bagus, SI bakalan nge-review bagus. Kalo film-nya jelek, SI bakal ngereview jelek.
Dan gue jadi bingung..
Gimana bisa lo nyimak filmnya kalo lebih merhatiin adegan nyimengnya ampe segitunya?

Maksud gue.. Apaan?? Nyimeng??
Akting seseorang dinilai dari cara nyimeng??
Jadi sisa permainan mereka yang lain??
(maksut gue ga semua yang bagus, tapi ada kan kelemahan akting mereka yang lain selain NYIMENG??)

–eh, iya tuh. Butterfly apa sih? Kok gue ngliat posternya di Cinema** bagus yah? Nggak kaya PSIKOPAT??–

Comment by fish

Made Friday, 22 of June , 2007 at 2:04 pm

to mas reno: kamu ‘jalang’ banget sih komentarnya!! kurangin kebiasaan mu nongkrong di kandang kuda mas!!.

to Dorothea_whoeversheorheis: berapa kali saya menyimak komen2 anda di situs ini,self proclaimed diri anda sebagai penikmat giuseppe favalli eh salah..giuseppe signori…ops!! tornatore maksud gw,bener2 bikin saya kagum…hehehehehe..i’ve no further comment!

note:di flores, film-nya tornatore juga masuk? bwhabhwbabhwabhwabbhwa..

Comment by Afterglow

Made Friday, 22 of June , 2007 at 5:16 pm

Ekskul udah dicabut tuuuh semua penghargaannya. YAY!

Comment by DOROTHEA-DE-BATE

Made Friday, 22 of June , 2007 at 5:19 pm

Mas fish,gak percaya kalo di Flores film Tornatore masuk?
kalo gitu ayo berenang…ke Flores….biar saya tunjukkan..

BTW.Ekskul dicabut penghargaannya,mau diganti apa?Denias?

Comment by anakgoblog

Made Saturday, 23 of June , 2007 at 11:10 am

hoho, kalo menurut gue filmnya lumayan bagus kok. Ngga nyampahin bioskop, tapi ngga terlalu wuah juga. Tapi yang bikin gue masih kepikiran ampe saat ini adalah adegan pipis-nya Nico di pinggiran Jalan Tol Cipularang. Sebagai orang yang sering bolak-balik Jakarta-Bandung, gue bingung aja. Orang tempat peristirahatannya buanyak banget dan mewah-mewah gitu, masa iya, harus pipis di pinggir jalan. *kalo itu emang jalan tol cipilarang maksudnya lho yah*

Comment by Zakka Fauzan Muhammad

Made Saturday, 23 of June , 2007 at 12:27 pm

Katanya sih… Film yang dapet bintang dari sinema-indonesia itu gak begitu laku di bioskop, soalnya nonton dirumah juga bisa, kalo film berkancut kan mau nonton sendirinya juga males :D

Comment by raVeNsKa

Made Sunday, 24 of June , 2007 at 7:54 pm

ko brantem lg seh?

saya uda ntn..pelemnya gmn ya,,,
awalnya seeh keren,,kirain bakal ky y tu mama tambien
tp bgitu uda tngah² ko g ada kjadian apa² ya..waktu crita brantem gara² tarzan itu kan uda naek ampir klimaks d tu ee abs itu flat lg sampe bgtu pas gempa..
org² di byoskop mpe pd komen “ooh piringnya pecah x” eeh tnyata piringnya g pcah tuz diantara puing² gempa cm rmh mreka yg bdiri kokoh..jd masutnya gempa tu apa??????

abs itu endingnya ky salah edit..hrsnya stop sampe “hai..pa kbr?” disorot dr jaw,abs d..eeh ini aneh gt endingnya

sayang aja gt awalnya uda bgs akernya malah jd aneh,,

Comment by Death Berry

Made Monday, 25 of June , 2007 at 3:54 pm

Katanya sih… Film yang dapet bintang dari sinema-indonesia itu gak begitu laku di bioskop, soalnya nonton dirumah juga bisa, kalo film berkancut kan mau nonton sendirinya juga males

Karena orang - orang sekarang tidak menaruh minat untuk hal yang begituan. Mudah bukan…?

*Makan popcorn. Lihat orang berantem. :mrgreen: *

Comment by headcleaner

Made Monday, 25 of June , 2007 at 6:44 pm

2 bintang ???????? ga salah tuhhh????/ 3 kancut kali
gw heran bisa2nyasebuah perusahaan rokok mensponsori niy pelem??,,,mas riri pelem anda biasa aja tuh,,sok bule juga,,
krn gw sering bolak-balik jkt naek mobil dan gw tempuh cm dlm waktu 9jam sodara2..dan ini jd 3 hariiiii!!!!!!..ga jebol tu pantatny nikolas am adiniasapatulahnamanya?????!!!bwahahahahahahahhahhaah
disamain am lost in translation lage!! lebih bhwawawawwahahahahahahahah..mas dodisapatulahnamanya lg kebentur ya kepalanya??
jujur aj pas abis gw nonton,,bnyk yg nyeletuk “haaaaaahhhh ud abis????!!!apaannn niy pelemm??” skali niy gw stuju kali ama reno lost in translation dari timbuktuu,,

oya mentang2 diproduserin am rudi sudjarwo tuw pelem maap2an siringgo dapat 2,5 bintang?? selusin kancut kali mas mas di SI.

wassalam..

hayoo hayoo,,

panass yah hatinyaaaa ^_^

Comment by headcleaner

Made Monday, 25 of June , 2007 at 6:58 pm

buat senimansinting emank bangga ya nyimeng sambil nyetir?? qlo qln nyetir trs nabrak anak2 pulang sekolah ato gi maen2 gmn??apa tmn2 sampeyan bs tanggung jawab
emank siy kan emnk “UNTUK SAYA” underlinenya ya mas senimansinting?
dan terusterang kakak gw ditabrak mpe kakinya ga bs normal lagi seumur idup dya dan itu gara2 orang2 kyak qln suka nyimeng sambil nyetir..maturnuwunlaa buat sialan2 sejenis qln

maap2 agak nyimpang dr topik…

Comment by NoNtOn_YuuK

Made Wednesday, 27 of June , 2007 at 12:24 am

Ni film bagus kali yak kalo gak kebanyakan disensor.HATE EM!!! I mean pleeseee…Hare geneh anak sd juga tau adegan2 itu masudnya apa..
Terlepas dari beberapa silent air yg terjadi (untungnya diisi OST yang KerEEEN!),beberapa gap itu menurut saya malah memberi space bagi saya u/ berfikir tentang kedalaman film ini sambil tetap mengikuti continuity dr ceritanya(yang-lagi2 dirusak para umat pensensoran itu!!)..GrrH!!

Comment by Nando

Made Wednesday, 27 of June , 2007 at 11:35 am

Road movie dari mane? Dari HONGKONG ?

Yang Road movie tu adalah “Broken Flower” tauuuuuuuuuuuuuu.
Tapi tetap aja Riri R ama Mira L gak konsisten dalam bikin FIlm. Buktinya liat aja sendiri cerita2 nya.

Comment by Afterglow

Made Wednesday, 27 of June , 2007 at 6:02 pm

@Nando..
Ur own definition of being consistent dalam membuat film apa ya?

Comment by HARJO

Made Wednesday, 27 of June , 2007 at 6:57 pm

filmnya bgs, mas… mesti agak munafik (mau bikin film yang nggak mikir untung tp tetep aja ngarep jg ya dpt untung) hehehe…. smp formulanya dipaksain Nicolas dan Asti ML (udah kepepet ya, isunya smp kayak film nasional pas koleps dulu sex dan sex). mgkin kl yg main DS bs box office. Kt jd inget AADC tp ada nge sex nya… Hbs ngeseks nya itu mgkin akan lbh ok kl kejadiannya pas mrk msh di jln bkn udah smp Jogya (jd nggak kena). Dan Satu lg nih, hehehe… Mesti dr awal udah dikenalin kl struktur editingnya tdk paralel tp tetep ngganggu, mas… Masak Jembatan Tempel ke Jogya yg sharusnya cm 15 menit bs jd shari? (contoh doang dan byk bgt yg kayak gini). Tp gw suka bgt, mas… slamat ya smg dpt mengharumkan nama Indonesia di festival dunia… ditunggu karya berikutnya ya, mas.

Comment by asfi

Made Saturday, 30 of June , 2007 at 1:15 am

lumayan….!!!dari no nonton film horror yang tak berkesudahan??
(anjrit bahasanya…:)

soundtracknya lumayan nedang lah kalo gw bilang…

regards

asfi

Comment by nana

Made Thursday, 5 of July , 2007 at 7:59 pm

keren…..

Comment by gambon

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 8:14 pm

banyak film ini jelek dan bla-bla-bala…tapi skali lg film itu subjektif..
dan m,enurut gw film ini luar biasa!
emang ending agak bururk..
tapi dialognya itu gak nahan…
postmi banget!
cuma sampah yang bilang film ini sampah!

Comment by viCiouSaiKo

Made Saturday, 21 of July , 2007 at 6:18 pm

sala satu film yang ‘lumayan menyegarkan’ di antar serbuan pelm horor yang enggak mutu. Kalo emang dibilang enggak ada ceritanya, menurut gue film ini emang bukan untuk ‘bercerita’ tapi ngasih ‘makna-makna tersembunyi’. Sayangnya, enggak ada suatu moment yang bener-bener ngasih ’sesuatu’ dan endingnya itu luoh mengecewakan. (maap klo kebanyakan tanda kutip).
Btw, meskipun dikasih rating 18+ tetep aja, ABG berseragam anak SMA dan SMP yang keliatan jelas dari bet di saku kemejanya berkeliaran dan sebentar-bentar mendesah “Aah, NIco ganteng banget, ya…” (pengalaman yang sama gue alami waktu menonton ‘Gie’. Kayaknya tuentiwan kita perlu ngasih pengawasan lebih supaya penonton sesuai dengan rating yang dikasih sama LSF, meskipun rating yang dikasih LSF juga terlalu luas.

Comment by ola vee'

Made Wednesday, 17 of October , 2007 at 2:49 pm

sorry klo telat ngebahasnyee….
klo gw bilang LUMAYAN kok nech film,
yg bikin gw suka nech film :
1.yg maen adinia wirasti..pas bgt klo mas riri nunjuk nech cewe, cukup sexy,tomboy,cukup idealis bgt.
2.adinia + nico juga cukup rilex kok ngebawaiin perannya masing2 ( tp nico,menurut gw kurang mendalami karaktenya,apa kurangnya/terbatasnya skenarionya kalee yee jadi kurang lepas aja sech karakternya)
3.anjroootttt…nech film…dari awal ampe abis ngesyuuuttttt mulu….shittt (abis nonton nech film jadi MUUUPPPEEENNNGGG gila gw c”,)…pengen nyimenk..hehhe)
4.klo lo bisa hayati nech film….pasti lo dapet ’something ‘ di dalamnya (gw dapet kok) walaupun mang rada flat tapi gw GA RUGI (ga kya film alexandria..film tolol yg dari semua segi)nonton nech film coz gw dapet ‘the somethingnya’…klo byk org bilang ga ngerti nech film….LOE2 PADA AJA YANG IQnye JONGKOK..dah jgn di paksain otaknye ntar malah DOWN loh.

tapi yg bikin gw sebel ma nech film….
1.knp coba ENDING NYA GA JELAS BGT..?????!!! bikin gw Gregetaan tau ga sech?!…sebel bgt gw…sumpaaahh…maksudnya mas ririn apa sech….????? plzzzzz kasih tau gw mas riri..maksudnyeee apa coba ending gantung ga jelas gitu….?????
2.karakternya di yusuf masih belom poll bgt keluarnya yg bisa memperkuat isi film itu sendiri, malah yg bikin menonjol bgt dalam film ini karakternya ambar.
kya nya di film ini, lo ga poll bgt mainin karakternya yusuf…knp tuch nic…??? apa script nah yg kaku ….???
3.jijik bgt ngeliatin pa’Lurahnyeeee….iiiiihhhh…..upeng tolol gitu mukanye ( tp bagus, apet karakternyee…)

pokoke intinya…film ini bagus karna ada ADINIA WIRASTI….
SALLUUUTTTTT BUAT LO FRIEND,
KYANYA CUKUP MENJANJIKAN BGT KLO LO BENER2 TERJUN TOTAL JADI SENIMAN BO’
btw good luck buat study lo di sono ( mudah2an jadi yee )
gw doain pas balik, lo bisa buat suatu terobosan terbaru di film tanah air qte….amin…GBU

-OLA VEE-

Comment by Harusame

Made Tuesday, 23 of October , 2007 at 6:20 pm

Bulan lalu, film 3 Hari Selamanya ini diputar di Fukuoka, Jepang dalam event Asia Month (selain film dari Indonesia, juga film dari negara2 Asia lainnya, ohya, dari Indonesia ada dua film, satunya lagi Mendadak Dangdut). Saya nonton film ini lebih karena ingin tahu kesan penonton Jepang terhadap film Indonesia, apalagi setelah baca review2 SI, jadi ingin membandingkan kesan penonton negeri sendiri dengan penonton asing di negeri asing (waktu itu Riri Riza datang, dan setelah pemutaran film ada sesi diskusi).

Nonton film ini (terus terang juga, agak2 dipengaruhi review SI dan komentar2 pembaca review ini), saya emang nggak berharap banyak (kecuali pengen liat Niko Saputra), dan yaah..terlepas dari tema film yang emang lebih dalam (kata Riri: dia punya message dan tanggungjawab sosial, dan sebagai film maker, dia ingin memakai media film untuk menyampaikan hal2 itu…), filmnya menurut pendapat saya (yang awam banget) bikin capek. Maksudnya, capek banget nunggu dialog yang mengalir dengan enak, kayaknya dipaksain banget dialog2nya, udah gitu, soundtrack-nya kayaknya lebih terkesan buat ngisi kekosongan karena keabisan dialog, daripada sebagai bagian dari film.

Di akhir film (ohya, di Jepang, film ini versi yang bebas sensor), penonton (Jepang) yang sopan-sopan (menahan diri untuk tidak keluar theater meskipun udah setengah mati gelisah kebosanan di tempat duduk, nonton film yang lambaaaaaaaaat banget dan kayaknya konflik-nya nggak muncul2, dan dialog kayak dibaca dari buku) lebih banyak bertanya tentang tema sosial yang diusung, daripada nanya aspek teknikal film ini (maklum sopan, udah tau sih, masalah teknis dan skenario sih nggak usah diperdebatkan mutunya, kasihan juga kali…), misalnya mereka nanya, kenapa di Indonesia adegan seks-nya disensor(sebelum pemutaran film, Riri menjelaskan bahwa di Indonesia, ada sekian adegan yang disensor), ..kenapa Polisi nggak nangkep pemakai drug di jalanan (sambil nyetir pula..nggak kebayang itu terjadi di jalanan Jepang, kali..), trus juga, kenapa image Islam (nggak bermaksud SARA, tapi kurang lebih ada tiga orang Jepang yang nanya soal ini) di film itu kacau banget (Pak Haji Mesum, dll)..dan ohya, soal pipis di pinggir jalan itu…. Kesimpulan saya sih, ketika menonton film-film Asia (terutama Indonesia, mungkin), para penonton Jepang itu hanya lebih ingin tahu tentang budaya negara lain, dan mereka (menahan diri dengan penuh kesopanan)untuk tidak mengomentari segi teknisnya…dan karena ini (barangkali), makanya pembuat film di Indonesia (jangan-jangan) merasa terbuai, merasa bahwa film-filmnya tuh dah dibuat dengan bagus banget (dari sisi penyutradaraan, skenario, dll)..dst. Tapi mungkin yang perlu diingat para film makers dan script writers, bahwa film yang baik mungkin juga perlu logika, se-abstrak apapun plot yang dibuat…karena kalo nggak, kayaknya akan bikin salah paham dan kebingungan terhadap pesan yang mau disampaikan.

Comment by Ade Putri

Made Saturday, 24 of November , 2007 at 5:38 pm

Wuaaaa… Keren sekali tulisannya. Salute!
*baru tau site ini dan lagi baca satu-satu semua review-nya*

Comment by adis_niey

Made Friday, 14 of December , 2007 at 8:58 pm

yang jelas saat slesai nntn, pdhl tadinya menggebu2… jd berasa kosong… hum… ga tw apa yg ditonton…

adegan gempanya tp bikin ketawa ngakak abis… huehehe… ga ada ide yang lebih bagus kah???

lalu,,, rute perjalanannya… membingungkan… utara selatan utara selatan… nicholas bnr2 ga tw jalan yak??? hoho

Comment by MoViE faN$

Made Sunday, 30 of December , 2007 at 4:57 pm

ih kan akhirnya ml

Comment by rama

Made Tuesday, 1 of April , 2008 at 2:25 pm

pengen banget punya vcd “3 hari untuk selamanya” bagi gw nich film bagus banget fresh banget! tolong infonya bisa di beli dimana? di download dimana?thanks.

Comment by echy

Made Tuesday, 3 of June , 2008 at 7:49 pm

Beli dvd nya dmn??
bs order ga??
Urgent bgt

Comment by DeWiNa PooH

Made Thursday, 26 of June , 2008 at 10:29 am

mm..kalo filmnya sih secara keseluruhan yah lumayan bagus lah. walaupun memang sih aneh di ending. kayaknya asti sama nico main bareng di satu frame asik juga. kali2 aja dari sahabatan bisa jadi pacaran…cocok loh. kalo bisa adain lagi lah film yang ada mereka berduanya. tapi jangan kayak film yang skrg ya. pokoknya secara pribadi gue selalu suka sama film apapun yang diperanin sama asti. karena dia kalo main kayaknya selalu all out. dari aadc smp film terakhir ini. bahkan pernah ada satu F TV yang dia peranin, jadi orang cacatpun lumayan keren tuh..

Comment by cherub rocks

Made Wednesday, 23 of July , 2008 at 4:52 pm

iniLah fiLm yg patut d acungin unLimited jempoL.
fiLm yg jujur, fiLm yg ga banyak basa-basi, fiLm yg ga Latah, dsaat produser2 b’duyun2 bikin fiLm horor yg ga jLs juntrungan’y yg cuma bisa nakut2in doang, tp 3Hari untuk seLama’y dtg bawa sesuatu yg originaL.

Yg biLang fiLm ini jLk mungkin dia maLu krn m’gemari fiLm2 horor yg 11 12 sama fiLm india!!!

Comment by haya

Made Monday, 11 of August , 2008 at 4:42 pm

hem…setelah skian lama akhirnya vcdnya kluar….
gwe nunggu lama…..tiap ke rental vcd slalu nanya “3 hari tuk slamanya dah kluar blom mba?”

klo menurut gwe ini bagus banget…, awalnya sdikit bingung emang, tp…bravo wat riri reza,
buat gw ini film Indonesia terkeren yang pernah gw tonton selain film2 nya ibu Christine Hakim tentunya…

Comment by erlinaz

Made Sunday, 18 of January , 2009 at 6:35 pm

kalo ada Riri Riza en Nicholas Saputra, kayanya tetep penasaran pengen nonton, udah ada image bagus sih….

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com