Posted by ferrysiregar on Thursday, 19 of April , 2007 at 8:48 pm
The word is out. Get this: Film kedua Joko Anwar is a MINDFUCK, dalam tradisi film-film seperti 12 Monkeys dan Brazil. Untuk itu kami berani mengatakan, Terry Gilliam Indonesia telah lahir.
Tidak ada sedikitpun tanda-tanda dari Arisan!, Janji Joni, atau Jakarta Undercover yang mempersiapkan kami untuk menerima KALA, sebuah film yang rasanya dibuat oleh seorang scientist gila yang sesukanya mencampur berbagai macam formula. Di tangan yang salah, ini bisa jadi bencana. Di tangan Joko Anwar, hasilnya adalah sebuah formula baru yang sulit didefinisikan. Tapi jika orang bersedia menelannya, mereka akan merasakan sensasi luar biasa yang akan berujung dengan cinematic orgasmo. Seperti yang kami bilang, it’s a mindfuck.
Di antara film-film generic buatan dalam negeri, sulit dipercaya ada penyandang dana yang mau memberikan uang kepada Joko Anwar untuk membuat film seperti ini. Kami menyatakan salut kepada MD Pictures, terlepas dari kenyataan bahwa logonya hampir terasa seperti efek bawang putih pada vampir.
Dunia buatan Joko Anwar adalah sebuah negeri yang mencekam, dengan orang-orang yang tidak berperikemanusiaan, dari mulai rakyat biasa yang bahkan tidak bergeming saat seorang perempuan menggendong bayi jatuh mengejar bus di waktu hujan, sampai ke menteri yang menyiksa dan membunuh orang untuk mencari kekayaan. Aneh, karena biarpun Joko Anwar mendandani karakter-karakternya dengan outfit barat, semuanya terdengar familiar. Ini adalah negara kita.
Joko Anwar menyampaikan keluh kesahnya dengan sangat stylish, dengan referensi buat film buff yang kami rasa tak ada habis-habisnya, walaupun kami langsung menontonnya dua kali. Selalu ada yang baru yang kami temukan. Kami tidak akan menceritakan ceritanya dengan lebih detil. Percayalah, semakin sedikit anda tahu tentang cerita KALA, semakin nikmat anda menontonnya. Yang perlu anda dengar: ini adalah sebuah film mencekam yang akan membuat anda mencengkeram pegangan kursi anda.
Ini adalah pertama kali kami menyaksikan sebuah film Indonesia di mana semua departemen bekerja dengan kompeten. Akting, art, sinematografi, musik, sound. Sadar atau tidak, film ini telah dengan fatal telah menaikkan benchmark film Indonesia. Kami ngeri untuk masuk ke bioskop untuk menonton film Indonesia berikutnya. Ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, terlepas dari beberapa kelemahan teknis yang kami yakin disebabkan oleh bujet.
Kami tidak sabar menunggu apa yang akan dibuat Joko Anwar berikutnya. Untuk itu, kami hanya memberikan 4,5 bintang untuk KALA. Tapi, untuk semua yang terlibat dalam pembuatan film ini: SALUT!

Sutradara/Skenario: Joko Anwar
Pemain: Fachri Albar, Ario Bayu, Shanty, Fahrani, Tipi Jabrik, Arswendi Nasution, Frans Tumbuan, Jose Rizal Manua, Rima Melati, Sujiwo Tejo.
Director of Cinematography: Ipung Rachmat Syaiful
Art Director: Wencislaus
Costume Designers: Tania Soeprapto, Isabelle Patrice
Editor: Wawan I. Wibowo
Sound Designer: Khikmawan Santosa
Music: Aghi Narottama, Zeke Khaselli
Produksi: MD Pictures
Durasi: 102 menit
Official website
Jam Tayang
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:13 am
Sejak kami dengar buku Mommar Emka terbitan teen-lit mogul Gagas Media akan dijadikan film, kami langsung membelinya. Saya mencoba membaca halaman pertama. Badan saya gatal-gatal. Sampai di halaman ketiga, buku itu saya lempar ke Dodi sambil teriak “Hiiiiiiiiiii….!!!!” Dodi menangkapnya dan mulai membaca. Di halaman keempat, Dodi melemparkannya lagi ke saya sambil teriak “Hiiiiiiiiii…..!!!!”. Saya menangkap dan mulai membacanya lagi. Hanya setengah halaman, saya kembali melemparkannya ke Dodi dan berteriak “Hiiiiiiiii…..!!!!” Dodi tak sanggup membaca lagi dan melemparkannya ke saya. Buku itu berpindah pindah tangan, sampai akhirnya tak ada dari kami yang bersedia menangkapnya. Pembantu saya, Bik Jessica masuk dan mengutip buku itu sambil bilang, “Nopel kok dibuang-buang.” Buat Bik Jessica yang setiap hari mengutip kolor kami yang bertebaran di lantai, tentu saja mengutip buku itu adalah pekerjaan gampang. Beberapa jam kemudian Bik Jessica lapor ke kami. “Nopelnya jorok tapi Jessica suka.” Dodi hanya membelalak membayangkan Bik Jessica berbicara tentang kolornya.
Bukan berarti kami tidak suka dengan buku dengan isu esek-esek, tapi buku Jakarta Undercover sangat tasteless. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana filmnya nanti. Apalagi, kami tidak siap kehilangan respek kami terhadap Joko Anwar yang menulis skenarionya.
Saat kami akan masuk bioskop, kami diam seribu bahasa. Akhirnya Dodi bilang ke saya, “Ini adalah tugas. Kita harus memberanikan diri.” Setitik air mata hampir menetes di mata saya yang sebelah kanan. (Yang kiri sudah rusak sejak saya kelilipan korek api pas nonton 9 Naga).
Di depan kami sepasang mas-mas sangat akrab berbicara. “Fachri jadi belok ya, Bo?” kata Mas-Mas I, lalu merebahkan kepalanya ke bahu Mas-Mas II. Dodi mencoba berbuat yang sama ke saya. Saya langsung menoyor kepalanya,
Film dimulai. Luna Maya sudah ngos-ngosan dikejar-kejar orang. Lalu opening titles dengan musik techno loopingan seperti yang sering dibikin Dodi di Garage Band kalau dia sedang dijangkiti penyakit ingin jadi Moby. Anehnya, opening itu langsung meng-grab saya dan Dodi. Tak lama kemudian, mas-mas di depan kami pun mulai teriak-teriak karena khawatir dengan nasib Luna Maya. Biasanya kami marah kalau ada yang norak waktu nonton di bioskop. Tapi kali ini, kami bisa mengerti.
Dalam suatu artikel online, Joko Anwar pernah bilang kalau film ini seperti film Hollywood. Mungkin banyak yang langsung mengangap dia spak. Tapi kami tahu yang dia maksud. Jakarta Undercover sama no-brainer-nya dengan film-film Hollywood kebanyakan. Corny, klise, dengan karakter cewek yang selalu naik tangga kalau dikejar-kejar orang yang mau membunuhnya, ketimbang lari ke tetangga. Tapi yang membuat Jakarta Undercover berbeda dengan film Indonesia lainnya, yang lain mencoba jadi pintar tapi jatuhnya bodoh. Jakarta Undercover bodoh dengan sengaja tapi tak jarang jatuhnya pintar. Lihat saja penyutradaraan Lance yang meningkat dua tiga kelas dibanding Cinta Silver. Atau akting Mami Lesbian (yang entah diperankan oleh siapa) yang super campy. Yang kurang adalah Luna Maya strikes back dengan membawa bazooka. Bahkan, karakter Luna Maya di sini bisa dibilang gabungan antara Neve Campbell dalam film Scream dan Eva Arnaz dalam film Noda X. Dan Fachri Albar yang membuat mas-mas di depan kami selalu berucap, “Cantik ya, Bo,” memberikan salah satu penampilan yang paling berkesan buat kami sejak Barry Prima jadi penari salsa.
Saat film selesai, kami keluar dengan tersenyum. Sampai akhirnya mas-mas tadi melihat saya dan salah satu dari mereka bilang, “Kayak Fachri Akbar ya, Bo.” Saya tidak tahu harus kesal atau bangga. Yang jelas, Dodi lari sambil terbahak-bahak.

Pemain: Luna Maya, Fachri Albar, Lukman Sardi, Kenshiro Arashi. Penulis: Joko Anwar. Sutradara: Lance. Produksi: Velvet Films
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:12 am
Pada tahun 1987, sebuah film berjudul Nagabonar muncul dan langsung mendapat sambutan luar biasa. Skenario yang ditulis Asrul Sani sangat cerdas, patriotik. Warna nasionalisme yang sangat kental tidak mengganggu apresiasi penonton. Mungkin karena dulu pemerintah Orde Baru sangat getol mempropagandakan nasionalisme dan televisi hanya diisi acara-acara TVRI. Tahun 2007, sequel dari film ini dibuat dengan janji menawarkan semangat nasionalisme yang sama. Dan Deddy Mizwar, pemeran utama dalam film Nagabonar, kali ini bukan saja membintangi, tapi juga menyutradarainya. Dengan track record Deddy Mizwar yang belakangan ini membuat film-film dan sinetron Islami, sequel Nagabonar menjanjikan sebuah sajian yang bukan saja nasionalis, tapi juga agamis. Kekhawatiran bahwa sequel Nagabonar akan jadi sesuatu yang preachy pun tidak bisa dihindari. Setelah kami menontonnya, ternyata benar filmnya agamis dan nasionalis. Tapi kami juga salah. Film ini membuktikan bahwa dua hal tadi bukanlah hal yang membosankan. Nagabonar Jadi 2 adalah sebuah film yang cerdas, lucu, menyentuh, dan very very entertaining.
Mantan copet yang jadi jenderal perang Nagabonar (Deddy Mizwar) sudah tua dan dengan modal perkebunan kelapa sawit yang dimilikinya berhasil menyekolahkan anaknya, Bonaga (Tora Sudiro), sekolah di Inggris sampai lulus S2. Bonaga yang kini sudah jadi kontraktor sukses membawa bapaknya ke Jakarta. Segera, Nagabonar terlibat dalam sebuah adventure yang mengasyikkan, termasuk usahanya untuk menurunkan tangan patung Jenderal Sudirman supaya tidak lagi dalam posisi memberi hormat.
Kudos untuk penulis skenario Musfar Yasin yang juga menulis Kiamat Sudah Dekat dan Ketika. Kedua film itu juga sama cerdas dan menghiburnya, tapi terganjal oleh tata artistik yang lemah. Untungnya, Deddy berhasil menciptakan dunia yang modern di Nagabonar Jadi 2. Deddy Mizwar benar-benar bersinar di sini, demikian juga dengan para aktor pendukung, bahkan Wulan Guritno. Kami jadi sangat mencintainya.
Di akhir film, Deddy menggunakan hak suaranya untuk masalah nasionalisme. Walaupun penonton tidak harus setuju dengan pendapatnya, tapi dengan film dengan kualitas seperti ini, siapapun filmmakernya layak untuk didengar.

Pemain: DEDDY MIZWAR, TORA SUDIRO, WULAN GURITNO. LUKMAN SARDI, ULI HERDIANSYAH Sutradara: DEDDY MIZWAR Penulis: MUSFAR YASIN Produksi: PT GISELA CITRA SINEMA
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:12 am
Rudy Sudjarwo memang bersalah karena memulai trend “Syuting Film Tujuh Hari” di Indonesia. Tapi kesalahannya mungkin tertebus oleh Pocong 2 yang super fun. Dibuat dengan murahan selama kurang dari seminggu, ini mungkin film horror yang paling menakutkan yang pernah dibuat di Indonesia.
Tidak perlu menanggapi serius ceritanya, karena selain tipis bener, skenario Pocong 2 masih dihinggapi trademark penulis Monty Tiwa yang sewaktu-waktu bisa menaikkan alis penonton dengan sisipan dialog faux-philosophica, kali ini termasuk tentang konsep hubungan fisik dan jiwa manusia. Joke-joke yang ada juga terasa seperti berada pada film yang berbeda, tapi timing adegan-adegan yang menakutkan dilakukan dengan sangat gape. Jangan-jangan film horror adalah genre yang paling dikuasai Rudy.
Rudy, seperti dalam Mendadak Dangdut, juga memegang sendiri kamera. Konsep “point-and-shoot” yang terasa amatiran justru menambah atmosfer mencekam film ini. Nonton film seperti ini bersama Dodi adalah momen yang menyebalkan, karena dia sewaktu-waktu akan mencengkeram lengan saya dan kalau kaget dia selalu ngomong jorok dan bikin malu. Belum pernah ada film horror Indonesia yang membuatnya seperti itu. Ini sudah cukup bukti buat saya kalau Pocong 2 adalah film horror yang sangat berhasil.

Pemain:
REVALINA S. TEMAT, RINGGO AGUS RAHMAN, DWI SASONO, RISTY TAGOR
Sutradara:
RUDY SOEDJARWO
Penulis:
MONTY TIWA
Produksi:
SINEMART PICTURES
Homepage:
http://www.sinemart.com/pocong2/
Trailer:
http://www.sinemart.com/pocong2/
Durasi:
90 min
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:11 am
Sebuah kejutan kecil yang menyenangkan hati. Film 6:30 jauuuuh lebih bagus dari film-film Hanung Bramantyo dan jauh lebih dewasa. Kami sebelumnya sudah skeptis kalau ada mahasiswa Indonesia di luar negeri yang bikin film di sana dengan hanya menjual gambar-gambar jalanan yang lebih bersih dari Jakarta doang. Tapi 6:30 adalah sebuah film yang, terlepas dari sound-nya yang sering muncul tidak, muncul tidak (after all, demikian juga sound di Janji Joni dan Realita Cinta dan Rock ‘n Roll), boleh membuat para pembuatnya bangga.
Reminiscent dari film 25th Hour-nya Spike Lee, 6:30 terjadi di hari terakhir seorang anak muda Indonesia di L.A. bernama Alit (Adilla Dimitri) sebelum harus pulang ke Indonesia keesokan harinya. Alit dan kedua teman dekatnya, Tasya (Dina Olivia) dan Bima (Winky Wiryawan) memutuskan untuk membuat hari itu sebagai hari perpisahan yang layak dikenang. Sebelum matahri terbit besok paginya, mereka berhasil menciptakan sebuah hari yang layak dikenang, walaupun tidak mesti hari yang penuh dengan kenangan manis.
Saat kebanyakan film Indonesia tidak punya character development yang jelas, para pembuat film 6:30 yang first-time filmmakers berhasil menciptakan karakter-karakter yang kuat. Alit adalah seorang anak muda yang aimless yang berpikir bahwa dia bisa membuat kehidupannya tidak terlalu membosankan dengan sewaktu-waktu meledak, termasuk mencuri uang pengemis di kali lima atau berlarian di atas mobil-mobil yang sedang diparkir. Bima adalah tipe anak muda yang punya drive untuk sukses dan sudah pekerjaan yang tetap. Di antara mereka ada Tasya, yang hidup di antara sentimentalisme dan dunia nyata. Ada cinta segitiga di antara mereka, yang digambarkan dengan berkelas. Akting ketiga aktor utamanya sangat mengagumkan, terutama Adilla Dimitri yang juga ikut menulis skenarionya. Ketiganya bersinar dalam sebuah coming-of-age drama tentang romance, friendship, dan tragedi.
Sayang, film ini luput dari perhatian banyak orang. Padahal para pembuatnya punya masa depan yang sangat cerah sebagai filmmaker. Salut.

Pemain:
DINA OLIVIA, WINKY WIRYAWAN, ADILLA DIMITRI, BAMBANG WARSONO, JAJANG C. NOER
Sutradara:
RINALDY PUSPOYO
Penulis:
ADILLA DIMITRI/RINALDY PUSPOYO
Produksi:
TANGANKIRI PRODUCTION
Homepage:
http://www.630themovie.com/
Trailer:
http://www.630themovie.com/
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:10 am
Kalau ada yang paling dibikin menderita karena dieksploitasi oleh film Indonesia, yang pertama pasti adalah hantu (gosipnya sekarang hantu-hantu pada blingsatan karena semua habitatnya sudah dibuka oleh film Indonesia sehingga mereka balas dendam dengan bikin rusuh). Yang kedua adalah anak band (kabarnya mereka akan balas dendam dan bikin rusuh). Oh lord, setelah anak indie dipaksa main gamelan, diikutsertakan dalam kampanye pedofilia is cinta, dibeli label cemen (dengan pengecualian Realita Cinta dan Rock ‘n Roll), kali ini anak band dan rock pada umumnya dibikin nista oleh satu lagi film tentang “rock” yang jiwanya (dan suaranya) sama sekali bertolak belakang dengan konsep rock itu sendiri dan diasosiasikan dengan Darius Sinathrya.
Darius adalah vokalis sebuah rock band tahun 80′an (suddenly the 80’s sounds not cool anymore) yang mati karena OD (O’on dan Dongok). Bandnya bubar. Beberapa tahun kemudian, adik perempuan Darius mencoba untuk menyatukan kembali band itu (out of sentimentality, karena nggak mungkin karena kualitas). Skenario film ini jelas ditulis bukan oleh anak band, atau yang suka musik rock. Karena ketimbang menggali kelucuan-kelucuan dari masalah anak band, film ini bergantung pada satu lagi korban terbesar film Indonesia, banci (dengan pengecualian Jakarta Undercover). Gary Iskak jadi banci rocker (mohon jangan disamakan dengan Hedwig and the Angry Inch), dan jadi tumpuan film ini untuk terus jalan. Dan akhirnya, semua berakhir di sebuah konser “rock” dengan lagu yang membuat Nafa Urbach tiba-tiba terdengar seperti Courtney Love and the death of rock. Pass.

Pemain:
TORA SUDIRO, RIANTI CARTWRIGHT, DARIUS SINATHRYA, INDRA BIROWO, GARY ISHAK
Sutradara:
RAKO PRIJANTO
Penulis:
TITIEN WATIMENA
Produksi:
RAPI FILMS
Homepage:
http://www.dbijis.com
Trailer:
http://www.dbijis.com
Durasi:
91 min
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:10 am

Saya dan Dodi sudah siap mencari ide-ide lucu untuk mereview Long Road to Heaven sehabis menonton film ini, sampai akhirnya kami melihat adiknya Dodi yang bernama Ivan bangkit dari tempat duduknya dengan mata berair. Ketika kami menanyakan apakah film ini begitu menyentuh hatinya sampai dia menangis, Ivan terus berjalan sambil berkata ke Dodi, “Mas, that movie has just trivialized the death of those people.” Ivan sedang berada di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, dan baru saja kembali ke hotel mereka dari toko alat-alat surf Aloha di dekat Sari Club. Dia bersama rekan-rekannya meluncur ke rumah sakit Sanglah dan menyaksikan pemandangan yang paling mengerikan. Ivan tidak pernah ke Bali lagi sejak saat itu. Kami jadi merenung. Kalau kami membuat review Long Road to Heaven jadi lucu-lucuan, berarti kami tidak ada bedanya dengan film yang tidak punya sensibilitas sama sekali ini.Long Road to Heaven bukan saja membuat sebuah tragedi kemanusiaan terbesar di dunia menjadi sangat trivial, tapi juga membuat sejarah jadi terdistorsi. Para pembuatnya memutuskan untuk menceritakan peristiwa ini secara kronologis dengan karakter-karakter sebenarnya tapi mereka seakan-akan dibuat berdasarkan judul artikel berita tanpa membaca isi beritanya. Hasilnya, semua karakter terasa cartoonish dan tanpa dimensi. Penggambaran perencanaan terorisme di film ini membuat kami bertanya-tanya, bagaimana orang-orang bodoh bisa membuat sebuah jaringan teroris yang sangat rapi. Istilah “trying to bite more than they can chew” paling tepat untuk para filmmakernya. Bahkan dengan materi seperti ini, mereka sama sekali tidak mampu membuat penonton tergetar hatinya, apalagi mengundang pemikiran-pemikiran. Yang ada hanyalah dialog-dialog panjang yang tidak menimbulkan apa-apa selain penonton menguap bosan. Dan yang paling menyedihkan lagi, film ini sangat preachy.Mungkin hal yang bagus film ini cepat hilang dari layar bioskop, sehingga tidak banyak yang sadar akan kenyataan bahwa orang Indonesia tidak mampu menyerap sesuatu dari tragedi. Jangankan dipukul kepalanya, sebuah kejadian yang sungguh menyakitkan seperti ini saja tidak bisa membuat kita lebih dewasa.

Pemain:
ALEX KOMANG, RAELEE HILL, MIRRAH FOULKES, SURYA SAPUTRA
Sutradara:
ENISON SINARO
Penulis:
WONG KAI LENG and ANDY LOGAM-TAN
Produksi:
KALYANA SHIRA FILMS
Homepage:
http://www.kalyanashira.com/longroadtoheaven/
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:10 am
Jangan ketawa waktu Evan Sanders membuka film ini dengan kalimat, “Sayang, kamu mimpi buruk yang sama lagi?”. Oke, ekspresi VJ MTV ini waktu mengucapkan dialognya memang sama dengan setiap kali tukang siomay dipalak remaja-remaja begajulan di kampung anda. Tapi kalimat ini mengandung kebenaran yang sangat tepat. Film Kuntilanak adalah awal dari mimpi buruk anda akan film-film horor kancut yang segera datang ke bioskop untuk meng-abuse tingkat toleransi anda untuk film-film buruk.
Sam (Julie Estelle) memutuskan untuk pindah dari rumahnya setelah bapak tirinya mencoba untuk memintanya menggantikan posisi ibunya yang sudah meninggal. Ya, posisi di tempat tidur. Dia menemukan sebuah tempat kos berupa sebuah gedung tua yang di depan pintunya terdapat sebuah areal perkuburan, lengkap dengan sebuah pohon besar yang menyeramkan. I don’t know about you, tapi kalau pun saya dibayar untuk tinggal di situ, saya lebih memilih untuk kos di Bekasi Timur. Dan saya bukan penakut.
Saat dia tiba pertama kali, ibu kosnya langsung menjelaskan bagian rumah dan sejarahnya seperti seorang tour guide. Ibu kosnya juga menceritakan tentang legenda kuntilanak yang tinggal di pohon besar di tengah perkuburan itu. Kuntilanak di film Rizal Mantovani ini bukan kuntilanak yang kita tahu (perempuan cantik berpakaian putih dengan rambut panjang). Kuntilanak di sini berbadan setengah kuda. Saya hampir berharap kalau Sam ternyata Xena, The Warrior Princess. Tak lama kemudian, Sam hapal sebuah lagu Jawa yang bisa memanggil kuntilanak itu, dan setiap kali Sam disakiti orang, dia dengan tak sadar langsung nembang lagu Jawa. Akan lebih menarik kalau lagunya Dondong Opo Salak. Dan teman-teman kos Sam juga sakit jiwa semua. Baru saja datang, dia sudah mau ditusuk gunting, akan diperkosa. Penghuni tempat kos Sam mungkin jebolan Nusa Kambangan semua.
FIlm Kuntilanak mungkin dimaksudkan sebagai film cheesy. Sayang kejunya keju busuk. Dan Evan Sanders sebagai pacar Sam couldn’t act to save his life. Kalau saja dia digantung di pinggir jurang, dan orang yang menggantungnya bilang “coba elo akting. Kalau meyakinkan, elo gue bebasin.” Tetep aja Evan Sanders bakal nyungsep.
Sesuai tradisi film Sundel Bolong, film ini juga menghadirkan elemen humor yang diwakili oleh tukang parkir yang tidak pernah dapat bayaran. Sayang nggak ada satupun joke-nya yang lucu. Dan ketimbang menyajikan momen horror dengan elegan, Rizal menawarkan editing yang frantic seperti video-video musiknya. Hasilnya bukan menyeramkan, tapi bikin pegel mata.
Ah, sudah lah.
MVP Pictures presents “Kuntilanak” Starring Evan Sanders, Julie Estelle, Ratu Felisha, Alice Iskak, Lita Soewardi, Ibnu Jamil. Penata Sinematografi Teguh Uche Santosos Editor Adrian Nugraha Penata Musik Andi Rianto Cerita Rizal Mantovani Skenario Ve Handojo Produser Pelaksana Gobin Punjabi Wicky V Olindo Produser Raam Punjabi Sutradara Rizal Mantovani.
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:09 am
Menurut Ferry, judul film ini adalah judul yang paling ngemong. Saat kita ngantuk-ngantuk dan mencoba bertahan karena bosan, judul film ini mengingatkan, “Badai pasti berlalu… Badai pasti berlalu…” Tapi saya tidak setuju. Badai adalah kejadian yang rame dan bisa menarik untuk disaksikan. Tapi tidak dengan film ini. Kalau mau dianalogikan dengan sesuatu yang ada hubungannya dengan angin, paling banter film ini bisa disamakan dengan dengkuran Ferry: monoton dan mengganggu.
Mungkin Teddy harus diberi penghargaan karena mampu membuat sebuah remake terasa lebih tua dari film yang di-remake. Sensibilitas film ini bukan cuma kayak film waktu orang masih pake handuk Good Morning untuk pengganti Softex, tapi seperti jaman Ida Royani belum punya kumis (lama banget tuh).
Pembukaan Badai Pasti Berlalu sudah memberikan warning. Opening credit yang biasanya dibuka dengan nama distributor atau production company ditempati oleh nama sponsor utama. Mungkin filmmakernya sadar tidak ada yang bisa dijual dari film ini, makanya filmnya mereka jual ke L.A. Lights yang pasti dengan senang hati menggunakan film ini buat campaign, bahwa penyebab kematian terbesar bukan nikotin, tapi diabetes (atau kebosanan karena menonton film yang sangat buruk). Bahkan di film ini Teddy tidak sempat membuat gambar-gambar indah a la kartu pos yang sudah jadi trade mark-nya. Mungkin dia baru sadar bahwa kartu pos sudah lama digantikan oleh MMS.
Sedihnya, tanpa gambar-gambar postcard tadi, Teddy tidak punya hal lain yang bisa ditawarkan.

Pemain:
VINO G. BASTIAN, RAIHAANUN, WINKY WIRYAWAN, AGASTYA KANDOUW, SLAMET RAHARDJO, DEWI IRAWAN
Sutradara:
TEDDY SOERIAATMADJA
Penulis:
TITIEN WATTIMENA/TEDDY SOERIAATMADJA
Poduser:
PHILIPUS WIRJADI, DIAN MEDIANA, AFI SHAMARA
Produksi:
ASTRAL PICTURES
Durasi:
90 min
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:08 am
Sebenarnya film Dunia Mereka adalah film tentang anak band yang tidak membuat subjek ini menjadi hina. Hanya saja penggarapannya dilakukan nyaris tanpa style. Hasilnya adalah sebuah film mediocre yang lebih layak disaksikan gratis di layar kecil.
Sejak awal kita memang sudah terpaksa menerima imej anti-rock Christian Sugiono sebagai kapten dari sebuah rock band. Untung saja Ardinia Wirasti (salah satu aktris favorit kami) muncul sebagai salah satu tokoh utama. Ceritanya sendiri sudah sangat lapuk dan nyaris tak ada bedanya dengan cerita Begadang-nya yang terhormat Haji Rhoma Irama, lengkap dengan adegan bapaknya menghantamkan gitar ke lantai (gitar murah, by the way).
Filly (Ardina Wirasti) sangat sayang sama gitarnya yang merupakan pemberian ibunya sebelum ibunya meninggal waktu dia kecil. Setelah ikut audisi, Filly diterima sebagai salah satu personil band Ivan (Christian Sugiono). Di antara konflik personal antara anggota-anggotanya, band ini mencoba untuk mempertahankan musik mereka di tengah-tengah tekanan bahwa mereka harus rela meninggalkan idealisme mereka kalau mereka ingin sukses secara komersial. Kami sering bingung kalau ada film Indonesia yang mengangkat cerita anak band dan menggambarkan band merea sebagai band yang punya idealisme di antara komersialisme. Masalahnya, musik yang mereka tunjukkan bukan musik yang menggambarkan “musik idealis” karena terdengar nggak jauh beda dari musik-musik yang masuk daftar TOP 40. Demikian juga dengan film ini. Nyebelin kaaaan…?
Tapi yang jelas, penyutradaraan Lasja jauh lebih bagus dari film pertamanya, Lovely Luna. Dan ada beberapa momen-momen bagus yang lucu, bankan menyentuh di film ini.
P.S. What is Mr. Joko Anwar doing in this film? Please stick to making movies. Peace.

Pemain:
CHRISTIAN SUGIONO, ADINA WIRASTI, RAY SAHETAPI, IRA WIBOWO, OKA ANTARA, AYU DIAH PASHA, VJ CATHY
Sutradara:
LASJA F. SUSATYO
Penulis:
MONTY TIWA
Produksi:
DIWANGKARA FILM
Category: Review