Sinema Indonesia

Long Road to Heaven (2007)

Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:10 am

Saya dan Dodi sudah siap mencari ide-ide lucu untuk mereview Long Road to Heaven sehabis menonton film ini, sampai akhirnya kami melihat adiknya Dodi yang bernama Ivan bangkit dari tempat duduknya dengan mata berair. Ketika kami menanyakan apakah film ini begitu menyentuh hatinya sampai dia menangis, Ivan terus berjalan sambil berkata ke Dodi, “Mas, that movie has just trivialized the death of those people.” Ivan sedang berada di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, dan baru saja kembali ke hotel mereka dari toko alat-alat surf Aloha di dekat Sari Club. Dia bersama rekan-rekannya meluncur ke rumah sakit Sanglah dan menyaksikan pemandangan yang paling mengerikan. Ivan tidak pernah ke Bali lagi sejak saat itu. Kami jadi merenung. Kalau kami membuat review Long Road to Heaven jadi lucu-lucuan, berarti kami tidak ada bedanya dengan film yang tidak punya sensibilitas sama sekali ini.Long Road to Heaven bukan saja membuat sebuah tragedi kemanusiaan terbesar di dunia menjadi sangat trivial, tapi juga membuat sejarah jadi terdistorsi. Para pembuatnya memutuskan untuk menceritakan peristiwa ini secara kronologis dengan karakter-karakter sebenarnya tapi mereka seakan-akan dibuat berdasarkan judul artikel berita tanpa membaca isi beritanya. Hasilnya, semua karakter terasa cartoonish dan tanpa dimensi. Penggambaran perencanaan terorisme di film ini membuat kami bertanya-tanya, bagaimana orang-orang bodoh bisa membuat sebuah jaringan teroris yang sangat rapi. Istilah “trying to bite more than they can chew” paling tepat untuk para filmmakernya. Bahkan dengan materi seperti ini, mereka sama sekali tidak mampu membuat penonton tergetar hatinya, apalagi mengundang pemikiran-pemikiran. Yang ada hanyalah dialog-dialog panjang yang tidak menimbulkan apa-apa selain penonton menguap bosan. Dan yang paling menyedihkan lagi, film ini sangat preachy.Mungkin hal yang bagus film ini cepat hilang dari layar bioskop, sehingga tidak banyak yang sadar akan kenyataan bahwa orang Indonesia tidak mampu menyerap sesuatu dari tragedi. Jangankan dipukul kepalanya, sebuah kejadian yang sungguh menyakitkan seperti ini saja tidak bisa membuat kita lebih dewasa.
Pemain:
ALEX KOMANG, RAELEE HILL, MIRRAH FOULKES, SURYA SAPUTRA
Sutradara:
ENISON SINARO
Penulis:
WONG KAI LENG and ANDY LOGAM-TAN
Produksi:
KALYANA SHIRA FILMS
Homepage:
http://www.kalyanashira.com/longroadtoheaven/

Category: Review

7 Comments

Comment by kritikpedes

Made Monday, 2 of April , 2007 at 9:14 am

padahal trailernya oke lho, pas nonton taunya biasa2 aja, nggak menyentuh, walau aktingnya lumayan (terutama Surya) tapi jadi nggak ada emosinya, musiknya juga ngebosenin. Sayang banget padahal tema filmnya bisa jadi sangat powerful, tapi malah jadi kalah sama bom bali yang dibuat sama Discovery Channel..walau gitu saya tetep appreciate film ini karena udah berani ngangkat masalah yang sangat sensitif

Comment by aditya

Made Wednesday, 4 of April , 2007 at 11:05 pm

yaaa gtu deh….

teh nia gmn nihhhhhhhhhhhhhh

Comment by Potato_King

Made Friday, 6 of April , 2007 at 12:59 pm

lumayan lahh…..
paling gak kayaknya dapet 1 nominasi ffi buat tahun ini…
kalau mau dibandingin ama film bencana lainnya ,Serambi-nya Garin Nugroho jauh lebih powerful

Comment by savatose

Made Monday, 9 of April , 2007 at 9:54 am

filmnya lumayan ah..just not type of your movie aja kalee…

Aktingnya Surya “lumayan”? gimme a break, yg bagus yg main jadi Muklis & Pak Haji..

Comment by Odi

Made Monday, 16 of April , 2007 at 3:29 am

“Orang-orang bodoh bisa membuat jaringan yang amat rapi”
Saya juga merasakan hal yang sama saat menonton ‘United 93′ Mungkin karena kita terbiasa menyaksikan aksi teroris di layar lebar yang penuh dengan gadget hi-tech, kita jadi terheran-heran saat aksi teroris dapat dilakukan dengan peralatan dan pelaksanaan yang sederhana.
Satu buah pisau saat WTC-attack dan beberapa karung pupuk untuk Bali-bombing.
Distorted reality or distorted imagination ? Maybe both.

Comment by savatose

Made Wednesday, 18 of April , 2007 at 8:50 am

I totally agree with Odi..

Comment by Retrodelic

Made Sunday, 22 of July , 2007 at 5:42 pm

Keren kok. Ga bosenin ah. Yah, emang dasarnya gue suka film dokumenter sih. Intinya emang kurang dipertajam, tapi tetep ajah keren boooo………

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com