Nagabonar Jadi 2 (2007)
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:12 am
Pada tahun 1987, sebuah film berjudul Nagabonar muncul dan langsung mendapat sambutan luar biasa. Skenario yang ditulis Asrul Sani sangat cerdas, patriotik. Warna nasionalisme yang sangat kental tidak mengganggu apresiasi penonton. Mungkin karena dulu pemerintah Orde Baru sangat getol mempropagandakan nasionalisme dan televisi hanya diisi acara-acara TVRI. Tahun 2007, sequel dari film ini dibuat dengan janji menawarkan semangat nasionalisme yang sama. Dan Deddy Mizwar, pemeran utama dalam film Nagabonar, kali ini bukan saja membintangi, tapi juga menyutradarainya. Dengan track record Deddy Mizwar yang belakangan ini membuat film-film dan sinetron Islami, sequel Nagabonar menjanjikan sebuah sajian yang bukan saja nasionalis, tapi juga agamis. Kekhawatiran bahwa sequel Nagabonar akan jadi sesuatu yang preachy pun tidak bisa dihindari. Setelah kami menontonnya, ternyata benar filmnya agamis dan nasionalis. Tapi kami juga salah. Film ini membuktikan bahwa dua hal tadi bukanlah hal yang membosankan. Nagabonar Jadi 2 adalah sebuah film yang cerdas, lucu, menyentuh, dan very very entertaining.
Mantan copet yang jadi jenderal perang Nagabonar (Deddy Mizwar) sudah tua dan dengan modal perkebunan kelapa sawit yang dimilikinya berhasil menyekolahkan anaknya, Bonaga (Tora Sudiro), sekolah di Inggris sampai lulus S2. Bonaga yang kini sudah jadi kontraktor sukses membawa bapaknya ke Jakarta. Segera, Nagabonar terlibat dalam sebuah adventure yang mengasyikkan, termasuk usahanya untuk menurunkan tangan patung Jenderal Sudirman supaya tidak lagi dalam posisi memberi hormat.
Kudos untuk penulis skenario Musfar Yasin yang juga menulis Kiamat Sudah Dekat dan Ketika. Kedua film itu juga sama cerdas dan menghiburnya, tapi terganjal oleh tata artistik yang lemah. Untungnya, Deddy berhasil menciptakan dunia yang modern di Nagabonar Jadi 2. Deddy Mizwar benar-benar bersinar di sini, demikian juga dengan para aktor pendukung, bahkan Wulan Guritno. Kami jadi sangat mencintainya.
Di akhir film, Deddy menggunakan hak suaranya untuk masalah nasionalisme. Walaupun penonton tidak harus setuju dengan pendapatnya, tapi dengan film dengan kualitas seperti ini, siapapun filmmakernya layak untuk didengar.

Pemain: DEDDY MIZWAR, TORA SUDIRO, WULAN GURITNO. LUKMAN SARDI, ULI HERDIANSYAH Sutradara: DEDDY MIZWAR Penulis: MUSFAR YASIN Produksi: PT GISELA CITRA SINEMA
Category: Review
- Add this post to
- Del.icio.us -
- Meneame -
- Digg
Comment by aditya
Made Monday, 2 of April , 2007 at 12:16 pm
well gue dari dulu penggemar dedy mizwar…he is a good actor.walaupun gue g seagamis dia tp cara penuturannya jujur dan down to earth g dibuat2 itu yang aku suka.tp mudah2an artistiknya lebih digarap kali ini jgn sampai seperti “ketika” yang meskipun secara cerita dan pemainnya kuat tp artistiknya ancur bgt….ya sinetron gtu….
well hari ini aku nonton tp liat review kmu td aku optimis bgt..tengs SI….
Comment by diana
Made Monday, 2 of April , 2007 at 12:48 pm
welcome back, SI!
gw dah nunggu2 review nagabonar jadi 2. kayanya wajib nonton nih
Comment by Junkerz side B
Made Monday, 2 of April , 2007 at 3:57 pm
gw bosen liat Tora&Indra maen bareng molo…
oya…film ini ada beberapa keanehan dan kelemahannya…
silakan dibaca di sini…
Comment by Adia
Made Tuesday, 3 of April , 2007 at 2:56 am
Fresh banget sih, tapi kenapa dimana ada Tora Sudiro disitu ada Indra Birowo, udah satu paket atau gimana?
Comment by Dody
Made Tuesday, 3 of April , 2007 at 9:55 am
Dedy Mizwar memang tak perlu diragukan lagi. Oh iya SI, Omong-omong review-in Opera Jawa dong.
Comment by kritikpedes
Made Tuesday, 3 of April , 2007 at 10:53 pm
kok sekarang detail filmmaker nya kurang sii…musiknya siapa yg bikin?, produsernya? rangking-nya? ayo dong jg males ni SI
Comment by gichie
Made Tuesday, 3 of April , 2007 at 11:15 pm
ada sih beberapa keganjilan, tapi sebioskop tertawa terbahak-bahak nonton film ini!
indra birowo di akhir film menjadi sebuah sentuhan yang lucu.
ditambah darius sinathriya yang ngomong jawa.
Comment by detta
Made Wednesday, 4 of April , 2007 at 11:39 am
film layak tonton!
dedy mizwar mah udah paten dari sononya…
sayangnya, tora terasa timpang banget disandingkan dengan pak dedy.. apalagi trio kwek-kwek itu…
but overal it’s a great movie to watch, walaupun nonton bersisian dengan anak-anak yang nga bisa berhenti ketawa sampai kadang dialog ditelan deru ketawa orang-orang sebelah gu… hehehe.. but i had fun!
selamat datang lagi sinema indonesia! kangen berat baca review yang manthap!
thx udah mau nulis lagi…
Comment by melly
Made Wednesday, 4 of April , 2007 at 12:38 pm
sepakat. cerdas dan menghibur. tapi butuh orang pinter juga kayaknya buat nonton. secara orang yang duduk di sebelah jarang ketawa, kayaknya gak ngerti gitu deh.
kebayang klo gak ada dedi mizwar, jeblos banget deh film ini
Comment by MoNyeTPinK
Made Wednesday, 4 of April , 2007 at 8:24 pm
gw inget bgt nonton NAGA BONAR waktu masih SD di TIM LUCU jaman dulu udah keren bgt….Naga bonar jadi 2 Film Indonesia yang “FRESH” di tahun 2007…menghibur abis, om DEDI “JUARA” tp masih KALAH sih sm JAJA MIHARDJA (huahahahaha…scene tanpa dialog tp lucu bgt)…tp gw rada ga suka waktu Om Dedi hormat sm “PATUNG SUDIRMAN” sedikit maksa gitu deh…tp Two Tumbs Up buat Om Dedi …JUARA BGT deh………
Comment by rusdijarwono
Made Wednesday, 4 of April , 2007 at 9:56 pm
gue pasti suka ni film, abis suka semua iklan yamahanya he he
Comment by aditya
Made Wednesday, 4 of April , 2007 at 10:44 pm
congratulation………………
satu lagi nih yang pantas dibilang karya bermutu….lucu…..
bener2 terhibur di tengah serbuan film “kancut” hasil konspirasi produser2 govinda sanjay jijay bajai…….(no offense lho)
thanks good we have Dedy Mizwar in this business…ditunggu film2 berikutnya….
well…tuan takur,pun-jablay,sunil……and all gangs…..kalian hanya perlu di”tampar” oleh seorang aktor kawakan kami bernama dedy mizwar………(ups sory ya terlalu semangat)
Comment by simungilucu
Made Thursday, 5 of April , 2007 at 4:48 pm
Gilaaa ini adalah film Indonesia paling bagus yang pernah gw tonton…(even Arisan!!!!)…Nonton film ini serasa naik roller coster…sedih…lucu…terharu…ketawa kompliit bangettt…
Comment by mamo
Made Friday, 6 of April , 2007 at 2:59 pm
jaja miharja gebleg banget,
akting melas pa polisi sip berat.
adegan taman bosenin.
si zacky lumayan bagus;
” abis dr basement, maksiat en ibadah harus balance “..
hahaha, nyindir abis.
” supaya anak muda ga malu ke tempat ibadah ” juga oke.
paling manteb sih pas di tugu proklamasi,
nagabonar yg ampe gemeter liat tu patung, dilatarin anak2 yg bahkan ga tau dua patung itu apaan..
top dah!
Comment by fadli
Made Saturday, 7 of April , 2007 at 7:40 am
Gila….. nich film bagus amat….
untuk film Indonesia, ini adalah film indonesia paling bagus yang gw tonton. dan akting Dedy Mizwar TOP BGT,
gw malah ngasih 4,5 untuk nich film untuk skala 1-5
kalau film Indonesia sebagus ini semua, gw yakin film indonesia akan bangkit kembali…
Comment by cahbagus
Made Saturday, 7 of April , 2007 at 10:11 am
adegan sudirman bagus sih… tp maksa
tp selebihnya, ruuuuuaaaaaarrrrr biasa !!!
Comment by cahbagus
Made Saturday, 7 of April , 2007 at 10:13 am
nambahin…
scene julia perez ampuh…
salut buat JP yg udah rela di jadiin bahan olokan
Comment by James Potter
Made Saturday, 7 of April , 2007 at 6:50 pm
Sebuah film tribute yang sukses kepada Asrul Sani!!
Menurut gue Deddy Mizwar berhasil menghidupkan kembali Nagabonar dan bahkan betul2 menjadikannya ada 2!!
Skenario yang bagus, sarat dengan lapisan komedi satir sosial Indonesia yang aktual. Bahkan terselip juga ‘gugatan’ kepada keadaan Indonesia moderen dalam monolog Nagabonar di depan patung Jenderal Soedirman.
Tora Sudiro sukses beradu akting dengan dengan Deddy Mizwar. Kita bisa percaya bahwa Bonaga adalah Nagabonar yang hidup di jaman setelah perang kemerdekaan dengan latar belakang pendidikan yang tinggi namun tetap berusaha berada di jalan yang benar.
Deddy Mizwar kembali pada performa puncaknya. Beliau berhasil menampilkan Nagabonar yang sedang berusaha mengerti jaman yang tidak lagi ramah dan hitam putih seperti saat dia muda dulu.
Film ini lucu layaknya komedi untuk semua umur, juga mengharukan dengan drama realisnya, sekaligus menggetarkan hati dengan kompleksitas lapisan satirisnya.
Comment by Fat-Ass!
Made Saturday, 7 of April , 2007 at 8:59 pm
Pas nonton premierenya gw udh ketar-ketir filmnya bagus nggak… Soalnya ada perasaan optimis-pesimis pas sebelum nontonnya, rupanya…
BAGOEESSSSSS (pake logatnya Indy Barends), emang sih ada yg kesannya terlalu dibuat2 tapi namanya juga film! iya ga????. Om Deddy sukses bowz!!
Kesannya pas udh filmnya selesai para penonton satu Djakarta Theatre puas deh!!!, sukses di malam premiere dgn hasil yg memuaskan!. Ya meskipun banyak yg membenci Tora Sudiro yg setelah Arisan! film2nya aneh2 dan flop ini mungkin merupakan kebangkitan Tora, setelah kecewa dgn d’Bijis yg enggak banget (thank god SI ngasih kancut bwt film ini) Naga Bonar jadi 2 benar2 fresh dgn tampilan Tora di sini…
Secara keseluruhan gw puas dgn film ini dan meskipun terdengar berlebihan film ini masuk di buku gw sebagai salah satu film terbaik Indo tahun ini!!!, tinggal tunggu perolehan dari peredaran sajalah!!!
Mudah2an Naga Bonar dan Bonaga sukses di peredaran dan membangkitkan kembali harga diri dan martabat perfilman Indonesia yg anjlok 100% setelah FFI yg merusak nama dan membuat “CITRA BURUK” di mata publik dan industri film kita… “Apa Kata Dunia???”
Comment by Ery
Made Monday, 9 of April , 2007 at 9:44 am
Nanya buat yang udah nonton, film ini ada English subtitlenya ngga?
Comment by nRm
Made Monday, 9 of April , 2007 at 9:53 am
udah lama nunggu film Indo spt ini.. kaya dengan kritikan pedas tapi membuat penonton ngga lepas dari tawa. Deddy Mizwar, i Love Anda! Jaja Miharja, Anda layak dapat bintang. hahaha…
Comment by Erik
Made Tuesday, 10 of April , 2007 at 10:30 am
Yhe Best Movie Of The Year 2007….
udah sepantesnya diberikan ke film ini. why..????
karena bangsa ini emang butuh film kaya gini. supaya kita ga lupa dari dan bagaimana bangsa ini bisa berdiri. dan anak-anak bangsa ini juga sadar kemajuan bangsa ini bukan dengan menjual harga diri kepada bangsa lain, apalagi dah ketauan bangsa itu pernah ngejajah kita sekian lama yang bikin bangsa ini sengsara. Soal film ini yang agamais, supaya kita sadar bahwa moral bangsa ini hancur karena kita lupa sama hal-hal yang agamais. Dan yang parahnya lagi dosa dan ibadah itu dibuat samar seolah itu adalah hal yang sama dan dapet dilakukan berbarengan. itu yang bikin moral kita hancur sekarang ini.Soal Tugu Proklamasi itu juga untuk mengingatkan kita bahwa bangsa ini didirikan dengan perjuangan yang ga mudah. penuh dengan darah para pejuang. tapi lihat aja sekarang. para pejuang yang masih hidup aja ga pernah kita peduliin. banyak mereka yang hidup sengsara denga kekurangan di tanah merdeka yang mereka perjuangkan mati matian demi kita. soal patung Panglima Jenderal Soedirman, emang ga pantes seorang Panglima Jenderal Soedirman hormat kepada bangsa ini. Tapi seharusnya Bangsa ini yang Hormat kepada Beliau. Perjuangan belau melawan penyaikit dan penjajah adalah hal yang luar biasa untuk bangsa ini. Pantes ga sich kita bikin pantung Beliau seperti itu..??? begitu cara kita menghormati dan menghargai perjuangan beliau…???? terima kasih buat Pak Deddy Mizwar yang telah mengingat kita akan hal itu semua. terima Kasih. Apabila saya punya kesempatan bertemu dengan Beliau saya mencium tangan beliau sebagai tanda hormat dan terima kasih saya terhadap teguran melalui film ini. terima Kasih….
Comment by Putcha
Made Tuesday, 10 of April , 2007 at 4:33 pm
Naga Bonar aja dah jadi film kebanggaan dan film favorite gue dan bokap. sekarang ditambah lagi Naga Bonar Jadi 2 Wow… keren buanget…. Fluktuasi emosi gue cepet banget bentar-bentar ketawa ngakak, teruzz Nangis terharu…
Wah.. keren buanget… gue mau nonton lagie…
BRAVO OM DEDDY (sok kenal) gue jadi tambah nge fans……
Comment by Iman
Made Tuesday, 10 of April , 2007 at 6:06 pm
NAGABONAR JADI 2 ROCKS!!!!!
banyak pelajaran tanpa berusaha menggurui, lucu bagggeeddd!!!, akting Deddy Mizwar TOP ABISSSS, stealing act by Jaja Mihardja (huhuhhahaha….) and setuju ma elo, gw makin cinta Wulan….muuaacchh
nonton lageee aahhh…
Comment by put's
Made Wednesday, 11 of April , 2007 at 11:29 am
sumppaah,,,kereeen edun,,,!!!
gw setuju,,klo nonton ni film emosi kita di kocok bgt,,xxiixixi,,
sebentar ketawa,,abis tuh nangis krn terharu,,,!!!
gw paling suka adegan NAGABONAR wkt minta maaf ke BONAGA di balik pintu,,krn ngerasa kurang ngedidik dgn kelembutan,,,hwuaaa,,,,toching berat!!! apalagi pas NAGABONAR bilang,,,”tapi aku sudah berusaha semampu aku,,,,”
hwuaaaa,,,,terngiang ngiang terus!!! he,,,
nonton lagi ah,,,
Comment by lisa mpr
Made Wednesday, 11 of April , 2007 at 6:20 pm
A masterpiece! !!
An authentic Indonesian-feel movie!
After watching this movie, I was so amazingly happy and really touched, because FINALLY the real Indonesian film has re-born. The script & dialogue, the character, the normal and real setting (not much of made up art in location shoot), the humor, the problems…very alive and honest..gives you alot of vibe when you watch this. please God make more of this kind!!!
I think we all need to learn alot from this film, especially the today’s generation Indo filmmakers, we are away behind from Deddy.
I especially love how this movie can “bridge” the generations, how it can maintain its original color of NagaBonar I and bringing that ‘almost forgotten’ character into the presence of today’s world. How Nagabonar interact and commenting the Indonesia now, his patriotic & other social views, without being boring at all. Bonaga (Tora Sudiro), Nagabonar’s son, and Bonaga’s friends complete the formulation of ‘crossing-generatio n’. Their life style and humor appeals to the teens.
Bottom line, this film has reaches my top list of one of the best film ever! It has achieved so because it leaves me with meaningful messages after watching it. I think all great films ever made have done so. Not those films that can only understood by few and question marked by most, those full of arty-witty-hard to understand content. Im not saying film shouldn’t be an art piece, but I believe film should communicate well with the majority of people. (Daun diatas bantal sampai saat ini hanya mampu membuat gue ngantuk)
Now I’m refreshed. Are you? Please no more horror or teenage junks movies!!!
Comment by Ninja Sakti
Made Wednesday, 11 of April , 2007 at 6:34 pm
Hehehehe….
Pelem nyang baaageuueueueeuuss….
Gua sempet binun waktu SI ngasih ni pelem cuma 4 bintang…
Tapi sengtelah ngeliat ada nyang dikasih cangcut segalaa…. (wkwkwkwkwkk!!!)
Emang cucok lah bintang empat buwat ni pelem.!~
Yossh!!!
Semangat terus generasi muda! Jangan mo kalah ma kakek yg satu ini!! *tunjuk Deddy Mizwar*
.::kabuuuuuurrr::.
Comment by cinemaholics
Made Thursday, 12 of April , 2007 at 8:10 am
yup…apa kata dunia…
ini film indonesia terbaik yang pernah gue tonton…
isi-nya padat dan berisi…istilah orde baru-nya “bernas” gitu…
btw…kita tunggu aja perolehan piala citra-nya tahun ini..
(itu-pun kalo masih diadain ‘n juri-nya fair…)
jayalah sallu film indonesia !!!!
Comment by nomadengirl
Made Thursday, 12 of April , 2007 at 1:09 pm
lah…akhirnya!!
i love this movie too…!!
n i love SI more…(tampilannya makin ok)
welcome back!!!
^_^
Comment by ndeso
Made Thursday, 12 of April , 2007 at 1:26 pm
aku blm nonton tapi kayaknya bagus, SI aja ngasih bintang…Om dedi mizwar is the great
Comment by floweRE
Made Thursday, 12 of April , 2007 at 11:53 pm
heummm…. bagus ni film..secara keseluruhan loh…
yg jelas sehari sebelumnya aku nonton mr bean on holiday, dan setelah nonton nagabonar jd 2 ni aku ngerasa nagabonar jd 2 lebih lucu, lebih “kena”, dan lebih (mmmm..) berkualitas…
(Di luar komen bokap yg bilang klo Tora kebanting bgt ma Om Deddy, dan lebih cocok kalo Komeng yg meranin tokoh Bonaga drpd Tora..hehe…dasar bokap)
Seneng bgt ada film Indonesia yg bener2 bisa dinikmati
Comment by Ben
Made Friday, 13 of April , 2007 at 6:10 pm
moga2 pas akhir april ini masih ada yg muter..
pa deddy mizwar emang TOP kalo bikin film.. cool!
Comment by tomtom
Made Saturday, 14 of April , 2007 at 1:39 am
wah gue baca semua komen diatas, semua memuji film ini yah..
gue sama sekali ga setuju sih kalo film ini dibilang bagus..
enem-lah nilainya..
terlalu dibuat-buat yah, dan banyak sekali akting, kostum, lighting, framing yang ga okeh, ga modern, sementara niatnya kayaknya modern ya?
dedy miswar sih main bagus, tapi ga tau ya kalo jadi sutradara..
susah loh jadi sutradara..
buat gue naga bonar pertama blom bisa digantiin..
eh ya selain gue, 4 temen gue juga menguap waktu nonton film ini.. agak ‘old’ ya joke-nya?
udah ketebak semua..
kalo gue ditelepon, ada yang ngabarin bapak gue pingsan, pasti gue udah lari ke rumah.. bukan menutup telpon pelan-pelan, dan melempar kertas dengan ’slow motion’.. pasti biar gambar filmnya bagus ya?
ps: pasti habis ini, komen gue dibabat habis ya?
ya mau apalagi?.. emang ga suka..
gih..
Comment by bambang
Made Saturday, 14 of April , 2007 at 3:10 am
really nice one buat film Indonesia. make you proud of Indonesia even more. ^^
hanya saja kurang di film ini cuma 2. akting Wulan Guritno yang kaku dan pas2an untuk beban karakternya yang tinggi, dan akting Deddy Mizwar yang terkesan… apa ya….. “mendominasi”? (tapi aktingnya emang hebat sih)
gw kasih 2 jempol buat soundnya. jarang2 sound film Indonesia sebagus ini. setting dan photography juga gw kasih 2 jempol. sampe sekarang jantung gw masih deg2an saking kagumnya ngeliat kebun kelapa sawit Nagabonar.
kalo boleh bilang, begini ini harusnya film Indonesia!!! b(^o^)d
Comment by Potato_King
Made Saturday, 14 of April , 2007 at 6:02 pm
keren bangeett!!!!!
Sumpah, film indo paling lucu dlm 3 tahun terakhir!!!!!
Comment by BlackenedWing
Made Sunday, 15 of April , 2007 at 12:47 pm
Nagabonar 2 benar-benar mantap !
Pantas dapat piala Citra ? Memangnya ada yang mau ? Yang jelas bukan Deddy Mizwar
Comment by aditya aka justlovemovie
Made Sunday, 15 of April , 2007 at 8:25 pm
catatan kecil gue….
gue kmaren sabtu nonton lg breng teman2 yang juga udah nonton sebelumnya di jogja lagi hujan deras tp bioskop tetep rame and pas keluar bioskop kalo biasanya gue liat remaja pecicilan ketawa-ketiwi ngomentarin artis remaja mereka yang bertampang ok,kali ini nuansanya agak beda semuanya keluar ada kepuasaan di setiap wajah mereka,ada yang sembab,ada yang masih keliatan merah matanya tp g ada yang pecicilan lgi….yang jelas semua punya kesamaan,semua seakan merenung tentang hal2 dlm film ini krn memang ada sesuatu yang menggangu tentang film ini,menyentil jg nasionalisme gue yg g pernah gue pikirin..its moving our heart….very touchy,funny..
makasih ya om dedy mizwar….4 everiting…
Comment by 80fantasy
Made Monday, 16 of April , 2007 at 1:11 am
tadi nonton film ini di megaria, sudah dua pekan diputar.
FACT : BANYAK IBU2 BAWA ANAK2 (maaf) YANG GW YAKIN JARANG NONGTON PELEM INDO DI BIOSKOP. RADA HERAN, KOK PENONTON KEMAKAN SAMA JOKE2 YANG UDAH BIASA (rada kuno, kata 1 posting di atas). NI PELEM KAYAK GA DA TUJUAN, CUMA MENGUBAR KEKOCAKAN NAGABONAR DAN PEMAIN LAINNYA.
yang engga logis…si copet senior itu koq bisa tetep konyol sekaligus jadi pengusaha kelapa sawit. Sosok bersahaja tapi jadi bos lambang kapitalisme no.1 di Sumut?. Yah…..
Para penggemar sinetron religi Lorong Waktu, pastilah pengen nonton ni film.
Comment by tomtom
Made Monday, 16 of April , 2007 at 10:13 am
“Comment by melly
Made Wednesday, 4 of April , 2007 at 12:38 pm
sepakat. cerdas dan menghibur. tapi butuh orang pinter juga kayaknya buat nonton. secara orang yang duduk di sebelah jarang ketawa, kayaknya gak ngerti gitu deh.
kebayang klo gak ada dedi mizwar, jeblos banget deh film ini”
— gue ga ketawa sih, joke kayak gitu sudah sering di kantor..
dan gue pinter loh…
Comment by sahat
Made Monday, 16 of April , 2007 at 11:37 am
Gua awalnya takut sebelum nonton film ini kalo bakal penuh dengan pesan moral yang bakal bikin gua enek (ala Ketika, Kiamat Sudah Dekat). Tapi ternyata tidak seburuk yang gua bayangkan. Pesan-pesan moral tetap ada tapi lebih mild, filmnya modern, aktingnya lumayan terutama Lukman Sardi. Tora Sudiro & the ganks cukup seru, terutama dengan pakaian mereka yang bagus-bagus, selalu seragam seakan-akan mereka janjian atau emang punya lemari bareng (….di butiknya Samuel Wattimena). Gua setuju ini film bagus, tapi gua ngerasa kurang ditendang, joke-jokenya cuma bikin senyum-senyum gimana, gua menguap beberapa kali dan nyaris tertidur. Dan perasaan gua pas film selesai (this is really important for me!) still not as fresh as watching Denias (ini baru film Bagus).
Comment by Fadly
Made Monday, 16 of April , 2007 at 12:47 pm
berkata sahat:
Gua awalnya takut sebelum nonton film ini kalo bakal penuh dengan pesan moral yang bakal bikin gua enek (ala Ketika, Kiamat Sudah Dekat)
apa yang salah dengan film yang mengandung pesan moral? yang penting bagaimana hal itu disampaikan.
sadarkah bahwa selama ini kita banyak memamah film dengan pesan tidak bermoral?
Comment by niasman
Made Monday, 16 of April , 2007 at 4:40 pm
Menurut gue Naga Bonar 2 belum bisa ngalahin Naga Bonar yang pertama…
gue juga agak surprise SI ngasih bintang 4 …
mirip banget sama sinetron lorong waktu … terutama supir bajaj nya itu lho … maksaaaaaa….
dan secara gue pernah tinggal di medan … wah logat medannya dedi mizwar masih kurang banget … belum pas di kuping … terlalu dibuat2… yang udah pas banget tuh malah supir metro mininya …
gue pribadi sih over all 1 bintang aja cukup deh …
gue malah berani kasi bintang 4 buat akting wulan guritno … so natural!
Comment by gadisbintang
Made Monday, 16 of April , 2007 at 8:09 pm
iyaa… bagus banget film-nya! menyentuh, mengharukan, sekaligus lucu. banyak sisi yang digali pada waktu yang sama. masionalisme. cinta. father-and-son kinda love. pokoknya, bravo buat Om Deddy Mizwar!
Comment by bujangKL
Made Tuesday, 17 of April , 2007 at 7:17 pm
kalau dr 5 bintang..aku kasi kt filem ni….herrrmmm…..10 bintang terus jer ar!!AHUhuaha!!!….citer ni kisah drama yg kasih sayang anak beranak dicampur dgn LAWAK GILER tenuk jugak ar!!..totally style lawak dia lain dr yg lain & x pernah korang tengok kt memana lagi lawak cam dorang buat ni..aku bantai gelak gila2an dlm wayang tu..citer ni bagi aku penuh dgn semangat patriotik+kasih sayang+sedikit keagamaan…citer ni lengkap dr pelbagai aspek..
dia tunjukkn juga aspek taat pd tuhan..
part2 hujung tu sedih jugak..tersentuh hati aku..nk nangis pun ada,tapi aku cover ler sbb ada ramai cewek2 indon dlm wyang duh!!..
pokoknya,elo semua harus nonton film ini dech!lucu banget sih!doain aja masuk ke bioskop di malaysia ya..kalau ngak,beli aja VCD nya..
ok dech,duluan…
Daaaaaaaaa……
Comment by gundala putra petir
Made Wednesday, 18 of April , 2007 at 10:08 am
film bagus yg kelebihan pesan
satu yg sangat perlu dibuang adalah ‘karpet mesjid’ krn gak nyambung ama tema utamanya.
mas deddy, ini nagabonar, bukan kiamat sudah dekat atau lorong waktu, dan
nasionalis bukan agamis
krn bangsa ini, sorry, demokratis bukan agamis
Comment by Sahat
Made Thursday, 19 of April , 2007 at 5:40 pm
Buat Fadly: maksud gua dengan “lebih mild” adalah penyampaiannya, jadi gua setuju dengan lo. Tapi gua juga setuju dengan gundala putra petir: “kelebihan pesan”; kesimpulannya dia kebanyakan pesan, tapi gak bikin terlalu jelek soalnya penyampaiannya ringan. Meskipun pas di patung sudirman sih agak berlebihan.
Comment by Hafiz
Made Thursday, 19 of April , 2007 at 8:46 pm
Review yang menarik.. sudut pandang saya sedikit berbeda, bisa dibaca di review pas-pasan yang saya tulis.
Comment by dsaint
Made Friday, 20 of April , 2007 at 2:44 pm
yeup,
gue setuju dengan bung gundala putra petir,
dengan durasi cuman sekitar dua jam, film ini serasa pengen nyeritain begitu banyak hal, kesannya jadi ngga fokus.
akting oom mizwar emang luar biasa
tora? sinetron banget…
Comment by ratrieka
Made Saturday, 21 of April , 2007 at 5:15 pm
wuuuuuihhh gak nyangka bangeeet
ternyata film ini benar2 pantas dapat acungan empat jempol bahkan lebih….
nasionalisme yang diangkat benar2 membuat saya tersentuh dan berfikir memang harus bercermin lai tentang cinta kita pada negara ini dan cara kita menghormati dan meneruskan perjuangan para pahlawan…
saya tunggu nagabonar jadi dua duanya yaaaa…
SELAMAT FILM INI PATUT DAPAT PENGHARGAAN TERTINGGI
Comment by Rhe_Adysti
Made Monday, 23 of April , 2007 at 12:43 pm
gw kirain SI bakalan kejam nge-review ni film. actually, gw blm nonton si, tp liat sofa merahnya aja inget cover film Vina Bilang Cinta. Kok, covernya nggak bgt ya???
Comment by whateva
Made Monday, 23 of April , 2007 at 1:39 pm
nice. smua orang punya judgement masing-masing mengenai film ini. kekurangan dan kelebihannya memang patut diperhitungkan. tapi gw yakin satu hal, semua yang keluar setelah menonton film ini ngga mencoba mengambil uang mereka kembali krna merasa dirugikan. malahan banyak hal-hal baru yang mereka dapatkan. apakah ini, yg seharusnya menjadi tolak ukur sebuah film itu bagus atau tidak?
Comment by banana
Made Tuesday, 24 of April , 2007 at 6:32 pm
aduh.. gara-gara film ini nih gue jadi beneran kapok nonton film endonesia.. soalnya katanya bagus.. ternyata..
padahal katanya KALA bagus ya? yah jadi ragu-ragu deh..
beneran loh, kalo emang bisa diambil duitnya lagi, gue mau..
Comment by mutia
Made Wednesday, 25 of April , 2007 at 12:53 pm
wuaaah….bang dedy mizwar the real idol-nya indonesia
ayo dong generasi muda, jangan terlalu betah dengan ruangan sinetron kejar tayang, didik masyarakat ini dengan sesuatu yang baik dan “normal”
hidup bang dedy….
kapan ya bang kita bisa ketemu??
untuk para sineas muda indonesia, terus berkarya dan karyakan orang lain…bangsa ini sudah letih menampung kebodohan para pejabatnya, saatnya yang muda memberi pencerahan…
hidup “normalitas” perjuangan
Comment by DwAN
Made Wednesday, 25 of April , 2007 at 5:09 pm
Sebenarnya gw belum pernah liat Nagabonar 1 sama sekali tapi tertarik dari kabar yang berhembus kalau pilem ini lucu jadinya nonton deh. Terlepas dari kecolongan gambar (liat deh ada bayangan mik nongol-ngongol di beberapa adegan) secara keseluruhan pilemnya renyah dan kriuk-kriuk. Nyindirnya halus banget sampai nggak terasa kalau itu sindiran. Tapi yang terasa banget sindirannya pas lagi dugem yang si orang arab sholat dulu sebelum dugem sementara gw nonton pas maghrib dan belum sholat, Wakakaka. Sementara sewaktu ngeliat pilemnya gw sempet terharu gara2 dengerin lagunya Padi, hehehe, pas benget. Sekali lagi secara keseluruhan pilemnya renyah dan kriuk-kriuk.
Comment by pehul
Made Wednesday, 25 of April , 2007 at 7:30 pm
satu kata buat deddy mizwar ” FANTASTIK ”
ini film keren banget!!! benar- benar sosok naga bonar yang pernah terkenal dahulu seperti bener-benar terlahir kembali dalam sekuel ini, logatnya yang ala medan dan segala kelucuannya benar-benar tak dapat membuat anda beranjak dari kursi anda. Salut buat Deddy yang dengan jitunya memakai Tora Sudiro sebagai ikon yang mewakili pemuda dalam Naga Bonar 2. KEREN ABIS……….
gw paling suka ama adegan kalo naga bonar ama bonaga seperti terpisah tapi melakukan hal yang sama ky pas naga bonar marah ama bonaga…
Sekian aja. Indonesian movie is the best!!!
Comment by metta
Made Friday, 27 of April , 2007 at 12:29 pm
abdi saatosna ningali film ieu, mani resep pisan, mani kagugu, pokona mah ABDI PISAN LAH!!! saur indonesiana mah GW BGT GEETO!1!!!!!! teras ciptakeun film-film anu sarae kanggo ditonton nya!!! hususna ka abah deddy mizwar CAYOOOO pokona mah!!!!!
Comment by Erry
Made Sunday, 29 of April , 2007 at 10:05 pm
Banyak yg menganggap (termasuk SI) film ini sbg film bertema agamis dan nasionalis.
Padahal menurutku (dan juga menurut Bang Deddy Mizwar), tema besar dari film ini bukanlah dua hal itu. Masih ada bigger picture than those, which is: MELIHAT INDONESIA DENGAN HATI.
Sisi agamis adalah salah satu bagian negara ini, sisi nasionalis adalah salah satu bagian negara ini, sisi hedonis adalah salah satu bagian negara ini, sisi kapitalis adalah salah satu bagian negara ini, sisi kecurangan (tipu sana tipu sini) adalah salah satu bagian negara ini, sisi sepakbola adalah salah satu bagian negara ini.. dan sisi cinta juga adalah salah satu bagian dari negara ini.
Semua terangkum dengan manis dalam film ini. Yah, mungkin ada yg merasa terlalu banyak pesan yg ingin disampaikan dalam durasi yg singkat (tapi waktu 2 jam utk film Indonesia bukanlah waktu yg singkat loh). Tapi buatku, semuanya udah pas. Penyampaian komedi, cinta, kritik sosial.. tinggal elemen horor aja kayaknya yg kurang ^_^
For me, this movie touched my heart. Satu hal yg selama ini belum mampu kurasakan dari film2 Indonesia lainnya. Mungkin banyak film yg lebih bagus secara teknis, lebih indah secara sinematografi, lebih detail secara art, tapi yg lebih menyentuh secara ? None.
Hal yg paling utama menyentuhku adalah bukan pesan agamanya, bukan pesan nasionalisnya, bukan kisah cinta Bonaga & Monita, melainkan generation gap antara Naga Bonar & anaknya. Satu hal yg IMHO banyak dialami generasi masa kini. Bang Deddy mampu mempresentasikannya & menyimpulkannya dgn manis, betapa gap tsb. terjadi toh juga karena cinta orangtua thd anaknya.
“Ini salahku, Bonaga. Aku masih hidup di zamanmu, zaman yang sulit kumengerti, tapi berusaha kupahami.. karena aku sangat mencintaimu.”
==
Ohya, novelnya juga bagus loh!
Aku baru beli tadi siang dan saat ini aku udah nyampe setengah buku. Cara pandang novelnya agak beda dengan filmnya, karena dilihat dari sudut pandang orang pertama (Naga Bonar). So, kita bisa lebih menyelami jalan pikiran sang jenderal thd kejadian2 yg dihadapinya. Ditulis oleh wartawan Tempo, Akmal Nasery Basyar. Cuma emang harganya agak mahal sih, Rp49.500..
Comment by GRESCO
Made Monday, 30 of April , 2007 at 5:22 pm
good FILm.
ini baru film yg bikin dunia terang. gak seperti Film indonesia yang selalu mengumbar LOVE and Misteri yg dianggab tabu.
ini Film Yg realistis.
SALUT BUAT TORA & DEDI MISWAR
LOVE BUAT AKTINGNYA. Akting Om Dedi Yg paling hebat di Film ini saat dia memabjat Patung pahlawan Gak Takut Jatuh OM!!!!!!!!!!
Comment by aang
Made Tuesday, 1 of May , 2007 at 2:56 pm
wow. awalnya aku malas nonton neh film. paling just like another indnesian movies. but pas di jogja n gak agenda lain. terpaksalah gw nonton gara-gara gw kalah suara, satu dibanding dua. tapi keterpaksaanku ini ternyata membawa keberuntungan.
terserah seh kata kalian yang bilang kurang bagus lah, kurang inilah, kurang itulah.
film bagus buat gw adalah ketika gw selesai nonton gw dapet pesannya dan gw dapet added value after watching it.
masalah tekhnis dan akting bukan no satu(even gw pelaku film independen dan anak teater).
gw gak merasa sia-sia nonton neh film.
gw terhibur, gw merasakan pesan yang ingin disampaikan oleh bang deddy, dan juga gw dapat pencerahan atau added value.
buat gw itu dah termasuk film yang bagus.
(just like arisan, berbagi suami, ketika, trus tuh filmnya mas garin yang beredar bentar doang yang main kipli, neno warisman -subhanallah gw lupa)
buat gw karya yang bagus entah itu film, lagu, cerpen, novel, dan pertunjukan teater adalah yang menghibur dan memberikan added value bagi penikmatnya.
dan Nagabonar 2 memberiku kedua-duanya.
gw tertawa, tersindir, menangis, pokonya kayak di rollercoaster lah.
gw dapet pesan yang bermakna banget:
1. nasionalisme kita memang sudah memudar. seolah-olah kita memang menggadaikan bangsa ini dengan berbqagai cara. salah satunya membuat film-film yang tidak bertema indonesia banget dan menjual budaya barat yang kapitalis dan hedonis.
wah puas banget. gw merasa beruntung dipaksa nonton ma teman-teman gw. hopefully, ada film yang lebih bagus lagi dan lagi. biar penonton film indonesia cerdas gak cuma dicekcoki ma mistis dan percintaan penuh dengan nafsu kelamin.
Hiduplah Indonesia Raya!!!!!!!!!!!!!!!!!
Comment by horrorNGEHE
Made Tuesday, 1 of May , 2007 at 2:58 pm
GUE BINGUNG MA ORANG2 INDONESIA…
Gimana sih, kok bilang film ini anerh lah, cuma ngasih ini nilai satu bintang lah, bilang nih banyak ga masuk diakal lah, bilang nih film agak2 gak logis lah???
Dah sukur ada film pembasmi horror2 tai di indonesia, kok malah sok ga puas gituh???!
Ga usah pake acara nih filem ini kurang sana, kurang sini, segini juga udah ALHAMDULILLAH TAUK!
Film itu ga ada yang sempurna, sekalipun film steven spielberg atau joko anwar sekalipun, just enjoy that!
Susah amat sih?
Comment by Dody
Made Wednesday, 2 of May , 2007 at 12:20 pm
Wah, komentar anda kayaknya buat Kala ya??? BUkan buat film ini???
Comment by simungilucu
Made Wednesday, 2 of May , 2007 at 2:32 pm
Iya neeh komennya horrorNGEHE nggak nyambung banget….capee deeehh.
Buat gw sih Naga Bonar jadi 2 emang keren banget, gw sampe nonton 3x tapii tetep bisa ketawa pas nontonnya..: ))
Comment by nad
Made Thursday, 3 of May , 2007 at 3:23 pm
4 thumbs up!
Film ini begitu bisa menguras dan mengocok emosi penonton…tharu, sedih, ktawa, nangis sambil ktawa…hebat!
Adegan sun Bonita ke Bonaga begitu menyentuh…gak vulgar, tapi pas…
Comment by akmal n. basral
Made Thursday, 3 of May , 2007 at 9:13 pm
ERRY nulis:
Banyak yg menganggap (termasuk SI) film ini sbg film bertema agamis dan nasionalis.
Padahal menurutku (dan juga menurut Bang Deddy Mizwar), tema besar dari film ini bukanlah dua hal itu. Masih ada bigger picture than those, which is: MELIHAT INDONESIA DENGAN HATI.
—–
betul sekali erry, menyenangkan sekali anda bisa melihat dengan jeli hal-hal yang tak bisa ditangkap penonton yang terlalu rewel melihat hal-hal teknis, sehingga malah abai pada pesan utama yang ingin disampaikan.
ada petuah kuno yang bilang, “kalau mau menilai keindahan sebuah gunung, lihatlah secara keseluruhan, bukan meneliti pohon demi pohon yang ada di dalamnya.”
thanks juga sudah menyinggung novelnya, yang sejak launching di bandung minggu 30 april, lumayan diminati pembaca. cara tuturnya memang dibuat berbeda dari filmnya, karena bagaimana pun novel adalah sebuah karya kreatif, bukan sekadar transkrip visual 100 persen — seperti banyak dilakukan novel-novel yang disebut “adaptasi” dari film indonesia beberapa tahun terakhir ini (perkecualian pada “biola tak berdawai” novel karya seno gumira ajidarma yang juga dibuat berbeda dari versi film yang dibesut sekar ayu asmara, sutradara dan penulis cerita).
lewat novel NJ2, banyak monolog interior yang tak bisa mendapat ruang pengadeganan bisa muncul, banyak flash back yang tak hadir di layar juga bisa muncul, dan yang terpenting bagi yang belum sempat menonton film pertamanya, kenapa seorang pencopet bisa menjadi “jenderal” dan siapa sebenarnya maryam sang staf ahli menteri perindustrian (jangan lupa, nico pelamonia berakting dahsyat di sini meski secuplik. old soldier never dies, eh?) juga mendapat jawaban di novelnya.
salam,
akmal nasery basral
Comment by Nagahijau
Made Saturday, 5 of May , 2007 at 10:41 pm
Kompas hari ini, 5 Mei, ada tulisan menarik dan panjang dari Eric Sasono (pemenang Citra kritik film) tentang film Nagabonar Jadi 2.
“Mungkin film ini lebih baik apabila diubah menjadi pertunjukan monolog Dedi Mizwar di atas panggung ketimbang menjadi sebuah film”.
Review Eric ini agak telat kaya’nya ya? Penonton sudah terlanjur satu juta.
Comment by Erry
Made Saturday, 5 of May , 2007 at 11:39 pm
Weh, ada sang penulis novel di sini ^_^
Klo gitu sekalian mau kritik dikit dong utk novelnya..
Ada segelintir ketidakkonsistenan penyebutan sebutan orang pertama oleh beberapa karakter. Misalnya Umar yg mestinya menyebut “Saya”, tapi ada bagian yg dia menyebut “Aku”. Begitupun dgn tokoh Nagabonar.
Segelintir, tapi cukup mengganggu kenikmatan membaca
.
Trus, kok ada ‘pesan sponsor’ salah satu provider telepon seluler ya?
Tapi overall novelnya bagus. Mampu mengajak pembaca melihat jalan pikiran Nagabonar lebih dalam =).
Comment by DOROTHEA DE-BATE
Made Wednesday, 9 of May , 2007 at 11:57 pm
Gwe baru nonton tadi,
Menurut gw…..Baguslah.
Akting Dedi Misswar GILA!Keren abis dah!Heran kok orang2 dari FFB itu malah milih Tora Sudiro sbg pemeran utama pria terbaik????
Aneh bin ajaib???Gw rasa dia itu aktor pendukung??
Lukman Sardi..tukang bajaj ngerti dirigen,gitu??
Tapi overall film ini bagus.Tata artistiknya lebih kuat dibanding Ketika ato KSD.
Dan akhirnya dapet juga perfilman kita punya film box-office yang berkualitas(sori buat The Great Rudy,AADC gak dihitung!) semenjak Petualangan Sherina
Comment by adam daddy
Made Sunday, 13 of May , 2007 at 12:55 am
waw…oke juga comment2nya…yang pasti ini film dibikin dengan hati dan rasa yang baik…makanya NAGABONAR jadi 1,4 juta…
Namanya juga film mas…kok kita nggak pernah masalahin ya James Bond yang ganti2 orang dan berlainan usianya??? atau RAMBO yang bolak balik ke Vietnam???
Comment by nata
Made Tuesday, 15 of May , 2007 at 10:12 am
film terbagus se-INDO !! akhirnya selain film - film HANTU nga jelas keluar juga film yang punya MAKNA kayak Nagabonar jadi 2 !!
salut ama Dedy Mizwar and Tora Sudiro .
Comment by pencinta film indonesia
Made Friday, 18 of May , 2007 at 4:24 pm
w salut ma aktingnya bang dedi mizwar…tora u g konsekuen ngomongnya..masa ada satu adegan yang tiba2 bataknya hilang…
Comment by Sompret
Made Saturday, 19 of May , 2007 at 12:09 am
kalau diperhatiin bataknya Tora hanya kental kalau lagi sama bokapnya. kalau di lingkungan teman dan ketika di kuburan itu jadi biasa/hilang. gue pikir sang sutradara sudah mikirin hal ini. kitanya kali yg gak jeli.
Comment by DIDIEE
Made Tuesday, 22 of May , 2007 at 2:49 pm
NAGA BONAR JADI 2 BAAAAGGGGUUSSS BANGEEEEETT? T-O-P B-G-T DEH
OH YA SEKALIAN NANYA, KALAU KITA MAU TAWARKAN SKENARIO KE PAK HAJI DEDI MIZWAR GIMANA YA? SKENARIO UNTUK SINETRON RELIGI DI BULAN PUASA. JUDULNYA: “JEJAK SANTRI” TOLONG KASIH TAHU YAAA
THANKS
WASSALAM
Comment by DIDIEE
Made Tuesday, 22 of May , 2007 at 2:52 pm
SAYA UDAH 11 KALI NONTON NAGA BONAR JADI 2.
SAYA JADI TERTANTANG UNTUK BUAT SKENARIO FILM SEPERTI MUZFAR YASIN
PAK HAJI TUNGGU SKENARIO DARI SAYA. WASSALAM.
DIDIEE—->0813-22423442
Pingback by Ganti Rugi Sosial « d’Ranah
Made Monday, 28 of May , 2007 at 1:02 am
[…] Mencermati hal ini saya berpikir, pada hakikatnya yang diperjuangkan sebagian warga Renokenongo ini adalah jati diri bangsa. Yang bagi sebagian kita sudah terlalu lama kita lupakan (dengan sengaja). Mungkin film Nagabonar(3) bisa mengingatkannya kapan-kapan. […]
Comment by MaRkO
Made Monday, 28 of May , 2007 at 6:58 pm
cuma gw doang ya yang merasa terganggu dengan akting bapak deddy mizwar sebagai nagabonar? man! dari sekian ratus (gw bisa klaim angkanya sampai seribu!) lelaki batak tua yang pernah gw temuin, ga satupun yang punya karakter kaya nagabonar. padahal sejak lahir udah udah tinggal d sumatra utara, masa logatnya ga batak totok?? (lebih ngingetin ke indro warkop dg spesialisasi peran jadi orang batak jejadian). with all due respect, karakter nagabonar di film ini lebih cocok dibandingkan dengan manusia tua yang mulai mengalami degenarasi mental jadi kaya anak kecil lagi.
Comment by MaRkO
Made Monday, 28 of May , 2007 at 6:58 pm
oh anyway, i still kinda like this movie, tho’!
Comment by JAY
Made Tuesday, 29 of May , 2007 at 5:20 pm
sama bagusnya…….dgn yg pertama.moga moga dapt piala citra ya.
Comment by ivan 'moony' nugroho
Made Wednesday, 30 of May , 2007 at 10:00 am
dashyat….dari nagabonar ke nagabonar jadi 2 tetep ini film luar biasa , terutama untuk bang deddy mizwar…
Comment by abe
Made Wednesday, 30 of May , 2007 at 10:30 am
Judulnya ngingetin gw ketika gw SD dulu, so awalnya gw g yakin film ini semantap dulu apalagi brand image gw ttg film Indon yg kebanyakn bad. Alhasil ketika gw beranikan diri nonton ni film…asli bagus bgt n betul” edukatif n nasionalis, jarang bgt film Indon begini. Gw nonton 2x n tetep g bosen. Well, film ini lansung gw promo k semua siswa gw tmasuk k guru PKN, sbg film yg layak tonton.
Comment by titit
Made Thursday, 31 of May , 2007 at 9:32 am
bagus…4 bintang…tp adegan Jaja Mihardja kl bisa dihilangkan…ga penting bgt..adegan itu usulan Joko Anwar ya?
Comment by sigit
Made Thursday, 31 of May , 2007 at 11:56 am
gw belum nonton ni pelem …gw jadi penasaran , gw ngga biasa nonton pelem komersil…ade gw yang kecil suka nih pelem bingung ? emang kayak gimana sih? bagus bgt yak…?
tapi gw yakin tora ektingnya sama kayak pelem dia yg lain2 ga berubah paling berubah dikiiit bgt
Comment by kangarief
Made Friday, 1 of June , 2007 at 2:27 am
CATATAN: COMMENT ini sebenarnya menjawab tulisan eric sasono yg ditulis di KOMPAS, dna saya udah postingin di blog-nya eric. saya posting juga di sini, karena dalam tulisan ini juga saya mengutip reviewer SI. Trus, klo mau lebih nyambung baca tulisan ini, memang akan lebih ‘terasa’ kalau baca dulu tulisan eric sasono di KOMPAS 5 MEI atau di blog-nya eric: www.ericsasono.multiply.com di bagian review NAGABONAR JADI 2). tx
_________________________________________
Dua “Dunia Nagabonar”
JIKA Asrul Sani menyebutkan bahwa tokoh Nagabonar (1986) bukan karangan, karena diambil dari tokoh Bahar Mataliu, seorang pemimpin laskar rakyat di Lubuk Pakam, kawasan Deli, Sumatera Utara; maka Nagabonar Jadi 2 (2007) versi Deddy Mizwar adalah fiktif. Hal itu jelas ditulis di awal film Nagabonar Jadi 2.
Dari sinilah awal mula kekeliruan Eric Sasono, kritikus film peraih dua Piala Citra, dalam membandingkan Nagabonar versi Asrul Sani dengan Nagabonar versi Deddy Mizwar (Dunia Nagabonar, Kompas 5 Mei 2007). Dengan kekeliruan itu, tentu saja seluruh argumen perbandingannya jadi keliru pula.
Dengan mengambil karakter tokoh nyata, dalam seting cerita yang sama pula, tentu saja kehadiran Nagabonar dalam cerita Asrul menjadi realis. Deddy Mizwar, yang – konon – awalnya tidak disetujui Asrul untuk memerankannya (Asrul menginginkan Soekarno M Noer sebagai pemeran), ternyata memainkannya dengan sangat baik hingga menuai Piala Citra di FFI 1987.
Sementara Deddy Mizwar membawa Nagabonar ke dalam perjalanan fiksi mengarungi Indonesia yang tetap parodik dan absurd, meski sudah lebih setengah abad merdeka. Sejak awal Deddy Mizwar sudah mengemukakan maksudnya membuat film ini: melihat Indonesia dengan hati dan mengoreksi dengan cinta. Bagaimana dan dengan cara apa dia mau mengoreksi Indonesia ini? Ia memilih karikatur, dan Deddy mengerahkan kemampuan teaterikalnya untuk menghadirkan Nagabonar menjadi karikatural. Ini bukan berarti Deddy tak mampu berakting realis, karena ia pun telah membuktikan dalam sejumlah film sebelumnya (termasuk memainkan karakter realis Nagabonar di tahun 1986).
Menghadirkan Nagabonar secara karikatural adalah pilihan, sebagaimana dia juga memilih caranya bertutur – yang disebut Eric sebagai cara tutur ‘bukan baru’. Deddy merasa, dengan cara tutur ‘bukan baru‘ itulah pesan film ini bisa sampai dan diterima dengan mudah oleh penonton. Jadi, kenapa harus menggunakan cara tutur baru yang bisa makin mempersulit penyampaian pesan?
Musfar Yasin, penulis skenario Nagabonar Jadi 2, pernah mengatakan: “Saya selalu menyederhanakan persoalan-persoalan atau pesan-pesan yang berat agar mudah sampai dan diterima penonton.” Deddy fasih betul memahami kemauan Musfar, maka cara tutur itulah yang dipilih. Disinilah letaknya kebijakan – lebih dari sekadar kejujuran - Deddy Mizwar selaku sutradara karena tepatnya memilih cara tutur, dan bukan berarti tidak mampu memainkan cara tutur baru.
Pilihan ini menghadapkannya pada konsekuensi pengambilan gambar. Deddy tidak banyak memanfaatkan ruang dengan blocking pemain, dan lebih banyak mengambil close up wajah pemain berada dalam jarak intim dengan penonton. Keintiman itulah yang membuat gejolak perasaan sang tokoh dirasakan menjadi gejolak perasaan penontonnya. Tak heran, banyak penonton berkomentar: rasa haru dan riang (lucu) terasa bertindihan saat menontonnya. Dengan kata lain, pesan film ini sampai ke dalam relung jiwa penontonnya.
Jika kemudian Eric merasa kehilangan keriangan dalam sosok Nagabonar kali ini, karena Eric mengukur keberhasilan sebuah film dengan definisi cara tutur baru yang lebih fasih dipahaminya (sementara penonton yang mengapresiasi secara sederhana ternyata terbahak-bahak di dalam bioskop). Sebab, di mata Eric, cara tutur ‘bukan baru’ yang digunakan Deddy dalam Nagabonar Jadi 2 menjadi asing (Ide ini dibawa oleh cara tutur yang asing, tulis Eric). Tak heran jika Eric menyukai “abissss” film sejenis Kala (Joko Anwar), yang - menurutnya - dilakukan dengan referensi sinematis dan cara tutur yang tidak Indonesia.
Eric mengatakan lebih lanjut tentang film itu, Joko Anwar mungkin tak menawarkan harapan bagi kesulitan yang dihadapi Indonesia, tetapi Kala bisa saja menawarkan sebuah estetika yang menerobos kebuntuan estetika film Indonesia selama ini.
Nah, di sini pula bedanya. Nagabonar Jadi 2 tidak gagal menyumbang bagi definisi sebuah Indonesia baru, karena Deddy Mizwar memang tidak bermaksud melakukannya. Deddy bermaksud mengajak melihat Indonesia saat ini dengan hati dan mengoreksi keadaanya dengan cinta, bukan dengan caci maki atau kekerasan dan bukan pula dengan cara tutur yang tidak diakrabi penonton. Apakah hasil koreksi itu akan menghasilkan definisi sebuah Indonesia baru, itu persoalan lain.
Maka, kehadiran Nagabonar Jadi 2 memang lebih dibutuhkan masyarakat lebih luas yang menghendaki sebuah pencerahan mengenai definisi kondisi sosial Indonesia saat ini. Sementara kehadiran Kala lebih dibutuhkan sebatas sebagai tolok ukur kemajuan teknis dan bahasa film Indonesia, yang hanya dipedulikan sebagian kecil masyarakat (antara lain para kritikus kaliber festival).
Jadi, mafhumlah jika kemudian Kala hanya bertahan kurang dari sepekan di bioskop-bioskop ring satu karena penontonnya sebatas teman diskusi sutradaranya – yang disebut oleh kritikus situs “Sinema Indonesia” sebagai scientist gila yang mencampur berbagai formula menjadi formula yang sulit didefinisikan. Sementara penonton umum, yang hanya memiliki apresiasi sederhana, lantas menjadi promosi kontra produktif lewat mulut ke mulut. Di sini masih terbukti, komunikasi tatap muka dan dari mulut ke mulut tak kalah efektif dibanding media komunikasi secanggih apapun yang digunakan untuk promosi. Nagabonar Jadi 2 mampu mengundang perhatian sejuta penonton bukan semata karena promosi yang gencar, tapi juga ditularkan dari mulut ke mulut.
Persoalan Indonesia yang dihadapi Nagabonar sekarang memang berat, bahkan lebih berat, karena musuhnya berada di balik selimut kita. Jika absurditas Orde Lama ditandai (seperti disebut Eric) raja copet yang diangkat jadi Menteri oleh Presiden Soekarno (kita tak tahu apakah kemudian dia jadi insaf atau malah jadi godfather pencopet), maka di masa Orde Baru (dan masih berlanjut di Orde Pascareformasi) ini lebih parodik dan absurd lagi: banyak orang baik yang jadi pencopet serakah setelah diangkat jadi pejabat negara. Inilah salah satu yang dikoreksi Deddy dengan menghadirkan kembali tokoh Maryam, sesama pencopet dan teman seperjuangan, yang menjadi teman separtai Menteri.
Nagabonar memang dihadirkan sebagai tokoh tipikal berpikiran kolot dan feodal, yang selalu membanggakan masa lalunya dan memegang erat mitos lama tentang nasionalisme dan implikasi militerisme perjuangan Indonesia. Namun film ini tidak ikut mengekalkannya, karena digambarkan Nagabonar pun ragu saat memberi hormat di depan deretan pusara di Taman Pahlawan, yang pada saat pemakamannya tentu diiringi tembakan salto sebagai bagian seremoni milter: “Kau yakin yang dikuburkan di sini semua pahlawan?” tanyanya, pada Umar.
Deddy makin melucuti mitos itu dengan adegan Nagabonar menziarahi makam ayah Umar, seorang pejuang yang tidak ingin dicatat sejarah – bahkan tak ingin dikenang oleh anak dan cucunya sekalipun, dan hanya ingin dicatat Allah SWT. Nagabonar tampak lebih khidmat menekuri makam ayah Umar, yang saban hari dilangkahi anjing kampung di pemakaman umum, ketimbang saat berziarah ke Taman Pahlawan yang asri.
Jika kemudian Eric melihat nasionalisme, keindonesiaan, dan patriotisme dalam Nagabonar Jadi 2 menjadi sesuatu yang berat dan dipusingkan, itu karena Eric sendiri yang membebaninya dengan berbagai referensi yang lebih memusingkan. Khalayak umum barangkali akan lebih pusing membaca tulisan Eric ketimbang memahami filmnya.
Melihat dua Nagabonar, yang dibuat tahun 1986 dengan tahun 2007, saya lebih setuju dengan pandangan Riri Riza (Gie, Eliana Eliana): “Kita tidak mungkin lagi membicarakan Nagabonar dalam bandingannya dengan Nagabonar Jadi 2, karena jelas sekali Nagabonar Jadi 2 sudah memberi gagasan dan pesannya sendiri. Ini pesan Deddy Mizwar terhadap zaman. Ini zaman yang sangat relevan bagi orang seperti Deddy Mizwar untuk berkomentar. Jadi, kita tidak melihat Nagabonar Jadi 2 merupakan sebuah kelanjutan, tapi sebagai sebuah komentar zaman. Kedua film ini menjadi penting dalam peta perfilman Indonesia. Film Nagabonar menjadi lebih penting dengan adanya film Nagabonar Jadi 2.”
Initi dari pendapat Riri, Nagabonar memang telah menjadi dua yang sama-sama penting bukan hanya pada peta perfilman Indonesia, tapi juga pada peta sosial politik bangsa dan negara Indonesia.
Kemudian, lanjut Riri, ini timing yang tepat untuk sebuah film yang pernah jadi legenda, yang selalu kita sebut sebagai puncak perfilman Indonesia, dibikin kembali. Pendapat Riri ini sekaligus mematahkan pendapat Eric, yang mengatakan, pilihan menghidupkan kembali Nagabonar bisa jadi salah. Sebab, yang salah, cara analisis Eric yang membedah manfaat gizi tempe dengan referensi adonan humburger atau menganalisis formula Bodrex untuk penyembuhan kanker otak.
Eric seperti Presiden yang mengutak-atik nama untuk resufle kabinet dengan mempertimbangkan citra dirinya, bukan mempertimbangkan kemaslahatan rakyatnya.
ARIEF GUSTAMAN
Penonton Film
Comment by astrid_vinanda
Made Friday, 1 of June , 2007 at 12:15 pm
ya ampun gile bgs bgt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
sumpah kagak rugi deh klo nonton
gw aja ampe nangis nonton tu pilem
film layar lebar Indonesia paling bgs n mendidik ya ini lah
NAGABONAR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1
Gw jadi gak sbr untuk beli novel na yang udh terbit………….
Comment by viCiouSaiKo
Made Sunday, 3 of June , 2007 at 11:06 am
you will miss something precious (pinjem istilah Gollum) if you miss this movie.
gara-gara ngeliat nagabonar upacara di lapangan bola, gue jadi kangen masa-masa upacara waktu sekolah dulu. padahal waktu upacara dulu, gue neggak segitu khidmatnya hormat ke bendera merah putih. sniff..
btw, nagabonar, kan suka main bola ya…kira-kira di milanisti bukan?? (baka question, isn’t it?)
Comment by viCiouSaiKo
Made Sunday, 3 of June , 2007 at 11:06 am
you will miss something precious (pinjem istilah Gollum) if you miss this movie.
gara-gara ngeliat nagabonar upacara di lapangan bola, gue jadi kangen masa-masa upacara waktu sekolah dulu. padahal waktu upacara dulu, gue neggak segitu khidmatnya hormat ke bendera merah putih. sniff..
btw, nagabonar, kan suka main bola ya…kira-kira dia milanisti bukan?? (baka question, isn’t it?)
Comment by yudythbastian
Made Sunday, 3 of June , 2007 at 7:47 pm
aku ga malu nitikin air mata setiap adegan nasionalis dengan backsound lagu-lagu perjuangan.
Comment by Olid
Made Monday, 4 of June , 2007 at 3:59 pm
Wah di antara maraknya film-film berbau horror dan film-film remaja,akhirnya muncul juga film yg lebih segar,lebih mudah diterima semua umur,bagus,keren,lebih jujur,sampai gw ga tau lagi harus ngomong apa untuk ngungkapin kekaguman gw ama film ini.
Gw dari pertama dah ngebet bgt pengen nonton film ini,begitu kesampaian,gw benar-benar dah membuktikan sendiri kalau film ini emang bener-bener bagus.Bangkitlah per film an INDONESIA!!!
SALUT BUAT OM DEDY MIZWAR
Comment by Dody
Made Thursday, 7 of June , 2007 at 10:45 am
Ini dugaanku aja :
Apa kira-kira adegan Deddy Mizwar di patung Jendral Sudirman itu menunjukkan kalau Bang Deddy tidak senang dengan patung tersebut ya???
Comment by amkrina
Made Thursday, 7 of June , 2007 at 3:20 pm
sepertinya film naga bonar jadi dua adalah film Indonesia dengan ide cerita dan soundtrack terbaik yang pernah aku lihat dan ku dengar:). hidup film Indonesia!
Comment by Fathin
Made Friday, 8 of June , 2007 at 8:25 am
daku puas bikin ortu ketawa lepas ketika nonton film ini, selain itu materi yang ditawarkan sangat berbobot…
mungkin yang belum nonton, bakal nyesel 1000 keturunan…
hidup nagaBonar!!!!
“Apalah artinya dunia ini tanpa Bola… ”
Comment by MOSKIE
Made Monday, 11 of June , 2007 at 4:53 pm
hidup lah deddy mizwar
gwe salut saMA dia, slalu bikin film yg terpuji bahkan film kiamat sudah dekat yg begitu simpel mampu membuat gwe sadar bahawa bikin film gak selalu mahal dan rumit ceritanya yg penting menyentuh kehidupan sosial dan ceritanya gak muluk-muluk…gak perlu bawa-bwa setan, percuma..setan aja gak pernah bikin film
Comment by ghea
Made Tuesday, 12 of June , 2007 at 11:48 am
menurut gue film naga bonar jadi 2 tuh film bagus buat generasi muda. gak cuma mendidik untuk mencintai bangsa indonesia, tapi juga menghibur untuk semua kalangan. akting dedi mizwar yang memikat. walaupun menggunakan kamera yang kurang modern, terbukti film ini meraih sukses. penggunaan kata kata yang sederhana dan tidak berkesan menggurui. itu positif nya
walaupun bosen juga sih ngeliat tora dan indra birowo dalam satu film terus,,,
saran aja buat indra, jangan nguntilin tora kemana mana kek. bosen tahu….!!!
Comment by ANIZA"MONOZ"DJ
Made Thursday, 14 of June , 2007 at 7:27 pm
Film ini tuch keren banget…pokoknya beda banget ma film2 yang laen dech.Film ini juga ngasi aku masukan buat nyusun skripsi…so sekarang aku ngangkat tentang nasionalisme yang ada di film ini buat skripsiku.tapi aku masih punya kendala,,buat pak.Deddy mizwar tolong ya VCD nagabonar jadi 2 cepet dikeluarin di pasaran,biar skripsiku cepat selasai.ok thx
Comment by Dody
Made Monday, 18 of June , 2007 at 12:41 pm
Bang Deddy, kalau ngerilis nih film dalam bentuk VCD/DVD bikin bundel bareng Nagabonar pertama ya. Soalnya yang pertama belum nonton.
Comment by oni mehrani
Made Thursday, 21 of June , 2007 at 10:09 am
oi.ada yang ga nyambung di sini. nagabonar 1 settingnya tahun 1940-an bukan? terus kalo tora sudiro adalah anaknya dedy mizwar kenapa umurnya masih segitu n nagabonarnya masih hidup(n kayaknya muda deh!)
ada yang ilang di sini dan produser,penulis n sutradara ga ngejelasin keawetmudaan beliau2 ini.(ato mungkin maksudnya nb2 emang ga ada hubungan dgn nb1?)ga ngerti ah!Anyway, tetep salut untuk musfar yasin di sini, soalnya film ‘ketika’ kebanyakan adegan orang loncat dari gedungnya sih.Males
Comment by Femmy Karima
Made Friday, 22 of June , 2007 at 4:05 pm
Setudju!
tadinya ga begitu suka ama Wulan, liat aktingnya di sini, jadi suka. hehehe. welcome back, sinema-indonesia!
Comment by hard_finger
Made Friday, 22 of June , 2007 at 5:34 pm
huhu
ni film bener bisa aku bikin merinding, terharu, ama merenung!
buset!
bang dedy emang keren dah.
tapi kasian yah yg belum nonton.
gak bakal dirilis versi ycd dan dvd lo..
huehehehehe
Comment by deni
Made Friday, 22 of June , 2007 at 5:54 pm
film ini emang film indonesia pertama yang paling bagus sepanjang sejarah perfileman
Comment by Dhany Aimar
Made Sunday, 24 of June , 2007 at 11:50 pm
Untungnya saya tidak termakan kritikan yg ada di harian Kompas tsb, karena baca nya saja sudah rumit. Nagabonar Jadi 2 tentulah film yang berbeda dgn Nagabonar yang dibuat oleh Asrul Sani. Situasi dan kompleksitas keadaan skg tentunya sangat berbeda jauh dgn kondisi pada masa itu yang mempengaruhi film maker dibanding dengan situasi sekarang. Kalo Nagabonar pertama dibuat untuk mengapresiasi perlakuan bangsa ini thd para veteran pejuang kemerdekaannya sedang Nagabonar Jadi 2 adalah sebagai wujud pertanyaan bangsa ini thd dirinya sendiri masih ingin jadi bangsa yang besar atau sudah kehilangan identitas diri bangsanya, dan Dedi Mizwar mewujudkannya dgn tokoh Nagabonar yang memang dia kuasai karakternya. Sebuah monolog ? bukankah setiap film yang dibuat adalah monolog ide dan kreasi dari para sutradara pembuat film itu sendiri..
Comment by kedondong_dong
Made Saturday, 30 of June , 2007 at 5:13 pm
kata gw biasa aja tuh..
banyak adegan2 ngerusak
logat tora gak natural.. parah…
adegan si wulan guritno ngomong pas nagabonar mo mati ngerusak jg
yang paling aneh..
kira-kira aja deh si nagabonar paling tua umur 70..
berarti dia lahir tahun 1937.. berarti pas merdeka dia baru umur 8 thn.. trus kapan dia perang kemerdekaannya?
sori kalo salah analisis…
Comment by Bonnaga
Made Tuesday, 3 of July , 2007 at 9:32 pm
buat kedondong_dong :
Cerita Nagabonar datang dikepala Deddy Mizwar masih berupa penggalan-penggalan cerita. Terus berubah dan terus menerus berevolusi. Tak heran apabila skenario akhir adalah skenario versi ke 7 yang terus menerus mengalami revisi. Nagabonar pertama dibuat dengan latar belakang tahun 1940’an. Kalau mau ditarik “timeline”-nya ke tahun 2007, dijaman handphone dan ipod menjadi sedemekian umum, maka Nagabonar umurnya menjadi 80’an. Ini sama sekali tidak mungkin. Maka Deddy Mizwar dengan cerdik, memutus “time line” itu. Nagabonar harus hadir dalam pigura kehidupan Indonesia yang kontemporer. Oleh Deddy Mizwar, Nagabonar yang dibuatnya tidak menjadi sekuel, tetapi sebuah evolusi unik. Itu sebabnya Deddy Mizwar melahirkan Nagabonar baru. Hal ini yang membuat judul film Nagabonar versi Deddy Mizwar, menjadi “Nagabonar Jadi 2” dan bukan “Nagabonar 2”.
dikutip dari http://biangpenasaran.blogspot.com/2007/06/marketing-nagabonar-jadi-2.html
Comment by pi
Made Friday, 27 of July , 2007 at 2:33 pm
BAGUUSSSSSS BANGEEETTTTT….deddy mizwar tuh emang ya…gak sia2 dia nunggu puluhan taun buat bikin sekuel sekeren ini…sumpah keren..terbukti sebuah film ga perlu punya formula klasik (gay, orang sakit udah divonis mati,tokoh antagonis..dsb) untuk bisa menarik.. tapi menurut gw wulan guritno gak seistimewa itu ah maennya…cenderung flat ya…karena perannya juga ga menuntut banyak..tapi om deddy…KWEYEEEENNNN!!!
Comment by anca
Made Saturday, 4 of August , 2007 at 10:06 am
nggak nyesel bangeet gua nontonx…,puas banget,salut deh buat bang dedi….ni film indo paling keren…wah..wah…nggak tau apa kata dunia klw film indo kayak gini.pokokx sy tunggu film slanjutx yg lbh kn…tau nggak sedihx tu dapet bangeet,kocakx dapet n kayakx nggak dibuat2 aja. buat sutradara n produse klw ada film skrn ni tlng jgn cuman diputa dikota besa doank,palu sul-teng juga donk sp nggak lambat bei komen keyy…..
Comment by savatose
Made Monday, 6 of August , 2007 at 9:48 am
bagus, tp overrated..
Comment by Benk benk
Made Sunday, 12 of August , 2007 at 4:06 pm
film wajib tonton di acara 17′an !!!!!!!!! hahahaha, this movie is so damn good !!!!!!!!!!!!!
Comment by Yasin Khan
Made Monday, 13 of August , 2007 at 6:46 pm
wah wah wah wah……ama KALA siapa ya yg bakel dapet piala citra?
Comment by J.Novr@n
Made Monday, 20 of August , 2007 at 10:42 pm
terus terang awalnya gw pengen nostalgia dgn nagabonar thn 86an, eh taunya yg gw tonton sekarang ini kereeenn abiss…
gw pengen bisa untuk buat filem seperti itu top abis…
buat pak haji Dedy…congratulation..and for all crew…stay exist in your create…buat bang musfar yasin, mas W@hyu HS (senior gw), buat pak Aldisar syafar…,dan teman2 Demi Gisela…gw salut!!!
Comment by santos
Made Thursday, 30 of August , 2007 at 2:15 am
kalau aku cuma mau bilang…bahwa aku sangat terinspirasi dari ackting opung naga..sejak aku lihat nagabonar dan nagabonar jadi 2 aku mendapat satu karakter, satu shadow aktor dalam pencarianku selama ini dalam berteater, karakter nagabonar sangat melekat dalam diri opung nagabonar(dedi mizwar), baik dalam film-film lain yang dibintanginya, apa itu artinya opung merupakan aktor tercetak? ya tak apalah menurutku, selama itu pantas dan cocok di diri opung dan cocok dengan peran sebagai aktor,sah-sah saja menurutku.
tapi, opung juga kurasa sudah membuktikan bahwa opung bisa memerankan peran selain menggunakan logat batak lewat film ketika dan kiamat sudah dekat atau yang lainya, tapi jejak sang naga bonar tetap terlihat jelas bayangnya dikerutmu itu..
aku sangat berterima kasih sekali kepada opung naga yang sudah banyak memberikan inspirasi dan sesuatu yang sangat berharga bagiku..aku ingin sekali bergabung dengan beliau dalam produksinya yang selanjutnya, tapi apalah dayaku, aku belum punya cukup pelor untuk itu..sekali lagi terima kasih opung naga…sukses selalu untuk opung naga bonar dan perfilman indonesia.
Comment by Galaxy Raider
Made Monday, 3 of September , 2007 at 9:12 am
Kayaknya SI memang suka berlebihan deh. Akhirnya gua bisa juga dapetin DVD-DVD Indonesia, tapi film ini ngga layak dapet 4 bintang deh. 2 aja cukup. Joke-nya udah basi. Aktingnya cuma tergantung sama Deddy Mizwar doang. Cuman lagu2-nya aja yang top, terutama lagunya Padi.
Ngomong2 Deddy Mizwar sempet keceplosan manggil Tora bukannya Bonaga di 1 scene! Wah… kok ngga di-retake ya?
Comment by candrela
Made Monday, 3 of September , 2007 at 7:30 pm
……duh supah bagus banget nih film…..
gw paling suka adegan “insya Alllah”heeee orang jepang di ajarin insya Allah..hahahaha memang deddy mizwar top banget deh sumpah g ada kata2 yang bisa gw ungkapin buat deddyM. n buat tora sumpah loe seksi banget hehehe…akting loe bagus banget deh two tumbs up buat mas deddy and yayang Tora deh..apa kata dunia kalo nagabonar jadi 3.gw masi nunggu loh ntar bonaga punya anak lagi jadi deh nagabonar jadi 3…..gw tunggu lohhh sukses yahhhhhh
Comment by cynthia
Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 10:08 pm
The best Indonesian movies i’ve ever seen..
dari pengambilan gambarnya, setting, alurnya yg ga ngebosenin dan satu lagiii…
film ini mengandung byk pesan2 yg bermakna banget! udh gitu film ini menggambarkan nasionalisme yg tinggi!
gw slalu merinding stiap ada scene ttg pahlawan2 gitu deh..! wow..
salut buat Deddy Mizwar.. You’re the best director, producer and actor! two thumbs for you..!
Comment by masitoru
Made Tuesday, 2 of October , 2007 at 3:04 am
Naga Bonar jadi 2..Oke saja,dengan konsep-konsep yang mengemukakan pesan heroisme, perbedaan zaman, kritik sosial dan lain sebagainya. Tapi bang Deddy Mizwar disini masih terperangkap dengan konsep yang sama dengan sinetron KSD, mungkin maksudnya ingin menyentuh aura agama yg pada zaman modern ini tampak sangat merosot di kalangan remaja generasi baru Indonesia, sah-sah saja dalam ikon filem Naga Bonar nya Bang Deddy, namun konsep ini jadi terlampau dominan. Sayang sekali Tora Sudiro tampak belum serius mendalami sosok si Bonaga sebagai anak seorang Naga Bonar, yang walaupun terlahir sebagai generasi zaman modern dan metropolis tapi sepertinya ada yang belum pas, terkesan si Bonaga itu seorang anak mama (manja), kurang punya jiwa humoris dan terlampau lemah.
Filem Naga Bonar jadi 2 seharusnya dapat menjadi cerminan aura yg penuh dengan gaya humoris yang cerdas dan berbobot dari filem Naga Bonar terdahulu, apabila digarap dengan serius dan lebih mendalam oleh Bang Deddy Mizwar. Namun dari semua itu tetap angkat jempol kepada Bang Deddy Mizwar yang masih tetap mengusung konsep-konsep nasionalisme dalam Naga Bonar jadi 2 ini.
You must be logged in to post a comment.