Sinema Indonesia

Mengejar Mas Mas (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Saturday, 26 of May , 2007 at 8:46 am

As if satu film seperti I Love You, Om tidak cukup, Rudy Sudjarwo dan Monty Tiwa merasa perlu untuk membuat film dengan ide yang sama. Bedanya, kalau I Love You, Om adalah film… err… horror, Mengejar Mas-Mas adalah film komedi. Well, tidak sepenuhnya tepat jika disebut “komedi”, sih. Secara adegan yang benar-benar lucu dalam film ini sama jarangnya dengan jumlah orang jujur di DPR, atau Viagra asli di warung-warung obat kuat sepanjang Jalan Hayam Wuruk (tanya Ferry kalau tidak percaya). In fact, tidak jelas apa yang ingin diceritakan Rudy/Monty di sini, secara tidak ada plot yang benar-benar kuat. Apakah ini tentang seorang cewek yang mencoba menggaet seorang laki-laki yang usianya jauh lebih tua? Nggak juga. Justru di sini, laki-lakinya yang mengejar-ngejar si cewek. Apa ini tentang seorang cewek metropolis yang mengejar-ngejar seorang laki-laki desa? Nggak juga. Justru laki-laki desanya (dan Jogja, gitu loh. It’s hardly a desa) yang mengejar-ngejar cewek metropolisnya. Apakah ini simply tentang orang-orang yang terlibat benturan budaya kota dan desa? Kalau begitu, skenarionya hanya mampu menampilkan masalah-masalah yang artifisial (cewek kota ditandai dengan celana pendek yang lebih tinggi dari lipatan paha, cowok kampung ditandai dengan blangkon). Apakah ini semata-mata komedi ringan yang cuma ingin membuat penonton tertawa? Nggak lucu jugaaa…

Jawabannya ternyata jauh lebih simpel: Mengejar Mas-Mas adalah proyek mengejar setoran. Dibikin secara instan dan asal. Sejauh ini, Mengejar Mas Mas mendapat nilai terendah dari serentetan proyek tujuh-hari-suting Rudy Sudjarwo/Monty Tiwa setelah Mendadak Dangdut dan Pocong 2. (Sialnya, masih ada Maaf Saya Menghamili Istri Anda dan Cintapuccino). Di sini semuanya serba contrived. Supaya si cewek Jakarta bisa ke Jogja, bapak si cewek dibikin mati dan ibu si cewek pacaran lagi sehingga membuat si cewek marah. Supaya si cewek bisa tinggal sama seorang pelacur, cowok si cewek mesti pergi naik gunung untuk beberapa hari. Supaya penonton ber-demand rendah bisa terkenyut-kenyut hatinya, si mas-mas dibikin tidak mampu ngeluarin duit buat ngebetulin rem sepedanya yang blong.

Kalaupun misalnya aman di skenario, film ini masih harus berurusan dengan tokoh utamanya (Poppy Savia) yang sama sekali gagal membuat kita peduli padanya. Marah-maraaaah… mulu.

Yang bisa ditonton di film ini adalah akting Dinna Olivia yang cihuy. Tapi masalahnya lagi, Dinna Olivia juga salah kasting sebagai pelacur murahan yang sekali service cuma laku 50 ribu perak. Mbak-mbak di Stadium yang tampangnya gitu aja bisa 10 kali lipat (tanya Ferry kalau nggak percaya).

Beberapa momen yang benar-benar lucu (termasuk profesi yang diakui Dinna Olivia untuk menutupi pekerjaan aslinya) mengurangi kancut yang seharusnya diterima oleh film ini.

Tapi, mbok ya jangan mikirin diri sendiri. Bukan berarti kalian bisa suting dengan bujet rendah banget, lantas tiket yang kami beli bisa lebih rendah dari harga biasa, kan? Bukan berarti kalian sutingnya cepet, lantas durasi filmnya pendek sehingga penderitaan kami pas nontonnya nggak mesti terlalu lama, kan? Kan? Kan? KAAAAAAAAAN???

Sutradara: Rudy Sudjarwo
Penulis: Monty Tiwa
Pemain: Dinna Olivia, Poppy Savia, Dwi Sasono, Elmayana Sabrenia, Ira Wibowo, Roy Marten.
Produser: Lala Hamid
Produksi: DePic Production
Durasi: 94 menit

Official Site
Jadwal Tayang

Comments (152)

Category: Review

Love is Cinta (2007)

Posted by ferrysiregar on Friday, 18 of May , 2007 at 11:04 am

Love is Cinta dan Cinta adalah cewek ribet. Asli. Cerita film ini ada cuma karena Cinta (Acha Septriasa) ingin mendengar kata “Aku cinta padamu” dari Ryan (Irwansyah). Mereka sudah lama dekat dan Ryan sudah bilang “Gue sayang elo”. Tapi rupanya ini tidak cukup buat Cinta. Dia mau dengar kata “cinta”. Jadi di sepanjang film, Cinta selalu teriak-teriak histeris “GUE PENGEN DAPET KEPASTIAAAAAAANN..!!” Ribet banget, kan? Hari gini geto, looo…

Masalah terbesar dari film ini adalah, baik penulis skenario Armantono dan sutradara Hanny R. Saputra adalah pencerita yang buruk. Di tangan storyteller yang kompeten, ide tipis ini bisa saja jadi film yang manis. Sayangnya kita memang tidak bisa berharap banyak dari penulis film Heart dan Mirror ini yang selalu tidak mampu memberikan dialog yang natural. Semuanya mesti over-the-top. Ini membuat Acha Septriasa yang memang dari sononya sudah freaky, jadi tambah menyeramkan. Di sini Acha kelihatan seperti versi manusia dari boneka Bride of Chucky. Setiap kali dia ngomong kami selalu tutup kuping. Kacaunya lagi, Armantono terlalu jadul untuk menulis skenario tentang anak muda. Coba, mana ada jaman sekarang anak SMA lulus-lulusan di jalanan sambil nyanyi Di Sana Senang Di Sini Senang? Yang ada juga Di Sana Nyimeng Di Sini Nyimeng. (Well, mungkin bukan but you got the point, right?)

Plot-nya mau dibikin magical kayak Fly Me to Polaris. Tapi jatuhnya simply ridiculous. Ryan yang tadinya akan meninggalkan Cinta untuk kuliah di Amerika, batal pergi. Dan, (tanpa memberikan spoiler seperti yang selalu dilakukan para reviewer KOMPAS –aduuuh, bodoh-bodoh sekali ya mereka itu–) Ryan berganti wujud sebagai Doni yang diperankan Raffi Ahmad. (Mungkin cuma karena Raffi Ahmad pinter nangis sedangkan Irwansyah mesti dibantu sepuluh botol Insto). Semuanya terjadi dalam satu sequence yang melibatkan malaikat botak yang dijamin membuat anda cekikan ketimbang terharu.

Durasi 140 menit (!!!) sebagian besar dihuni scene-scene nggak penting, yang terutama melibatkan seorang cowok yang suka sama Cinta yang terlihat seperti versi murah dari Nicholas Saputra (kurang shameless apa lagi, coba?). Dan Hanny R. Saputra semakin ke sini semakin buruk penyutradaraannya. Di tangan Hanny, plot holes jadi plot lakes. Tunggu sampai anda melihat sebuah majalah dengan sampul dengan headline: SEORANG GAY MATI BUNUH DIRI. Majalah apa tuuuuuuuuu… Dan banyak lagi yang kalau didaftar cuma bikin kami merasa sama bodohnya dengan para filmmaker film ini.

Dihiasi lagu-lagu corny yang hazardous for your ears.

Sutradara: Hanny R. Saputra
Penulis: Armantono
Pemain: Acha Septriasa, Raffi Ahmad, Irwansyah, Henidar Amroe, Tio Pakusadewo
Produser: Chand PArwez Servia
Produksi: StarVision

Jadwal Tayang

Comments (117)

Category: Review

Suster Ngesot (2007)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 13 of May , 2007 at 4:56 pm

Ground Control to Major Dodi…
Ground Control to Major Dodi…
Where are you, Dod?
Elo janji elo yang bakal nge-review film horror setelah
Angker Batu.
Kita nggak boleh ngebiarin pembaca kelamaan nunggu. Kita harus menyelamatkan mereka, Dod.
Yeah… gue tau elo bakal bilang “Buat apa mencoba kalau mereka nggak mau diselamatkan?”. Gue tau elo bakal bilang. segunung kancut pun kita kasih ke Suster Ngesot, orang-orang bakal tetep menuhin bioskop.
Tapi gue tetep ngerasa kita mesti terus nulis, Dod. Dan akhirnya kemarin gue nonton.

Lo tau nggak? Suster Ngesot adalah titik terendah dari sepak terjang para pedagang itu (bukan filmmaker) dalam memanfaatkan selera rendah dari sekelompok masyarakat yang kebetulan jadi group terbesar dalam demografi penonton bioskop Indonesia. Nia Ramasiapatuhnamanya can’t act. Yang lebih parah, Mike Lewis bahkan nggak bisa ngomong! Bahkan susternya aja nggak ngesot. Cuma tangannya doang yang ngeraba-raba kasur buat megang tangan korbannya. Itu pun nggak pernah berhasil. Pernah ada satu kali susternya nemplok di belakang mobil kayak cicak. Mungkin satu-satunya yang ngesot adalah IQ para pembuatnya.

Jadi ceritanya si Nia Ramasiapatuhanamanya jadi perawat dan tinggal di asrama perawat. Anehnya di asrama perawat itu kayaknya nggak ada yang ngerti hygene. Kamar mandi jorok banget! (Eh, elo masih pengen jadi perawat? Jangan masuk asrama situ, ya). Terus si Nia Ramasiapatuhnamanya nemuin buku. Di buku itu muncul huruf-huruf orang yang bakal mati. Pertama yang muncul huruf S. Laki-laki yang namanya Syamsul mati. Terus muncul huruf H. Yang namanya Hasan mati. Terus huruf I. Orang yang namanya Indira mati. tadinya gue berharap huruf berikutnya bakal T. Jadi tepat menggambarkan filmnya. SHIT. Ternyata bukan.

Asli jelek mampus, Dod. Maag gue sampai kambuh.
Elo balik dong, Dod. Elo mesti nge-review
Malam Jumat Kliwon

 

Temen elo,

Ferry 

P.S. Film ini juga ditulis sama penulis I Love You, Om… juga. Hebat banget dia nulis dua film dua-duanya dapet lima kancut. 

Sutradara: Arie Aziz
Penulis: Aviv Elham
Pemain: Nia Ramadhani, Mike Lewis, Donita, Lia Waode, Jajang C. Noer, Arswendy Nasution, Mastur.
Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Produksi: MD Pictures
Durasi: 87 menit

Jadwal Tayang

Comments (94)

Category: Review

Angker Batu (2007)

Posted by ferrysiregar on Tuesday, 1 of May , 2007 at 8:12 am

Kami benar-benar tidak punya masalah dengan fakta bahwa Angker Batu me-rip-off plot semua film zombie (dari mulai Zombie sampai 28 Days Later) dan mengganti mayat hidup dengan berbagai macam setan. Malah kami menganggap langkah ini cukup pintar. Yang bikin kami sebal adalah, filmmakernya tidak mampu menciptakan sedikitpun ketegangan. Jadi kayak anak sekolah pas ulangan, sudah dikasih contekan pun masih salah tulis. Setelah menonton KALA (yang secara misterius langsung menghilang dari bioskop), nonton Angker Batu bikin sakit mata. Kualitas gambarnya sama dengan Dunia Lain The Movie. Inilah yang terjadi kalau orang tetap saja melahap film horror apapun yang dikeluarkan para pencari untung (bukan filmmaker). Semakin lama mereka semakin tidak peduli dengan kualitas. Besok-besok mereka pasti akan mulai suting pakai kamera handphone. CDMA pula. Dua orang jurnalis TV yang bekerja untuk sebuah stasiun TV Korea pergi ke sebuah daerah di Jawa bernama Angker Batu untuk mencari dua rekan mereka yang hilang saat meliput pembangunan sebuah resort di daerah itu. Penting banget emang, sampai-sampai pembangunan resort saja diliput. Ketika mereka di sana, kota itu sudah kosong ditinggal penduduknya. Tak lama kemudian, setan-setan pun mengepung mereka. Nggak nyerang, sih. Cuma nari-nari mengelilingi mereka dengan koreografi yang mungkin dibikin oleh seorang yang drop-out dari Ari Tulang School of Dance. Aaah… Kalau bioskop yang memutar film seperti ini masih saja dipenuhi penonton, mungkin kita belum berhak untuk menuntut supaya film Indonesia bisa maju. Seperti lagu Radiohead yang dinyanyikan Dodi sepanjang nonton film ini: “Yuduit tuyorself yudu… datswat riliherts…” Seorang cewek ABG di belakang kami berkomentar: “Iiihh… kemasukan jugaaaa…” Dodi berang dan menjawab: “IYA! KEMASUKAN TOMYOOOOORK!” Cewek ABG itu membalas: “Emang ada, ya? Setan apa tuh?” Dodi menjerit histeris frustrasi dan keluar dari bioskop. Sampai review ini diposting, saya belum tahu dia ada di mana. Mungkin dia ke Angker Batu ngajar setan-setan dance.

Sutradara: Jose Poernomo
Penulis: Jose Poernomo, Hilman Mutasi
Pemain: Mieke Amalia, Yama Carlos, Susilo Badar, Imelda Therinne, Nuri Maulida, Bayu S. Wiguna, dan ratusan setan.
Produser: Jose Poernomo
Produksi: Liquid Media
Durasi: 86 menit

Jadwal Tayang

Comments (37)

Category: Review

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com