Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 24 of June , 2007 at 8:08 am
Monty Tiwa tidak harus meminta maaf pada siapa-siapa (seharusnya juga tidak kepada perserikatan keluarga Simamora yang menuntutnya untuk meminta maaf atas penggunaan marga mereka di film ini). Maaf, Saya Menghamili Istri Anda adalah sebuah komedi yang cerdas dan menyenangkan.
Setelah menyerahkan skrip-skripnya untuk disutradarai Rudi Soedjarwo (dan the much less-talented Indra Yudhistira), kali ini Monty menyutradarai sendiri ceritanya. Dan hasilnya ternyata jauh lebih baik dari film-filmnya yang disutradarai kedua sutradara itu.
Dibyo (Ringgo Agus Rahman, dalam penampilan yang hampir me-reset ke-overeksposannya) adalah seorang pecundang. Jadi figuran di beberapa film low budget, dia sudah lebih spak dari bintang film paling kondang. Dan ketika dia mendapat satu masalah besar yang berkaitan dengan seorang perempuan (Mulan Kwok, who’s not bad), usahanya untuk menyelesaikan masalah malah menyeretnya into deeper shit.
Setelah openingnya yang sangat pintar yang membuat kami terbahak-bahak, film lanjut dengan joke-joke yang hampir sama lucunya. Monty punya comedic timing yang sangat kuat. Ditambah lagi, para pemainnya mampu mengikuti irama komedi Monty, terutama new-comer Rizky Mocil yang main jadi sahabatnya Dibyo. Shanty juga layak diacungi jempol sebagai gadis batak, 180 derajat berbeda dari penampilannya yang kuat sebagai femme fatale di Kala.
Sayangnya, sebagai film komedi Maaf Saya Menghamili Istri Anda kurang solid karena ada beberapa bagian yang melodramatik (kecenderungan yang selalu kami dapati dari skenario-skenario tulisan Monty), lengkap dengan music score yang didayu-dayuin. Dan film ini bisa jadi lebih baik jika tidak dikerjakan dengan terburu-buru (film ini adalah satu dari proyek suting 7 hari Monty Tiwa/Rudi Soedjarwo). Karena dengan hasil teknis seperti itu, film ini bisa saja ditandingi oleh, misalnya, Bajaj Bajuri yang juga pernah sama lucunya. Seharusnya film bioskop memang lebih cinematic dari film TV. Kan kita beli tiket. Mesti beda dong, ah.
Tapi overall, ini adalah debut penyutradraan yang menjanjikan dari Monty Tiwa.

Penulis/Sutradara: Monty Tiwa
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Mulan Kwok, Shanty, Rizky Mocil, Eddie Karsito.
Produser: Rudi Soedjarwo, Novi Christina
Produksi: Sinemart Pictures
Jadwal Tayang
Official Site
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Thursday, 21 of June , 2007 at 11:18 pm
Setelah setan dan band indie, ada satu lagi objek yang paling sering dieksploitasi di film Indonesia. Coba tebak apa. Hint: kalau saja tiga objek ini kita satukan dan kita jadikan ide untuk bikin film, bunyinya bisa seperti ini:
- Setan gay bikin band indie, atau
- Daripada bikin band indie yang menyembah setan, mendingan menyembah gay, atau:
- Gara-gara diteriakin “setan!” waktu manggung dengan band indie, seorang cowok jadi gay.
Yes. Satu lagi objek yang sering dieksploitasi itu adalah gay. Oke, kami juga sering menggunakan gay jokes. Tapi kami melakukannya secara tepat guna (ciee tepat gunaaaaaa…). Sayangnya, Coklat Stroberi mengeksploitasi isu gay secara politically-incorrect. We’ll get to that later.
Nonton Coklat Stroberi sungguh bikin frustrasi karena kita akan merasa tertipu. Dengan menyindir sinetron di pembukaannya, film ini seharusnya bisa jadi sesuatu yang lebih baik dari yang diejeknya. Sayang, tidak begitu jadinya.
Coklat Stroberri bercerita tentang dua orang cewek yang, karena tidak mampu membayar uang kontrakan, mesti rela rumah kontrakan mereka dimasukin dua orang baru: dua cowok yang mestinya dari baunya sejauh 10 meter saja sudah bisa diketahui kalau mereka gay. Yang satu jelas-jelas melambai lebih meliuk dari ujung pohon di Rayuan Pulau Kelapa, yang dengan cowok yang satu lagi selalu berbisik-bisik lebih intim dari Raja Kelana (idenya Dodi. Garing memang. Hi hi hi…). Masalahnya adalah, ketidaktahuan kedua cewek ini yang dijadikan ide utama film ini (premis, ya, katanya). Sehingga saat kedua cewek ini digambarkan naksir cowok-cowok ini, kita jadi merasa sebal karena mereka bodoh sekali, thus, film menggunakan logika yang selalu dipakai oleh sinetron.
Secara teknis, film pertama dari Ardi Oktaviand yang tadinya sutradara iklan ini memang terlihat membosankan. Gambar-gambar yang ditampilkan Rudi Soedjarwo dengan tujuh hari sutingnya saja jauh lebih membuat kita tertarik untuk terus mengikuti. Beberapa adegan malah terasa sangat out-of-place, termasuk karakter-karakternya yang berdiri di belakang neon sign besar dengan tulisan-tulisan yang kami yakin dimaksudkan untuk jadi puitis seperti SILENCE dan PRECIOUS. Untung tidak ada MY PRECIOUS sehingga kami tidak harus berharap munculnya Gholum.
Kenapa kami bilang politically-incorrect? Ini terjadi di resolusi film ini dan untuk tidak men-spoil endingnya, unfortunately, anda memang harus tonton sendiri.

Sutradara: Ardy Octaviand
Penulis: Upi
Pemain: Marrio Merdhithia, Nino Fernandez, Nadia Saphira, Marsha Timothy
Produser: Adiyanto Sumardjono, Upi, Khristo Damar Alam
Produksi: Investasi Film Indonesia
Jadwal Tayang
Official Site
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Saturday, 16 of June , 2007 at 12:51 pm
Film kelima Riri Riza adalah road movie tentang dua orang yang sepupuan bernama Yusuf dan Ambar (Nicholas dan Adinia), keduanya baru lulus SMA, yang naik mobil dari Jakarta ke Jogja dengan misi mengantar seperangkat piring dan gelas antik untuk prosesi acara pernikahan kakaknya Ambar. Perjalanan yang seharusnya cuma sehari jadi tiga hari. Tiga hari yang (seharusnya) merubah hidup mereka.
3 Hari Untuk Selamanya (seharusnya) sejiwa dengan film-film yang berjalan karena disetir lebih oleh karakter-karakternya ketimbang plot (bahasa pinternya “character-driven“, katanya sih) yang (seharusnya) menarik penonton ke dalam dunia yang didiami karakter-karakternya dengan atmosfer yang pekat, dengan musik yang menghanyutkan (atau tanpa musik sama sekali) dan ide-ide yang dengan kuat mencuatkan kegelisahan karakter-karakternya. Lihatlah lagi Y Tu Mama Tambien, Lost in Translation, Waking Life, atau (kalau anda beruntung) Chuck & Buck di mana dua dari filmmaker favorit kami, Chris Weitz dan Paul Weitz yang bertanggung jawab atas film-film supercool seperti About A Boy dan American Pie berperan sebagai aktor.
Riri Riza patut diberi pujian karena konsisten membuat film karena ingin menyuarakan sesuatu ketimbang jadi pedagang film dan karena mau mengambil resiko menangani genre di negeri di mana bahkan reviewer dari media paling top saja nge-bash film ini karena “tidak ada ceritanya”.
Riri juga berhak atas kredit karena berhasil membuat road movie yang lebih berhasil ketimbang road movie yang dielu-elukan sebagai salah satu milestone perfilman Indonesia yang berjudul Cinta Dalam Sepotong Roti yang sepretensius judulnya.
Masalahnya, 3 Hari Untuk Selamanya belum berhasil menjadi sajian yang solid. Saat di beberapa sisi oke banget, di sisi lain masih kurang ngaceng.
Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti berhasil menciptakan penampilan duo yang cukup megang, rileks, dan sangat believable. Sayangnya, pilihan para pemain pendukungnya terasa mengganggu. Selain Agus Ringgo Rahman yang lebih over-exposed dari bulu dada Jeremy Thomas (atau lipgloss-nya Jeremy Teti), pemunculan Tarsan sebagai Pak Haji mesum lebih disturbing ketimbang amusing.
Kalau sebagian besar penonton dan reviewer secara koor bilang “flaaaaat…” sebenarnya tidak bisa disalahkan juga. Bahkan momen yang paling berhasil di film ini at best saja masih terasa kayak kopi decaf (sok ye banget dah, gue). Dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalah sutradara dan penulis skenario. Penulis skrip Sinar Ayu Massie sudah cukup cerdas tidak terjebak untuk memberikan Nicholas dan Adinia karakter-karakter yang stereotip. Sekalipun keduanya seharusnya bertolak belakang, yang satu gaul banget dan into free sex, tapi yang lebih tidak gaul tidak digambarkan culun. Tapi dialog-dialog yang diberikan ke mereka lebih bikin geli ketimbang jujur. Bukankah kalimat “orang yang gagal adalah orang nggak pernah mencoba” lebih cocok dibaca di kartu Harvest ketimbang di film yang maunya cerdas dan cool? Justru kami tidak punya masalah dengan dialog-dialog yang katanya remeh temeh, asal sutradaranya bisa membuatnya jadi amusing buat diikuti kayak film Don’t Come Knocking (ada kok di Menteng). Sayangnya, ini yang nggak selalu berhasil dibangun Riri Riza.
Film-film sejenis 3 Hari Untuk Selamanya biasanya, sekalipun di permukaan tenang, mengeluarkan aura dan energi yang dihasilkan dari kegelisahan yang dirasakan dan ingin diventilasikan oleh filmmakernya. Lost in Translation adalah hasil dari kesepian yang dirasakan Sofia Coppola atas perkawinannnya yang gagal bersama Spike Jonze (katanya). Easy Rider adalah kegelisahan Dennis Hopper dan Peter Fonda tentang hidup di Amerika pada jaman itu. Untungnya lagi, kedua film itu didukung oleh soundtrack berisi lagu-lagu berenergi eksplosif. Sayang sekali lagu-lagu Float yang mengisi 3 Hari Untuk Selamanya terlalu nge-float untuk mampu memberi power pada film ini.
Tapi film ini bukan sepenuhnya merupakan kegagalan. Film ini bahkan lebih baik dari Gie dan masih memiliki momen-momen precious, terutama yang dihasilkan dari interaksi Nicholas-Adinia. Dan setelah menyaksikan film-film sampah yang neverending, film ini memberikan setitik pencerahan dan Riri Riza layak diberikan penghargaan untuk mencoba.

Sutradara: Riri Riza
Penulis: Sinar Ayu Massie
Pemain: Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Tarsan, Agus Ringgo Rahman
Produser: Mira Lesmana
Produksi: Miles Films, Sinemart
Durasi: 112 menit
Official Site
Jadwal Tayang Blitz
Jadwal Tayang 21
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Tuesday, 12 of June , 2007 at 8:37 pm
SUATU HARI DI KANTOR SEORANG PRODUSER “KORROR”
Shanker Rs. berdiri memandangi sebuah plakat yang baru saja digantungnya di dinding, tepat di atas kursinya. Tertulis:
“BEST PRODUCER OF HORROR
SHANKER Rs.”
Plakat itu ditandatangani oleh seseorang dengan nama “KHRESNA Sr.”. Shanker telah belajar dari seseorang yang telah jadi long-time collaborator-nya bahwa you can be as many people as you wanna be. Dan, kalau tidak ada yang mau memberi pujian atas film-filmnya, “your other self” selalu bisa diandalkan untuk untuk membuatnya kembali ceria.
Dia kembali duduk dan membolak-balik tumpukan skenario siap bikin yang berserakan di atas mejanya. Beberapa judul terbaca: “Setan Tuyul“, “Nini Towok“, “Nenek Gerondong“, “Kolor Ijo“. Dia terlihat kesal dan menelpon sekretarisnya.
“Ya, Pak?” jawab sekretarisnya.
“You janji bawa skrip yang judulnya nama tempat. Mana?” hardik Shanker.
“Nama tempat-tempat yang berhantu udah habis, Pak. Terakhir Terowongan Casablanca.”
“AHH..! Bukannya ada satu lagi tuh. Di dekat Menteng, ada jembatan. I sering liat hantu-hantu di situ.” kata Shanker.
“Itu Taman Lawang, Pak. Dan itu bukan hantu,” kata sekretarisnya.
“AH, I tidak mau tau. You cari nama tempat yang berhantu.” Shanker menutup telpon.
Pintu dibuka dan seseorang melongokkan kepalanya ke dalam sambil tersenyum lebar.
“KOYA MY BRODEEERRR…” seru Shanker. Koya Pagayo masuk dan memeluk Shanker. Keduanya semakin lama semakin akrab, terlebih-lebih setelah peristiwa FFI 2006 yang membuat keduanya dicemooh secara nasional. Untung masih ada Kompas yang memuat kisah hidup Koya di halaman satu dengan dramatis dan membuatnya terlihat sebagai korban, ketimbang penjahat hak cipta.
“You got something for me, Broder?” tanya Shanker.
“Yes. Gue punya ide brilian, Bro. Ceritanya…” Belum selesai Koya berbicara, Shanker memotongnya.
“Judul, judul, Broder. You tau I tidak peduli soal cerita. Title! Title!”
“Malam Jumat Kliwon.” Koya tersenyum.
“Malam… Jumat… Kliwon.” Shanker manggut-manggut. “JENIUS! JENIUS, Broder!”
Keduanya tertawa dan berpelukan. Shanker mencengkeram pantat Koya dengan gemas.
“Ouch. I love when you do that, Bro,” kata Koya.
“I’ll give you another one later. Tell me… setan-setan apa aja yang bisa kita masukin di sini?” tanya Shanker.
“Semua, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan!” Senyum Koya tersenyum lebar. Shanker tertawa dan kembali memeluknya.
“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.
“Ouch. I love when you do that, Bro,” kata Koya.
“I’ll give you another one later. Now tell me… tiap berapa menit sekali kita bisa menampilkan setan-setannya?” tanya Shanker.
“Setiap menit, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan sepanjang malam! Dan sebagai bonus, gue bakal masukin satu adegan dari Silent Hill!” Senyum Koya semakin lebar. Shanker kembali memeluk Koya.
“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.
“Ouch. I love it when you do that, Bro.”
“I’ll give you one squeeze at the premiere setiap kali hantunya muncul, Broder,” kata Shanker.
Koya tersenyum sumringah.
Tiba-tiba di luar terdengar anak-anak SMP mulai upacara bendera. Letak sekolah itu tepat di belakang kantor Shanker. Seorang anak terdengar membacakan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Saat anak itu akan sampai pada kalimat: “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” Shanker menutup jendelanya.
“I tidak suka kalimat itu, Bro. Bayangkan kalau orang Indonesia cerdas, kita susah cari duit, Broder.” kata Shanker.
Koya hanya mengangguk-angguk.
“Ok lah. Ge cabut dulu, Bro. Persiapan suting,” Koya beranjak.
“Ok, Broder. Jangan lupa perjanjian kita,” kata Shanker.
“Don’t worry, Bro,” Koya keluar. Keduanya lupa untuk mencari cerita untuk film Malam Jumat Kliwon, tapi rupanya itu bukan masalah buat keduanya.
Tak lama kemudian, Malam Jumat Kliwon mulai ditayangkan di bioskop. Cerita ecek-eceknya tentang lima orang anak muda yang diteror setan-setan di sebuah bangunan bekas rumah sakit. Lucunya, tak ada satupun yang punya niat untuk keluar dari situ. Editingnya juga paling ancur yang pernah dilihat di film bioskop, dengan musik-musik yang masih curian. Tapi memang filmnya tetap laku. Pembukaan UUD 45 ternyata tidak jalan. Dan saat premiere, Koya duduk di sebelah Shanker. Tak ada satupun yang tahu, dari mana asal suara “OUCH!” setiap kali setan muncul di layar. Tapi kami tahu…

Sutradara: Koya Pagayo
Pemain: Robertino (The only good thing here), Ben Joshua, Gracia Indri, Debby Kristi.
Produser: Shanker Rs. Bsc.
Produksi: Indika Entertainment
Durasi: 90 menit
Category: Review