Sinema Indonesia

Selamanya (2007)

Posted by ferrysiregar on Tuesday, 24 of July , 2007 at 9:36 am

Seorang mantan junkie bernama Bara (Dimas Seto) yang kini jadi aktifis anti narkoba sedang mempersiapkan pernikahannya dengan tunangannya yang cantik nan jelita. Saat dia tiba-tiba bertemu kembali dengan mantan pacarnya yang bernama Arista (Julie Estelle), rencana pernikahan dan hatinya goyah. Bukan saja karena Arista masih jadi junkie berat, tapi karena dialah yang bikin Arista jadi pecandu. Tak lama kemudian, air mata dan dialog-dialog puitis bermerek Sekar Ayu Asmara mulai berjatuhan.

Yang tadinya ditakdirkan jadi melodrama menye-menye dan kampanye anti narkoba berhasil diangkat menjadi melodrama menye-menye sekaligus kampanye anti narkoba yang sangat enjoyable, terima kasih buat penyutradaraan Ody C. Harahap yang solid dan kreatif. Ritme yang asik di 20 menit pertama memang kemudian hampir terseret-seret, tapi Ody berhasil membuat kami rela masuk ke dunia yang diciptakannya tanpa banyak cingcong. Penampilan Julie Estelle sangat meyakinkan. Tapi piala memang harus diberikan kepada Masayu Anastasia sebagai sahabat Arista yang punya profesi sebagai penari telanjang berhati emas yang selalu berkostum sesuai permintaan pelanggan. Masayu mencuri semua scene yang ada dianya. We looove her. Etah kenapa aktor yang sangat berbakat seperti dia masih mau menghabiskan hidup di sinetron. Wahai para sutradara, ini mungkin aktor perempuan paling berbakat di Indonesia. Pakailah dia, pakailah dia. Sayang sekali, Dimas Seto di peran utama berpenampilan sangat lemah dan hampir merusak film ini.

Secara teknis, Ody dan para kru boleh berbangga. Sinematografi dan tata artistiknya membuat film ini terasa berkelas dan enak dipandang mata.

Penghargaan anda terhadap film ini memang sangat tergantung apakah anda bisa menerima ceritanya. Kami sih bisa. Multivision boleh bangga karena setelah serentetan film kancut, film ini layak dapat bintang. Kebalikan dengan saudaranya MD Entertainment yang masuk jurang ke lembah kancut setelah memproduksi film sebrilian Kala. Bisa dipastikan film ini akan laku luar biasa. Film ini layak mendapatkannya.

Sutradara: Ody C. Harahap. Penulis: Sekar Ayu Asmara. Pemain: Julie Estelle, Dimas Seto, Masayu Anastasia. Produser: Raam Punjabi. Produksi: MultiVision Plus.

Official Site
Jadwal Tayang 21

Comments (89)

Category: Review, bintang tiga

Kamulah Satu-Satunya (2007)

Posted by ferrysiregar on Saturday, 21 of July , 2007 at 6:25 pm

Suatu saat dua tahun lalu, Dodi dititipin rumah tantenya yang gede dan keren dan dia bermaksud memakai rumah itu untuk merayakan ulang tahunnya dengan mengundang teman-teman kami. Saat kami akan menelpon seorang teman untuk dimintai tolong untuk jadi bartender di acara itu, tiba-tiba Bik Jesika yang menguping sambil mengepel maju gaya Oshin menawarkan diri untuk jadi bartender. Awalnya kami tidak percaya karena membuat kopi saja Bik Jesika tidak pernah bener. Tapi ternyata Bik Jesika punya skill persuasi yang cihuy dan dia juga bilang kalau dia jadi seorang pembantu karena “by choice” dan sebelumnya dia pernah punya banyak profesi termasuk jadi sekretaris dan bartender, walaupun dia menolak bilang di mana. Akhirnya kami menyetujui usulnya. Sesuatu yang segera kami sesali.

Malam itu, Bik Jesika datang ke pesta Dodi dengan berpakaian seperti gambar perempuan di Susu Cap Nona, lengkap dengan rok mengembang dan shaker yang entah dia dapat dari mana. Beberapa saat kemudian dia mulai beraksi mengocok-ngocok shaker. Dari jauh kami hanya bisa memperhatikan Bik Jesika over-acting sebagai bartender. Tak lama kemudian setelah para tamu meminum Jesika Cocktail, para tamu merasa pusing luar biasa, bahkan ada yang menangis dan ada yang nyungsep ke dalam kolam renang. Termasuk kami yang penasaran mencicipi mixing-an Bik Jesika. Malam itu dalam keadaan terintosikasi, kami mulai menulis Sinema Indonesia.

Menonton film Hanung Bramantyo yang kesekian, Kamulah Satu-Satunya, mengingatkan kami pada Bik Jesika. Hanung tidak tahu cara bercerita yang baik, sehingga dia mencoba untuk tampil canggih dan gaya untuk menutupi kelemahannya. Ada helishot (gambar yang diambil dari atas helikopter. Kalau dari atas cumi namanya cumshot), ada “konsep” gambar yang berbeda waktu adegan di desa dan di kota, dan sebagainya. Semua yang dilakukan, kalau kata Bik Jesika, “nggak ngepek.”

Nirina berperan sebagai Indah, gadis desa yang tergila-gila dengan Dewa. (Nggak apa-apa lah. Namanya juga gadis desa). Dengan setia dia mengirimkan kartu pos undian yang pemenangnya akan dapat kesempatan ikut tur antar kota band Dewa. Seolah-olah undian ini begitu pentingnya sampai diumumkan di televisi segala. Saat pada akhirnya Indah berhasil ke Jakarta untuk datang ke acara Dewa, Indah mesti berhadapan dengan kesialan-kesialan ala Janji Joni, termasuk diangkut oleh FPI karena ke-gap lagi megang majalah berjudul “Kelinci” (dan mereka berpikir mereka pintar sekali).

Para pemain sebenarnya memberikan performance yang bisa diterima (kecuali penampilan Ringgo Agus Rahman dan Dennis Adhiswara) tapi somehow karakter-karakter mereka tidak terasa believable. Film ini gagal karena Hanung membuatnya dengan cara Bik Jesika: low taste dan over gaya. Kami baru membaca dari website tetangga, kalau Hanung sekarang sedang mempersiapkan remake dari Sundel Bolong. Mudah-mudahan Sundel Bolongnya tidak digambarkan sebagai korban perkosaan PKI seperti dia pernah mencoba mencampurkan horror remaja dan sejarah di Lentera Merah. Oh my God, posers should stay away from the classics!


Sutradara: Hanung Bramantyo. Penulis: Key Mangunsong, Raditya, Hanung Bramantyo. Pemain: Nirina Zubir, Junior Liem, Didi Petet, Fani Fadilla. Produksi: Oreima Productions.

Official Site
Jadwal Tayang 21

======

Maap, seperti yang diberitakan Sabtu siang, postingan review “Kamulah Satu-Satunya” berikut semua comment-nya terhapus dengan tidak sengaja. Untung salah satu pembaca sebelumnya meng-save postingan tersebut sehingga bisa di-upload lagi, (thanks, Kevin) kecuali comment-comment-nya.

FYI, semua comment melalui proses moderasi dulu baru muncul di Sinema Indonesia dan kami tidak pernah tidak meng-approve sebuah comment hanya karena isinya tidak setuju dengan review kami (kalau kami begitu, komen-komen yang tidak setuju lain nggak bakal pernah muncul, dong).

Beberapa pembaca mengeluhkan komen mereka yang tidak muncul sekalipun isinya selembut salju. Ini mungkin disebabkan pembaca tersebut mengunakan internet yang IP addressnya sudah pernah di-ban karena pengguna sebelumnya. Mohon pakai sambungan internet lain. :)

Comments (58)

Category: Review, kancut dua

The Photograph (2007)

Posted by ferrysiregar on Monday, 9 of July , 2007 at 2:14 pm

Berangkat sekarang dan tonton The Photograph (sori karena baru me-review sekarang, thanks to DIVA yang bikin kami tepar seminggu dan Dodi merasa jadi Nicholas di 3 Hari Untuk Selamanya). Film terbaik Nan Achnas ini juga adalah salah satu film terbaik 2007 bersama Kala dan Nagabonar.

Shanty (yang semakin kami sayang) jadi perempuan yang bekerja sebagai penyanyi karaoke untuk mencari uang untuk dikirim ke kampung untuk anak dan neneknya yang sakit. Ketika dia indekos di kamar yang bahkan kami tidak mau tinggal di dalamnya, dia bersahabat (or, short of) dengan pemilik rumah, seorang laki-laki paruh baya yang kerja sebagai fotografer keliling, bitter dan menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang mengerikan.

Shanty dilahirkan untuk peran ini, melankolis sekaligus tegar (kalo nggak salah, istilahnya tegarkolis). Bintang film Singapura Lim Kay Tong yang berperan sebagai fotografer keliling juga susah untuk ditandingi pemain lokal, sekalipun bahasa Indonesianya sering terpeleset-peleset jadi bahasa Melayu. Ensemble cast lainnya yang terdiri dari Lukman Sardi, Indie Barends, Nicholas Saputra, dan Indra Bekti (akhirnya dia main film bagus juga) seperti icing on the cake.

Sayang, skenario yang ditulis sendiri oleh Nan jarang mampu menandingi sinematografi luar biasa yang boleh dibilang karya terbaik Yadi Sugandi. Somehow, chemistry antara Shanty dan Lim Kay Tong jarang klop. Demikian juga dengan adegan comic relief pas interview penerimaan fotografer magang yang lebih terasa seperti audisi main film. Terasa out of place. Tapi, secara keseluruhan film ini layak untuk mendapat penghormatan kita, dan bisa dijadikan antidot dari sengatan film-film busuk keluaran pedagang-pedagang itu. The Photograph menuntut kesabaran anda. Tapi anda akan menerima imbalan makanan hati dan mata sekeluarnya dari bioskop.

Sutradara/Penulis: Nan Achnas
Pemain: Shanty, Lim Kay Tong, Indie Barends, Lukman Sardi.
Produser: Shanty Harmayn, Paquita Widjaja-Afief.

Official Site
Jadwal Tayang 21
Jadwal Tayang Blitz

Comments (68)

Category: Review, bintang empat

Cumi (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Saturday, 7 of July , 2007 at 12:48 am

Kartika yang diperankan Ning Baizura adalah cumi yang sangat terkenal di Kuala Lumpur. Saking terkenalnya, seorang penggemar sampai terbalik mobilnya ketika mencoba untuk mengejar cumi pujaannya. Cumi Kartika merasa sangat bersalah karena keluarga penggemarnya yang ada di dalam mobil yang terbalik itu mati semua. Sang cumi mencoba untuk menebusnya. Dia pulang kampung untuk mencari bibit-bibit yang bisa dia latih untuk jadi cumi. Sayang sekali niat mulianya tidak mudah dilakukan. Ketika dia masuk ke rumahnya, ibunya mengusirnya. Ibunya benci sekali padanya karena dia dulu pergi meninggalkan keluarga untuk mengejar cita-citanya untuk menjadi cumi. Kasihan dia, karena menurut ibunya, satu-satunya jalan yang bisa diambil untuk mendapat maaf sang ibu adalah dengan cara menikah dengan Jeremy Thomas (glek!). Sementara itu, cumi Kartika menemukan dua murid di sekolah musik Jeremy Thomas yang punya bakat untuk menjadi cumi. Dua orang itu pun dibawa ke kota. Dalam perjalanan ke kota, dia bertemu seorang penjual pisang goreng dari Indonesia yang frustrasi setelah main Dealova, yang gemar bernyanyi-nyanyi sambil menggoreng pisang. “Hmmm… oke juga nih untuk dijadikan cumi juga,” pikirnya. Akhirnya, mereka semua ke kota untuk berlatih agar bisa mengikuti jejak Kartika… menjadi cumi.

Olala… CUMI yang disutradarai oleh seorang sutradara yang namanya, menurut Bik Jessika, sering muncul sebagai sutradara sinetron-sinetron Multivision ini adalah perpaduan super klop dari kebodohan sinetron dan ke-corny-an film Bollywood dengan level amburadulisme yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan kostum yang mungkin masih bisa diterima waktu Country Fiesta masih jadi idola kawula muda, dan jaman glitter masih dipakai sebagai campuran moisturizer oleh anak SMA. Poster film ini dicetak di atas kertas yang kerlap-kerlip, menggambarkan cita rasa film ini yang buruk luar biasa. Lupakan dialog (yang selalu switch dialeknya antara Malaysia dan Grogol), film ini dibuat dengan menggunakan logika kera atau zebra.

Ah, tidak cukup rupanya bioskop kita dipenuhi sampah-sampah domestik, sehingga masih perlu diisi sampah dari negara tetangga. Oh wait, sutradaranya orang Indonesia. Eh, nggak juga ding. Bah, ternyata mereka suka menyampah di mana-mana.

Sutradara: Sharad Sharan. Penulis: Sharad Sharan, Vikram Sood. Pemain: Ning Baizura, Jeremy Thomas, Awal Ashaari, Balkisyh, Jessica Iskandar. Produser: Sharad Sharan. Produksi: Astro Shaw Sdn. Bhd., Tarantella Pictures. 

Official Site 

Comments (70)

Category: Review

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com