Sinema Indonesia

The Photograph (2007)

Posted by ferrysiregar on Monday, 9 of July , 2007 at 2:14 pm

Berangkat sekarang dan tonton The Photograph (sori karena baru me-review sekarang, thanks to DIVA yang bikin kami tepar seminggu dan Dodi merasa jadi Nicholas di 3 Hari Untuk Selamanya). Film terbaik Nan Achnas ini juga adalah salah satu film terbaik 2007 bersama Kala dan Nagabonar.

Shanty (yang semakin kami sayang) jadi perempuan yang bekerja sebagai penyanyi karaoke untuk mencari uang untuk dikirim ke kampung untuk anak dan neneknya yang sakit. Ketika dia indekos di kamar yang bahkan kami tidak mau tinggal di dalamnya, dia bersahabat (or, short of) dengan pemilik rumah, seorang laki-laki paruh baya yang kerja sebagai fotografer keliling, bitter dan menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang mengerikan.

Shanty dilahirkan untuk peran ini, melankolis sekaligus tegar (kalo nggak salah, istilahnya tegarkolis). Bintang film Singapura Lim Kay Tong yang berperan sebagai fotografer keliling juga susah untuk ditandingi pemain lokal, sekalipun bahasa Indonesianya sering terpeleset-peleset jadi bahasa Melayu. Ensemble cast lainnya yang terdiri dari Lukman Sardi, Indie Barends, Nicholas Saputra, dan Indra Bekti (akhirnya dia main film bagus juga) seperti icing on the cake.

Sayang, skenario yang ditulis sendiri oleh Nan jarang mampu menandingi sinematografi luar biasa yang boleh dibilang karya terbaik Yadi Sugandi. Somehow, chemistry antara Shanty dan Lim Kay Tong jarang klop. Demikian juga dengan adegan comic relief pas interview penerimaan fotografer magang yang lebih terasa seperti audisi main film. Terasa out of place. Tapi, secara keseluruhan film ini layak untuk mendapat penghormatan kita, dan bisa dijadikan antidot dari sengatan film-film busuk keluaran pedagang-pedagang itu. The Photograph menuntut kesabaran anda. Tapi anda akan menerima imbalan makanan hati dan mata sekeluarnya dari bioskop.

Sutradara/Penulis: Nan Achnas
Pemain: Shanty, Lim Kay Tong, Indie Barends, Lukman Sardi.
Produser: Shanty Harmayn, Paquita Widjaja-Afief.

Official Site
Jadwal Tayang 21
Jadwal Tayang Blitz

Category: Review, bintang empat

68 Comments

Comment by OMFEB

Made Monday, 9 of July , 2007 at 2:26 pm

huuuuaaaaaaaaaaaaaa…………….setelah penantian, akhirnya keluar juga neh film. dan semarang emang, kota edan, kota yang emang, keren banget buat di obrak-abrik oleh sineas, untuk di jadikan lokasi yang bener-bener ngedukung film. dan semarang enggak ada habisnya, untuk di set. membuat kita enggak perlu lagi bangga, untuk bisa shooting di luar negeri sekalipun.

dan sayangnya, film ini. harus kembali tunduk dengan pasar yang kurang mendukung. Bisa di tanya di tiap orang yang lewat di jalan, ataupun di sekitar bioskop. apakah mereka tahu dengan film the photograph? kebanyakan mereka akan bilang, “Film-nya siapa? horor? yang maen siapa?”
menjadi menyedihkan lagi mirip dengan film KALA. dan mungkin film ini enggak akan bertahan lama di bioskop yang memihak dengan pedagang. kecuali yang harus di garis bawahi blitz megaplex. sangat yakin banget, kalau nih film pasti akan bertahan lama, disana.

Comment by OMFEB

Made Monday, 9 of July , 2007 at 2:31 pm

huuuuaaaaaaaaaaaaaa…………….setelah penantian panjang, akhirnya keluar juga neh film. dan semarang emang, kota edan, kota yang emang, keren banget buat di obrak-abrik oleh sineas, untuk di jadikan lokasi yang bener-bener ngedukung film. dan semarang enggak ada habisnya, untuk di set. membuat kita enggak perlu lagi bangga, untuk bisa shooting di luar negeri sekalipun. LUPAKAN FILM TERBARU SEKUEL EIFFEL I’M IN LOVE, yang sampe terbang KE PRANCIS. untuk syutingnya.

dan sayangnya, film ini. harus kembali tunduk dengan pasar yang kurang mendukung. Bisa di tanya di tiap orang yang lewat di jalan, ataupun di sekitar bioskop. apakah mereka tahu dengan film the photograph? kebanyakan mereka akan bilang, “Film-nya siapa? horor? yang maen siapa?”
menjadi menyedihkan lagi mirip dengan film KALA. dan mungkin film ini enggak akan bertahan lama di bioskop yang memihak dengan pedagang. kecuali yang harus di garis bawahi blitz megaplex. sangat yakin banget, kalau nih film pasti akan bertahan lama, disana.
tapi, permasalahannya. berapa banyak orang yang nonton di blitz megaplex? jauh di bawah 21 yang pasti.
dan untuk kedua kalinya, film dengan semua hal yang terbaik, harus terbuang percuma. film ini mungkin hanya akan bisa dinikmati oleh minoritas orang. bukan salah sineas-nya, bukan salah shanker si dungu, atau sutradara yang bingung dengan namanya alias koya pagayo.
tapi dengan pasar.

untuk saat ini, film-film bermutu, film-film terbaik indonesia. harus kalah dengan pasar.KECUALI NAGA BONAR JADI 2,,,KENYATAAN pedih..

Comment by afif

Made Monday, 9 of July , 2007 at 2:44 pm

sekeren apa sih nih film sampe dapat empat bintang gitu?

Comment by wahyu

Made Monday, 9 of July , 2007 at 3:39 pm

kok kalau nulis resensi tentang film bagus pendek banget. kalau ngeresensi film kelas sempak panjang banget..kayak Jumat Kliwon umpamanya…kekekeke

Comment by brie

Made Monday, 9 of July , 2007 at 3:52 pm

emang kurang promo or…..?

Comment by tando-wi yahya

Made Monday, 9 of July , 2007 at 4:38 pm

emg bgs kali…promo cm lwt berita…
trailer jarang d tv jg…
en shanty maennya bagus [lg]…
ebat shanty cm selang brp bulan filmnya kluar langsung…

eh anak2 brorobudur gw mo liat reviewnya dong…kan biasanya bikinan arswendo atmowiloto mo menyentuh hati…

Comment by erig

Made Monday, 9 of July , 2007 at 6:33 pm

Kalimat pertama SI benar-benar tepat.

SEE THIS MOVIE NOW. Kalaupun tidak di 21 (dimana jam tayangnya mesti dibagi dengan Maaf, Saya Menghamili Istri Saya atau Anak-Anak Borobudur), bisa juga di Blitz.

Comment by dony

Made Monday, 9 of July , 2007 at 8:21 pm

gw nonton gala premierenya di djakarta theater, hari minggu sore tgl 1 july. sebelnya dpt seat depannya shanty, asistennya yg banci kaleng, restu sinaga dll yg terus menerus brisik sepanjang film.
kampungan banget deh, pake tereak2 segala. ganggu banget deh !
shanty, kalo lo sendiri aja ga ngehargain film lo sendiri, gimana org laen mo respect. plis deh jangan ngerecokin org yg mo nonton.
gak malu ya ada mba christine hakim yg geleng2 kepala krn keberisikan kalian ???

paquita jg overacting banget pas speech.
sinematografinya indah banget, tapi skenarionya lemah. akting nya shanti kampungan & menyebalkan. membosankan sih…
film kayak gini cuma ditonton segelintir org n jaya di festival doang..salut banget buat mba nan & shanty sbg sutradara & produser. mendingan nonton coklat stroberi deh..fresh n bisa ketawa ketiwi…

Comment by dc

Made Monday, 9 of July , 2007 at 8:44 pm

ada yang tau jadwal tayang film ini di BALI?????????????
PENGEN…….. 3 hari blm maen juga..
siap siap BBB the Movie

Comment by 80fantasy

Made Monday, 9 of July , 2007 at 11:17 pm

Pantes, si engkoh ngomongnya kagak jelas banget. ternyata bukan Indon. Saya juga makin sayang sama shanty…pingin deh ehem-ehem ma kamu say…
Yang jadi pengurang, di awal-awal, akting para pemainnya khas sinetron banget, ditambah stereotype anak malem asal deso yang melacur demi anaknya - diperkosa-dikasarin germonya-nyoba melacur-germonya kena tulah.
Oh ya, Shanty cintaku, mana ada ngepel lantai tapi arahnya maju.

Comment by kampungboy

Made Monday, 9 of July , 2007 at 11:53 pm

salah satu film drama indonesia terindah yang pernah ada. kenapa terindah? karena film ini cuman dan hanya cuman layak ditonton di layar lebar dengan gambar2 pak yadi sugandi sebagai cinematographer yang enak dilihat mata tanpa perlu diumbar ke-eksotis-an china-nya ala christopher doyle di film2 nya wong kar wai, trus di’gunting’ alias disunting dengan rapi ama sastha sunu yang guru editor di perfilman indonesia, ditambah dengan musiknya aksan sjuman yang haunting, tapi ga over-the-top.

simply put, one of the best indonesian films in recent years.

Comment by adiit

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 9:11 am

WHAT a GREAT MOVIE EVER in INDONESIA!

Comment by nRm

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 9:30 am

Shanty natural banget. Nicko lbh bagus jadi banci drpd di 3 hari selamanya.
Gw stuju dgn 4 bintang. Nan Achnas bikin “warna yg bagus” di 2007.

*blooper*: tas LV di rmh kos tua berisi kecoa ga cocok banget.

Comment by Haris

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 9:34 am

Ngepel lantai arahnya maju kalo gak salah dulu dipopulerkan oleh Oshin. Sepertinya Shanty seorang penggemar…

Comment by verde

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 11:07 am

jgn di ceritain semua pliss….belum nonton nih,duh pas UAS lg…..

Comment by HARJO HARTONO

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 11:22 am

well, Yadi Sugandi dan Wong Aksan menurut gw yg patut bgt dpt pujian di sini. Mereka berdua ini tidak kepancing sama sekali untuk mengikuti ataupun berakar dari budaya luar. Instrumen dan nada yg dipilih Aksan sgt Indo bgt “SALUUUUT BUAT LO”. Tp maaf ya, gw nggak suka sm filmnya, mgkin akan lbh ok kl Nan bs ksh RASA di film ini. Bkn sekedar gbr bgs tp sprti lht post card aja. Dan oh my GOD nih film “Feminis’ bgt… mgkin kt mesti lht lg Sjuman Jaya bikin RA Kartini (sgt feminis tp tdk menyinggung kaum Adam). Artnya, hehehe… mas bikin iklan aja deh soalnya seperti kurang kerja kerasnya. Lain lg mas, art direction buat film dan iklan… Dan maaf ya, buat lo yg memuji-muji lokasi di SMG “kota lama”… sprtinya tdk kreatif. satu org shooting di situ smuanya ngikut di situ. Msh byk lg lokasi di “Jawa aja”, yg blm tersentuh dan keren bgt. Dan sprti biasa film2nya Nan, tdk pernah merefleksikan bahwa ini Indonesia (kec bhs) gw pikir nih film bs jd film mana aja kok. Motivasi, konflik, dan cara penceritaan tidak mengakar ke budaya Indo jd mana identitas film Indonya. GIE mmg set di tmpt itu krn mencari JKT 60an, KALA mengambil set itu krn fiksi (sperti Gotham city) dan Photograph? tujuannya apa? cm mau mencapai production design? Dan perhatiin nggak di opening film brp byk perusahaan yg terlibat di film ini? HUEEEE… MANA INVESTOR INDONESIA? Yg pasti sepertinya gw percaya, Nan dpt ide ini mgkin justru dr endingnya yg seorang potografer…. trs di foto pas dia…. jd depan, tengah dan sbagian film ini jdnya sprti dibuat-buat utk mencapai ide di belakang film…. tetep nggak ada yg mencuat dr film ini utk bs menjadikan sesuatu yg baru dan original (pioner), mgkin “Aksan”…

Comment by yawi

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 1:03 pm

Ini film Indonesia pertama berlatar kisah Hoakiauw yg luar biasa!
komentarku pendek aja:
“Serasa menonton film2 klasiknya Zhang Yimou!”
Bravo buat Nan, Shanty Harmayn, Paquita, Shanty, Lim Kay Tong, Yadi, Sastha, Aksan, n Menfo

Comment by lemozz

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 1:07 pm

aaaaaaaaahhhhh…. saya suka…. semakin sayang jugaa ama shanty…
sayaa senang…. sekalii….. *puas banget dot com* cepetan deeehhh mendingan pada nonton! gila, gue semalem nonton di PIM 21, yg nonton cuman 7 org!!! apakah karena filmnya berat dan slow motion?? yang pasti, saya suka!!!! *ampe mau nangis terakhirnya!!*

Comment by NoNtOn_YuuK

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 1:41 pm

Belum nonton baru liat malah di PI..
Ngliat resensi ky gini bikin semangat nonton..
Mudah2an bikin ‘paralyzed’ kaya KALA

Comment by cahbagus

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 2:42 pm

hwa…..
surabaya kapan neh…

Comment by aang

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 3:53 pm

yah bagus. aku suka juga ma aktinya shanty yang gak mengecewakan. tapi ya gitu magak nganbtuk juga coz plg kerja seh nontonya. jadi dah ngantuk duluan tapi aku gak merasa rugi bayar mahal nonton di blitz.

Comment by titit

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 9:33 pm

sama dong Ang, gw juga nonton di Blitz..emang loe belom pergi ke Aceh Ang?

filmnya harusnya di skip langsung ke endingnya…agak lambat…bagian endingnya doang yg gw suka…tapi emang, endingnya membayar semua kelemahan2 yg ada di awal2…

scene interview fotografernya salah banget…garing!
kayanya Nan masih perlu belajar banyak sama Mas Garin..bikin film serius tapi tetep bisa bikin ketawa ( i love Rindu Kami Padamu!)..

Tapi sinematografinya emang jempol sih!
meminjam komentar Jakarta Post…debu-debu yg bertumpuk juga keliatan indah di film itu (lupa gw bahasa inggrisnya apa..

3 bintang aja deh….masih bagusan 3 Hari….

Comment by bangregar

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 9:47 pm

I LOVE THIS FILM
nyaris nonton 2 kali tapi ternyata udah turun di 21
anjrit
setuju sama review SI
sceritanya kedodoran tapi sinematografi dan artistiknya anjrit gila

Comment by Andre

Made Tuesday, 10 of July , 2007 at 11:16 pm

Penata busana nya siapa sih? Aduh nggak Buanget…!!! karena gw pikir mungkin dgn bajunya kita bisa tahu ini cerita terjadi di waktu kapan? dan di Indonesia sebelah mana? Wong Kar Wai mgkin berakar dr Hao Sio Sen, Pedro Almodovar dan David Linch tp tetep ada sesuatu yg baru yg diciptakan sm Wong Kar Wai. Nah NAN? WADUH…. Nggak ada yg original gt? Gw sampe bingung, ini Shanghai, Vietnam, Hongkong atau Taiwan? WONG AKSAN, oh man lo setaraf CANNES, man…

Comment by yudythbastian

Made Wednesday, 11 of July , 2007 at 12:24 am

masih laaammmaaa…

Comment by don

Made Wednesday, 11 of July , 2007 at 12:50 am

gw nonton di blitz cuma 5 orang yg nonton…filmnya memang bagus gambarnya jg bagus…tp apa iya di semarang masih ndeso begitu yah????

Comment by Aveline Agrippina

Made Wednesday, 11 of July , 2007 at 8:14 am

Luar Biasa untuk Nan Triveni Achnas yang telah membangkitkan perfilman Indonesia. Nih film memang gila banget. Banyak yang pikir ini bakal kayak UNGU VIOLET yang mengangkat seorang fotografer menjadi aktor sekaligus titik pusatnya, ternyata yang ini memberikan nuansa lain di layar bioskop.
Ini harus ditonton. Lim Kay Tong juga sempurna mengucapkan kata - kata dalam bahasa Indonesia walau masih terdengar tersendat - sendat. Shanty? Ini penampilan yang lebih baik dibanding di Maaf Saya Mengahmili Istri Anda (Mungkin karena keluarnya sudah pertengahan). Indy Barends, selain jadi seorang presenter, dia juga tampil (hampir) sempurna di sini. Lalu Lukman Sardi yang tampil lebih gemilang dari 9 Naga.

Comment by cahbagus

Made Wednesday, 11 of July , 2007 at 9:54 am

saya temen dari cah bagus yg numpang pengen nimbrung…..bole lebo yyyaaaa!!!!
ga sabar niy sampe ke surabaya :(
oya buat kawan2 SI yakin niy ga nonton anak2 borobudur??? buat semuanyah rugi banget deh ga nonton pilem ini.
kawan2 di sini apa musti nunggu review dr SI dulu ya baru nonton pilemnya….
ayo tinggal sehari lowh di sunter mall tuh…
saya tunggu komen kawan2 setelah nonton pilem anak2 borobudur ini…
oya mohon maap buat SI (ngeduluin) ini saya mo bagi2 info dikit ttg review pilemna berhubung saya sudah nonton
review ini dr kawan2 milis dunia film
buat saya anak2 borobudur saya kasih 3 bintang (saya suka bgt dengan dialog si amatdr awal mpe trakhir)

selamat menonton ….

Anak-anak Borobudur

oleh Is Mujiarso

“Sebenarnya kamu lebih menderita hantu sawah. Karena belum apa-apa
kamu sudah langsung menjadi hantu.”

Setelah berkata begitu, Amat mencabut hantu sawah yang terbuat dari
jerami itu dan memanggulnya, seperti Yesus memanggul salib, dan
tertatih-tatih sepanjang pematang untuk membawanya pulang.

“Pak, hantu sawah ini harus diruwat, Pak, diruwat. D-i-r-u-w-a- t,”
kata anak itu setelah sampai di rumah. Sang Bapak yang bisu, malah
menyodorkan cangkir minum.

Dan, salah seorang dari serombongan abege yang duduk di depan saya
berbisik, “Diruwat apaan sih? Dirawat?”

***

Film dibuka begini: Amat disodori sepiring nasi dan lauk-pauk oleh
bapaknya, dan dia menyambut dengan kalimat, “Pak, orangtua itu tak
hanya perlu memberi makan anaknya, tapi juga harus memberi nasihat.”
Dan, Amat terus nyerocos mengajari bapaknya tentang nasihat seperti
apa yang harus diberikan oleh seorang bapak kepada anaknya.

Adegan berganti, Amat hendak berangkat ke sekolah. Sang Bapak
menyodorkan tangan (kanan). “Pak, masak tangan kanan terus yang
harus dicium, nanti tangan kiri iri lho.” Sang Bapak pun menurunkan
tangan kanannya dan mengulurkan tangan kirinya. Amat menciumnya.
Lalu, anak itu mengejar perempuan yang sedang berjalan. “Mbak Mi,
Mbak Mi,” panggilnya. “Mbak Mi nggak keramas ya?”

***

Amat adalah tokoh khas ciptaan Arswendo Atmowiloto, sutradara
sekaligus penulis skrip film ini: bocah desa (Jawa) yang pintar,
kemlinthi dan celelekan. Namun, entah karena akting
pemerannya (Adadiri Tanpalang) yang kaku, kurang luwes dan sering
wagu (sebagai bocah lelaki dia cenderung kemayu) , atau karena
dialog-dialog yang dibebankan kepadanya setara dengan ujaran-ujaran
seorang filsuf atau setidaknya orang dewasa, ia menjadi ganjalan
terbesar dari film ini. Setiap bicara ia begitu tampak bijak dan
selalu ingin melucu, tapi hampir selalu gagal.

Dan, ketika pada keadaan tertentu, ia bisa berubah menjadi “sangat
tua”. Lihat bagaimana ia berkali-kali menguliahi bapaknya (Adi
Kurdi) yang bisu, yang puncaknya terjadi pada adegan ketika ia
merenggut peralatan mematung dari tangan Sang Bapak lalu membuangnya
jauh-jauh, dan meradang, “Ini bukan saatnya diam, Pak, ini saatnya
bicara, ayo, Pak bicara, Pak, bicara, bicara…”

***

Bapak Amat bekerja sebagai pematung. Amat mewairis bakat mematung
bapaknya, dan suatu hari diminta sekolah untuk mewakili daerahnya
ikut lomba tingkat propinsi. Patung amat dinilai terbaik, tapi
ketika upacara penyerahan piala, ia mengungkapkan sesuatu yang
membuat semua orang merasa tertipu. Amat pun kemudian dijauhi oleh
teman-temannya, dan dibenci guru-gurunya.
Selain bersahabat dengan Siti (Acintyaswasti Widianing) yang anak
seorang bakul di pasar dan dekat dengan teman barunya yang datang
dari Jakarta, Yoan (Lani Regina) yang cucu seorang ningrat, Amat
kecil juga berteman dengan Mbak Mi (Djenar Maesa Ayu) yang merana
ditinggal suaminya karena anaknya cacat.
Hubungan-hubungan itu jalin-menjalin, menganyam satu kesatuan plot
yang runtut, mengalir dan solid, yang dituangkan dalam gambar-gambar
indah ala kartu pos berlatar panorama desa nan eskotik. Tampak dan
terasa, pada beberapa bagian, Arswendo memang sengaja mencangkokkan
karya(-karya) dia sebelumnya, seperti serial televisi “Keluarga
Cemara”. Kesatuan yang padu ini membuat saya bisa melupakan
kukurangwajaran yang muncul dari penokohan Amat.

Saya menganggap bahwa Anak-anak Borobudur adalah obsesi Arswendo
pada nilai moral tertentu (dalam hal ini kejujuran), dan ia
menempatkan diri sebagai semacam “guru bangsa” yang hendak
menyuarakan pesan itu kepada negerinya. Kapasitas Arswendo memang
sudah memungkinkan untuk itu, setara dengan Deddy Miswar yang
melakukan hal yang sama untuk bangsanya lewat Nagabonar Jadi 2 tempo
hari. Mungkin, film ini juga lebih cocok untuk ditonton ramai-ramai
para pejabat.

Sayang sekali, film ini minim publikasi dan dianaktirikan oleh 21.
Di Studi 6 Blok M Plaza misalnya, film ini harus berbagi jam tayang
dengan 3 Hari untuk Selamanya: dari 5 jam tayang, dua untuk Anak-
anak Borobudur, selebihnya untuk 3 Hari. Dan, anak-anak remaja yang
sedang liburan sekolah itu lebih memilih untuk menyerbu Die Hard,
Transformers dan Fantastic Four.

salam,
mumu
http://mumualoha. blogspot. com

Comment by fufu

Made Wednesday, 11 of July , 2007 at 1:03 pm

Di Surabaya kapan yah…???
Udah nggak sabar mau nonton…

Comment by aditya

Made Wednesday, 11 of July , 2007 at 11:28 pm

wow kerenz gmbrnya
perjuangan yang berat waktu biqnnya ya?

Comment by kampungboy

Made Thursday, 12 of July , 2007 at 4:15 pm

kalo diliat dari daftar funds yang film ini terima, pertama kali dapet funds untuk scriptnya aja udah dari taun 2002.

Comment by Zenstrive

Made Thursday, 12 of July , 2007 at 6:53 pm

Mungkin kalo mau laris, judulnya harus dibuat jadi “Mysterious Photograph”

Comment by erig

Made Thursday, 12 of July , 2007 at 7:13 pm

aduh, udah lepas dari 21 sejak HP 5 main. Yang mau nonton mesti ke Bltz. Mudah-mudahan aja tahan sampai akhir minggu ini. Yang belum nonton, cepetan…

Comment by Sei

Made Friday, 13 of July , 2007 at 12:31 pm

Biasanya yang beginian gak laku di pasaran…

Movieholic indo khan demennya horor kacangan…

Comment by pencinta film indonesia

Made Friday, 13 of July , 2007 at 2:41 pm

wooooow. di tahun 2007 ini film2 super bagus indonesia mulai bermunculan ada jakarta undercover, naga bonar jadi2,dead time:kala, the photografh, dan di bulan kemerdekaan besok ada lari dari blora, serta film produksi nia dinata yang juga pantas ditunggu yaitu quikie express(semua ini menurut w loh!!!)

Comment by Potato_King

Made Friday, 13 of July , 2007 at 3:27 pm

jangan lupa masih ada Long road to heaven & badai pasti berlalu remske.
walau SI bilang jelek banget,tapi hampir seluruh media bilang bagus.

Masih ada lagi yang patut ditunggu yaitu:
-Anak-anak borobudur yang belom direview
-upi’s Ahmadapatuhnamanya
-lotus requiem(eh salah..tahun 2008 yah?)
-Dua project dari hanung yi Kamulah Satu-satunya dan Get Married
-The Butterfly:kita lihat apakah akan se-”wah” premisnya

Comment by cahbagus

Made Friday, 13 of July , 2007 at 3:59 pm

AYO !!!
DAH TURUN DARI TEATER JAKARTA NIH
KAPAN SURABAYA DOOOONG !!!!!!!!!!!
WWWOOOOOOOOOOIIIIIIIIIIIIIIIIIIII !!!!!!!!!!!!!

Comment by evrita

Made Friday, 13 of July , 2007 at 4:21 pm

posternya film-nya bagus…

Comment by verde

Made Friday, 13 of July , 2007 at 6:40 pm

nih film bener bgus…..

kelas festival….

gue punya film bakal berjaya lg di ajang2 festival international…

tp sayang justru film2 yg kayak gini kurang menarik penonton kita…

pdhal budaya sendiri………..

budaya Sinetron dan film2 kncut telah mengakar bgt ma indonesia…

gue benci bgt!!!!

Comment by Misscheerful

Made Saturday, 14 of July , 2007 at 6:14 pm

–a! sama kek om cahbagus… surabaya kapan!
dah gw hubungin lewat web resminya trus mereka bilang untuk surabaya mesti sabar nunggu kota2 laen turun bioskop dolo baru diputer disurabaya…..knp????

nah lo rasain sekarang kedatangan pelm harry potter makin tenggelem aj tar pelmnya isa2 di surabaya diputer akhir tahun…wkakakakakaka…..

Comment by Misscheerful

Made Saturday, 14 of July , 2007 at 6:16 pm

–a! sama kek om cahbagus… surabaya kapan!
dah gw hubungin lewat web resminya trus mereka bilang untuk surabaya mesti sabar nunggu kota2 laen turun bioskop dolo baru diputer disurabaya…..knp????

nah lo rasain sekarang kedatangan pelm harry potter makin tenggelem aj tar pelmnya isa2 di surabaya diputer akhir tahun…wkakakakakaka…..

jadi kita tunggu aj surabaya kapan…….???? tar tunggu harry potter turun bioskop….

Comment by tando-wi yahya

Made Saturday, 14 of July , 2007 at 9:58 pm

apaan ini the photograph ama anak2 borobudur cm sminggu d bioskop…(kalo ga slh…kalo slh brarti 2 minggu)

Comment by Potato_King

Made Saturday, 14 of July , 2007 at 10:50 pm

Jangan-jangan para reviewer kita ini gak sempet nonton Anak-Anak Borobudur….

Comment by fufu

Made Sunday, 15 of July , 2007 at 4:56 pm

Kapan yah di Surabaya…???
Btw, Kala jadi film penutup di Festival Film Korea Selatan 2007, Selamat yah Joko Anwar dkk…

Comment by tando-wi yahya

Made Sunday, 15 of July , 2007 at 10:53 pm

joko anwar bikin film baru!!!kali ini bareng dimas djay…nama filmnya
“QUICKIE EXPRESS”

Comment by oNyay

Made Monday, 16 of July , 2007 at 10:45 am

film yang harus ditonton dengan diam dan sabar. sayangnya sebagian besar penonton kita gak bisa diam dan gak bisa sabar. ada yang telpon2an, dan ada yg memilih untuk pulang sebelum film berakhir.
no wonder kalo film ini gak bakalan jadi box office.

tp setiap film punya takdirnya. mudah2an takdir the photograph adalah berjaya di festival.

Comment by Afterglow

Made Monday, 16 of July , 2007 at 11:50 am

Quickie Express nanti premiere n keluarnya bulan November insya allah…. Im sure its gonna be hilarious n witty! hehe..

Comment by Death Berry

Made Monday, 16 of July , 2007 at 2:36 pm

AH, saya jadi penasaran, belum nonton…. :?

Soalnya kemarin saya tidak melihat filmnya di Empire 21…..

Sepertinya benar, film ini dianaktirikan. Tapi tak apalah, prinsip Nokia benar. “True Style Never Shouts”.

Comment by ide

Made Tuesday, 17 of July , 2007 at 6:16 pm

di pekanbaru gak pernah nonton film2 qta yg bgs2
yg diputer suster ngesot, lantai 13, etc sejenis itulah, yg dpt sempak berderet2
kapan KALA dan Photograph ini maen

btw, buat sineas/penulis skenario/penulis cerita: gw punya ide menarik ttg cerita sebuah film. genrenya: science fiction di indonesia. klo bminat kontak gw yach….
thx

Comment by nico

Made Wednesday, 18 of July , 2007 at 4:17 pm

Akhirnya! Ada juga film bagus, enak ditonton tapi tidak kacangan. The Photograph adalah salah satu film terbaik tahun ini. Tidak rugi beli tiket mahal-mahal di Blitz. Sumpah, saya hampir batal nonton waktu tahu harga tiketnya cukup buat tiket 3 orang di Kalibata, bioskop favorit saya karena…murah (maklum, orang miskin tapi sok jadi anak gedongan). Filmnya memang oke. Eh, yang jadi tentara yang dipecat gara-gara menembak komandannya itu siapa sih? Bukannya Agastya Kandou? Nicholas Saputra juga cantik di situ (andaikan yayangku secantik kamu, Nic!) Indra Bekti juga lucu. Tapi yang paling lucu ya si tentara rabun itu.
Terima kasih buat SI yang me-review film bagus ini. Lumayanlah, kemarin siang yang nonton ada 20an orang. Tidak sepi-sepi amat.

Comment by Ksatria Film

Made Wednesday, 18 of July , 2007 at 5:13 pm

Empat bintang? Buat gua sih, 2 bintang aja masih terlalu banyak. Emang sih dibanding film2 nan dulu, ini lebih komunikatif, tp bukannya lebih bagus. Materialnya emang luar biasa, tp garapannya gak kena banget. Film ini harusnya bisa bikin orang emosional, tp gua kok nggak kerasa apa-apa, ya. Kayak angin lewat aja. Lagian, dr review2 yg gw baca, semua nyebut pd kecanggihan teknisnya, visualnya, etc. Emang seeh, bagus. Tp please, deh, dengan material penuh emosi seperti the photograph, hambar bngt terasanya. Kayak yang buat robot aja…..

Comment by ramdaffe

Made Wednesday, 18 of July , 2007 at 10:21 pm

ini seharusnya bisa jadi film terbaik, tapi sayang banget menurut gw ceritanya emang kurang ngena aja. walaupun visualnya rapi dan detail banget, tapi penyampaian ceritanya itu lho. it’s a good one, not half-baked, but not quite that great. IMHO, better storytelling still goes to nagabonar jadi 2 :D

Comment by verde

Made Thursday, 19 of July , 2007 at 2:00 am

HI GUYS AKU SENENG BGT FILM INDONESIA YG KAYAK GINI…
TRUS SORY AGAK MENYIMPANG NIH TP ADA YANG TAU TENTANG FILM2 INI G?KARENA G DIPUTAR DI BIOSKOP(INI AKU DAPAT DARI ASIAN FORUM DISCUSSION CHAPTER INDO MOVIE SORY INI PKE BHS INGGRIS, TP KALIAN NGERTI LAH MAKSUDNYA…NI FILM AKU PGN TONTON BGT,KLO ADA YG TAU TLG KAH TAU CARA DAPETIN FILM-VCDNYA…

1.AYAT-AYAT CINTA

VJ Rianti is going to play a movie based on a book written by Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-Ayat Cinta” (Love Verses)

El-Shirazy wrote a story about a Christian girl in Egypt namely Maria. Maria lives in the same apartment with an Indonesian student; Fachri. Rianti will play as Maria, while Fedi Nuril will play as Fachri. Maria likes Fachri secretly but Fachri likes Aisha, a German girl.

Now Rianti is studying Arabic, especially the pronunciation, from the man of Al-Azhar University. And since she’s a muslim she’s also learning of Koptic Christian from several books.
All settings will take place in Egypt.

2.BURUNG-BURUNG KERTAS

Burung-Burung Kertas (Paper Birds)

Cast: Dewi Liyanto Lie, Deddy Henuk, Cindy Gusmala Rusli, Fritz Loho, Philip Lauda, Tommy Kurniawan
Director : Cassius Handoyo, Susanto Widjaja, Dinna Jasanti
Producer : Dinna Jasanti
Scriptwriter : Cassius Handoyo, Susanto Widjaja,Dinna Jasanti
Genre: Drama
Premiere: 25 February 2007

Film Festivals :
Konfiden Festival Film Pendek (November 2006) > Official Selection (First 30 min of feature)
Bali International Film Festival (December 2006) > Special Appreciation Award

Prior Screenings:
1. Independent Sydney Screening 22 April 2006
University Hall, University of Technology, Sydney
2. Independent Perth Screening 29 April 2006
Norman Dufty, Curtin University, Perth

Sinopsys:
“A friend told me, if you fold 1,000 paper birds, your dream will come true and you’ll be happy”.

”Burung Burung Kertas” is a compilation of 3 stories from 3 different characters point of view in pursuing dream and hope to reach happiness.

Funny innoncent Jingga (Dewi Lie) secretly learns for someone she loves. Eros (Deddy Henuk) works very hard and sacrifices a lot for someone he loves. With her patient, Rima (Cindy Gusmala Rusli) waits for the one she loves by folding 1,000 paper birds in hope that they can be together again. The love connection between the three describes that love can make people do anything. In searching for love and hope, Jingga, Eros and Rima almost forget the people around. At the time when their hopes start to fall out and misunderstanding appears, will they still fight for it, or keep hoping the miracle from the legend of paper birds?

3.MENCARI MADONNA

Mencari Madona (Finding Madona)
Cast: Clara Sinta, Samuel Tunya
Director: John de Rantau
Producer: Garin Nugroho
Scriptwriter: John de Rantau
Genre: Drama
Premiere: 16 January 2007

This one is a good movie. It’s been nominated in several international film festivals such as: Shanghai Film Festival, Singapore Film Festival, and Russia Film Festival.
Unfortunately this movie is not shown in cinemas so people don’t have a chance to watch it.

Synopsis:
This film captures HIV issue in Papua. Yosep (Samue Tunya), a high school student is infected by HIV virus. He’s depressed and almost committed suicide. He feels a deep regret when his girl friend that’s infected by HIV because of him, died in a horrible way: burned by her family.

KAYAKNYA KE-3 FILM INI G MASUK BIOSKOP YA…ADA YG TAHU G?

Comment by Mercie

Made Thursday, 19 of July , 2007 at 4:03 am

Ah,,,film jelek begini dikasi bintang ???
Kasi aja sati kaki bintang dari sisi bintang.

Comment by verde

Made Thursday, 19 of July , 2007 at 9:59 pm

duh mba mercie maksudnya apa?
“kasih sati kaki bintang dari sisi bintang”

belajar nulis dulu yg bener….baru menghujat mbah…..
sati kaki bintang dari sisi bintang,omg dont know what you talking about….somebody pliss translate

tuh omongan anak sd kelas 6 desperate g luluskali ya…hehehe

Comment by cahbagus

Made Saturday, 21 of July , 2007 at 5:31 pm

KOK ANEH
KOK ANEH
KOK ANEH
KOK ANEH
REVIEWnya kamulah satu satunya kok ilang?
opo komputerku aja yg aneh?
opo emang di delete?
mo di revisi kali
SI sadar telah salah ngasih KSS 2 kancut kali
KOK ANEH

Comment by Death Berry

Made Saturday, 21 of July , 2007 at 5:32 pm

@ Mercie

Kalau orang dicandu cinta, begini jadinya. Maunya lihat film cinta terus. :mrgreen:

Comment by moviefreak

Made Sunday, 22 of July , 2007 at 12:04 am

oh ya ada film cinta yg bagus tuh, SELAMANYA.. akting Juliete Castelesiapatuhnamanya bagus banget.. beneran.. SI review SELAMANYA donk, gak kacangan kayak film2 cinta lain kok.. beneran..

Comment by doffilm

Made Sunday, 22 of July , 2007 at 7:05 pm

the photograph film yang cukup menarik sih, tapi agak lambat aja dan agak dragging dipertengahan cerita,seperti nya memang itu gaya sang sutradara.banyak sekali scene2 yang kurang kuat dan jadi tdk penting.sinematografi bisa 4 bintang dan lokasi sangat menarik dari segi kombinasi dan gaya nya.salut dan 5 bintang buat penata musik Wong aksan dan titi sjuman.sangat berkelas dan patut diacungi jempol!!! wah..kalian orang indonesia tapi musiknya tidak kalah dengan kalangan internasional.banyak sekali pujian yang saya dengar untuk musik di film ini.
sayang sekali lim kay tong bahasa indonesia nya kurang latihan,padahal sangat bagus mainnya.shanty yang keliahatan begitu2 aja tidak ada pekembagan acting.hambar.dan terlihat kurang mendalami skrip sehingga terdengar seperti membaca.tapi kalau utk jadi wanita malam saja sangat cocok barangkali.
untuk keseluruha saya kasih bitang 3.
selamat ibu nan!

Comment by tagor

Made Sunday, 22 of July , 2007 at 7:25 pm

wah. the photograph paling menarik adalah dari musik nya. 4 jempol buat wong aksan dan istri.kerjasama yang brilian.sangat berkelas dan menakjubkan!!!!!
sinematography lumayan berkarakter.cerita nya agak membosankan ya..
hmm..tapi cukup berani menampilkan karya nya. selamat mbak nan achnz

Comment by sando

Made Monday, 23 of July , 2007 at 2:40 pm

mungkin ada kesengajaan mengenai tempo alur yg lambat… biar penonton ngerasain kemonotonan hidup si fotografer yg emang udah males dan bosan idup… hehe..

sayang kurang promosi… gua aja baru tau ada film ini setelah liat2 poster film di bioskop…

logat jawanya shanty gak pernah ‘dapet’ sejak di berbagi suami.. knp ya??? latihan terus shan!

Comment by nji

Made Thursday, 26 of July , 2007 at 9:23 am

waaaa ktanya mau kluar ya di 21.. wah harus nonton nich..

Comment by MaRkO

Made Thursday, 26 of July , 2007 at 7:51 pm

pertama-tama, saya hepi bisa balik lagi nulis komen d SI setelah lama vakum.

kedua, kaget juga dengan hak eksklusif semacam disclaimer dari moderator SI diatas kolom buat ngisi komen. ade ape siy mpok??

ketiga, gw suka sinematografi dan art direction di “The Photographer”.

keempat, menurut gw ceritanya justru lemah.

kelima, gw ga suka adegan audisi fotografer itu. komedi yang out-of-place. very much UN-believable. (jujur gw ketawa liat cameo-nya Nicholas Saputra. but hellooo … itu PENGULANGAN penampilan dia untuk cover sebuah majalah kelas atas bertarikh DUA TAHUN LALU. dalam artian: basi!).

keenam, tapi gw tetap puas kok dengan film ini. mengharukan …

Comment by moviefreak

Made Sunday, 29 of July , 2007 at 10:39 pm

Film yg mengkoyak2 perasaan, tentang kehampaan hidup, ketidakberdayaan manusia melawan keadaan, kepahitan hidup, etc.
Kangen banget film nasional semacam ini, karena para pedagang film lebih banyak jual horor dan percintaan kancoet…
Gw suka, gak rugi nontonnya…

Comment by ratie

Made Tuesday, 31 of July , 2007 at 3:46 pm

Thanx god to Blitz Megaplex yang masih memutar The Photograph!! Setelah sempet khawatir kalo film ini dah ga ada (secara waktu tgl 9 Juli kmrn gw mw ntn di bioskop -tiiit- @ PS, film yang release tgl 5 Juli ini dah turun! Cuma 4 hari???!! Dasar komersil!!), akhirnya nonton juga deh gw! Dan comment gw cuma satu ANJRITLAH KRU2 YANG MAMPU MENYAJIKAN SETTING DAN GAMBAR SEKUALITAS ITU!!! Watching this movie is like watching Wong Kar Wai’s.. Dan akting Lim Kay Tong, standing applause deh gw.. Gw bener2 hanyut dalam film ini.. Ibaratnya nih ya, nonton film ini tuh kaya nonton lukisan yang menyenandungkan ceritanya. Bravo Bu Nan!

Comment by Potato_King

Made Friday, 3 of August , 2007 at 6:30 pm

yaph it’s so amazing…
Mirip2 dengan God & Monsters yang brillian itu…

Comment by agnxikom06

Made Wednesday, 5 of September , 2007 at 11:06 am

film indonesia memang paling yahuud di negeri saya di jerman sana saya tidak menemukan film yang bagus seperti buatan indonesia

Comment by lene

Made Friday, 28 of September , 2007 at 3:24 pm

taruhan,kalo ffi masih waras ,maka film inilah yang layak menjadi film terbaik tahun ini.
Mungkin kategori yang dimenangin jug termasuk:Sutradara Terbaik(Nan T. Achnas),Aktris Terbaik(Shanty),Aktor Pendukung Terbaik (Lukman Sardi),Skenario Asli terbaik,Sinematografi Terbaik,ama Tata Artistik Terbaik.

Leave a comment

Terima kasih untuk tidak memasukkan spoiler, tidak menyerang secara personal, tidak mencaci sebelum menonton, tidak sok tahu, tidak sok asik, dan tidak marah-marah kalau tidak setuju dengan review kami atau pun komentar pembaca lain. (It's only film review gitu loooh...) Please keep Sinema Indonesia a pleasant place! Yang bandel akan di-ban selama-lamanya. :)

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com