Sinema Indonesia

Merah Itu Cinta (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Monday, 17 of September , 2007 at 12:51 am

Sebelum film ini dirilis, promosi film ini menggembar-gemborkan bahwa film ini ditulis oleh seorang psikolog. Lho, kok malah bangga, ya? Bukannya skenario film seharusnya ditulis oleh seorang penulis skenario? Tapi mau bilang apa? Perfilman Indonesia memang absurd. Film dibikin oleh pedagang kain, bukan filmmaker. Pencuri diberi piala citra.

Merah Itu Cinta adalah film kedua dari “film-film warna” Rako Prijanto setelah Ungu Violet yang hanya menambah daftar film buruk Indonesia. Kalau mengingat bahwa warna itu banyak sekali dan Rako Prijanto kemungkinan akan membuat film tentang mereka semua, waduh, tidak berani kami membayangkannya. Di Ungu Violet ada kalimat menye-menye tiga kata: Perih sekali, Landoooo...”. Di sini ada “Ini Cinta, Aryaaaaa...” Next apa, ya?

Film dibuka dengan adegan Yama Carlos (yang hanya akan menang bertanding akting dengan seekor hamster) menelpon pacarnya yang diperankan oleh Marscha Timothy, memberitahu bahwa dia sebentar lagi akan datang ke tempat Marscha Timothy dan “nggak sabar ingin ngerasai” Marscha Timothy. Kalau kalimat ini terasa janggal, mungkin karena ini kalimat baku dalam kuliah psikologi. Mungkin dosen psikologi sering bilang “Coba bukunya halaman 70 karena saya nggak sabar ingin ngerasai kamu.” Atau “Hari Jumat kita tes ya, anak-anak. Saya nggak sabar ingin ngerasai kamu.”

Rako Prijanto menghabiskan energinya supaya setiap dinding dicat dengan warna-warna yang mencolok. Tapi tidak memberi perhatian pada akting para aktornya. Apalagi aktor-aktor figurannya. Asli parah. Ada adegan polisi yang menyerahkan barang-barang peninggalan pacar Marscha Timothy kepada Marscha. Adegannya mirip adegan paskibraka menyerahkan bendera kepada presiden saking kakunya.

Dialog-dialog dalam film ini dijamin hanya akan membuat penonton garuk-garuk kepala karena tidak ada yang make sense. Hasilnya, kita tidak peduli dengan karakter Marscha Timothy. Kita jadi ingin membunuhnya karena dialog-dialognya sangat annoying.

Skip it.

Sutradara: Rako Prijanto. Penulis: Nova Rianti Yusuf. Pemain: Marsha Timothy, Gary Iskak, Yama Carlos, Inong. Produksi: Rapi Films. Produser: Gope T. Samtani, Subagio S.

Official Site

Category: Review, kancut 3

36 Comments

Comment by ilina

Made Monday, 17 of September , 2007 at 4:46 am

yang pertama! omg, Nova riyanti kan penulis cerita2 psikologi absurd itas a la Freud itu kan?? ngapain dia pake nulis skenario??

Comment by The Institute

Made Monday, 17 of September , 2007 at 7:34 am

Cinta itu Merah, Jendral!

Hehehe…

Comment by sapar

Made Monday, 17 of September , 2007 at 10:46 am

dimulai dengan apa artinya CINTA…lalu apa artinya CINTA?…trus ada lagi love is CINTA…eh sekarang masih ada merah itu CINTA…dapat gelas cantik deh perfilman indonesia…hihihihihi…*gelas cantik bergambar kancut*

Comment by binki

Made Monday, 17 of September , 2007 at 12:13 pm

yeah, film ini lebih buruk dibanding ungu violet.emang..emang

Comment by joeworks

Made Monday, 17 of September , 2007 at 3:23 pm

…sob, pada dasarnya sah-sah saja, siapapun itu penulis skenarionya. Karena semua element kehidupan adalah berhulu pembelajaran. Tapi saya tidak memandang dari sudut tersebut, tapi lebih secara spesifik yaitu (1) Stasiun Televisi (2) Akusisi Program (3) Produser (4) Sutradara (5) Masyarakat Penonton (6) Akademinathic. Berangkat dari pengalaman 9 tahun dibidang perfilman, saya sangat menyayangkan adanya “preman pasar” di stasiun televisi yang bernama Mr. Akusisi, yang selalu berbicara tentang kualitas, trend-level, rating dan famous artist. Namun alangkah naif’nya saat usai “penolakan” dari dummy-video, kita harus menelan dahak di tanah kotor saat menonton berbagai tayangan yang “harus” ditonton. Bull shit banget yaa kita harus disuruh membuat film bagus tapi dengan nilai beli hanya sekitar 150 juta hingga 250 juta (bila tidak membawa bendera PH sindikat mereka), sedangkan nilai produksi sebuah film bagus plus famous-artistnya berkisar 200 hingga 350 juta. Fenomena yang menjijikkan bila dibandingkan dengan tag-line para si stasiun televisi tersebut. Belum lagi in-house2 mereka yang bertampang seperti Steven Spielberg atau Oliver Stone… merasa sudah perfect dengan tameng in-house PH’nya.

Sudah sepantasnya bila kita tidak hanya mengkritik ataupun mengomentari saja ulah dari sineas-sineas “hebat” itu. Kita tidak mungkin menggantikan suasana tersebut tapi setidaknya kita bisa seperti (Maaf !) aroma kentut di alam terbuka. Sedikit tapi cukup membuat marah, malu, tertawa atau juga digebukin… hee hee…

Komunitas Indieworks Film, yang saya bentuk sejak tahun 2006, adalah media yang senantiasa menanti uluran para pencipta duit untuk mau berkolaborasi secara positip untuk bisa melahirkan sinema-sinema yang memiliki bobot moral dan kualitas budaya bangsa Indonesia yang sebenarnya…. amin !

Comment by jobloemporium

Made Monday, 17 of September , 2007 at 4:22 pm

Ok juga loe Sob. Tapi begitu loe jatuhnya cuman promosi, respect gw lenyap ke loe. Apalagi begitu loe bilang “untuk bisa melahirkan sinema-sinema yang memiliki bobot moral dan kualitas budaya bangsa Indonesia yang sebenarnya”… waaaah.. loe kedengerannya sama aja kayak bapak-bapak orde baru sob. padahal loe ngomongnya pake sob, sob.

Comment by stania

Made Monday, 17 of September , 2007 at 5:23 pm

Ahhhaahahahaha….
Btw, penulisnya bukan psikolog, tapi (calon) psikiater…

Comment by 80fantasy

Made Monday, 17 of September , 2007 at 6:46 pm

ah, ga gitu-gitu amat. Masih di atas Sinetronlaaa…tata artistiknya ya lumayan menurutku. Mengeksplor rumah kecil di pinggir rel kan perlu mikir juga, dikit mah?. Kecuali si pereq, itu mah emang ga akting…
Adalah si Rako itu elmu filmatografinya, (berlaku juga untuk Ungu Violet). Kalo menye-menye seperti “kenapa kamu ga mau rasain aku” , …itu kan buatan si psikolog? By the way, kalau yang ngucapin dialog itu, aktris laen (siapapun) yang SI bilang oke, sama ngga efeknye?

Comment by kristina

Made Monday, 17 of September , 2007 at 7:55 pm

Buat Mbak Noriyu, yang menurut saya agak2 sok kepinteran dg novel2nya yg dipenuhi jargon2 esoteris, dan merasa bahwa ‘karya yg kurang dipahami awam adalah karya yg spektakuler’, plis deh, stick to your superficial reviews and your occasional side job as a guest speaker in some unimportant seminars.
Untung ga nonton ni pilem.
Btw gw jadi inget dulu sempet penasaran baca novelnya Noriyu yg judulnya Mahadewa/i, pinjem punya temen gue. Ada sebuah adegan yg mendeskripsikan sepasang kekasih bercinta, yg bner2 jauh dari sensual, dengan menggunakan istilah2 semacam ‘cunillingus’ ‘fellatio’ dsb. Alih2 seksi malah jadi kayak buku2 teori ‘Bagaimana mencapai orgasme yg sempurna’ blabla dan buku2 panduan bullshit lainnya. Kl yg baca ga ngerti istilah begituan gimana mbak? Kenapa gak dg istilah ‘oral seks utk perempuan’ atau ‘oral seks utk laki2′. Atau sekalian aja kasar dan jorok ala AyuUtami atau Djenar. Gak menambah value juga kok dg memakai kalimat2 ala psikiatri yang sulit2 itu. Tetep cupu aja.
Tp mungkin jg saya salah, jgn2 emang lagi tren fiksi romantis dg istilah ilmiah2 begitu.. kalopun iya, mendingan saya cari buku2 Annie Arrow jaman dulu aja ah, drpd pusing.
Filem ini juga kalimat2nya pasti dibikin sok susah deh.
hehe malah membahas bukunya Noriyu, maap ya SI. pokoknya situ tetep de bes dlm bikin review.
Dan buat Mas Rako, … muke Rambo hati rainboooow hahahahaha!

Comment by sorethroat

Made Monday, 17 of September , 2007 at 8:41 pm

tapi akhir ceritanya dramatis skaligus aneh,lumayan kok,,,

Comment by pingz

Made Monday, 17 of September , 2007 at 10:00 pm

setuju sama yang di atas gw. hhuhuhu… ujung2nya kok promosi sendiri..

Comment by NUGROHO

Made Monday, 17 of September , 2007 at 10:10 pm

o_o
Really??/
Gw kira film in ibakal lebih baik daripada Selamanya karena dibumbui drama psikologis

Rako prijanto=Wong kar Wai wannabe

Comment by dc

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 4:00 pm

ungu violet.. bole lahhh
stelah muntah2 liat d’bijis kayanya gue gak bakal liat film2nya rako lagi….
rako bakal nyusul nayato yang film sampahnya segudang…

Comment by nico

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 7:32 pm

Oooh… Flmnya begitu saja ya? Tapi rambut merahnya boleh juga. Boleh juga digundulin, maksudnya. Hehehe, becanda, Mbak Marsha. Soal akting, belajar lagi deh sama pacarnya…

Comment by NUGROHO

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 10:58 pm

akting Gary Iskak adalah satu-satunya alasan gw untuk bertahan duduk di bioskop…

Comment by Nama22

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 11:05 am

Tapi setidaknya ada adegan lucu dalam film ini (entah disengaja atau tidak) yaitu waktu Gary Iskak pergi ke tempat prostitusi dan meminta Inong yang bekerja disitu utk “stripping” di hadapan dia.. Dengan marahnya Inong berteriak “EMANG ELO KIRA GUE CEWE APAAN?!”. Gue ingatkan lagi kalo karakter Inong disitu adalah menjadi seorang pelacur.

Comment by cintakita

Made Saturday, 22 of September , 2007 at 11:56 am

at least akting marsya dan gary iskak jauh lebih baik dari
dian sastro n rizky hanggono di ungu violet :-)
demikian pula filmnya, merah itu cinta jauuuuuuuuuhh lebih baik
:-)

Comment by gowik

Made Sunday, 23 of September , 2007 at 2:18 am

Cepet banget ngilangnya! One thing though, kadang-kadang gue suka overlook things gara-gara perbuatan orang lain nah ini film salah satu contohnya: Gara-gara directing Rako yg overenhusiastically copying Wong Karwai gue ampir ngga perhatiin Sidi Saleh sebagai cinematographer. Gue musti acungin jempol, nice and even stylistic lighting can sometime be tricky with digital crap tapi the guy handled this nicely. Handheldnya megang abes. Waktu gue liat film ini gue udah mau muntah di 15 menit pertama tapi Marsha was GOR-JES and I must admit I have a big crush on her, BUT seriously the lighting caught my eye dan gerakan kameranya juga bagus terlihat ada pemikiran dibelakangnya. So there you go Sidi, whoever you are, keep the good work and please choose who you work carefully next time.

Comment by lene

Made Sunday, 23 of September , 2007 at 6:03 pm

di negeri kita banyak cinematographer berbakat yah?
-Yadi Sugandi:pasir berbisik,the photograph,koper
-ical Tanjung:heart,long road to heaven
-arief pribadi:ruang
-ipung rachmat syaiful:berbagi suami,kala,mengejar matahari
-yudi Datau:gie,denias

-trus sinematografer badai pasti berlalu,sinematografer selamanya,sinematografer cinta pertama,kangen,sang dewi,tentang dia,cinta silver,ungu violet(drama romantis semua…)

sayang dikit banget story-teller berbakat di sini…

Comment by chocolatecake

Made Tuesday, 25 of September , 2007 at 5:37 pm

setuju ama Lene. Ada apa dengan kemampuan bercerita sineas Indonesia? Gue lagi jeles berat ama Malaysia. Abis nonton Mukhsin. Damned, bangsa ini punya begitu banyak problem yang bisa digali untuk kemudian dituangkan dalam cerita yang bagus.
Bener2 mo nangis gue…

Comment by aku

Made Wednesday, 26 of September , 2007 at 11:43 am

gimana ya mau komentarnya? habis para pengomentar mencela penulisnya yang bahasanya aneh, padahal para komentar menulis dengan bahasa aneh pula, bahkan para pengulas film pun bahasanya campur-baur dengan sejumlah keanehan. Bahasa Inggris diselang-seling Bahasa Indonesia dengan komposisi yang tidak lazim. Kalau begini terus, bisa-bisa banyak yang ragu untuk membaca ulasan dan komentar di www.sinema-indonesia.com, mungkin salah satunya aku. Maaf ini bukan menasehati, hanya mencoba menyarankan, mungkin dalam mengkritik sesuatu pun kita harus menuangkan kritikan dengan ‘tertib’ (maaf, bukan baku), dengan alur tulisan yang jelas dan bahasa yang lugas, sebab percayalan orang-orang yang dikritik itu punya telinga dan mata, yang kasat dan yang tak telihat (di hatinya). Mudah-mudahan kalau kritikan kita cukup ‘jelas dan terarah’, mereka akan bisa introspeksi diri.

Comment by regindang

Made Wednesday, 26 of September , 2007 at 1:26 pm

ada Love is Cinta, trus Merah itu Cinta..
Awaaaaassss…ada sinetron judulnya Love is Shinta. Ih!

Comment by Steven_Hyde

Made Wednesday, 3 of October , 2007 at 2:15 pm

POKOKNYA NAJIS AJA! NONTON FILM INDO EMANG MENJIJIKAN DAN TIDAK MEMBAHAGIAKAN HATI MANUSIA..

Mau Genderuwo ato merah itu cinta..Mau rudi ampe Nayato..emang bener2x SAMPAH!

Tau ngga negara super-mini en’ imut2x kaya Armenia aja masih punya sutradara terbaik yg masuk dalam peta dunia.Jumlah mereka cuman sekitar 6 / 4 juta-an. Indo? 200 juta lebih, ngga satupun wajah indo (yg dengan nama baik dan tidak memalukan,seperti soeharto ato amrozi)yg bisa terlihat di panggung internasional..

Apa iya ya terlahir menjadi orang indonesia itu, memang nasib terburuk yg pernah dialami umat manusia dimana pun?

Comment by lene

Made Friday, 5 of October , 2007 at 7:05 pm

don’t be so negative…
Merah itu cinta masi lebih mendingan dariapda Love is Cinta…
(acha,Irwansyah,go to hell)

Comment by agnes davonar

Made Saturday, 6 of October , 2007 at 2:17 pm

menjijikan ya filmnya hehe
gua kaget pas nonton hehe
ada juga flm yang asal asalan gitu

Comment by brounnies

Made Sunday, 7 of October , 2007 at 12:56 pm

yaelah apa pula ini.. ada merah itu cinta.. ada love is cinta.. lama2 ada yg bikin tae itu cinta

Comment by PhiTra

Made Sunday, 4 of November , 2007 at 9:23 am

sebnrnya gw pas nnt0n ini k/ t’paksa,,,hehehe,,,cmn diajak ma tmn2 gw,,,
kembaliin duit gw g????!!!!!25rbu,,,lumayan bgt tuch,,,,bsa beli buat mkn 3 hari 3 malam,,,hahaha,,,
nyesel nech n0nt0n!!!
knp sech kesini-sini byk film yg aneh,,,g bkn 0rg2 b’kesan baek gtu,,,

Comment by lya

Made Saturday, 10 of November , 2007 at 1:57 pm

bwt steven hyde..
terlahir jadi orang indonesia itu belom cukup buruk tau..
terlahir jadi orang indonesia dan kudu sabar saban ari melototin soleha, cinta fitri, kasih, cinta, pangerna penggoda, buku harian nayjis di tipi, dan saban ari melototin poster gendruwe, suster n, suster m, suster t, suster g (goblok) juga suster2 laen dan sedert hantu jeruk purut ampe jeruk pontianak di bioskop..
NAH ITU BARU A LIVING DISASTER..
dan yang paling mengerikan: kita semua masih akan terus berkembang biak sampe anak cucu.. dan melihat nayato2 lainnya lahir dan membuat indonesia semakin indon dimata malaysia…
wow, that’s worst.

Comment by Nugroho

Made Monday, 12 of November , 2007 at 8:26 am

Wah sinema-indonesia payah nie, kok comment dari Mas zimmy (yang mengkritik penulis : ferry siregar) di hapus…padahal isi comment-nya sangat berkualitas…

Demi memajukan perfilmana indonesia, mudah-mudahan sinema indonesia mao belajar untuk di kritik jangan hanya bisa mengkritik aja. semoga nasibku commentku tidak seperti nasib comment mas zimmy yang di hapus akibat mengkritik sinema indonesia.

Maju Terus Perfilman Indonesia.

Comment by roni

Made Thursday, 22 of November , 2007 at 3:13 pm

menurut gw, acting Masha Timothy sangat patut dihargai. Skenarionya mm lemah, Gary Iskak n Yama Carlos juga cemen…tp acting Marsha Timothy sama sekali gak cemen.

Gw gak yakin Dian Sastro yang agung itu bisa acting setotal itu

Comment by buff

Made Saturday, 1 of December , 2007 at 1:42 am

tapi film ini masuk nominasi film terbaik, sutradara terbaik dalam ffi 2007. yang gila jurinya, rakonya atau gue ya?

Comment by elkaban13

Made Monday, 3 of December , 2007 at 5:23 am

alur ceritanya lumayan..bahkan gw lom bisa nebak sampe beberapa menit sebelum film ini usai. perkiraan gw film ini akan “menghukum” Reisya yg menuduh rama selingkuh, padahal dia sendiri yg menikmati perselingkuhan dg Arya. ternyata endingnya lurus, arya dan rama yg sejak kecil dikenal bersahabat, malah jd pasangan gay. trus, gw membayangkan cerita ini berkembang menjadi aksi otak-atik misteri d balik kematian rama tp a la film prancis, bukan hollywood apalagi bollywood.trus..trus…:)
dialognya rada ngerusak! aktingnya juga kurang lepas..gw malah keasyikan membayangkan rumah reisa d pinggir rel kereta. seorang pengajar balet pula? setidaknya film ini menyuguhkan cerita yg berbeda…maju terus film indonesia!!

-respect-

Comment by Ansel

Made Wednesday, 19 of December , 2007 at 9:39 am

Film nya romantis banget, apalagi peran marsha timoty Kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen banget siey!!!1 pokoknya 100% bagus banget filmnya, aku aja sampe beli kasetnya

Comment by kaori

Made Saturday, 19 of January , 2008 at 3:27 pm

BUAT YANG NAMANYA KRISTINA,
LO LOSER ABIS SICH NGASIH KOMENTAR KAYAK BEGITU? GUE GAK GEMAR FILM INDONESIA TAPI KALO SEMUA ORANG INDONESIA OTAK UDANG KAYAK ELO DAN SANGAT NYINYIR, KAPAN BANGSA INI MAU MAJU? ATAU BANGSA INI MAJU TAPI LO TETAP AJA DOGOL… POOR U!

Comment by Vi

Made Tuesday, 12 of February , 2008 at 6:12 pm

BAH ! BEH ! Jelek minta ampun, Aryaaaaaa….

Nih film maksudnya mo jadi film drama psikologis kelas berat, jadinya malah film yang memprihatinkan krn penuh adegan marah2 tak jelas, akting yang bersaing dengan akting para pesinetron, dialog2 kaku n ga masuk akal, penerangan yang minim, dan ide cerita yang bisa ditebak dengan mudah.. Haihhhh…

Pliz deh ah! Film seperti ini yang mempermalukan perfilman indo

Comment by ratih

Made Tuesday, 22 of July , 2008 at 3:10 pm

rugi banget nonton, sutradaranya gay, penulis skenarionya gay rumah produksinya isinya gay semua kaleee! *no hurt feelings against gay people ya* cuman cheezy aja ko akhirnya mesti begitu, ga cerdas banget deh yang bikin ni film..

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com