Sinema Indonesia

Cintapuccino (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Tuesday, 18 of September , 2007 at 5:13 pm

Terus terang, Rudi Soedjarwo adalah satu-satunya sutradara Indonesia yang membuat pendapat kami tentang dirinya selalu berubah-ubah. Ketika dia membuat Ada Apa Dengan Cinta?, saya dan Ferry langsung setuju kalau dia adalah salah satu sutradara yang bisa diandalkan untuk membangun perfilman Indonesia. Dari Bintang Jatuh dan Tragedi yang luar biasa amatiran, tiba-tiba dia membuat lompatan yang sangat tinggi dengan menbuat film yang kualitasnya bagus dan bisa diterima oleh segala lapisan masyarakat. Ada Apa Dengan Cinta? adalah contoh sempurna dari film komersial yang bisa dibanggakan kualitasnya. Dan kami saat itu yakin bahwa Rudi Soedjarwo akan membuat kejutan-kejutan lain yang lebih bermutu. Sayangnya, kemudian dia membuat serentetan film-film kancut dari mulai Rumah Ketujuh yang seringan kapas sampai dia mencoba untuk naik kelas menjadi filmmaker yang lebih serius dengan 9 Naga. Pandangan kami pun berubah. Tapi kemudian kami kembali bersorak ketika dia membuat Pocong 2 yang menyeramkan dan fun. Saat itu kami berpikir bahwa Rudi Soedjarwo adalah seorang sutradara bagus, tapi  memiliki under-achiever complex. Dia seharusnya bisa memilih materi yang lebih bagus karena kapasitasnya sebagai sutradara sebenarnya baik. Mengejar Mas-Mas memang kami beri kancut, tapi kami bisa melihat kemampuan Rudi yang oke dalam mengarahkan pemain. Tapi kami tetap menyayangkan kenapa dia tidak mau memilih materi yang lebih baik. Padahal, Rudi sudah punya style yang unik dengan sistem suting tujuh harinya itu. Bukan tidak mungkin, dengan materi yang lebih baik, dia bisa menjadi versi kecil dari Steven Soderbergh saat dia membuat film-film realis yang kecil tapi berbobot.

Ketika kami mendengar dia akan memfilmkan sebuah chick lit, kami semakin sedih karena kami merasa dia semakin menyia-nyiakan bakatnya. Bahkan, seorang pengamat film yang cukup kami hormati tulisan-tulisannya, menyarankan bahwa Rudi Soedjarwo, sebagai seorang penerima Piala Citra (apapun artinya), sebaiknya berhenti membuat film dulu sampai dia mau membuat film dengan tidak “malas”. Tapi kami berpikiran lain. Memang seginilah kapasitas Rudi Soedjarwo. Dia tidak akan kemana-mana lagi. Cintapuccino adalah Rudi dalam permainan yang paling dikuasainya. Ringan, dangkal, dan simplistik. Dan kami rasa pandangan kami terhadap Rudi tidak akan berubah lagi dan kami tidak akan menuntut lebih banyak dari Rudi.

Cintapuccino, yang diangkat dari chick lit best-seller dari penerbit grosiran Gagas Media, bercerita tentang Rahmi (Sissy Pricillia) yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Raka (Aditya Herpavi). Tekad Rahmi untuk menikah tiba-tiba goyang ketika tiba-tiba seorang laki-laki yang sejak dari sekolah disukainya, Nimo (Miller), tiba-tiba muncul dan bilang kalau sejak dulu dia suka dengan Rahmi.

Cerita yang sangat tipis ini sekilas tak jauh berbeda dengan Kangen buatan Nayato Fio Nuola. Bedanya, Rudi Soedjarwo tak mau berpura-pura membuat filmnya lebih berat dan lebih indah dari yang seharusnya. Rudi memfokuskan bobot film ini di akting-akting para pemainnya dengan sinematografi dan set yang simplistik tapi tidak mengganggu. Harus diakui bahwa Rudi punya taste yang lumayan. Sissy Priscillia dan para pemain lain (soal Miller kita tinggalkan dulu), mampu menghidupkan film ini sehingga mudah untuk diikuti. Bahkan beberapa momen yang ada Sissy-nya benar-benar fun. Keterlibatan para pemain senior juga memberikan atmosfer yang segar dengan akting yang natural.

Yang hampir fatal adalah masuknya Miller sebagai cowok idaman Sissy yang hampir menghancurkan realisme film ini. Seorang cowok yang dari SMA sampai dewasa tidak pernah merubah gaya rambutnya is unlikely untuk digilai perempuan (walaupun cowok yang merubah gaya rambutnya tidak otomatis digilai perempuan. Contohnya Ferry). Belum lagi masalah aksen melayu Miller yang bikin ilfil. Pembenaran Rudi terhadap masalah ini tidak mampu membuat kita bisa menerima Miller sebagai idola.

Sekarang pertanyaannya, apakah Cintapuccino adalah sebuah film yang bagus dan layak ditonton di bioskop? Kami hanya bisa menjawab, di dunia yang lebih baik, film seperti ini hanya layak ditonton sebagai hiburan yang bisa diterima di TV. Tentu saja ada banyak sekali film romantis ringan buatan Hollywood yang dimaksudkan sebagai tayangan bioskop seperti One Fine Day, Serendipity, you name it lah. Tapi film-film itu dibuat dengan effort yang besar dengan memberikan production value yang tinggi, baik dari sinematografi, cast, set, kostum dan sebagainya sehingga membuat filmnya terlihat, terdengar, dan terasa sinematis.

Kesimpulannya, Cintapuccino bukan film yang buruk, Rudi bukan sutradara yang buruk. Tapi keduanya belong to TV.

Sutradara: Rudi Soedjarwo. Penulis: Jujur Prananto, Icha Rahmanti. Pemain: Sissy Priscillia, Aditya Herpavi, Nadia Saphira, Miller. Produser: Cindy Christina. Produksi: Sinemart Picture.

Official Site

Jam Tayang 21

Category: Review, bintang satu

153 Comments

Comment by heweh

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 5:45 pm

hehehehe…Miler emang bikin ilfil,
for sure, lebih suka filmnya dibanding novelnya….
I Adore You Nadia Saphira…

Comment by NUGROHO

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 6:33 pm

hm…sedikit di atas perkiraan gw yg satu kancut…
kenapa forum ga dibuka-buka…

Comment by Femmy Karima

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 6:48 pm

Miller sangat nggak charming. Malah kelihatan (dan kedengeran) seperti cowo’ dongo’. Huhuhuhu.

Comment by adhytz

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 6:52 pm

he..
gw lom nonton si…
tapi yg pasti dari rudi sujarwo,
selalu ada adegan lari2an / kejar2an
iya nggak…???

masi inget di ada apa dengan cinta, di adegan cinta ngejar2 rangga dibandara dan sebelumnya ke bandara (pake mobil)

ada juga di mengejar matahari, adegan si wingky and the geng kejar2an ma matahari, (judulnya aja uda kejar2an)

he… yg seru di ‘mendadak dangdut’ waktu jablai, eh… titi ma kinar lari2an dikejar polisi

di 9 naga pa lagi

tapi emang adegan lari2an / kejar2an nya rudi engan top

itu doang…

selebihnya, he… yah… begitulah, lumayanlah daripada nggak ada

;P

Comment by sahat

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 9:04 pm

Ceritanya dangkal banget, gak nyangka cerita kayak begini bisa laku berat bukunya (maybe that’s what a chicklit supposed to be, atau emang cara nulisnya yang bagus?, don’t know, belum pernah baca novelnya). Tapi berani mengangkat cerita seperti ini menjadi sebuah film lebih bodoh lagi. Gua gak ngerti, kenapa oh kenapa?
Satu hal yang menarik, gua pernah punya teman kuliah yang orang malaysia, aksennya 100% kayak si Miller. Gua kira teman gua doang yang aneh, ternyata emang gitu ya kalo orang Malaysia ngomong Indonesia.

Comment by thefool

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 3:33 am

“Penerbit grosiran”. Entah kenapa gue ngakak aja bacanya.

Comment by rikigede

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:48 am

3 bintang ke film ini karena:
1. nontonnnya dibayarin
2. nontonnya sama tementemen gue
3. ada sissy priscilla yang bakhenol.

kalo dari filmnya sendiri, gue akan memberikan 2 kancut. sori mas rudy.

Comment by andi

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:57 am

asli filmnya kayak FTV gitu, kaget juga sih dapet 1 bintang. Dan gue juga heran kenapa novel dengan cerita yang biasa banget kaya gitu bisa jadi best seller ya?

Comment by pOe

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:17 am

waksss, cuman dapet 1 bintang…
sebagai salah satu penggemar bukunya, sih nyayangin banget ni pilem cuman dapet 1 bintang. nurut saya sih pantes kok dapet 2 or 3 bintang. jauh lebi pantes daripada “maap, saya menghamili istri Anda” yang sama SI dikasi 2,5 bintang. SI, saya ketipu abis dah sama review MSMIA mu!! huh!
saya akuin, pilem ini emang ringan dan CEWEK banget, mungkin itu yang bikin SI nggak suka. tapi secara keseluruhan, cast, akting serta penggarapannya bagus kok. di atas rata2 pilem indonesia laen lah. nggg…kesampingkan faktor NIMO yang super duper ndak pas itu ya… itu emang salah casting sih. dari appearance aja udah nggak cocok jadi NIMO versi buku, apalagi pas ekting. wedeeeewww….
selain NIMO, salah satu miss dari pilem ini adalah ending yang terlalu terburu-buru, nggak match ama bukunya. mungkin karena rudi terpancang pada adegan2 awal yang nonjolin bab OBSESI nya (yang saya yakin, pasti pernah dialami 90% cewek di Indonesia).
other than that, i found this movie hell a lot more entertaining than MSMIA (saya masih dendam sama SI yang kasi 2,5 bintang ke MSMIA)…

Comment by jingga

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:35 am

ini review yang paling gue tunggu2 tunggu, bolehlah bintang satu, gue suka sama acting sisy walupun nyaris engga keluar dari karakter pribadinya,soal ceritanya biasa aja, tapi rudilah yang membuat film ini tidak dapat kancut.. horeeeee..hidup SI.

Comment by binki

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 10:09 am

Kesimpulannya, Cintapuccino bukan film yang buruk, Rudi bukan sutradara yang buruk. Tapi keduanya belong to TV.

yeah, i agree with this quote.

Comment by fisha

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 10:55 am

Bukunya sih bagus, critanya asik, dan gaya bahasanya ABG bangad. Love deh klo sm bukunya. But udh di bikin pelem kok jd begini…??? Scara klo baca buku tergantung dari imajinasi tiap orang yg baca. Dan dalam imajinasi gw bukan wajah spt Sissy, Adithya, & Miller (apalagi) yg jadi Rahmi, Raka, & Nimo. Wajah2 yg lebih dari itu, akting2 yg lebih dari itu, & pemandangan yg lebih dari itu. So bwt gw, yes sm bukunya but NO sm pelemnya…
Review lawung sewu dunk!

Comment by Reno

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 11:18 am

Inilah Martin Scorsese a la Indonesia: Rudi Soedjarwo, karena sama-sama nggak mampu menggarap cerita grandeur tapi menjadi tajam ketika bikin film dengan tema-tema kecil yang simplistik.

Gue nggak setuju dengan penyebutan ‘dangkal’ kecuali bila ‘dangkal’ nggak dikonotasikan negatif oleh para pembaca review SI. Setipis apa sih cerita ‘Shakespeare In Love’ yang menang Best Picture di Oscar? Kurang naif apa cerita tentang nilai persatuan dan kesatuan di ‘The Lords of The Rings’? Tapi kita semua setuju bahwa treatment dan eksekusi di film-film itu berhasil bikin kita nganga saking takjub lantas menerima kebenaran yang sebenernya jauuuuhhh banget dari kehidupan kita. Yang ini Holywood emang jagonya.

Balik ke Rudi, orang ini jago treatment tapi tidak di eksekusi. Well, syuting tujuh hari rasanya bukan style baru tapi sistem yang dibangun produser untuk mengecilkan bujet dan, man… bayangin betapa dimanjanya penonton kalo Cintapuccino atau Pocong 2 kalo dibuat dalam waktu 30 hari (misalnya)? Hey, we’re talking about money you spend for the ticket here. At least Nayato punya kesadaran untuk menghargai duit tiket dengan bikin setting yang manjain mata, gerak kamera yang membuat filmnya jadi larger than life rather than ngasih gambar dinding kamar yang kosong melompong, butik yang seadanya, busana pemain yang seperti properti pribadi, dan make-up Sissy yang nggak mampu nyembunyiin jerawat (atau bekas luka?) di salah satu sisi bibir bawahnya (ngomong-ngomong, di Cintapuccino jerawat Sissy ini nggak ilang-ilang sejak dia SMA sampe mau kawin).

Dan alangkah berpihaknya Rudi terhadap Rahmi sampe-sampe ’sutradara besar’ ini nggak mau susah-susah bikin karakter kesayangannya minta maaf ke dua cowok yang mencintainya setengah mati. Hello? Nggak ada waktu untuk syuting beberapa jam lagi untuk bikin adegan Rahmi minta maaf? Masih bangga dengan keampuhan sistem tujuh hari syuting?

Comment by RAHMI

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 11:54 am

menurut gw film ini lumayanlah…lo ngga terlalu nyesel…adegan2nya punya rasa,ngga kayak film2 kancut nanahan laen yg bikin lo mati rasa…masalahnya cuma pada NIMO..mgkn klo diperanin ma nico saput,tokoh nimo lebih pas…
but it’s rudy’s full-capacity,so we cant expect better than this..
saran gw sich,lo nonton ini klo lagi banyaaaaaaak duit atau dibayarin temen….jadi ga berasa…hehehe…piiiiisssss..

Comment by Indie_ana Jones

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 12:02 pm

Nggak bisa komen, karena blum nontn. Cuman kayaknya si Cintapuccino bukan terbitan gagas media (yup I agree ini memang penerbit grosiran abis, bweh!) tapi Gramedia (eh ini kalo ngga salah, tar d cuba gw cek ke buku temen gw hehehe). Kenapa jadi terkenal dengan cerita yang ringan? karena waktu itu kagi boomimg bangets chicklit2 terbitan gramed, makanya ketika Cintapuccino muncul dengan tagline: chicklit pertama Indonesia, kan jadi banyak yang penasaran (gw si baca gara2 penasaran tapi dapet minjem, males ah beli heheheh) *btw sok tau bangets gitu ya gw, jadi malu, maaf ya*

Comment by fufu

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 12:29 pm

Mood ketika menonton film ini bisa dikatakan naik turun seperti jalan - jalan ke Puncak, ada kalanya asyik banget dan ada kalanya ngeliatin jam terus, kapan selesainya yah. Ekspektasi yang besar membuat film ini terasa garing, menghibur sih, tapi ya cuma itu. Penulisan skenario seharusnya lebih kuat mengingat modal cerita yang lumayan bagus, sedikitpun saya tidak jatuh iba melihat Nimo yang berusaha (semaksimal mungkin) untuk bersedih ria, tapi yang timbul malah pelecehan (banyak yang ketawa melihat akting si Miller ini) Yang paling menyeramkan adalah set dan properti yang suka nggak nyambung kalo ada pergantian scene, ada yang perhatikan nggak yah, di last minutes of the movie, si Nimo kasih hadiah ke Sissy di boutique - nya, nah pada awalnya si Sissy nggak pake kalung, eh, nggak lama setelah kamera selesai kamera mensyut kaset Yana Julio dan beralih lagi ke Rahmi, secara tiba - tiba si Rahmi pake kalung, gila, aku pikir apa si Rahmi bisa sulap dan ada hubungan sodara yah ama si David Copperfield, lebih teliti lagi donk Mas Rudi. Kalo SI bilang Cintapuccino ini belong to TV, ada benarnya, walaupun nggak ada commercial break-nya tapi banyak adegan - adegan yang nggak perlu yang kalo kita tinggalkan ke toilet atau beli popcorn, pasti tetap kita nggak ketinggalan jalan ceritanya. Mudah2an film - film lainnya dengan pengaharapan yang besar yang akan segera tayang nggak lagi mengecewakan, amin.

Btw, Reno is back…hm…I miss you but I hate you Reno…but you are more a little bit wiser now, great.

Comment by yuya

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 12:48 pm

sissy ok, aditya ok, nadia ok, miller nggak banget nget nget
jadi heran kok rahmi bisa terobsesi sm cowok kyk gitu, aksen yang aneh, dan herannya masih aja terngiang2 di kepala gimana nimo ngomong
“ada satu orang yang gw rasa will be the best, namanya apradhita arahmi, alias rahmi, LOE MI…”
loe mi nya itu lho aneh bgt nget nget
terus ditambah adegan ga penting sperti mpok atik, ida kesumah ngrokok.
tapi lumayan menghibur lah
1 bintang gpp

Comment by yawi

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:00 pm

Hi Dod,
Oke-oke aja dgn penilaian Anda terhadap CINTAPUCCINO yg emang kunilai sekaliber FTV (salah satu FTV-nya Rudi, UJANG PANTRY 2), dan betul jg lebih menyentuh novelnya ketimbang filmnya.
Tapi kuharap semoga penilaian Anda thd Rudi berubah naik lg stlh menonton kreasinya terbaru: IN THE NAME OF LOVE or ATAS NAMA CINTA, minimal shooting days-nya aja makan waktu 27 hari katanya! Inilah pertaruhan bagi Rudi, mampukah menyamai, jangankan menumbangkan rekor puncaknya di ADA APA DENGAN CINTA?
Kita tunggu tanggal mainnya di bulan April 2008.

Comment by erfan

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:04 pm

Kenapa novelnya best seller
1. Gaya bahasa yang ok! Cocok untuk anak-anak ABG. Meskipun ceritanya klise tapi Icha mampu menghidupkan dengan bahasa-bahasa dan istilah-istilahnya.
2. Kegigihan Gagas Media dalam pemasaran setiap bukunya. Sehingga buku ini tersedia di hampir semua toko buku.
3. Masyarakat Indonesia sudah banyak yang bosan dengan buku-buku cerita selangkangan karya Djenar M. Ayu, Ayu Utami, dan penulis-penulis yang mengatakan bahwa itu adalah kebebasan dalam berekspresi padahal sudah sangat memuakkan.

Terus jika dibandingkan dengan filmnya
1. Lebih baik baca novelnya (kita tidak perlu dipaksa untuk mengimajinasikan bahwa Miller itu Nimo, Nimo itu Miller)
2. Meskipun demikian untuk pengambilan gambar Rudy lebih ok dari Mengejar Mas2.
3. Dari segi acting… Sissy saja yang gemilang meski lemah di adegan menangis (coba lihat saat Sissy berpelukan dengan Alin) air matanya gak keluar setetes pun. Sedangkan Aditya lumayan untuk film perdana. Tapi Miller? Satu lagi Nadia Saphira tidak bisa keluar dari karakter film-film atau sinetron2 sebelumnya.
4. Setelah diputar 2 minggu film ini sudah turun alias sudah sepi penonton.
5. dari segia acting Dina Olivia dkk lebih ok dan menakjubkan

Demikian…. memang begitu sulit ketika sebuah film diambil dari novel. Ada 2 pilihan bagus dan jelek!
Cintapuccino… Agak bagus dan kurang jelek!!!

Comment by superpippo

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:21 pm

hihihi…reno muncul lagi…=)

yang paling disayangkan dari film ini, selain millernya yang jauhhhhh banget dr bayangan gue tentang nimo setelah baca bukunya (gue ngebayangin nimo lebih seperti robertino jaman dulu, hehe), adalah endingnya yang cukup melenceng dr bukunya…

terlepas dari komen org” yang bilang “kok bisa ya cerita kaya gini jadi best seller? apa semua chicklit kaya gini??” menurut gue, ending bukunya jauh lebih dalem drpd filmnya. setidaknya kita bisa liat pergumulan rahmi menentukan pilihannya, alesan raka kenapa dia mutusin buat pergi sejenak dr hidup rahmi, dan apa sih arti obsesi yang sebenernya…

tapi di filmnya, sayang banget, semuanya ilang. cuman nyisain kelucuan rahmi dan aksen anehnya nimo. lagian, setting bandungnya maksa banget. gue udah ngebayangin bakal ngeliat warung lela, toko yu, the cellar (yang emang jd setting di bukunya), eh taunya yang dikasi liat cuman sekilas” jalan dago dan braga doang. basa-basi syuting 7 hari yah…

anyway…the cinamon’s nya lumayan bikin adem. dan soundtracknya yana julio bolehlah, bawa feel ke jaman smu tahun 90-an awal…

Comment by savatose

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:36 pm

cuma pengen bilang aja sesimpel2nya cerita, kl flow ceritanya atau penggarapannya bagus tetep aja bagus. Pretty woman kurang corny apa coba? tp tetap aja eksekusinya bagus.

Comment by Vico

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 2:35 pm

Rudi cukup beruntung bisa mencapai predikat salah satu sutradara papan atas. Tapi banyak orang bahkan dia sendiri lupa bahwa dia bisa begitu karna orang-orang sekeliling yang tepat. AADC, apa jadinya kalau Rudi dilepas tanpa Mira dan Riri? Mungkin akan jadi kayak cintapuccino (Maksimalnya Rudi tanpa didampingi siapa-siapa).
Bahaya menjadi orang yang egois seperti Rudi adalah merasa jumawa dan menganggap semua bisa dilakukan sendiri. Padahal kalau dia mau berbagi panggung dengan orang-orang yang tepat, karya-karyanya bisa diatas rata-rata.
By the way, Astro TV lagi berkembang tuh. Ngelamar disitu yuk rud.

Comment by revan_hantu

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 5:10 pm

Comment by dony

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 6:25 pm

adoohhh, gara2 cewe gebetan gw maksa2 ngajak nonton film sampah ini..apa dayaku. harusnya minimal 2 kancut. kapok pok pok nonton film indonesia. sinemart, udah deh bikin sinetron ajah. rudy soedjarwo, kapan utang lo lunas so lo bisa mulai bikin film bermutu ?

Comment by deelilahh

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 7:15 pm

guys, yg udah baca novelnya, film ini banyak sekali memotong bagian2 yg penting, yg jstru greget dari critanya.
miller a.k.a mas gondrong kluaran awal 90an dengan logat melayu bercampur tegal yg jauh dr tipikal seorang idola telah sukses merusak film ini.
soal acting, sissy did it very well, but again im strongly agree dgn me review–>lets juz turn on our tv drpd capek2 ke bioskop!

Comment by kenen

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 7:39 pm

tuh kan..
film2 rudy tuh selalu dapat bintang di SI..
dan gw setuju bgt…

ditunggu review LAWANG SEWU..
Pasti kalo ga dapet 4 ya 5 kancut

Comment by Eru

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:02 pm

Ah iya, filmnya not bad utk ukuran film sejenisnya.
Yg penting ada Nadia Saphira! Hehehe…

Comment by NUGROHO

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:27 pm

sundel bolong ya van?
4 Kancut lagi dah…Hanung harus dikasih kancut terus biar di kapok biki nfilm lagi terus hengkang(jahat banget ya gw?)

Film2 nya(kecuali CAS) kancut semua…

Comment by riyo

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:49 pm

1 bintang cukup..tapi overall film ini mengecewakan. pertama baca novelnya bagus, trus kalo dijadiin film imajinasi saya yang bakal main di filmnya Sarah Sechan (Rahmi)- Tora Sudiro (Nimo)- Surya Saputra/Jason Tedjasukmana (Raka)..ternyata yang main biasa ajah. akting sissy oke-lah, yang lain standar, Miler = rusak!!!

Comment by Karina Nurunnisa

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:14 pm

tapi bener bgt.. mnurut gw Miler itu satu2nya cacat di film ini..
tiap kali dia ngomong gw serasa pengen boker..

belajar bhs indo dulu kale sblom maen film..

bikin ilfil..

Comment by tando-wi yahya

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:53 pm

haha novel2 jaman skarang slalu menekankan “pake bhs simpel!”
filmnya “sperti eragon, bnyk adegan pnting ga ditayangin!”

org jaman skarang emg mo nya simpel2 aja!!kalo mo maju baca novel conan doyle ato agatha christie!!!bikin otak muter!!kalo mo yg lbh lg…baca novel mushashi!!jauh lbh pusing drpd smua novel bahkan dan brown skalipun…

Comment by moviefreak

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 1:23 am

Kecewa ama Rudi… dulu salut ama dia yg bikin AADC bisa bangunin lagi film2 Indo yg lama sekarat/koma.. Tapi makin kesini, makin kelihatan kalo dia bukan film maker sejati tapi gk lebih dari para pedagang film lainnya yg gak mikir kualitas, melainkan margin profit!. Buktinya shooting kok tujuh hari?, mestinya bang Rudi mikir kalo kita ke bioskop tuh bayar, gak kayak nonton TV yg gratiss, jd berhak donk kita dapet kualitas film yg lebih dari film2 TV (FTV)..

Gw setuju, dulu AADC tuh hebat karena ada Riri’n Mira, kalo nggak ada mereka ya AADC dulu taste-nya bakal sama kayak Cintapucinno sekarang.. sekelas FTV!.

Gw masi respect sama Riri n Mira karena gw rasa mereka lebih milih gk bikin film samasekali daripada bikin film2 yg tasteless…

Rud, bangun Rud!.

Comment by mimi hitam

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 8:42 am

Aku suka film ini, meski nonton gratisan karena ada program nobar dari kantor…cukup menghibur (entah klo baca novelnya, mungkin lebih bagus ya). Sedikit diatas kelas FTV, karena setting, kostum dan make-upnya lebih baik. Soundtracknya yg dinyanyiin d’cinnamon juga keren bangets…

Comment by crisis_issue

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 9:49 am

Indie_ana_Jones: Cintapuccino, penerbit Gagas Media, ISBN: 979-3600-22-5. Tahun: 2005.

Comment by Sei

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 10:03 am

Emangnya Martin Scorsese mau disuruh syuting 7 hari?

Comment by Kang Jodhi

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 11:11 am

chicklit indonesia ga ada yang selevel the devil wears prada atau bridget jones diary ya? ceritanya kok cuman begitu-begitu aja

btw, mungkinkan peran miller di film ini memang cuman untuk membuat penonton tertawa? ga ada yang istimewa dari pelem ini. tapi seperti banyak penulis comment lainnya, selama ada nadia saphira aku mau mau saja nonton pelem ini.

Comment by pingu

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 12:05 pm

bandingin rudi sujarwo sama soderbergh??
kayanya over-rated dehhhh

” Seorang cowok yang dari SMA sampai dewasa tidak pernah merubah gaya rambutnya is unlikely untuk digilai perempuan ”
hahahah v.v.insightful :D

Comment by guess_

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 12:06 pm

to be honest, gw jauh lebih suka baca novelnya!
1. nimo-nya ancur banget d filmnya!
2. rahmi-nya bego banget d filmnya!
3. raka-nya cuma jadi selingan doang d filmnya!
klo d novelnya tu dgambarin banget ttg hubungan raka-rahmi, bahwa rahmi emang sayang ma raka dan ga smudah itu ninggalin raka buat nimo.. malah d novelnya dceritain bahwa raka-lah yang maksa buat mundur dan ninggalin rahmi.. tp klo d filmnya, smuanya dputer!

Comment by abe

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 3:03 pm

yg nyelametin film ini cuma akting sissy n aktris2 tua itu,,
gue kapok ama rudi sujarwo..
cerita film ini payah..
sound designernya siapa sih?
si rianto rianto itu lagi yah??
goblok banget,,masa setiap mau adegan yang romantis2an udah di spoilerin dulu dg dentingan piano n gitar yg super duper annoying itu..
akting miller? hopeless,,helpless..
akting aditya herpavi jg standar,,tpi mndgn drpd org malay itu..

2/9 bintang d…

Comment by emil

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 4:50 pm

g masi bingung kenapa sistem 7 hari syuting slalu di bangga2in si?? ini bikin film kan?? bukan bikin video klip ato syuting iklan kan?? dimana2 di dunia ini kalo kita mau bikin sesuatu yang bagus harus perlu effort, kerja keras dan waktu. Roma aja ga dibangun dalam waktu 1 hari! (kecuali lo sewa Jin and antek2nya..)

Kalo alasan cliche-nya karena duit, yah.. nyadar deh, ini bikin film kan?? bukan bikin video klip ato syuting iklan kan?? (ECHO)
lo sangka karya lo dianggap hebat karena bisa menyelesaikan karya lo dengan waktu yang singkat?? nggak juga!! Film adalah bagian dari seni, dan dalam dunia seni HASIL AKHIR yang di liat bukan PROSES ato lamanya pembuatan!

Comment by uknee

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 8:07 pm

ehm..novel memang jauh lebih bagus..begini dilemanya film yang diangkat dari novel..untung pas nonton tidak berekspektasi tinggi..

Aktingnya Miller ga banget..siapa sih yg cast dia..apa ga ada yg lain..Bikin drop..kalau adegannya romantis gue selalu berharap dia ga ngomong, habis begitu dia ngomong gue malah ketawa2..jadi romantismenya hilang..Kenapa sih dia ga ngomong dalam bahasa inggris saja atau melayu..trs di kasih running text..lalu dapat dari mana dia kata “lo-gue” yang bikin illfeel itu..kan dari awal juga dibilang dia besar di brunei..dan setting film di bdg..jd harusnya dia membahasakan dirinya “urang-maneh” aja..

D’cinnamonsnya enak..pas sama filmnya..huhuhu..lagu selamanya cinta yana julio juga ok..sayang endingnya agak maksa..banyak hal ptg di buku yg dilewat malah diubah di ending film..ehmm penonton cowok dimanjain sama baju yang dikenakan rahmi..

overall film ini lebih bagus daripada film2 indo lain yang bareng tayangnya sama cintapuccino..

Comment by Scarlett

Made Friday, 21 of September , 2007 at 9:19 am

Hmm…mungkin masalah beda selera, meski banyak yg bilang novel Cintapuccino bagus, gw bilang novelnya tuh ngebosenin bgt…ceritanya datar2 aja tuh, krn ogah rugi aja gw maksain diri supaya bisa survive baca novelnya sampe habis =P

Cukup kaget juga tiba2 Cintapuccino yang ringan n datar bgt bs diangkat jd film bioskop…lebih kaget lagi setelah direview SI bisa dapet bintang!? =P

Sekali lagi ini mungkin hanya masalah beda selera…hehehe

Comment by diori

Made Friday, 21 of September , 2007 at 12:56 pm

i love this movie, better dibanding Maaf Saya Menghamili Istri Anda. ringan dan bikin penasaran kelanjutannya apa, sayang si miller ngerusak sosok NIMO

Comment by mya

Made Friday, 21 of September , 2007 at 8:15 pm

btw,,kenapa sih harus ada scene mpok atik?!

Comment by KRK

Made Saturday, 22 of September , 2007 at 11:31 pm

kayaknya semua chick-litoris, teen-litoris gak ada yang bermutu deh
jadi bisa dipastikan film ini gak bagus!

lolz

Comment by dian irawan

Made Monday, 24 of September , 2007 at 8:15 am

satu kata yang terus menerus keluar dari mulut temen aq saat nonton film ini… ‘gak banget deh’
orang dungu kayak miller kok bisa2nya dipake…
produk lokal jauh lebih baik Rud…
enyah miller dari perfilman indonesia!!!

Comment by bubbydee

Made Monday, 24 of September , 2007 at 10:32 am

haduh,, udah terpisah belasan kursi sm temen,, dpt kursi ujung pojok bawah,, malah gak dapet hiburan
yg ada malah pgn cepet2 owt dr bios
kok rudi kepikir buat pake miller seh?

Comment by dc

Made Monday, 24 of September , 2007 at 12:07 pm

belum liat pelemnya karna emang belum masuk bali..Napa ya film2 indo suka telat masuk sini…
ttg rudi gue stuju… ayo dong bikin film yang serius lagi..
kangen ama film2 rudi yang selevel AADC, mengejar matahari, 9 naga ampe yang ttg dia

Comment by lene

Made Monday, 24 of September , 2007 at 12:39 pm

banyak sebenernya film Rudy yg dapet ancut,tapi kenapa gak kena- kena yah?
kasusnya sama ama MenDut nih

Comment by candra

Made Monday, 24 of September , 2007 at 12:59 pm

yap setuju banget kalo ini film cocoknya di FTV aja. tapi masa Rudi Sudjarwo cuman FTV? dan masa Rudi Sudjarwo cuman sebatas FTV? kayanya doi bisa jauh lebih baik dari ’sekedar’ FTV deh.

pertama soal casting. sissy dan aditya oke banget! tapi sayang dari tampang kayanya sissy terlalu muda untuk kawin, kecuali kalo emang ceritanya dia kawin muda. gpp lah yang penting enak dipandang.. nadia biasa aja. miller? 5 kancut! mendingan diganti aja deh. kalo ga salah harusnya rambutnya ga seaneh itu deh. jadi kayanya yang sukses besar cuman aditya dan cameo2nya.

kedua ceritanya. kalo emang di bukunya udah kaya gitu, kayanya kita gak bisa terlalu complain deh.

sound dan scoring sangat annoying. masa hampir tiap scene ada musik yang itu2 mulu. “andaikan ku dapat, mengungkapkan perasaanku…” kayak gak ada scoring lain. cuman dari band baru bernama d’cinnamons.

tapi ada satu scene dimana lagunya berasa pas banget. yaitu pas raka dan rahmi di resto dan berlatar suara “aku cinta kau dan dia”-nya ahmad dhani. pas!! tapi lagunya fade out pada saat tak tepat. nge-drop deh

Comment by steve bay

Made Monday, 24 of September , 2007 at 1:41 pm

Gw dah baca novel plus skalian dah nonton filmnya,,
Emang dimana-mana pasti susah bwt mengimplementasikan sebuah novel (chick lit) menjadi sebuah film yg secara emosi sama dgn apa yg udah kita baca (ini bkn pembelaan bwt mas rudy s yach).
Dan satu lagi hal yg musti diperhatiin klo dah baca novelnya (chick lit), blm tentu d filmnya qta nemuin hal yg sama ma d novel, toh hollywood aja gt,,
Gw nonton dgn antusiasme rendah,coz gw dah skeptis ma per-film-an indonesia,,
Film dibuka dgn narasi,,gw lgsg antusias lg,,gw suka bgt klo film ada narasinya (subyektif nich),,
eh..kebelakang dgn dialog” yg panjang, kamera handheld (rudy bgt), beberapa chemistry yg kurang antar pemain dan u know ‘miller’..
alhasil sampe selesai adegan flashback gw berhasil tidur - tidur kucing dan bangun bgt pas adegan rahmi ma raka d hotel nyari tempat bwt resepsi pernikahan mereka,,
key..
1. overall film ini menarik, TAPI ga semenarik emosi seperti novelnya
2. Mana chemistry rahmi dan nimo??
3. gw b’harap klo d pandu narasi taw seperti diary gt mungkin bs tertolong..
4. kali ini gw ga setuju ma SI yg ngasih 1 bintang,,gw b’harap 1 kancut,,sorry film ini dr perpektif gw blm layak 1 bintang..
5. mungkin klo ada dvd nya nanti gw ttp beli,,lmyn bwt rembesan k kantor..
gw mungkin suatu hari jg akan d review d SI,,hehehe..doa in yach..

Comment by steve bay

Made Monday, 24 of September , 2007 at 1:46 pm

Tamabahan :
6. kelupaan maaf; salut bet penata musiknya,,ibaratnya gula d kopi pas bgt..

Comment by future filmmaker

Made Monday, 24 of September , 2007 at 4:01 pm

mungkin rudi sengaja memasukkan miler supaya ada unsur yg bisa ditertawakan oleh penonton.

Comment by jingga

Made Monday, 24 of September , 2007 at 8:40 pm

Emang engga diragukan kapasitas rudi dalam membuat film, tapi kadang manusia kan juga bisa khilaf, bukan orang yang sempurna yang selalu melakukan sesuatu dengan tepat di tempatnya..
Soal cerita, seperti kecurigaan gue sebelum nonton film ini, ceritannya pasti dangkal banget, yah secara yang diangkat dari novel ciklit. Novel yang sampai sekarang masih belum pernah gue baca. Tahu istilah ciklit juga dari emi yang doyan banget baca novel sejenis ini. Kalo soal isi cerita gue masih berpihak pada SANG DEWI ( yang sangat gue sayangkan penulisan skenarionya ). Sayang aja gabungan Jujur Prananto dan Rudi tidak membuat film ini lebih baik. Casting buat nemo bener2 ancur ya.. ( tapi kata produsernya justru dia yang paling tepat karena tidak merasa ganteng, helloooo, sebaiknya bali ke malay aja deh itu orang.. bikin rusuk film kita aja..) kalo buat tokoh yang lain oke lah.. terutama Sissy, yang enjoy banget memainkan tokoh ini. Adit juga lumayan sebagai new comer. Pok atiek bener2 ga penting tuh…!!!
Balik lagi ke soal cerita, walaupun gue belom baca bukunya, tapi eksekusi ending sangat mengecewakan. Bikin opini cerita dangkal lebih tinggi lagi… kok jadi gitu ya? Cuma gitu doang? Yah… ( penonton kecewa, kembalikan uang kami!!!! )

Trus soal lagu yang mengiringi film ini, gue setujulah sama lagu2nya Yana Yulio, tapp ya engga setiap adegan mesti ada lagu toh? Kenapa penonton tidak dianggap cerdas ntuk menangkap makna dari setiap adegan sih ?mengarahkan emosi penonton melalui iringan lagu? Ohhh tidakkkkkk!!!! Rudi… tolongggggg…. Perasaan AADC engga gitu deh dulu.

Yang bikin gue mau nonton film ini ya karena rudi dan sissy,untuk itu..bintang 1 mmmm boleh lah…

Comment by maruko

Made Tuesday, 25 of September , 2007 at 12:15 am

buat temen2 yang memberikan komentar berdasarkan penilaian hati pribadi terhadap si artis.. what ever lah ya.. sok atuh!bebas keun!terserah pendapat org2 aj!tp bagi gw itu udh ad tambahan unsur X, (ya.. pada dasarnya emng elo ga suka ma tu org, ya kyk BELLA BELLA itu deh di BBB, setelah gw liat beberapa comment dari tmn2 yang lebih memfokuskan kebencian terhadap pemainnya)bukan kritik terhadap filmnya(ya..ada siyh beberapa..yg cukup kompeten di blg sebagai sebuah comment yg pantas).
gw stuju banget tuh ma SI. emng ni rudy agak2 susah ditebak. tapi setelah gw nonton semua film2nya dari mulai Bintang jatuh ( itu tuh.. yang lighting nya msh kancrut bgt!(gila aja… ga di cutter apah?) emang standar rudy cuma segitu!gw stuju dgn SI!! ini pantesnya buat TV bukan Film bioskop.ya.. buat naikin standar sineron eh..sinetron di indonesia oke banget tuh!coba kita lihat lagi yang 2 film nya ( AADC, dan Mengejar Matahari). ya iyalah masih bagus! yg back_upin doi masih org2 keren!kyk Arya Teja, dkk. beda bgt ma film2nya belakang ini. yang semua divisi di hajar ma doi. mulai dari sutradara, dop, sampe Editor juga masih rudy! bagi2 rezeki kalee bwt para editor dan DOP!hehehe…
ni film ide ceritanya bagus! tapi sayang penyutradaraannya KURANG BANGET!!masih bagusan karya ( lebih kepenyutradaraan yah!) tugas akhir (TA) anak2 yang kuliah di sinematrografi deh.. uups!
huhuhuhuhu.. maap yah.. :) ..

Comment by hyoutan

Made Friday, 28 of September , 2007 at 12:00 am

Penokohan Nimo menjadi mellow ala melayu dan imut-imut pula begitu, ternyata tidak separah yang aku duga. Masih bisa aku terima sebagai “logika dalam”: yah maklumlah, siapa sangka logat norak menyedihkan begitu memang selera si Rahmi bloon itu, misalnya.
Banyak kok teknik perfilman yang mampu mengangkat sosok keren seseorang dengan kemampuan akting pas-pasan, hanya dengan membuatnya menyunggingkan ujung bibir, memiringkan kepala, berbicara cukup sepatah dua patah kata, sudah dapat memberikan kesan misterius yang mempesona. Film China all stars biasanya bisa begitu.

Yang paling parah di sana adalah kegagalan naskah skenario mengadaptasi wacana yang secara samar-samar timbul dalam karya ini.
Setidaknya, di dalam novel tergambarkan bagaimana obsesi seorang ‘Rahmi’ menjadikan seorang ‘Nimo’, seperti apa pun dia, sebagai “raison d’etre”nya. Rahmi tidak hanya mengimpikan Nimo dalam catatan harian berwarna pelangi yang terkunci rapi. Dia aktif bergerak maju dengan berusaha membuka kesempatannya sendiri: berjuang ‘menguntit’ Nimo masuk ekskul yang sama, terus kuliah di kampus yang sama, sampai kerja ke perusahaan yang sama segala…

Walaupun ujung-ujungnya, gara-gara selalu grogi dan salah tingkah, ia tidak pernah sanggup memanfaatkan kesempatan yang telah terbuka itu untuk berkenalan lebih dekat, dalam satu sisi hal tersebut positif, mendorongnya mengembangkan diri ke satu tujuan hidup.

Sampai suatu saat, berkat kehadiran Raka baik secara langsung maupun tidak langsung, Rahmi tersadar bahwa dia harus mulai menentukan jati diri, bukan sekadar menjiplak jalan hidup orang yang dikaguminya. Ia berbalik arah. Dan mungkin keputusan itulah justru hal yang membuat seorang Nimo mulai memperhitungkan Rahmi.

Alur seperti itu tidak diwujudkan dalam skenario film, entah terlewatkan, atau memang disengaja demi pembodohan bangsa.
Adegan-adegan sia-sia yang disorot seakan mengesankan bahwa apa yang terjadi pada diri Rahmi semuanya taken for granted. Dia hanya merokok demi menghindari konflik. Satu-satunya yang dia lakukan hanyalah ketika menggenjot gas mobil mencari toko surabi. Tali pengikat cerita film ini kok ya malah jadi surabi, bukan kopi. Filosofi mantap yang diajukan mengenai manis pahitnya cappuccino, pun tidak disinggung dengan tepat. Kalau begitu judulnya jangan cinTapuccino, tapi Serba-Serbi Surabi saja!

Sebenarnya banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh sutradara dalam bingkai cerita sederhana ini untuk menjadikannya film yang bernas.
= Para- (atau pseudo-?) Stockholm Syndrome yang mungkin menjangkiti Rahmi (selain nimonyous kronis) akibat keikutsertaan di ‘Ekskul keamanan’…
= Bagaimana para tokoh melampaui masa di antara keremajaan dan kedewasaan mereka, tonggak sejarah Indonesia, krismon, reformasi…
= Memanfaatkan latar distro untuk membuat sebuah ‘fashion statement’ yang tegas seputar visi dan misi di balik judul ‘Barbietch’ itu, dan dengannya mencetuskan sebuah trend mode baru.

Comment by duuh filem indonesia ??

Made Monday, 1 of October , 2007 at 9:52 pm

jujur aja ni pertama kali gw berhubungan dengan yg namanya cintapucino. ce gw si pernah ngomong klo novelnya bagus. een walhasil gw pnasaran ma ni filem.tapiii setelah gw nonton. gila !! 5 menit pertama aj dah mulai bosen, dan menit2 berikut diisi dengan rasa kantuk yg berlebihan akibat garingnya ni film.mana akting si mas gondrong tu aneh lagi ckckck serius ! rudi sujarwo?? cum on! i know u can do better than diz !!

Comment by PurpleGirl

Made Tuesday, 2 of October , 2007 at 9:30 am

Cintapucinno… not bad… lmyn menghibur… OST nya keren…
yg seru dari nonton film ini… g nonton brg ma tmn2 cewek g yg bikin film ini jadi seruu!! adegan romantis bisa jd ajang ceng2an kita satu sama lain… mungkin krn Miler “Nimo” itu ya.. yg bikin suasana romantis nya jadi maksaaa bgt… ;) ) tp the rest is lmyn menghibur.

Comment by dony

Made Wednesday, 3 of October , 2007 at 11:09 pm

denger2, the best movie di bali international film festival 2007 yg baru berakhir minggu lalu adalah coklat stroberi. hah ? hah ? koq bisa ? ini festival film apaan ? jurinya sapa ?

Comment by persis

Made Thursday, 4 of October , 2007 at 12:44 am

rudi jika di malaysia dia adalah aziz m.osman.
bukan x mampu hasil karya yang baik tapi mungkin kerana butuh wang yg sgt byk utk bikin filem sehebat “saving private ryan” jd apa saja yg boleh dtg kn duit akan on je hehu… :)

Comment by i_am_gue

Made Thursday, 4 of October , 2007 at 2:32 pm

Ya ampun ni film sampah bgt. Miler jd bhn ketawa ngakak ampe gw terpipis2, sissy overacting bgt, raka ky robot ga beremosi. Maksudnya pgn nampilin karakter sesuai novel, tp yg ada smua jd serba dangkal. Mana ada org umur 27an tampangnya ky gt? Ga pantes bgt. Smua dr film ini buruk kecuali lagu2 dr d’cinnamons. Gw & tmn2 gw yg baca bukunya dah stuju mestinya yg jd Rahmi = marcella zalianti/dinna olivia, Nimo = fahri albar/gary iskak, Raka siapa kek yg bs akting! Duh kacau berat, ky keabisan talenta lokal aja sih make miler yg ky org cacat mental gt.

Comment by yosi

Made Friday, 5 of October , 2007 at 7:50 am

dr awal, dah byk yg kecewa atas pemilihan cast nya…
tampaknya teh icha tak berdaya saat “diperkosa” hak2nya sbg pengarang novel itu oleh produser2 sinemart, shg mengalah aja saat disodorin cast nya yg SANGAT SINETRON BGT !!!!
Padahal, di milis,teh icha pernah mintain saran, siapa aja seleb yg dianggap MAMPU utk meranin tiap tokoh dlm novel itu….
Tp rupanya, keputusan final ada ditangan paduka produser yg mulia….

walhasil, spt apa yg telah kita ketahui bersama, filmnya JEBLOK di pasaran… expectasi penonton akan mendapatkan produk film bermutu enyah seketika begitu melihat “kualitas” akting tiap pemain…

aditia herpavi, terlihat spt tokoh yg peragu dan pengalah, (pdhl di novelnya kan lumayan pny fighting spirit utk mempertahankan rahmi…)
nadia saphira, oh come on, knp hrs dia? semua expresi nya datar,sangat standar!
sissy priscillia, gak bs diblg ok, tp juga ga bs dibilang buruk, yah, so so laaaah …
miller, oh please? bnr bgt kalo diforum ada byk yg menghujat dia! mulai dr style rambut yg ga berubah2 dari zaman SMA sampe jd Esmud, aksen Malay nya yg over expose, dll…

Ksimpulan nya, cukuplah sampe disini bagi pelaku2 industri perfilman didikte kemauan produser!
You orang pny kredibilitas, kreatifitas, dll… So use it utk menekan produser itu agar tdk berbuat seenak udel mrk…
Teh icha juga kan pny HAK VETO utk menolak tokoh2 cast yg diingini produser, bkn malah meng-amini nya, secara teteh yg pny “hak cipta” tuh cerita … (sorry teh, no offense ya?)
mencontoh bang deddy mizwar, yg menjungkirbalikkan stigma ttg “rating” dan kemauan produser… beliau justru melawan arus,dgn membuat sesuatu yg rada beda ditengah gempuran film2 horor yg lagi mewabah… tp nagabonar jadi2 malah fenomenal kan ?

jadi, g setuju2 aja sama ulasan Dody MAhendra di sinema-indonesia.com ini…
krn apa yg diulas emg kenyataan kok, jd knp hrs marah atau tersinggung ?

buat teh icha, comment donk, kok film yg diadaptasi dr novelnya dihujat, tp teteh malah menenggelemkan diri dlm kebisuan?

Comment by lunamayat

Made Friday, 5 of October , 2007 at 5:41 pm

@i_am_gue
bo… masa iya marcella lo bilang mending ??
bo.. lu udah nonton brownies belom seh ??
tapi gpp selera & pendapat orang kan beda beda ya..
tapi kalo gue boleh mengemukakan pendapat gue
MENDINGAN SISSY KEMANE MANE KALEE DIBANDENG MARCELLA…

Comment by dc

Made Saturday, 6 of October , 2007 at 8:05 am

yaaaaaaaa kecewa ama biffest kmr masa yang win coklat straw itu, arya weda gimana nihhh

Comment by nah lho

Made Monday, 8 of October , 2007 at 2:37 pm

makasih ya buat Nanda Melanie dan Michael Johani buat komen2 nya dan telah bersusah payah membuat SI. Meskipun itu masih nama samaran mereka (bayar secara cash lewat account us) tapi ya sebentar lagi kita akan tahu siapa mereka sebenarnya dan SI akan benar-benar menjadi salah satu kritikus film yang jujur dan bisa diandalkan. Karena memang ulasannya selama ini cukup bagus tapi sayang mereka seperti lempar batu sembunyi tangan. Takutnya hanya untuk kepentingan pribadi… Dan kalau temen2 jg mau tahu Michael Johani bisa juga membeli skenario dan catatan pinggir Janji Joni karena Michael Johani lah pengarangnya… Makasih-makasih-makasih….

Comment by nah lho

Made Monday, 8 of October , 2007 at 4:45 pm

Michael Johani dan Nanda Melanie kok gitu? Masak kritikus tapi cuma cari selamet. Ya ampuuuun kalian kok nggak ada bedanya sm film2 yg kalian kasih kancut!!! nanti kita beli bukunya Janji Joni deh atau mungkin kita tanya ke penerbitnya karena kita ngefans berat jd pingin tau siapa sih nama kalian sebenarnya… Bentar lagi ya teman-teman, kita pasti tahu siapa mereka sebenarnya!!!! thx ya… Jangan di ban lagi yaaaaa… ma’acih…

Comment by baru ntn kuntilanak2

Made Wednesday, 10 of October , 2007 at 4:06 pm

td w br ja ntn kuntilanak2. tagline berbunyi bahwa “semua orang memiliki sisi gelap”.bener bgt tu tagline. w rasa ini sisi gelap seorang rizal mantovani. kalau dia bikin film kayak gini lagi, dia g bakal punya sisi terang dalam hidupnya.DIJAMIN!

Comment by indra

Made Wednesday, 10 of October , 2007 at 4:40 pm

wooii…. SI bkn review film2 baru napa?? kmn aja sih?? mudik ya?? kok slm puasa ga bkn review film2 baru?? banyak tuh film2 indonesia yg kelak akan berating sempak lg berjejer

Comment by nuk me too

Made Friday, 12 of October , 2007 at 7:31 am

well makanya ga cocok dah aktor malay maen pelm indo jadinyaaa ancurrr kocaknya hooohho

Comment by mahendra

Made Saturday, 13 of October , 2007 at 6:19 am

ga kebayang kalo kalian bikin sinetron-indonesia.com. apa jadinya ya??! he he he

Comment by der shinobi

Made Saturday, 13 of October , 2007 at 9:54 pm

duwh penasaran deh gimana si ngereview film hanung yg baru get married

Comment by nono

Made Tuesday, 16 of October , 2007 at 10:12 am

mas SI kpn nih review film trbrnya indo tanjak jelangkung 3, kuntilanak 2, pocong 3, get married atau yang lainnya? tdk sbr mo liat reviewnya dl sblm nntn

Comment by Aveline Agrippina

Made Tuesday, 16 of October , 2007 at 1:13 pm

Ya sudahlah….

Comment by aji

Made Tuesday, 16 of October , 2007 at 3:05 pm

mana review barunya niii??

Comment by mba-mba-dan-mas-mas-yang-budiman

Made Tuesday, 16 of October , 2007 at 10:37 pm

mba-mba dan mas-mas yang baik budiman, aku boleh minta review bwat jelangkung 3,
get married
kuntilanak
dan pocong 3 ga?

immediately,
agar aku ga buang2 uang puluhan ribu untuk film yang tidak bermutu tinggi

tx before

Comment by apatis_vian

Made Wednesday, 17 of October , 2007 at 11:24 am

mana nih review baruna…..????

btw, w tertarik tuh dengan missing review….tapi mo leave comment disitu kok gakk bisa ya…

gw punya 2 review film yang blom di review SI…mudah2an di tampilin ye….. sekaliin nungguin review baru dari SI…. ;p

posting disini aja kali ya….soaln6ya mo kirim lewat imail…imail gw lagi error…

TEROWONGAN CASABLANCA ( Kuntilanak Merah )

Jika anda mengira terowongan Casablanca adalah sebuah film horror, Anda salah besar. Ini bukanlah film horror, ini adalah film porno murahan ( film porno kelas B bahasa gaulnya, “B” yang berarti busuk) dengan bonus setan menyeramkan yang akan membuat Anda tertawa terbahak-bahak di bioskop.

Ceritanya Astari ( dimainkan dengan sangat mengenaskan oleh Asha Shara) dihamili oleh pacarnya yang bodoh bernama Refa ( debut menyedihkan dari Nino Fernandez). Bodoh tentu saja karena ia mau-maunya menghamili cewek yang melihat wajahnya saja membuat pria langsung impoten. Refa tidak mau bertanggung jawab dan berniat menggugurkan secara paksa kandungan Astari. Astari kemudian dibunuh dan ia menjadi kuntilanak merah ( kuntilanak yang tidak konsisten tepatnya… kadang merah, kadang enggak, mungkin itu disesuaikan dengan jadwal menstruasi Astari). Astari kemudian balas dendam dan membunuh satu-persatu teman Refa. Lalu kemudian munculah hero bernama Ki Joko Bodoh ( Saya yakin, saya nggak salah ketik nama nya kok) yang melakukan ritual untuk mengembalikan kuntilanak-yang-kadang-merah-kadang-enggak itu supaya jadi manusia biasa lagi. Astari kemudian jadi orang lagi, dan Refa gila, kemudian film habis. Kalau lantas Anda tanya, Terus mana dong cerita tentang terowongan Casablanca nya? Bukannya judulnya Terowongan Casablanca? Mana? Mana? Mana? Silahkan temukan sendiri jawabannya di neraka…

Asha Shara memerankan Astari dengan meyakinkan. Sebagai bukti, Anda harus lihat ekspresi ‘keenakan’ yang sangat meyakinkan dari Asha pada saat sex scene yang benar-banar vulgar waktu ia diperkosa oleh Nino fernadez. Lho bukannya kalo diperkosa ekspresinya harus kelihatan tersiksa bukannya malah ‘keenakan’? Saya tidak bisa jawab dengan pasti, tapi saya yakin kalau juri FFI masih sama seperti tahun lalu, Asha dipastikan akan menyabet gelar aktris terbaik FFI 2007 untuk ekspresi ‘keenakan’ nya yang brilian itu. Belum lagi adegan waktu Asha ingin membunuh salah satu teman Refa di kolam renang. Ingin melihat kuntilanak yang bisa berenang dan kelihatan jelas menahan nafas dalam air? Tontonlah segera film horror rongsokan satu ini…

Dan Jangan dulu berniat untuk menyantet koya pagayo, karena Nanang Istiabudi ( the king of crime for this movie) ternyata 666x lebih busuk dari Koya. Sebagai filmmaker,Koya setidaknya punya style dalam menggarap filmnya ( walaupun style-nya koya style kelas B, “B” yang berarti Bangkai). Ternyata sejuta kebodohan waktu nanang menyutradarai Rumah Pondok Indah, bukan saja diulangi di film ini, tapi dilipat gandakan, membuat penonton serasa mendapat Jackpot berupa ribuan telur busuk yang mau tidak mau harus ditelan waktu menontonnya, dan membuat terowongan sepertinya dibuat oleh orang yang tidak saja buta dan tuli, tapi juga idiot level tinggi.

Bahkan seperti biasa, dalam promosi nya untuk film ini, “best horror produser” Shanker, cari sensasi dengan mengorbankan dua crew nya sampai cidera luar biasa karena tertimpa baling-baling helikopter waktu men-shoot adegan kuntilanak-yang-kadang-merah-kadang-enggak itu terbang. Shanker menyebut itu sebagai kejadian tidak masuk akal alias mistis. Dan lagi-lagi Shanker mengira ide nya itu brilian. Tapi siapa sih yang nggak tahu akal-akalan dia? Kenapa nggak sekalian aja buat sensasi dengan menyebarkan issu hubungan romantis Nino Fernandez dengan Ki Joko Bodoh? Saya rasa itu jauh lebih berkelas dan lebih trendy…

Ahirnya saya pulang dari bioskop dengan satu pertanyaan di kepala. Apa sebenarnya tujuan Indika membuat film itu. Saya terus memikirkan dan belum juga menemukan jawabannya sampai tanpa sadar saya telah berada di kuningan dan beberapa meter di depan saya sudah tampak jelas terowongan Casablanca.
Saya langsung teringat tagline film itu “klakson 3x, sebelum lewat” sayapun sengaja memperlambat kendaraan saya, dan membunyikian klakson 3x seperti yang dianjurkan di film itu.
“ Tin…tiiiin….tiiinnnnn….” Mungkin saya akan menemukan jawabannya. Tidak lama kemudian sesuatu terjadi. Beberapa sosok terlihat berjalan kearah kendaraan saya. Saya merinding, setelah dekat barulah terlihat jelas siapa mereka dan membuat saya tambah merinding ketakutan. Saya langsung tancap gas. Sialllllllll…. Ternyata barulah saya tahu tujuan film sialan ini dan rahasia dibalik tagline-nya. Produser film ini ternyata bekerjasama dengan jablay BANCI. Pantes banci-banci di sekitar terowongan Casablanca sekarang kelihatan makmur dan tambah laku. HARD ROCK?…cafeeeeeee deeeeeeeeeeeh….

TEROWONGAN CASABLANCA: 5 kancut
LANTAI 13

“…Cuma butuh satu film yang busuk dari Helfi CH Kardit (Bangku kosong) untuk membuat film horror yang lebih baik dari segala aspek!” (yg mana di film lantai13 ini Helfi membuang kata “CH” ditengah namanya menjadi “helfi kardit” doang) , tapi sepertinya hal itu terbukti sangat manjur untuk buang sial…
Mungkin koya Pagayo juga harus mencobanya supaya film-film horror selanjutnya tidak lagi nyampah. “Ko GAY Yo” sepertinya cocok…

Luna (Widi Mulya, AB-Three) mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan. Ditemani Rafael (Aryo Wahab), pacarnya, Luna mendatangi perusahaan tersebut. Sesanpainya disana, ia diantar sekertaris kantor bernama Laras (Virnie Ismail), menuju lantai 13, tempat wawancara berlangsung. Luna mulai mengalami kejadian aneh ketika berada di lantai itu, apalagi setelah bertemu direktur bernama Albert (Lukman Hakim) yang sepertinya menyembunyikan suatu rahasia. Luna akhirnya diterima di perusahaan itu dan dimulailah kejadian-kejadian aneh dan menyeramkan yang menghantuinya yang selalu berhubungan dengan lantai 13 dan hantu perempuan yang menghuni lantai tersebut yang klimaks misterinya yang menghubungkan tokoh-tokoh itu akan terungkap diakhir film.

Sungguh unpredictable Helfi bisa menghadirkan cerita dari mitos yang memang sudah seharusnya menarik ini menjadi film horror yang sangat menarik. Tidak seperti film horror sampah lainnya yang hanya mengandalkan nama besar “urban legend” tapi ceritanya dibuat asal jadi dan amburadul. Skenario film ini sepertinya dipikirkan dengan lumayan matang. Background sang hantu pun masih dapat dipertanggung jawabkan di ahir cerita walaupun jujur agak klise. Helfi sepertinya benar-benar belajar dari setiap kesalahan –dan kebodohan- di film bangku kosong dan memperbaikinya dengan total di film ini. Yaaa…..walaupun hasilnya juga gak bagus2 amat. Tapi seenggaknya membuat Lantai 13 jauh lebih ber-otak dibanding saat otak Helfi masih kosong waktu menggarap bangku kosong.

Adegan-adegan horrornya diatur oleh Helfi dengan ciamik. Dengan durasi yang hampir dua jam, agak bikin bete juga sih, khususnya untuk adegan super nggak penting tentang hubungan asmara Luna dan Rafael yang harusnya di cut abis-abisan karena sumpah…nggak penting banget seh lo Hell!(helfi). Tapi karena adegan horrornya –sekali lagi- LUMAYAN kreatif kayaknya hal itu termaafkan . Tunggu sampe Anda lihat adegan ibu2 bermuka seram -sumpah Saya nggak tahu namanya- di tangga darurat yang dengar suara langkah kaki dari atas tangga, sebenernya adegan kayak gini udah lumayan sering di film horror, tapi karena Helfi membuatnya dengan lumayan ( once again, I said that) kreatif jadinya lumayan memorable. Sosok hantu yang ditampilkan juga sangat menyeramkan. Please jangan coba-coba bandingkan hantu di lantai 13 dengan suster ngesot lia waode, kuntilanak, kuntilanak cassablanca, atau pastur jeruk purut , karena hantu-hantu itu cuma buat gue muntah dan tertawa geli bukannya malah ketakutan. Sosok hantu Laras di film ini benar-benar menyeramkan sebagai sosok hantu utama.

Asahan acting di dunia teater membuat akting Widi Mulya lumayan bagus, walaupun ekspresi ketakutannya setiap mendengar kata “lantai 13” bikin saya muak. Ibu hamil yang duduk disamping saya saja sampai mengelus perut nya berkali-kali sambil bilang “amit-amit cabang bayi” setiap melihat ekspresi aneh Widi itu. Ario Wahab berakting standar, kalau nggak mau dibilang kurang. Karakternya benar-benar kelihatan jelas hanya sebagai pelengkap alias tempelan semata. Seolah-olah karakter seorang fotografer itu sangat dipaksakan dihadirkan oleh Helfi dan terlebih lagi dibuat sangat mirip dengan tokoh Tun dalam film horror terbaik sepanjang masa dari Thailand Shutter (2004) . Belum, Helfi… film mu belum se jenius Shutter! Acungan jempol justru ditujukan untuk kemunculan Dawiya Zaida dan Ivy Batuta sebagai dua teman Luna yang moment-moment lucu nya menurut Saya sangat kickass dan ‘dapet banget’…

Overall, Saya suka dengan film ini dengan segala kekurangannya. Sekali lagi biarpun gak suka-suka banget juga sih. Tapi terus terang Saya jarang banget keluar dari bioskop setelah nonton film horror indonesia terlibat perbincangan yang lumayan positif ngebahas tentang keseluruhan film ini dengan teman Saya. Seringnya sih cekikan membahas adegan dan ceritanya yang bodoh atau langsung forget it as soon as possible! begitu keluar dari bioskop karena takut kalau cerita busuk film horror itu dapat meracuni otak Saya yang cerdas. Tapi tidak untuk Lantai 13. Terus terang, Saya yang selalu apatis sama film indonesia, suka dan lumayan bangga dengan film horror satu ini….

Terlepas dari Cameo Irwansyah dan Maia Ahmad yang sangat merusak ke-menarik-an film ini dan adegan terakhir suara hantu Laras yang ngoceh kayak nenek-nenek nasehatin sang penjahat yang langsung bikin Saya “turn off” banget. Saya sangat menyayangkan kenapa adegan itu harus ada, tapi dimaafkanlah…Bravo untuk Helfi dan otak nya yang kini telah terisi…( not ‘empty’ like ‘empty chair’ anymore ;p

Peace…
LANTAI 13: 2Bintang

Comment by Mandy

Made Wednesday, 17 of October , 2007 at 5:30 pm

gw setuju sama pOe , kyknya ending nya keburu buru bgt deh, kyknya mas rudi emg pgn nonjolin adegan depan'’nya, yg pas obsesi'’ si rahmi itu, tapi … apa ya yg kurang ? kyknya film nya kurang nampol aja gtu, rada meleset dr bukunya . tp gak brarti mesti dikasih 1 bintang jg doong ? mnurut gw ini film masih termasuk bagus lah, masih cocok dpt 3 bintang. trus gw ngebenerin aja, novelnya best seller karena emang baguuusss bgt ! buat lo yg nonton filmnya doang, mungkin emg bilang ‘kok bisa ya best seller ?’ , coba deh lo baca novelnya, pd dasarnya novelnya bagus ko, tp gatau knp filmnya sedikit ngecewain . kurang puas nih . pdhal dr dlu gw nunggu'’ buku ini di film-in. huhu
soal Miller, emg sih tanda tanya jg , knp mesti dia yg jd nimo ? aksen nya jg ga bgt . gw bingung ama cast skrg, bnyk artis yg indo/org luar indonesia yg aksennya gak terlalu bagus, tp bisa jd peran bagus ! kyknya modalin tampang bgt sih , contohnya kyk Mike Lewis, Cinta Laura, aduuh geli bgt gw denger mrk ngomong, jual tampang bgt !. Tp emang sih mrk ganteng&cantik . tp tolong dipertimbangkanlah ..
Btw, Miller emang ganteng looooh ! Hehe, jgn liat kekurangannya aja dong, kelebihannya jg ! :p

Comment by TQ

Made Thursday, 18 of October , 2007 at 8:44 am

SI….
Sori ga komenin Cintapuccino. Tapi gw dah nunggu2 komen2 Film2 Season Lebaran neh……. kan banyak n berendeng tuh…. KOmenin dunk… komenin.
Kalian ke Desa lagi ya? Ato masih mudikz. hiks.

Comment by YudythBastian

Made Thursday, 18 of October , 2007 at 4:15 pm

Ge Marriednya di tunggu lho.

Comment by simungilucu

Made Thursday, 18 of October , 2007 at 4:29 pm

Next revieeww nya plisss…lama nih sinema indo sekarang nge upload review film2 baru

Comment by Donna Pincipoti

Made Friday, 19 of October , 2007 at 9:41 am

SI balik donkkk…, ayo mudik, cepet tuh ke bioskop nge-review pilem baru lagi. Buset deh tuh bioskop semuanya pilem indonesia, mana nih sinema indonesanyaaa….ai mis yu gais…:-))

Comment by surya

Made Monday, 22 of October , 2007 at 10:02 pm

yaahh.. mo dibilang jelek… ya emang gak jelek2 banget sih.. still based on novel… Setidaknya masih laku di Indonesia… hahahaha apalagi Malaysia..

Comment by yudythbastian

Made Tuesday, 23 of October , 2007 at 7:30 pm

kok ga ada review baru lagi sih?

Comment by der shinobi

Made Saturday, 27 of October , 2007 at 1:17 pm

get married please..

Comment by cahbagus

Made Saturday, 27 of October , 2007 at 1:27 pm

pada kemana sih?
msh libur lebaran yah?
ati ati lho…
pemerintah udah ngasih kesempatan memperpanjang libur lebaran. kl ampe ada yg molor langsung dpt skorsing…

Comment by Lilo

Made Sunday, 28 of October , 2007 at 10:46 pm

buru posting lagih…

maju terus (kritisi) perfilman indonesia!!!

Comment by fufu

Made Monday, 29 of October , 2007 at 12:04 pm

KOQ NGGAK ADA REVIEW LAGI YAH?

Comment by fufu

Made Monday, 29 of October , 2007 at 12:05 pm

WHERE ARE YOU GUYS..???
I AM MISSING YOU…

Comment by ratie

Made Tuesday, 30 of October , 2007 at 10:33 am

Update wooi… Kewalahan ya bioskop isinya film indonesia smua..?

Comment by Leksi

Made Wednesday, 31 of October , 2007 at 11:50 am

Itu kenapa sih kok sepertinya kurang produser atau sutradara yang bagus apa ya?atau jangan-jangan aktingnya juga kurang bagus? Kok kemarin gue nonton di tv itu suaminya cindy fatika sari, teuku f. mau buat film tentang GAM dan Aceh sampai harus cari dana keluar negeri segala…apa susah bikin film bagus ya di Indonesia ini?padahal mereka banyak koneksi dan ada sokongan modal ya?apa ini tahunnya bermunculan film-film “cheap” atau murahan di Indonesia?mengingat tidak semua yang di U.S or negara lain banyak yang sukses juga…kemarin juga ada pendapat ulasan dari tempo mengenai film ini yang secara tidak langsung bilang bahwa “twist”nya film Indonesia itu selalu ketebak…dan itu juga ditegaskan oleh pernyataan VJ Daniel di wawancara sebelum MTV movie award diadakan…terus kenapa harus para banyak banget sih “alien” yang dijadiin pemain dan banyak banget”alien” yang jadi anggota BP2N lah…halah orang hippies gembel gitu di negaranya jadi kaya gitu masuk Indonesia huh!(lalalala…sedikit rasis biarin aja tapi emang begitu kenyataannya…lalalala)udah gitu MUI juga daripada gue nonton setan-setanan melulu mendingan gue nonton paha/dada-an di film, kenapa yang setan nga disensor abis-abisan? lebih milih penyimpangan keyakinan daripada penyimpangan moral?pantesan makin banyak aliran sesat(bodo amat mau dibilang apalah emang itu yang gue lihat…lililili)kalau begini terus hak penonton dirugikan terus nih untuk mendapatkan hiburan…perlu diboikot aja apa film Indonesia oleh para penonton setianya termasuk sinetron yang 90% jiplakan itu?kalau mau bener-bener menyelidiki sampai ke film india, china, hongkong, korea, jepang, malaysia bahkan negara-negara eropa, banyak film Indonesia yang dicopy-paste atau jiplak dari negara lain, mereka nga berani copy film dari U.S karena…orang Indonesia mayoritasnya doyan film Hollywood jadi takut ke detect! lihat aja dvd bajakan film Hollywood semua tuh kebanyakan….hahahahahahhahah…..

Comment by monsterikan

Made Thursday, 1 of November , 2007 at 11:38 pm

gue duah liat. gue terkesan karena gue nonton ama cewe gw. mesra banget. tapi filmnya sendiri emang gembel. miller merusak semuanya. yuck!

http://landofthegeek.blogspot.com

Comment by aLfie

Made Sunday, 4 of November , 2007 at 2:53 pm

Mas…mas….
pasang review baru donk…
wooooooy…

Comment by yusuf

Made Monday, 5 of November , 2007 at 8:20 pm

saya adalah pecinta film bagai mana tidak dengan film saya bisa tertawa dan juga menangis bahkan sering kali mengambil hikmah dari pesan yang ada pada alur crita film tersebut.saya bangga ketika rudi sujarwko meluncurkan film “ada apa dengan cinta” tapi saya pingin sedikit berkomentar karena saya merasa akhir2 ini film2 yang di tayangkan di TV ko kurang mendidik yah…! bahkan banyakan pake tokoh yang berperan malah jadi idiot….!!! alangkah bagusnya kalo film2 yng diluncurkan tuh tntang perjuangan…perjuangan cari ilmu di universitas….perjuangan cari kerja….atau film ruang lingkup perusahaan….yang ada fenomena cinta….dan susahnya mengembangkan perusahaa,….atau juga dokter yang stress karena banyaknya pasien……sebenarnya banyak banget…!!!! tapi sorry ko malah tentang pocong…..!!!!

Comment by rizda

Made Thursday, 8 of November , 2007 at 5:15 pm

aduh, ini gimana…kok review-reviewyang baru belom ditulis…

Comment by yunita

Made Friday, 9 of November , 2007 at 12:04 pm

sinema indonesia…..
aq nuNggu bgt reviewx Get Married..pnasaran nie..pengen ng’ti pndptx sine ind + ratingx….

i can’t wait for it…
so…cepetan yahh…
=)

Comment by ayu

Made Friday, 9 of November , 2007 at 5:55 pm

mas2 koq ga pernah nge-review film lagi. aku dah nunggu2 nih..
kan qta jadi tau mana film yang bagus mana yang engga..
plizz..ng-review lagi donk..

Comment by aji

Made Saturday, 10 of November , 2007 at 8:17 am

what the hell is going on?? kok tiba2 site SI kayak kota hantu gini? gak ada review baru, gak ada comment baru..gak ada orang…kok jadi kayak film 28 days later gini? HELLOOOOO…

Comment by lovehater

Made Saturday, 10 of November , 2007 at 10:00 pm

kemana aja pahlawan2 film kuw.. horor2 gak mutu menyerangngng.. tolong muncul lagi donk SI.. selamatkan perfileman kita dari film2 kancut.. tolongngngn…

Comment by jingga

Made Saturday, 10 of November , 2007 at 10:48 pm

woiiiii.. mana review film barunya..koq sepi seqaleee

Comment by Nugroho

Made Monday, 12 of November , 2007 at 8:23 am

Wah sinema-indonesia payah nie, kok comment dari Mas zimmy (yang mengkritik penulis : ferry siregar) di hapus…padahal isi comment-nya sangat berkualitas…

Demi memajukan perfilmana indonesia, mudah-mudahan sinema indonesia mao belajar untuk di kritik jangan hanya bisa mengkritik aja. semoga nasibku commentku tidak seperti nasib comment mas zimmy yang di hapus akibat mengkritik sinema indonesia.

Maju Terus Perfilman Indonesia.

Comment by sei

Made Monday, 12 of November , 2007 at 11:56 am

Mana review barunya…

Udah sakau SI ne gw…

Comment by Dody

Made Monday, 12 of November , 2007 at 1:45 pm

SI mana nih review-review barunya???

Comment by nike

Made Tuesday, 13 of November , 2007 at 9:33 am

ko ga ada review film” terbaru?
gw sangat menantikan nih

Comment by Mayo-Orie

Made Tuesday, 13 of November , 2007 at 5:46 pm

Apakah gue ketinggalan informasi tentang “SI pindah tempat” atau sejenisnya, atau internet gue yang lamban membuat error tampilan page SI di kompi gue sampe2 nggak ada satupun review yang nambah and it seems that nggak ada seorangpun pembaca setia SI yang nyadar??

–JAWAAAB–

Comment by don aryadien

Made Tuesday, 13 of November , 2007 at 8:43 pm

aku sering bicara kl ada kesempatan ngomong ke publik kalo Rudi Sudjarwo salah satu filmaker yang berjuang di film indie sampai ke industri. ini sebuah keberhasilan. aneh. kita menyikapi sbuah karya dengan mengumpat. jadinya malah aku tambah yakin kalo penonton film kita kurang begitu bisa mengungkapkan cara menilai sbuah film. kedengarannya seperti orang uring2an gara2 beli baju tapi ternyata kainnya jelek. apa mental penonton kita cuma kaya orang beli barang aja? dapet jelek marah. Kan kita bisa nilai runtut secara sederhana tentang film Rudi. Mulai dari akting pemain, ceritanya, sinematografi, dll tentu saja dengan bahasa yang benar. buat saya Cintapucino bagus kok. memang ada kekurangan untuk sinematografi tapi support tetap untuk Rudi Sudjarwo agar tetep terus bikin film!!!

Comment by Hend

Made Wednesday, 14 of November , 2007 at 12:36 pm

Om Om yang SI..mohon direview dong film2 nasional yang terlawas seperti Get Married, The Buterfly, dll..

Comment by tia

Made Monday, 19 of November , 2007 at 7:41 pm

jelek dan murahan!

Comment by yudythbastian

Made Wednesday, 21 of November , 2007 at 3:01 pm

Sinema Indonesia, saya minta maaf kalo saya salah ngomong. Tapi jangan berhenti review donk…

Comment by yudythbastian

Made Wednesday, 21 of November , 2007 at 3:04 pm

Quickie Express ditunggu juga.

Comment by Rere

Made Friday, 23 of November , 2007 at 12:30 am

Kok udah 2 bulan nggak diupdate2 sih? Penasaran gue, sebenernya SI masih nyala nggak sih?

Comment by yogas

Made Sunday, 25 of November , 2007 at 11:32 am

SI review Quickie Express donk! udah lama ga kedengeran nih… masak terakhir Cintapucino. udah lama banget. pada kemana ya bos? SI kan udah jadi parameter gw kalo mau nonton film Indonesia.

btw yg blum nonton, nonton deh Quickie Express. bagus!

Comment by nico

Made Tuesday, 27 of November , 2007 at 2:11 pm

Mas2 SI, cuma mo nanya, review film lain pasca Cintapuccino mana ya? Apa pindah ke blog lain?
Eh, review Quickie Express, dong. Mo tau aja pendapat SI soal nih film. Katanya lebih bagus dari film Hollywood sejenis (sori, lupa judulnya tapi yang main Rob Schneider). Setelah nonton tanggal 22 Nov lalu, saya kok ngga sependapat ya? Kayaknya kelewat bego dan ’serba kebetulan’ kayak umumnya film2 Indonesia…

Comment by dodi

Made Friday, 30 of November , 2007 at 8:37 am

kemana lagi review film2 yang baru. Ayo dong nontong lagi dan review lagi tentunya. Ayo!!

Comment by me1st

Made Saturday, 1 of December , 2007 at 1:46 am

pada kmana sih niiiii????

Comment by lene

Made Saturday, 1 of December , 2007 at 10:43 pm

si ngapain aj sih?
udah 2 bulan…kita dah sabar nungguin nih!

Comment by bye_i

Made Thursday, 6 of December , 2007 at 11:08 pm

wee.e..e…….cie..ile…..dwuuuh imut bgt sissy..mau..mau..mau..hayuuuu gah…bikin filmnya cinta truz neh…horor dwoonk.. NB:eh sissy..ati ati klo pake spatu…he..3x

Comment by aji

Made Monday, 10 of December , 2007 at 12:39 am

HALOOOO…LO..Lo..lo..is anyone here? kalo site-nya pindah kasitau dongs

Comment by semprul

Made Tuesday, 11 of December , 2007 at 1:59 pm

review film yang lain manaaaaaa…?

Comment by tita

Made Thursday, 13 of December , 2007 at 1:38 pm

mas, mba,
ko ga ada yg baru nih? ud berapa bulan..
diupdate lagi donk.. mayan buat referensi filem2 indonesia..

ma kasih ya

rgds,
tita

Comment by Dimas Agung

Made Thursday, 13 of December , 2007 at 7:36 pm

Sorry, ada apa sih sama ni Website, ga pernah ada update???

Comment by Ansel

Made Wednesday, 19 of December , 2007 at 9:17 am

Duh Film ini kaya nya bagus bangeetz, tapi aku belum nonton, trus kapan yah film ini beredar di pasaran? aku dah nunggu kasetnya….

Comment by cinemaniacs

Made Saturday, 22 of December , 2007 at 10:21 am

SINEMA INDONESIA………
KOK MENGHILANG DARI PEREDARAN??????????
KANGEN NICH AMA REVIEW2 KALIAN…….!!!!!!

Comment by harry

Made Saturday, 22 of December , 2007 at 2:11 pm

oy mana review nya yang baru???

Comment by Dody

Made Wednesday, 26 of December , 2007 at 10:06 pm

SI, mana nih review-review barunya???

Comment by aku kesal!!!

Made Thursday, 27 of December , 2007 at 4:41 pm

SI kok skarang ga UP DATE lg sihhhhhh????
nyebeLiiiiiiiiiiiiiiiiiin.. kecewa niYhh,,
payah banget d ahhhh!

Comment by Zakka Fauzan Muhammad

Made Sunday, 13 of January , 2008 at 12:18 am

Gak di update ya?

Comment by Dody

Made Monday, 14 of January , 2008 at 2:32 am

Gila, ini udah tahun 2008 tapi nggak ada perkembangan juga. Apa ini situs udah ditinggalin ya???

Comment by memyselfnooneelse

Made Thursday, 17 of January , 2008 at 12:29 pm

Amat disayangkan ketika sang reviewer sudah mulai memberikan nilai plus dan kompromi terhadap film2 yang ga pantes. jangan dihambur lah bintangnya. mendingan hambur kancutnya aja.

kl jelek bilang aja jelek, jangan mentang2 track record rudi soedjarwo lumayan bagus dan pembenaran film ini “good enough” buat tv jadi bisa dikasi bintang.

Your job is to review n criticize theatrical movies, not to compromise it!

Comment by silphie

Made Thursday, 17 of January , 2008 at 1:52 pm

Aku belum pernah ngelihat filmnya…
yang pasti aku dah pernah baca tu buku…
wuih keren abis.. tapi ketika aku tahu bahwa yang meranin nimo tu miller, aku dah bayangin pasti aktingnya ga jauh-jauh amat kayak di sinetron azizah. kok bisa ya, miller lulus casting?????????
aku rasa mending aku liat film2 luar negeri aja deh.. simple tapi lebih berbobot. bukannya ga mencintai buatan dalam negeri tapi ya gimana lagi seharusnya tim produksi filmnya lebih mau berkomitmen dong untuk menciptakan film yang bener-benar bagus,berbobot,kreatif. udah banyak film indonesia yang aku tonton tapi ga semenarik kalo nonton film barat dan akhirnya penonton kecewa..

Comment by laras

Made Friday, 18 of January , 2008 at 4:24 pm

yah sedih deh… belum di update lagi film2nya.. padahal penasaran komennya ttg Quickie Express *kalo saya sih g suka, abis jorok, suka main di lumpur hehehe*, sama Perempuan Punya Cerita *kl yg itu saya suka walaupun kesannya perempuan itu lemah bgt jadi korban mulu*

Comment by Pembenci _Film_Virgin

Made Tuesday, 29 of January , 2008 at 12:29 pm

ini film mah mendingan banget… daripada film Virgin yang kaya tai’…
akting dan pengeksplorasian pemain, emang bagus.. gue emang ga suka pelem2 hollywood.. n pelem2 ringan bak bantal…
tapi film ini cukuplah buat ngurangin stress, nonton ga brasa..
pelem bagus n romantis, lebih mending dari pada virgin n film2 hollywwood yang cuma tembak2an penuh darah dan menyebabkan kasus-kasus baru di indonesia … efek psikologis..

idup,, pelem indo

Comment by Dhandhy

Made Friday, 1 of February , 2008 at 1:53 pm

Gw kira RAKA bokapnya RAHMI…
hahaha*

Comment by tenju

Made Monday, 4 of February , 2008 at 9:52 am

helo, pada kemana atuh si reviewer teh? tanda2 kematin blog ieu mah, udah lama ga di apdet padahal banyak pilem baru yeuh

Comment by m0vi3 fr34k

Made Thursday, 7 of February , 2008 at 9:03 pm

dengar-dengar nayato buat atu film lagi, tapi i tak tau apa, ada kitu name title nya TALI POCONG PERAWAN di tanggal 10 april, dbisa diliat trailernya di www.talipocongperawan.com
itu tayang 10 april di bioskop, meyakinkan tak ? tuk you-you tonton ?
gak tau deh sapa autradaranya ?

Comment by Nayato

Made Thursday, 7 of February , 2008 at 9:04 pm

dengar-dengar nayato buat atu film lagi, tapi i tak tau apa, ada kitu name title nya TALI POCONG PERAWAN di tanggal 10 april, dbisa diliat trailernya di www.talipocongperawan.com
itu tayang 10 april di bioskop, meyakinkan tak ? tuk you-you tonton ?
i tak tau sapa sutradaranya ?

Comment by future filmmaker

Made Monday, 11 of February , 2008 at 1:47 pm

review-review barunya dunks. :p

Comment by johan

Made Friday, 15 of February , 2008 at 12:36 pm

ya, emang belum nonton sih, soalnya baru baca reviewnya sudah nggak pengin naonton. maklum, sebelum nonton, saya benar-benar harus memastikan film itu layak untuk di tonton atau tidak. itu aja makasih

Comment by manda

Made Friday, 15 of February , 2008 at 2:10 pm

mas-mas dan mbak-mbak yg ngurusin SI,,, pd kmana siiih??? lama bgt ngga di update…..

Comment by pns

Made Monday, 18 of February , 2008 at 10:27 pm

guys..kemana aja..i miss ur reviews…

Comment by WewW

Made Saturday, 23 of February , 2008 at 6:35 pm

Film Rudi Soedjarwo sih emang selalu membuat penasaran. Sayang ya pemainnya ngambil si Miller.

Btw, kapan apdet lagi blognya? hiks..

Comment by hara

Made Monday, 25 of February , 2008 at 12:20 pm

novelnya bagus, karena bisa menyentuh sisi SMA banget-nya para pembaca. juga researchnya keren, bisa bikin novel jadi berisi.
but unfotunatelly filmnya ancur.spakat.Nimo. alur. cast.sutradara.pokoknya semua deh. pesan moral: lain kali kalo mau bikin film dari novel, baca dulu novelnya.

tetep semangat buat mba nisha!!

Comment by sopjagung

Made Thursday, 6 of March , 2008 at 4:21 am

Where are u guys?

Comment by garylem0t

Made Sunday, 9 of March , 2008 at 4:16 pm

huaa… kenapa aku jarang banget tertarik nonton pelm indonesia yah… aku ngrasa banget kalo mutunya makin lama makin anjlok. yah, lepas dari pelm nagabonar jadi 2 yang masih jadi favoritku mpe sekarang, banyak pelm baru yang bermunculan dan makin bikin sedih… apa dunia perpeleman kita emang lagi terjun bebas yah… ahahahaa…

Comment by rima

Made Friday, 14 of March , 2008 at 10:30 pm

itu dong film baru yang heboh gak karuan, ayat2 cinta direview. abis katanya bagus banget, tapi gue ragu.

www.rimafauzi.blogspot.com

Comment by wihyun

Made Wednesday, 26 of March , 2008 at 11:36 am

love this movie. simple, cute, memorable. lot a love 4 sissy, miller and all the cast.

Comment by chiw

Made Friday, 11 of April , 2008 at 12:26 pm

mana apdetnya rek?

Comment by Karina Nurunnisa

Made Sunday, 25 of May , 2008 at 10:13 am

i want my SI baaaaaaaaaaack.. T___T

Comment by farah n. lestari

Made Tuesday, 3 of June , 2008 at 4:46 pm

Hai.. haloo…
Sori ini bukan mau komenin reviewnya.
waktu itu gue pernah baca kalian lagi nyari kontributor buat review film2 indonesia. Gue mau dong berpartisipasi.
Tapi kalo misalnya reviewnya udah dimuat di site pribadi gue, masih boleh ngga?
contact me soon yah. Thanks..

Comment by Yopie

Made Tuesday, 15 of July , 2008 at 4:05 pm

dari awal emang uda ngak sreg sama novelnya, terlalu cewek dan mengada-ngada, heran juga sama temen yang suka sama novel ini… Yah ngak tau juga si, namanya juga selera atau mungkin guanya yang emang kurang romantis… mending novel Samannya Ayu Utami aja yang dibuat film…

Comment by abro3t

Made Tuesday, 22 of July , 2008 at 1:10 am

Ass semuanya? bisa tolongin g? ada yg tw g judul lagu film “maaf saya menghamili istri anda” yg dibawain ama Mulan Kwok, tolong ya.

Comment by bibi

Made Friday, 22 of August , 2008 at 12:08 am

ALANGKAH BAIKNYA Rudi bikin film ama kerabat2 dari negeri pembuat kain itu, a.k.a. punjabi cs. And mending pak rudi sekalian pindah deh ke sana.

Comment by erlinaz

Made Sunday, 18 of January , 2009 at 5:32 pm

Belom nonton film ini, tapi jadi interested juga abis liat review nya, jitu, en punya knowledge baik film indo en film barat. bener2 IMDB user sejati yag? :D

Comment by mayer

Made Sunday, 15 of March , 2009 at 1:41 am

bener juga yah…kirain moody an dia..
kenapa yg jadi nimo milihnya dia yah??
khan msh byk yg laen..
contohnya vino g sebastian..khan lebih keren aja buat di idam2kan
masalahnya pas gw tonton eh yg kluar jadi nimo itu miller mang bnr2 bikin ilfeel..
tapi klo mslh film mengejar mas mas buat gw bagus ko.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com