Sinema Indonesia

Cintapuccino (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Tuesday, 18 of September , 2007 at 5:13 pm

Terus terang, Rudi Soedjarwo adalah satu-satunya sutradara Indonesia yang membuat pendapat kami tentang dirinya selalu berubah-ubah. Ketika dia membuat Ada Apa Dengan Cinta?, saya dan Ferry langsung setuju kalau dia adalah salah satu sutradara yang bisa diandalkan untuk membangun perfilman Indonesia. Dari Bintang Jatuh dan Tragedi yang luar biasa amatiran, tiba-tiba dia membuat lompatan yang sangat tinggi dengan menbuat film yang kualitasnya bagus dan bisa diterima oleh segala lapisan masyarakat. Ada Apa Dengan Cinta? adalah contoh sempurna dari film komersial yang bisa dibanggakan kualitasnya. Dan kami saat itu yakin bahwa Rudi Soedjarwo akan membuat kejutan-kejutan lain yang lebih bermutu. Sayangnya, kemudian dia membuat serentetan film-film kancut dari mulai Rumah Ketujuh yang seringan kapas sampai dia mencoba untuk naik kelas menjadi filmmaker yang lebih serius dengan 9 Naga. Pandangan kami pun berubah. Tapi kemudian kami kembali bersorak ketika dia membuat Pocong 2 yang menyeramkan dan fun. Saat itu kami berpikir bahwa Rudi Soedjarwo adalah seorang sutradara bagus, tapi  memiliki under-achiever complex. Dia seharusnya bisa memilih materi yang lebih bagus karena kapasitasnya sebagai sutradara sebenarnya baik. Mengejar Mas-Mas memang kami beri kancut, tapi kami bisa melihat kemampuan Rudi yang oke dalam mengarahkan pemain. Tapi kami tetap menyayangkan kenapa dia tidak mau memilih materi yang lebih baik. Padahal, Rudi sudah punya style yang unik dengan sistem suting tujuh harinya itu. Bukan tidak mungkin, dengan materi yang lebih baik, dia bisa menjadi versi kecil dari Steven Soderbergh saat dia membuat film-film realis yang kecil tapi berbobot.

Ketika kami mendengar dia akan memfilmkan sebuah chick lit, kami semakin sedih karena kami merasa dia semakin menyia-nyiakan bakatnya. Bahkan, seorang pengamat film yang cukup kami hormati tulisan-tulisannya, menyarankan bahwa Rudi Soedjarwo, sebagai seorang penerima Piala Citra (apapun artinya), sebaiknya berhenti membuat film dulu sampai dia mau membuat film dengan tidak “malas”. Tapi kami berpikiran lain. Memang seginilah kapasitas Rudi Soedjarwo. Dia tidak akan kemana-mana lagi. Cintapuccino adalah Rudi dalam permainan yang paling dikuasainya. Ringan, dangkal, dan simplistik. Dan kami rasa pandangan kami terhadap Rudi tidak akan berubah lagi dan kami tidak akan menuntut lebih banyak dari Rudi.

Cintapuccino, yang diangkat dari chick lit best-seller dari penerbit grosiran Gagas Media, bercerita tentang Rahmi (Sissy Pricillia) yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Raka (Aditya Herpavi). Tekad Rahmi untuk menikah tiba-tiba goyang ketika tiba-tiba seorang laki-laki yang sejak dari sekolah disukainya, Nimo (Miller), tiba-tiba muncul dan bilang kalau sejak dulu dia suka dengan Rahmi.

Cerita yang sangat tipis ini sekilas tak jauh berbeda dengan Kangen buatan Nayato Fio Nuola. Bedanya, Rudi Soedjarwo tak mau berpura-pura membuat filmnya lebih berat dan lebih indah dari yang seharusnya. Rudi memfokuskan bobot film ini di akting-akting para pemainnya dengan sinematografi dan set yang simplistik tapi tidak mengganggu. Harus diakui bahwa Rudi punya taste yang lumayan. Sissy Priscillia dan para pemain lain (soal Miller kita tinggalkan dulu), mampu menghidupkan film ini sehingga mudah untuk diikuti. Bahkan beberapa momen yang ada Sissy-nya benar-benar fun. Keterlibatan para pemain senior juga memberikan atmosfer yang segar dengan akting yang natural.

Yang hampir fatal adalah masuknya Miller sebagai cowok idaman Sissy yang hampir menghancurkan realisme film ini. Seorang cowok yang dari SMA sampai dewasa tidak pernah merubah gaya rambutnya is unlikely untuk digilai perempuan (walaupun cowok yang merubah gaya rambutnya tidak otomatis digilai perempuan. Contohnya Ferry). Belum lagi masalah aksen melayu Miller yang bikin ilfil. Pembenaran Rudi terhadap masalah ini tidak mampu membuat kita bisa menerima Miller sebagai idola.

Sekarang pertanyaannya, apakah Cintapuccino adalah sebuah film yang bagus dan layak ditonton di bioskop? Kami hanya bisa menjawab, di dunia yang lebih baik, film seperti ini hanya layak ditonton sebagai hiburan yang bisa diterima di TV. Tentu saja ada banyak sekali film romantis ringan buatan Hollywood yang dimaksudkan sebagai tayangan bioskop seperti One Fine Day, Serendipity, you name it lah. Tapi film-film itu dibuat dengan effort yang besar dengan memberikan production value yang tinggi, baik dari sinematografi, cast, set, kostum dan sebagainya sehingga membuat filmnya terlihat, terdengar, dan terasa sinematis.

Kesimpulannya, Cintapuccino bukan film yang buruk, Rudi bukan sutradara yang buruk. Tapi keduanya belong to TV.

Sutradara: Rudi Soedjarwo. Penulis: Jujur Prananto, Icha Rahmanti. Pemain: Sissy Priscillia, Aditya Herpavi, Nadia Saphira, Miller. Produser: Cindy Christina. Produksi: Sinemart Picture.

Official Site

Jam Tayang 21

Category: Review, bintang satu

61 Comments

Comment by heweh

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 5:45 pm

hehehehe…Miler emang bikin ilfil,
for sure, lebih suka filmnya dibanding novelnya….
I Adore You Nadia Saphira…

Comment by NUGROHO

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 6:33 pm

hm…sedikit di atas perkiraan gw yg satu kancut…
kenapa forum ga dibuka-buka…

Comment by Femmy Karima

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 6:48 pm

Miller sangat nggak charming. Malah kelihatan (dan kedengeran) seperti cowo’ dongo’. Huhuhuhu.

Comment by adhytz

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 6:52 pm

he..
gw lom nonton si…
tapi yg pasti dari rudi sujarwo,
selalu ada adegan lari2an / kejar2an
iya nggak…???

masi inget di ada apa dengan cinta, di adegan cinta ngejar2 rangga dibandara dan sebelumnya ke bandara (pake mobil)

ada juga di mengejar matahari, adegan si wingky and the geng kejar2an ma matahari, (judulnya aja uda kejar2an)

he… yg seru di ‘mendadak dangdut’ waktu jablai, eh… titi ma kinar lari2an dikejar polisi

di 9 naga pa lagi

tapi emang adegan lari2an / kejar2an nya rudi engan top

itu doang…

selebihnya, he… yah… begitulah, lumayanlah daripada nggak ada

;P

Comment by sahat

Made Tuesday, 18 of September , 2007 at 9:04 pm

Ceritanya dangkal banget, gak nyangka cerita kayak begini bisa laku berat bukunya (maybe that’s what a chicklit supposed to be, atau emang cara nulisnya yang bagus?, don’t know, belum pernah baca novelnya). Tapi berani mengangkat cerita seperti ini menjadi sebuah film lebih bodoh lagi. Gua gak ngerti, kenapa oh kenapa?
Satu hal yang menarik, gua pernah punya teman kuliah yang orang malaysia, aksennya 100% kayak si Miller. Gua kira teman gua doang yang aneh, ternyata emang gitu ya kalo orang Malaysia ngomong Indonesia.

Comment by thefool

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 3:33 am

“Penerbit grosiran”. Entah kenapa gue ngakak aja bacanya.

Comment by rikigede

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:48 am

3 bintang ke film ini karena:
1. nontonnnya dibayarin
2. nontonnya sama tementemen gue
3. ada sissy priscilla yang bakhenol.

kalo dari filmnya sendiri, gue akan memberikan 2 kancut. sori mas rudy.

Comment by andi

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:57 am

asli filmnya kayak FTV gitu, kaget juga sih dapet 1 bintang. Dan gue juga heran kenapa novel dengan cerita yang biasa banget kaya gitu bisa jadi best seller ya?

Comment by pOe

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:17 am

waksss, cuman dapet 1 bintang…
sebagai salah satu penggemar bukunya, sih nyayangin banget ni pilem cuman dapet 1 bintang. nurut saya sih pantes kok dapet 2 or 3 bintang. jauh lebi pantes daripada “maap, saya menghamili istri Anda” yang sama SI dikasi 2,5 bintang. SI, saya ketipu abis dah sama review MSMIA mu!! huh!
saya akuin, pilem ini emang ringan dan CEWEK banget, mungkin itu yang bikin SI nggak suka. tapi secara keseluruhan, cast, akting serta penggarapannya bagus kok. di atas rata2 pilem indonesia laen lah. nggg…kesampingkan faktor NIMO yang super duper ndak pas itu ya… itu emang salah casting sih. dari appearance aja udah nggak cocok jadi NIMO versi buku, apalagi pas ekting. wedeeeewww….
selain NIMO, salah satu miss dari pilem ini adalah ending yang terlalu terburu-buru, nggak match ama bukunya. mungkin karena rudi terpancang pada adegan2 awal yang nonjolin bab OBSESI nya (yang saya yakin, pasti pernah dialami 90% cewek di Indonesia).
other than that, i found this movie hell a lot more entertaining than MSMIA (saya masih dendam sama SI yang kasi 2,5 bintang ke MSMIA)…

Comment by jingga

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:35 am

ini review yang paling gue tunggu2 tunggu, bolehlah bintang satu, gue suka sama acting sisy walupun nyaris engga keluar dari karakter pribadinya,soal ceritanya biasa aja, tapi rudilah yang membuat film ini tidak dapat kancut.. horeeeee..hidup SI.

Comment by binki

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 10:09 am

Kesimpulannya, Cintapuccino bukan film yang buruk, Rudi bukan sutradara yang buruk. Tapi keduanya belong to TV.

yeah, i agree with this quote.

Comment by fisha

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 10:55 am

Bukunya sih bagus, critanya asik, dan gaya bahasanya ABG bangad. Love deh klo sm bukunya. But udh di bikin pelem kok jd begini…??? Scara klo baca buku tergantung dari imajinasi tiap orang yg baca. Dan dalam imajinasi gw bukan wajah spt Sissy, Adithya, & Miller (apalagi) yg jadi Rahmi, Raka, & Nimo. Wajah2 yg lebih dari itu, akting2 yg lebih dari itu, & pemandangan yg lebih dari itu. So bwt gw, yes sm bukunya but NO sm pelemnya…
Review lawung sewu dunk!

Comment by Reno

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 11:18 am

Inilah Martin Scorsese a la Indonesia: Rudi Soedjarwo, karena sama-sama nggak mampu menggarap cerita grandeur tapi menjadi tajam ketika bikin film dengan tema-tema kecil yang simplistik.

Gue nggak setuju dengan penyebutan ‘dangkal’ kecuali bila ‘dangkal’ nggak dikonotasikan negatif oleh para pembaca review SI. Setipis apa sih cerita ‘Shakespeare In Love’ yang menang Best Picture di Oscar? Kurang naif apa cerita tentang nilai persatuan dan kesatuan di ‘The Lords of The Rings’? Tapi kita semua setuju bahwa treatment dan eksekusi di film-film itu berhasil bikin kita nganga saking takjub lantas menerima kebenaran yang sebenernya jauuuuhhh banget dari kehidupan kita. Yang ini Holywood emang jagonya.

Balik ke Rudi, orang ini jago treatment tapi tidak di eksekusi. Well, syuting tujuh hari rasanya bukan style baru tapi sistem yang dibangun produser untuk mengecilkan bujet dan, man… bayangin betapa dimanjanya penonton kalo Cintapuccino atau Pocong 2 kalo dibuat dalam waktu 30 hari (misalnya)? Hey, we’re talking about money you spend for the ticket here. At least Nayato punya kesadaran untuk menghargai duit tiket dengan bikin setting yang manjain mata, gerak kamera yang membuat filmnya jadi larger than life rather than ngasih gambar dinding kamar yang kosong melompong, butik yang seadanya, busana pemain yang seperti properti pribadi, dan make-up Sissy yang nggak mampu nyembunyiin jerawat (atau bekas luka?) di salah satu sisi bibir bawahnya (ngomong-ngomong, di Cintapuccino jerawat Sissy ini nggak ilang-ilang sejak dia SMA sampe mau kawin).

Dan alangkah berpihaknya Rudi terhadap Rahmi sampe-sampe ’sutradara besar’ ini nggak mau susah-susah bikin karakter kesayangannya minta maaf ke dua cowok yang mencintainya setengah mati. Hello? Nggak ada waktu untuk syuting beberapa jam lagi untuk bikin adegan Rahmi minta maaf? Masih bangga dengan keampuhan sistem tujuh hari syuting?

Comment by RAHMI

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 11:54 am

menurut gw film ini lumayanlah…lo ngga terlalu nyesel…adegan2nya punya rasa,ngga kayak film2 kancut nanahan laen yg bikin lo mati rasa…masalahnya cuma pada NIMO..mgkn klo diperanin ma nico saput,tokoh nimo lebih pas…
but it’s rudy’s full-capacity,so we cant expect better than this..
saran gw sich,lo nonton ini klo lagi banyaaaaaaak duit atau dibayarin temen….jadi ga berasa…hehehe…piiiiisssss..

Comment by Indie_ana Jones

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 12:02 pm

Nggak bisa komen, karena blum nontn. Cuman kayaknya si Cintapuccino bukan terbitan gagas media (yup I agree ini memang penerbit grosiran abis, bweh!) tapi Gramedia (eh ini kalo ngga salah, tar d cuba gw cek ke buku temen gw hehehe). Kenapa jadi terkenal dengan cerita yang ringan? karena waktu itu kagi boomimg bangets chicklit2 terbitan gramed, makanya ketika Cintapuccino muncul dengan tagline: chicklit pertama Indonesia, kan jadi banyak yang penasaran (gw si baca gara2 penasaran tapi dapet minjem, males ah beli heheheh) *btw sok tau bangets gitu ya gw, jadi malu, maaf ya*

Comment by fufu

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 12:29 pm

Mood ketika menonton film ini bisa dikatakan naik turun seperti jalan - jalan ke Puncak, ada kalanya asyik banget dan ada kalanya ngeliatin jam terus, kapan selesainya yah. Ekspektasi yang besar membuat film ini terasa garing, menghibur sih, tapi ya cuma itu. Penulisan skenario seharusnya lebih kuat mengingat modal cerita yang lumayan bagus, sedikitpun saya tidak jatuh iba melihat Nimo yang berusaha (semaksimal mungkin) untuk bersedih ria, tapi yang timbul malah pelecehan (banyak yang ketawa melihat akting si Miller ini) Yang paling menyeramkan adalah set dan properti yang suka nggak nyambung kalo ada pergantian scene, ada yang perhatikan nggak yah, di last minutes of the movie, si Nimo kasih hadiah ke Sissy di boutique - nya, nah pada awalnya si Sissy nggak pake kalung, eh, nggak lama setelah kamera selesai kamera mensyut kaset Yana Julio dan beralih lagi ke Rahmi, secara tiba - tiba si Rahmi pake kalung, gila, aku pikir apa si Rahmi bisa sulap dan ada hubungan sodara yah ama si David Copperfield, lebih teliti lagi donk Mas Rudi. Kalo SI bilang Cintapuccino ini belong to TV, ada benarnya, walaupun nggak ada commercial break-nya tapi banyak adegan - adegan yang nggak perlu yang kalo kita tinggalkan ke toilet atau beli popcorn, pasti tetap kita nggak ketinggalan jalan ceritanya. Mudah2an film - film lainnya dengan pengaharapan yang besar yang akan segera tayang nggak lagi mengecewakan, amin.

Btw, Reno is back…hm…I miss you but I hate you Reno…but you are more a little bit wiser now, great.

Comment by yuya

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 12:48 pm

sissy ok, aditya ok, nadia ok, miller nggak banget nget nget
jadi heran kok rahmi bisa terobsesi sm cowok kyk gitu, aksen yang aneh, dan herannya masih aja terngiang2 di kepala gimana nimo ngomong
“ada satu orang yang gw rasa will be the best, namanya apradhita arahmi, alias rahmi, LOE MI…”
loe mi nya itu lho aneh bgt nget nget
terus ditambah adegan ga penting sperti mpok atik, ida kesumah ngrokok.
tapi lumayan menghibur lah
1 bintang gpp

Comment by yawi

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:00 pm

Hi Dod,
Oke-oke aja dgn penilaian Anda terhadap CINTAPUCCINO yg emang kunilai sekaliber FTV (salah satu FTV-nya Rudi, UJANG PANTRY 2), dan betul jg lebih menyentuh novelnya ketimbang filmnya.
Tapi kuharap semoga penilaian Anda thd Rudi berubah naik lg stlh menonton kreasinya terbaru: IN THE NAME OF LOVE or ATAS NAMA CINTA, minimal shooting days-nya aja makan waktu 27 hari katanya! Inilah pertaruhan bagi Rudi, mampukah menyamai, jangankan menumbangkan rekor puncaknya di ADA APA DENGAN CINTA?
Kita tunggu tanggal mainnya di bulan April 2008.

Comment by erfan

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:04 pm

Kenapa novelnya best seller
1. Gaya bahasa yang ok! Cocok untuk anak-anak ABG. Meskipun ceritanya klise tapi Icha mampu menghidupkan dengan bahasa-bahasa dan istilah-istilahnya.
2. Kegigihan Gagas Media dalam pemasaran setiap bukunya. Sehingga buku ini tersedia di hampir semua toko buku.
3. Masyarakat Indonesia sudah banyak yang bosan dengan buku-buku cerita selangkangan karya Djenar M. Ayu, Ayu Utami, dan penulis-penulis yang mengatakan bahwa itu adalah kebebasan dalam berekspresi padahal sudah sangat memuakkan.

Terus jika dibandingkan dengan filmnya
1. Lebih baik baca novelnya (kita tidak perlu dipaksa untuk mengimajinasikan bahwa Miller itu Nimo, Nimo itu Miller)
2. Meskipun demikian untuk pengambilan gambar Rudy lebih ok dari Mengejar Mas2.
3. Dari segi acting… Sissy saja yang gemilang meski lemah di adegan menangis (coba lihat saat Sissy berpelukan dengan Alin) air matanya gak keluar setetes pun. Sedangkan Aditya lumayan untuk film perdana. Tapi Miller? Satu lagi Nadia Saphira tidak bisa keluar dari karakter film-film atau sinetron2 sebelumnya.
4. Setelah diputar 2 minggu film ini sudah turun alias sudah sepi penonton.
5. dari segia acting Dina Olivia dkk lebih ok dan menakjubkan

Demikian…. memang begitu sulit ketika sebuah film diambil dari novel. Ada 2 pilihan bagus dan jelek!
Cintapuccino… Agak bagus dan kurang jelek!!!

Comment by superpippo

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:21 pm

hihihi…reno muncul lagi…=)

yang paling disayangkan dari film ini, selain millernya yang jauhhhhh banget dr bayangan gue tentang nimo setelah baca bukunya (gue ngebayangin nimo lebih seperti robertino jaman dulu, hehe), adalah endingnya yang cukup melenceng dr bukunya…

terlepas dari komen org” yang bilang “kok bisa ya cerita kaya gini jadi best seller? apa semua chicklit kaya gini??” menurut gue, ending bukunya jauh lebih dalem drpd filmnya. setidaknya kita bisa liat pergumulan rahmi menentukan pilihannya, alesan raka kenapa dia mutusin buat pergi sejenak dr hidup rahmi, dan apa sih arti obsesi yang sebenernya…

tapi di filmnya, sayang banget, semuanya ilang. cuman nyisain kelucuan rahmi dan aksen anehnya nimo. lagian, setting bandungnya maksa banget. gue udah ngebayangin bakal ngeliat warung lela, toko yu, the cellar (yang emang jd setting di bukunya), eh taunya yang dikasi liat cuman sekilas” jalan dago dan braga doang. basa-basi syuting 7 hari yah…

anyway…the cinamon’s nya lumayan bikin adem. dan soundtracknya yana julio bolehlah, bawa feel ke jaman smu tahun 90-an awal…

Comment by savatose

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 1:36 pm

cuma pengen bilang aja sesimpel2nya cerita, kl flow ceritanya atau penggarapannya bagus tetep aja bagus. Pretty woman kurang corny apa coba? tp tetap aja eksekusinya bagus.

Comment by Vico

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 2:35 pm

Rudi cukup beruntung bisa mencapai predikat salah satu sutradara papan atas. Tapi banyak orang bahkan dia sendiri lupa bahwa dia bisa begitu karna orang-orang sekeliling yang tepat. AADC, apa jadinya kalau Rudi dilepas tanpa Mira dan Riri? Mungkin akan jadi kayak cintapuccino (Maksimalnya Rudi tanpa didampingi siapa-siapa).
Bahaya menjadi orang yang egois seperti Rudi adalah merasa jumawa dan menganggap semua bisa dilakukan sendiri. Padahal kalau dia mau berbagi panggung dengan orang-orang yang tepat, karya-karyanya bisa diatas rata-rata.
By the way, Astro TV lagi berkembang tuh. Ngelamar disitu yuk rud.

Comment by revan_hantu

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 5:10 pm

Comment by dony

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 6:25 pm

adoohhh, gara2 cewe gebetan gw maksa2 ngajak nonton film sampah ini..apa dayaku. harusnya minimal 2 kancut. kapok pok pok nonton film indonesia. sinemart, udah deh bikin sinetron ajah. rudy soedjarwo, kapan utang lo lunas so lo bisa mulai bikin film bermutu ?

Comment by deelilahh

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 7:15 pm

guys, yg udah baca novelnya, film ini banyak sekali memotong bagian2 yg penting, yg jstru greget dari critanya.
miller a.k.a mas gondrong kluaran awal 90an dengan logat melayu bercampur tegal yg jauh dr tipikal seorang idola telah sukses merusak film ini.
soal acting, sissy did it very well, but again im strongly agree dgn me review–>lets juz turn on our tv drpd capek2 ke bioskop!

Comment by kenen

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 7:39 pm

tuh kan..
film2 rudy tuh selalu dapat bintang di SI..
dan gw setuju bgt…

ditunggu review LAWANG SEWU..
Pasti kalo ga dapet 4 ya 5 kancut

Comment by Eru

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:02 pm

Ah iya, filmnya not bad utk ukuran film sejenisnya.
Yg penting ada Nadia Saphira! Hehehe…

Comment by NUGROHO

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:27 pm

sundel bolong ya van?
4 Kancut lagi dah…Hanung harus dikasih kancut terus biar di kapok biki nfilm lagi terus hengkang(jahat banget ya gw?)

Film2 nya(kecuali CAS) kancut semua…

Comment by riyo

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 8:49 pm

1 bintang cukup..tapi overall film ini mengecewakan. pertama baca novelnya bagus, trus kalo dijadiin film imajinasi saya yang bakal main di filmnya Sarah Sechan (Rahmi)- Tora Sudiro (Nimo)- Surya Saputra/Jason Tedjasukmana (Raka)..ternyata yang main biasa ajah. akting sissy oke-lah, yang lain standar, Miler = rusak!!!

Comment by Karina Nurunnisa

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:14 pm

tapi bener bgt.. mnurut gw Miler itu satu2nya cacat di film ini..
tiap kali dia ngomong gw serasa pengen boker..

belajar bhs indo dulu kale sblom maen film..

bikin ilfil..

Comment by tando-wi yahya

Made Wednesday, 19 of September , 2007 at 9:53 pm

haha novel2 jaman skarang slalu menekankan “pake bhs simpel!”
filmnya “sperti eragon, bnyk adegan pnting ga ditayangin!”

org jaman skarang emg mo nya simpel2 aja!!kalo mo maju baca novel conan doyle ato agatha christie!!!bikin otak muter!!kalo mo yg lbh lg…baca novel mushashi!!jauh lbh pusing drpd smua novel bahkan dan brown skalipun…

Comment by moviefreak

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 1:23 am

Kecewa ama Rudi… dulu salut ama dia yg bikin AADC bisa bangunin lagi film2 Indo yg lama sekarat/koma.. Tapi makin kesini, makin kelihatan kalo dia bukan film maker sejati tapi gk lebih dari para pedagang film lainnya yg gak mikir kualitas, melainkan margin profit!. Buktinya shooting kok tujuh hari?, mestinya bang Rudi mikir kalo kita ke bioskop tuh bayar, gak kayak nonton TV yg gratiss, jd berhak donk kita dapet kualitas film yg lebih dari film2 TV (FTV)..

Gw setuju, dulu AADC tuh hebat karena ada Riri’n Mira, kalo nggak ada mereka ya AADC dulu taste-nya bakal sama kayak Cintapucinno sekarang.. sekelas FTV!.

Gw masi respect sama Riri n Mira karena gw rasa mereka lebih milih gk bikin film samasekali daripada bikin film2 yg tasteless…

Rud, bangun Rud!.

Comment by mimi hitam

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 8:42 am

Aku suka film ini, meski nonton gratisan karena ada program nobar dari kantor…cukup menghibur (entah klo baca novelnya, mungkin lebih bagus ya). Sedikit diatas kelas FTV, karena setting, kostum dan make-upnya lebih baik. Soundtracknya yg dinyanyiin d’cinnamon juga keren bangets…

Comment by crisis_issue

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 9:49 am

Indie_ana_Jones: Cintapuccino, penerbit Gagas Media, ISBN: 979-3600-22-5. Tahun: 2005.

Comment by Sei

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 10:03 am

Emangnya Martin Scorsese mau disuruh syuting 7 hari?

Comment by Kang Jodhi

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 11:11 am

chicklit indonesia ga ada yang selevel the devil wears prada atau bridget jones diary ya? ceritanya kok cuman begitu-begitu aja

btw, mungkinkan peran miller di film ini memang cuman untuk membuat penonton tertawa? ga ada yang istimewa dari pelem ini. tapi seperti banyak penulis comment lainnya, selama ada nadia saphira aku mau mau saja nonton pelem ini.

Comment by pingu

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 12:05 pm

bandingin rudi sujarwo sama soderbergh??
kayanya over-rated dehhhh

” Seorang cowok yang dari SMA sampai dewasa tidak pernah merubah gaya rambutnya is unlikely untuk digilai perempuan ”
hahahah v.v.insightful :D

Comment by guess_

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 12:06 pm

to be honest, gw jauh lebih suka baca novelnya!
1. nimo-nya ancur banget d filmnya!
2. rahmi-nya bego banget d filmnya!
3. raka-nya cuma jadi selingan doang d filmnya!
klo d novelnya tu dgambarin banget ttg hubungan raka-rahmi, bahwa rahmi emang sayang ma raka dan ga smudah itu ninggalin raka buat nimo.. malah d novelnya dceritain bahwa raka-lah yang maksa buat mundur dan ninggalin rahmi.. tp klo d filmnya, smuanya dputer!

Comment by abe

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 3:03 pm

yg nyelametin film ini cuma akting sissy n aktris2 tua itu,,
gue kapok ama rudi sujarwo..
cerita film ini payah..
sound designernya siapa sih?
si rianto rianto itu lagi yah??
goblok banget,,masa setiap mau adegan yang romantis2an udah di spoilerin dulu dg dentingan piano n gitar yg super duper annoying itu..
akting miller? hopeless,,helpless..
akting aditya herpavi jg standar,,tpi mndgn drpd org malay itu..

2/9 bintang d…

Comment by emil

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 4:50 pm

g masi bingung kenapa sistem 7 hari syuting slalu di bangga2in si?? ini bikin film kan?? bukan bikin video klip ato syuting iklan kan?? dimana2 di dunia ini kalo kita mau bikin sesuatu yang bagus harus perlu effort, kerja keras dan waktu. Roma aja ga dibangun dalam waktu 1 hari! (kecuali lo sewa Jin and antek2nya..)

Kalo alasan cliche-nya karena duit, yah.. nyadar deh, ini bikin film kan?? bukan bikin video klip ato syuting iklan kan?? (ECHO)
lo sangka karya lo dianggap hebat karena bisa menyelesaikan karya lo dengan waktu yang singkat?? nggak juga!! Film adalah bagian dari seni, dan dalam dunia seni HASIL AKHIR yang di liat bukan PROSES ato lamanya pembuatan!

Comment by uknee

Made Thursday, 20 of September , 2007 at 8:07 pm

ehm..novel memang jauh lebih bagus..begini dilemanya film yang diangkat dari novel..untung pas nonton tidak berekspektasi tinggi..

Aktingnya Miller ga banget..siapa sih yg cast dia..apa ga ada yg lain..Bikin drop..kalau adegannya romantis gue selalu berharap dia ga ngomong, habis begitu dia ngomong gue malah ketawa2..jadi romantismenya hilang..Kenapa sih dia ga ngomong dalam bahasa inggris saja atau melayu..trs di kasih running text..lalu dapat dari mana dia kata “lo-gue” yang bikin illfeel itu..kan dari awal juga dibilang dia besar di brunei..dan setting film di bdg..jd harusnya dia membahasakan dirinya “urang-maneh” aja..

D’cinnamonsnya enak..pas sama filmnya..huhuhu..lagu selamanya cinta yana julio juga ok..sayang endingnya agak maksa..banyak hal ptg di buku yg dilewat malah diubah di ending film..ehmm penonton cowok dimanjain sama baju yang dikenakan rahmi..

overall film ini lebih bagus daripada film2 indo lain yang bareng tayangnya sama cintapuccino..

Comment by Scarlett

Made Friday, 21 of September , 2007 at 9:19 am

Hmm…mungkin masalah beda selera, meski banyak yg bilang novel Cintapuccino bagus, gw bilang novelnya tuh ngebosenin bgt…ceritanya datar2 aja tuh, krn ogah rugi aja gw maksain diri supaya bisa survive baca novelnya sampe habis =P

Cukup kaget juga tiba2 Cintapuccino yang ringan n datar bgt bs diangkat jd film bioskop…lebih kaget lagi setelah direview SI bisa dapet bintang!? =P

Sekali lagi ini mungkin hanya masalah beda selera…hehehe

Comment by diori

Made Friday, 21 of September , 2007 at 12:56 pm

i love this movie, better dibanding Maaf Saya Menghamili Istri Anda. ringan dan bikin penasaran kelanjutannya apa, sayang si miller ngerusak sosok NIMO

Comment by mya

Made Friday, 21 of September , 2007 at 8:15 pm

btw,,kenapa sih harus ada scene mpok atik?!

Comment by KRK

Made Saturday, 22 of September , 2007 at 11:31 pm

kayaknya semua chick-litoris, teen-litoris gak ada yang bermutu deh
jadi bisa dipastikan film ini gak bagus!

lolz

Comment by dian irawan

Made Monday, 24 of September , 2007 at 8:15 am

satu kata yang terus menerus keluar dari mulut temen aq saat nonton film ini… ‘gak banget deh’
orang dungu kayak miller kok bisa2nya dipake…
produk lokal jauh lebih baik Rud…
enyah miller dari perfilman indonesia!!!

Comment by bubbydee

Made Monday, 24 of September , 2007 at 10:32 am

haduh,, udah terpisah belasan kursi sm temen,, dpt kursi ujung pojok bawah,, malah gak dapet hiburan
yg ada malah pgn cepet2 owt dr bios
kok rudi kepikir buat pake miller seh?

Comment by dc

Made Monday, 24 of September , 2007 at 12:07 pm

belum liat pelemnya karna emang belum masuk bali..Napa ya film2 indo suka telat masuk sini…
ttg rudi gue stuju… ayo dong bikin film yang serius lagi..
kangen ama film2 rudi yang selevel AADC, mengejar matahari, 9 naga ampe yang ttg dia

Comment by lene

Made Monday, 24 of September , 2007 at 12:39 pm

banyak sebenernya film Rudy yg dapet ancut,tapi kenapa gak kena- kena yah?
kasusnya sama ama MenDut nih

Comment by candra

Made Monday, 24 of September , 2007 at 12:59 pm

yap setuju banget kalo ini film cocoknya di FTV aja. tapi masa Rudi Sudjarwo cuman FTV? dan masa Rudi Sudjarwo cuman sebatas FTV? kayanya doi bisa jauh lebih baik dari ’sekedar’ FTV deh.

pertama soal casting. sissy dan aditya oke banget! tapi sayang dari tampang kayanya sissy terlalu muda untuk kawin, kecuali kalo emang ceritanya dia kawin muda. gpp lah yang penting enak dipandang.. nadia biasa aja. miller? 5 kancut! mendingan diganti aja deh. kalo ga salah harusnya rambutnya ga seaneh itu deh. jadi kayanya yang sukses besar cuman aditya dan cameo2nya.

kedua ceritanya. kalo emang di bukunya udah kaya gitu, kayanya kita gak bisa terlalu complain deh.

sound dan scoring sangat annoying. masa hampir tiap scene ada musik yang itu2 mulu. “andaikan ku dapat, mengungkapkan perasaanku…” kayak gak ada scoring lain. cuman dari band baru bernama d’cinnamons.

tapi ada satu scene dimana lagunya berasa pas banget. yaitu pas raka dan rahmi di resto dan berlatar suara “aku cinta kau dan dia”-nya ahmad dhani. pas!! tapi lagunya fade out pada saat tak tepat. nge-drop deh

Comment by steve bay

Made Monday, 24 of September , 2007 at 1:41 pm

Gw dah baca novel plus skalian dah nonton filmnya,,
Emang dimana-mana pasti susah bwt mengimplementasikan sebuah novel (chick lit) menjadi sebuah film yg secara emosi sama dgn apa yg udah kita baca (ini bkn pembelaan bwt mas rudy s yach).
Dan satu lagi hal yg musti diperhatiin klo dah baca novelnya (chick lit), blm tentu d filmnya qta nemuin hal yg sama ma d novel, toh hollywood aja gt,,
Gw nonton dgn antusiasme rendah,coz gw dah skeptis ma per-film-an indonesia,,
Film dibuka dgn narasi,,gw lgsg antusias lg,,gw suka bgt klo film ada narasinya (subyektif nich),,
eh..kebelakang dgn dialog” yg panjang, kamera handheld (rudy bgt), beberapa chemistry yg kurang antar pemain dan u know ‘miller’..
alhasil sampe selesai adegan flashback gw berhasil tidur - tidur kucing dan bangun bgt pas adegan rahmi ma raka d hotel nyari tempat bwt resepsi pernikahan mereka,,
key..
1. overall film ini menarik, TAPI ga semenarik emosi seperti novelnya
2. Mana chemistry rahmi dan nimo??
3. gw b’harap klo d pandu narasi taw seperti diary gt mungkin bs tertolong..
4. kali ini gw ga setuju ma SI yg ngasih 1 bintang,,gw b’harap 1 kancut,,sorry film ini dr perpektif gw blm layak 1 bintang..
5. mungkin klo ada dvd nya nanti gw ttp beli,,lmyn bwt rembesan k kantor..
gw mungkin suatu hari jg akan d review d SI,,hehehe..doa in yach..

Comment by steve bay

Made Monday, 24 of September , 2007 at 1:46 pm

Tamabahan :
6. kelupaan maaf; salut bet penata musiknya,,ibaratnya gula d kopi pas bgt..

Comment by future filmmaker

Made Monday, 24 of September , 2007 at 4:01 pm

mungkin rudi sengaja memasukkan miler supaya ada unsur yg bisa ditertawakan oleh penonton.

Comment by jingga

Made Monday, 24 of September , 2007 at 8:40 pm

Emang engga diragukan kapasitas rudi dalam membuat film, tapi kadang manusia kan juga bisa khilaf, bukan orang yang sempurna yang selalu melakukan sesuatu dengan tepat di tempatnya..
Soal cerita, seperti kecurigaan gue sebelum nonton film ini, ceritannya pasti dangkal banget, yah secara yang diangkat dari novel ciklit. Novel yang sampai sekarang masih belum pernah gue baca. Tahu istilah ciklit juga dari emi yang doyan banget baca novel sejenis ini. Kalo soal isi cerita gue masih berpihak pada SANG DEWI ( yang sangat gue sayangkan penulisan skenarionya ). Sayang aja gabungan Jujur Prananto dan Rudi tidak membuat film ini lebih baik. Casting buat nemo bener2 ancur ya.. ( tapi kata produsernya justru dia yang paling tepat karena tidak merasa ganteng, helloooo, sebaiknya bali ke malay aja deh itu orang.. bikin rusuk film kita aja..) kalo buat tokoh yang lain oke lah.. terutama Sissy, yang enjoy banget memainkan tokoh ini. Adit juga lumayan sebagai new comer. Pok atiek bener2 ga penting tuh…!!!
Balik lagi ke soal cerita, walaupun gue belom baca bukunya, tapi eksekusi ending sangat mengecewakan. Bikin opini cerita dangkal lebih tinggi lagi… kok jadi gitu ya? Cuma gitu doang? Yah… ( penonton kecewa, kembalikan uang kami!!!! )

Trus soal lagu yang mengiringi film ini, gue setujulah sama lagu2nya Yana Yulio, tapp ya engga setiap adegan mesti ada lagu toh? Kenapa penonton tidak dianggap cerdas ntuk menangkap makna dari setiap adegan sih ?mengarahkan emosi penonton melalui iringan lagu? Ohhh tidakkkkkk!!!! Rudi… tolongggggg…. Perasaan AADC engga gitu deh dulu.

Yang bikin gue mau nonton film ini ya karena rudi dan sissy,untuk itu..bintang 1 mmmm boleh lah…

Comment by maruko

Made Tuesday, 25 of September , 2007 at 12:15 am

buat temen2 yang memberikan komentar berdasarkan penilaian hati pribadi terhadap si artis.. what ever lah ya.. sok atuh!bebas keun!terserah pendapat org2 aj!tp bagi gw itu udh ad tambahan unsur X, (ya.. pada dasarnya emng elo ga suka ma tu org, ya kyk BELLA BELLA itu deh di BBB, setelah gw liat beberapa comment dari tmn2 yang lebih memfokuskan kebencian terhadap pemainnya)bukan kritik terhadap filmnya(ya..ada siyh beberapa..yg cukup kompeten di blg sebagai sebuah comment yg pantas).
gw stuju banget tuh ma SI. emng ni rudy agak2 susah ditebak. tapi setelah gw nonton semua film2nya dari mulai Bintang jatuh ( itu tuh.. yang lighting nya msh kancrut bgt!(gila aja… ga di cutter apah?) emang standar rudy cuma segitu!gw stuju dgn SI!! ini pantesnya buat TV bukan Film bioskop.ya.. buat naikin standar sineron eh..sinetron di indonesia oke banget tuh!coba kita lihat lagi yang 2 film nya ( AADC, dan Mengejar Matahari). ya iyalah masih bagus! yg back_upin doi masih org2 keren!kyk Arya Teja, dkk. beda bgt ma film2nya belakang ini. yang semua divisi di hajar ma doi. mulai dari sutradara, dop, sampe Editor juga masih rudy! bagi2 rezeki kalee bwt para editor dan DOP!hehehe…
ni film ide ceritanya bagus! tapi sayang penyutradaraannya KURANG BANGET!!masih bagusan karya ( lebih kepenyutradaraan yah!) tugas akhir (TA) anak2 yang kuliah di sinematrografi deh.. uups!
huhuhuhuhu.. maap yah.. :) ..

Comment by hyoutan

Made Friday, 28 of September , 2007 at 12:00 am

Penokohan Nimo menjadi mellow ala melayu dan imut-imut pula begitu, ternyata tidak separah yang aku duga. Masih bisa aku terima sebagai “logika dalam”: yah maklumlah, siapa sangka logat norak menyedihkan begitu memang selera si Rahmi bloon itu, misalnya.
Banyak kok teknik perfilman yang mampu mengangkat sosok keren seseorang dengan kemampuan akting pas-pasan, hanya dengan membuatnya menyunggingkan ujung bibir, memiringkan kepala, berbicara cukup sepatah dua patah kata, sudah dapat memberikan kesan misterius yang mempesona. Film China all stars biasanya bisa begitu.

Yang paling parah di sana adalah kegagalan naskah skenario mengadaptasi wacana yang secara samar-samar timbul dalam karya ini.
Setidaknya, di dalam novel tergambarkan bagaimana obsesi seorang ‘Rahmi’ menjadikan seorang ‘Nimo’, seperti apa pun dia, sebagai “raison d’etre”nya. Rahmi tidak hanya mengimpikan Nimo dalam catatan harian berwarna pelangi yang terkunci rapi. Dia aktif bergerak maju dengan berusaha membuka kesempatannya sendiri: berjuang ‘menguntit’ Nimo masuk ekskul yang sama, terus kuliah di kampus yang sama, sampai kerja ke perusahaan yang sama segala…

Walaupun ujung-ujungnya, gara-gara selalu grogi dan salah tingkah, ia tidak pernah sanggup memanfaatkan kesempatan yang telah terbuka itu untuk berkenalan lebih dekat, dalam satu sisi hal tersebut positif, mendorongnya mengembangkan diri ke satu tujuan hidup.

Sampai suatu saat, berkat kehadiran Raka baik secara langsung maupun tidak langsung, Rahmi tersadar bahwa dia harus mulai menentukan jati diri, bukan sekadar menjiplak jalan hidup orang yang dikaguminya. Ia berbalik arah. Dan mungkin keputusan itulah justru hal yang membuat seorang Nimo mulai memperhitungkan Rahmi.

Alur seperti itu tidak diwujudkan dalam skenario film, entah terlewatkan, atau memang disengaja demi pembodohan bangsa.
Adegan-adegan sia-sia yang disorot seakan mengesankan bahwa apa yang terjadi pada diri Rahmi semuanya taken for granted. Dia hanya merokok demi menghindari konflik. Satu-satunya yang dia lakukan hanyalah ketika menggenjot gas mobil mencari toko surabi. Tali pengikat cerita film ini kok ya malah jadi surabi, bukan kopi. Filosofi mantap yang diajukan mengenai manis pahitnya cappuccino, pun tidak disinggung dengan tepat. Kalau begitu judulnya jangan cinTapuccino, tapi Serba-Serbi Surabi saja!

Sebenarnya banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh sutradara dalam bingkai cerita sederhana ini untuk menjadikannya film yang bernas.
= Para- (atau pseudo-?) Stockholm Syndrome yang mungkin menjangkiti Rahmi (selain nimonyous kronis) akibat keikutsertaan di ‘Ekskul keamanan’…
= Bagaimana para tokoh melampaui masa di antara keremajaan dan kedewasaan mereka, tonggak sejarah Indonesia, krismon, reformasi…
= Memanfaatkan latar distro untuk membuat sebuah ‘fashion statement’ yang tegas seputar visi dan misi di balik judul ‘Barbietch’ itu, dan dengannya mencetuskan sebuah trend mode baru.

Comment by duuh filem indonesia ??

Made Monday, 1 of October , 2007 at 9:52 pm

jujur aja ni pertama kali gw berhubungan dengan yg namanya cintapucino. ce gw si pernah ngomong klo novelnya bagus. een walhasil gw pnasaran ma ni filem.tapiii setelah gw nonton. gila !! 5 menit pertama aj dah mulai bosen, dan menit2 berikut diisi dengan rasa kantuk yg berlebihan akibat garingnya ni film.mana akting si mas gondrong tu aneh lagi ckckck serius ! rudi sujarwo?? cum on! i know u can do better than diz !!

Comment by PurpleGirl

Made Tuesday, 2 of October , 2007 at 9:30 am

Cintapucinno… not bad… lmyn menghibur… OST nya keren…
yg seru dari nonton film ini… g nonton brg ma tmn2 cewek g yg bikin film ini jadi seruu!! adegan romantis bisa jd ajang ceng2an kita satu sama lain… mungkin krn Miler “Nimo” itu ya.. yg bikin suasana romantis nya jadi maksaaa bgt… ;) ) tp the rest is lmyn menghibur.

Comment by dony

Made Wednesday, 3 of October , 2007 at 11:09 pm

denger2, the best movie di bali international film festival 2007 yg baru berakhir minggu lalu adalah coklat stroberi. hah ? hah ? koq bisa ? ini festival film apaan ? jurinya sapa ?

Comment by persis

Made Thursday, 4 of October , 2007 at 12:44 am

rudi jika di malaysia dia adalah aziz m.osman.
bukan x mampu hasil karya yang baik tapi mungkin kerana butuh wang yg sgt byk utk bikin filem sehebat “saving private ryan” jd apa saja yg boleh dtg kn duit akan on je hehu… :)

Comment by i_am_gue

Made Thursday, 4 of October , 2007 at 2:32 pm

Ya ampun ni film sampah bgt. Miler jd bhn ketawa ngakak ampe gw terpipis2, sissy overacting bgt, raka ky robot ga beremosi. Maksudnya pgn nampilin karakter sesuai novel, tp yg ada smua jd serba dangkal. Mana ada org umur 27an tampangnya ky gt? Ga pantes bgt. Smua dr film ini buruk kecuali lagu2 dr d’cinnamons. Gw & tmn2 gw yg baca bukunya dah stuju mestinya yg jd Rahmi = marcella zalianti/dinna olivia, Nimo = fahri albar/gary iskak, Raka siapa kek yg bs akting! Duh kacau berat, ky keabisan talenta lokal aja sih make miler yg ky org cacat mental gt.

Leave a comment

Terima kasih untuk tidak memasukkan spoiler, tidak menyerang secara personal, tidak mencaci sebelum menonton, tidak sok tahu, tidak sok asik, dan tidak marah-marah kalau tidak setuju dengan review kami atau pun komentar pembaca lain. (It's only film review gitu loooh...) Please keep Sinema Indonesia a pleasant place! Yang bandel akan di-ban selama-lamanya. :)

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com