Sinema Indonesia

Genderuwo (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Monday, 17 of September , 2007 at 1:00 am

Satu lagi bukti bahwa kita tidak harus selalu percaya apa yang dikatakan oleh orang tua. Dulu, guru saya, guru ngaji saya, orang tua saya, sering bilang kalau budaya barat adalah budaya yang buruk dan merusak. “Hati-hati dengan produk budaya barat. Termasuk film barat,” kata mereka. Setelah saya dewasa, saya menonton produk budaya yang “buruk dan merusak” ini. Salah satunya adalah serial Sex and the City. Saya tidak tau dampak apa yang saya dapat dari mengikuti tontonan ini (selain kepingin jadi Manolo Blahnik sehingga dipuja perempuan). Tapi teman-teman cewek saya yang juga megikuti serial ini dengan setia jadi meningkat cita rasanya, dalam berpakaian, dalam berbicara, dan mereka juga kepingin jadi perempuan-perempuan independen seperti Carrie Bradshaw. Dengan cerita, akting, dan penggarapan yang bagus, serial ini telah menginspirasi banyak orang.

Terus terang, kebiasaan dicekoki tentang “bahaya” budaya barat ini membuat kita jadi tidak sadar bahwa produk budaya timur sering kali lebih berbahaya. Lebih buruk dan lebih merusak. Paling tidak merusak perfilman Indonesia. Lihat saja “film” Genderuwo. Kata “film” saya kasih tanda kutip karena bisa saja Genderuwo dianggap sebagai sebuah film, kalau kita mau. Tapi ini juga berarti kita harus menerima pendapat yang mengatakan bahwa jerawat adalah “makanan”. Bisa saja toh, dimakan? Kalau makan jerawat sekilo, kan bisa kenyang juga. Tapi pertanyaannya, how desperate are we? (Tuh, kan. Pake bahasa barat lagi).

Maaf, bukannya saya sengaja menyinggung SARA SECHAN (Suku Agama Ras Sex Citarasa Hanamasa dan Nationality. Mau dibilang garing terserah). Saya tahu saya tidak boleh membuat sebuah generalisasi. Tapi kenapa sih yang kebagian ke kita bukan orang-orang berbakat seperti Ruth Prawer Jhabvala atau Mira Nair? Kenapa kita hanya kebagian orang-orang seperti KK Dheeraj yang membuat Genderuwo?

KK Dheeraj adalah anti-tesis (ciiiah… pake bahasa keren sekali-sekali) dari dari banyak hal.
Kalau ada yang bilang budaya malu adalah budaya timur, orang ini menghancurkan anggapan itu. Di barat sana, kalau seorang sutradara tidak puas dan malu akan filmnya, dia boleh mengajukan permohonan untuk menghilangkan namanya dari film tersebut. Diciptakanlah nama palsu Alan Smithee untuk para sutradara yang tidak mau mengakui sebuah film adalah filmnya. KK Dheeraj bukannya malu dengan salah satu film terburuk (atau mungkin terburuk) dalam sejarah manusia, dia malah dengan bangga menambahkan kata “film horror yang berbeda dan bermutu” di poster filmnya. Padahal kenyataannya, tidak ada satupun kualitas yang bisa dilihat dari film ini yang bisa menghentikan orang waras dari bunuh diri setelah membuatnya. Kamera handphone Bik Jessika saja bisa menghasilkan gambar yang lebih bags dari gambar Genderuwo. Skenarionya seakan-akan bukan ditulis oleh manusia, tapi oleh hamster. Itu pun setelah hamsternya disiram air panas dan dipotong ekornya. Sadis ya? Tapi ya memang seburuk itu. Belum lagi artistik dan kostumnya. Oh my God. Hamster yang disiram air panas dan dipotong ekornya saja masih lebih enak dilihat ketimbang film ini.

KK Dheraj berpikir, bahwa penggambaran hantu terseram adalah dengan cara men-zoom-in dan men-zoom-out boneka jelek beberapa kali, lalu mengganti warna layar menjadi merah, biru, hijau, dan kuning, setiap kali boneka tadi di-zoom. Olala, orang ini luar biasa naif atau luar biasa kurang ajar?

Luar biasanya lagi, “film” ini seakan-akan diedit dengan menggunakan Power Point. Satu adegan hanya disyut satu shot. kalau butuh close-up, gambar tadi di-zoom di komputer. Gambarnya pun jadi kecil sekali pixel-nya sehingga ujung-ujung gambar berbentuk tangga. Persis kayak masking yang menutupi penis dan vagina di film-film blue Jepang.

Lupakan Psikopat yang membuat Sinema Indonesia menciptakan sistem rating kancut. Film ini membuat Psikopat terlihat seperti film The Godfather. Dan kami hampir saja membuat sistem rating tinja. Tapi paling tidak, film ini sudah menimbulkan rasa nasionalisme yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh kami. Dengan ini, kami sebagai bagian dari rakyat Indonesia menyatakan keberatan kalau ini disebut buatan Indonesia, dan menuntut film ini dicoret dari bagian dari sejarah perfilman Indonesia.

X 1000 + nanah

Sutradara, Produser, Pemain: Genderuwo

Official Site

P.S. Posternya bilang: Genderuwo adalah hantu terseram di dunia. Tinggi besar dan banyak bulunya. Mungkinkah poster ini mencoba memberitahu kita sesuatu yang lain?

Comments (101)

Category: Review, kancut lima

Melly Goeslaw’s Bukan Bintang Biasa The Movie! (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 5 of August , 2007 at 12:32 pm

Kalau anda bertanya-tanya kenapa lama sekali baru kami menulis review untuk film yang “paling ditunggu-tunggu di tahun 2007” ini, kami mohon maaf karena kami sedang berada di Malaysia. Begitu kami selesai menonton ini dua minggu lalu, kami langsung mandi (karena merasa sangat kotor) dan langsung berangkat ke Malaysia mencari sutradara dan para pemain film Diva. Kami ingin meminta maaf kepada mereka karena telah mengolok-olok film mereka. Karena setelah menonton film Melly Goeslaw’s Bukan Bintang Biasa The Movie!, film Diva terasa seperti film Chicago, atau Singin’ in the Rain, atau Sound of Music. Masya Allah, setidaknya para filmmaker Diva masih berusaha untuk memberikan cerita untuk filmnya, secupu apapun, sementara BBB dibuat sebagai prototipe prosedur lobotomi tanpa operasi. Kami juga baru mengetahui ini setelah seorang professor memberikan kami sepasang kacamata khusus super canggih (berita tentang alat ini bisa dibaca di sini). Saat kami memakainya, kami bisa melihat bahwa ABG-ABG yang keluar dari bioskop setelah menonton BBB telah berubah menjadi alien bertubuh kecil berkepala besar dengan sulur-sulur yang melambai-lambai keluar dari kepala mereka. Mirip cumi juga, sih. Oh My God. BBB juga melumerkan otak mereka sehingga meleleh keluar dari hidung, telinga, dan mulut.

Ok, kami mungkin berlebihan… Karena sebenarnya otak ABG-ABG yang telah mencair itu hanya keluar lewat hidung dan mulut.

Bukan Bintang Biasa adalah film terburuk sepanjang tahun 2007. Padahal di tahun ini juga ada Suster Ngesot. Jangan percaya sama posternya yang cantik, filmnya seakan-akan dibikin sambil tidur.

Pembukaannya saja sudah memberikan peringatan bahwa filmnya akan jadi bodoh sekali. Raffi Sapatuhnamanya, Bella-Bella itu, dan beberapa seleb sinetron lain berperan sebagai mahasiswa di Jakarta School of PERFORMANCE Arts. Mau pakai bahasa Inggris tapi ngaco. Performing Arts, kalleeee… Coba sekarang ketik “school of performance arts” di google dan lihat yang keluar apa. “School of Performing Arts” kalleeeee…

Di sekolah ini mereka juga jadi penyiar radio kampus. Di sela-sela kesibukan mereka, ada cemburu, persaingan, lagu-lagu generik, tapi kebanyakan sih latihan kebodohan.

Film ini bukan saja membuat kita tidak peduli dengan karakter-karakternya, tapi kita jadi ingin membunuh mereka semua terutama Bella-Bella itu. Dan usaha memasukkan ide seorang karakter membayangkan hal-hal a la kartun seperti yang ada di Ally McBeals membuat kita semakin eneg.

Skrip film ini sepertinya hanya dibuat supaya si Bella-Bella itu bisa marah-marah sambil mengeluarkan suaranya yang serak-serak maunya seksi, supaya Raffi Sapatuhnamanya bisa goofing around serasa salah seorang karakter di American Pie, supaya Dimas Beck bisa senyam-senyum dengan tampangnya yang kelihatan seperti orang sakaw. Tidak ada plot, tidak ada cerita. Sungguh suatu pengalaman yang sangat mengerikan ketika menontonnya.

Kekecewaan kami karena tidak bisa menemui Ning Baizura di Malaysia menjadi bertambah parah ketika meninggalkan bandara Soekarno-Hatta sebuah billboard Bukan Bintang Biasa melambaikan tangan ke kami. Ohhh…. Ini mimpi buruk apaaaaaa….

Sutradara: Lasja F. Susantyo. Penulis: Lina, Titin Wattimena, Melly Goeslaw. Pemain: Laudya C. Bella, Raffi Ahmad, Chelsea Olivia, Dimas Beck, Ayu Shita. Produser: Melly Goeslaw. Produksi: Maxima Pictures.

Official Site
Jadwal Tayang 21 (Jadwal Lobotomi)

Comments (142)

Category: Review, kancut lima

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com