Sinema Indonesia

The Photograph (2007)

Posted by ferrysiregar on Monday, 9 of July , 2007 at 2:14 pm

Berangkat sekarang dan tonton The Photograph (sori karena baru me-review sekarang, thanks to DIVA yang bikin kami tepar seminggu dan Dodi merasa jadi Nicholas di 3 Hari Untuk Selamanya). Film terbaik Nan Achnas ini juga adalah salah satu film terbaik 2007 bersama Kala dan Nagabonar.

Shanty (yang semakin kami sayang) jadi perempuan yang bekerja sebagai penyanyi karaoke untuk mencari uang untuk dikirim ke kampung untuk anak dan neneknya yang sakit. Ketika dia indekos di kamar yang bahkan kami tidak mau tinggal di dalamnya, dia bersahabat (or, short of) dengan pemilik rumah, seorang laki-laki paruh baya yang kerja sebagai fotografer keliling, bitter dan menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang mengerikan.

Shanty dilahirkan untuk peran ini, melankolis sekaligus tegar (kalo nggak salah, istilahnya tegarkolis). Bintang film Singapura Lim Kay Tong yang berperan sebagai fotografer keliling juga susah untuk ditandingi pemain lokal, sekalipun bahasa Indonesianya sering terpeleset-peleset jadi bahasa Melayu. Ensemble cast lainnya yang terdiri dari Lukman Sardi, Indie Barends, Nicholas Saputra, dan Indra Bekti (akhirnya dia main film bagus juga) seperti icing on the cake.

Sayang, skenario yang ditulis sendiri oleh Nan jarang mampu menandingi sinematografi luar biasa yang boleh dibilang karya terbaik Yadi Sugandi. Somehow, chemistry antara Shanty dan Lim Kay Tong jarang klop. Demikian juga dengan adegan comic relief pas interview penerimaan fotografer magang yang lebih terasa seperti audisi main film. Terasa out of place. Tapi, secara keseluruhan film ini layak untuk mendapat penghormatan kita, dan bisa dijadikan antidot dari sengatan film-film busuk keluaran pedagang-pedagang itu. The Photograph menuntut kesabaran anda. Tapi anda akan menerima imbalan makanan hati dan mata sekeluarnya dari bioskop.

Sutradara/Penulis: Nan Achnas
Pemain: Shanty, Lim Kay Tong, Indie Barends, Lukman Sardi.
Produser: Shanty Harmayn, Paquita Widjaja-Afief.

Official Site
Jadwal Tayang 21
Jadwal Tayang Blitz

Comments (68)

Category: Review, bintang empat

Cumi (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Saturday, 7 of July , 2007 at 12:48 am

Kartika yang diperankan Ning Baizura adalah cumi yang sangat terkenal di Kuala Lumpur. Saking terkenalnya, seorang penggemar sampai terbalik mobilnya ketika mencoba untuk mengejar cumi pujaannya. Cumi Kartika merasa sangat bersalah karena keluarga penggemarnya yang ada di dalam mobil yang terbalik itu mati semua. Sang cumi mencoba untuk menebusnya. Dia pulang kampung untuk mencari bibit-bibit yang bisa dia latih untuk jadi cumi. Sayang sekali niat mulianya tidak mudah dilakukan. Ketika dia masuk ke rumahnya, ibunya mengusirnya. Ibunya benci sekali padanya karena dia dulu pergi meninggalkan keluarga untuk mengejar cita-citanya untuk menjadi cumi. Kasihan dia, karena menurut ibunya, satu-satunya jalan yang bisa diambil untuk mendapat maaf sang ibu adalah dengan cara menikah dengan Jeremy Thomas (glek!). Sementara itu, cumi Kartika menemukan dua murid di sekolah musik Jeremy Thomas yang punya bakat untuk menjadi cumi. Dua orang itu pun dibawa ke kota. Dalam perjalanan ke kota, dia bertemu seorang penjual pisang goreng dari Indonesia yang frustrasi setelah main Dealova, yang gemar bernyanyi-nyanyi sambil menggoreng pisang. “Hmmm… oke juga nih untuk dijadikan cumi juga,” pikirnya. Akhirnya, mereka semua ke kota untuk berlatih agar bisa mengikuti jejak Kartika… menjadi cumi.

Olala… CUMI yang disutradarai oleh seorang sutradara yang namanya, menurut Bik Jessika, sering muncul sebagai sutradara sinetron-sinetron Multivision ini adalah perpaduan super klop dari kebodohan sinetron dan ke-corny-an film Bollywood dengan level amburadulisme yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan kostum yang mungkin masih bisa diterima waktu Country Fiesta masih jadi idola kawula muda, dan jaman glitter masih dipakai sebagai campuran moisturizer oleh anak SMA. Poster film ini dicetak di atas kertas yang kerlap-kerlip, menggambarkan cita rasa film ini yang buruk luar biasa. Lupakan dialog (yang selalu switch dialeknya antara Malaysia dan Grogol), film ini dibuat dengan menggunakan logika kera atau zebra.

Ah, tidak cukup rupanya bioskop kita dipenuhi sampah-sampah domestik, sehingga masih perlu diisi sampah dari negara tetangga. Oh wait, sutradaranya orang Indonesia. Eh, nggak juga ding. Bah, ternyata mereka suka menyampah di mana-mana.

Sutradara: Sharad Sharan. Penulis: Sharad Sharan, Vikram Sood. Pemain: Ning Baizura, Jeremy Thomas, Awal Ashaari, Balkisyh, Jessica Iskandar. Produser: Sharad Sharan. Produksi: Astro Shaw Sdn. Bhd., Tarantella Pictures. 

Official Site 

Comments (70)

Category: Review

Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 24 of June , 2007 at 8:08 am

Monty Tiwa tidak harus meminta maaf pada siapa-siapa (seharusnya juga tidak kepada perserikatan keluarga Simamora yang menuntutnya untuk meminta maaf atas penggunaan marga mereka di film ini). Maaf, Saya Menghamili Istri Anda adalah sebuah komedi yang cerdas dan menyenangkan.

Setelah menyerahkan skrip-skripnya untuk disutradarai Rudi Soedjarwo (dan the much less-talented Indra Yudhistira), kali ini Monty menyutradarai sendiri ceritanya. Dan hasilnya ternyata jauh lebih baik dari film-filmnya yang disutradarai kedua sutradara itu.

Dibyo (Ringgo Agus Rahman, dalam penampilan yang hampir me-reset ke-overeksposannya) adalah seorang pecundang. Jadi figuran di beberapa film low budget, dia sudah lebih spak dari bintang film paling kondang. Dan ketika dia mendapat satu masalah besar yang berkaitan dengan seorang perempuan (Mulan Kwok, who’s not bad), usahanya untuk menyelesaikan masalah malah menyeretnya into deeper shit.

Setelah openingnya yang sangat pintar yang membuat kami terbahak-bahak, film lanjut dengan joke-joke yang hampir sama lucunya. Monty punya comedic timing yang sangat kuat. Ditambah lagi, para pemainnya mampu mengikuti irama komedi Monty, terutama new-comer Rizky Mocil yang main jadi sahabatnya Dibyo. Shanty juga layak diacungi jempol sebagai gadis batak, 180 derajat berbeda dari penampilannya yang kuat sebagai femme fatale di Kala.

Sayangnya, sebagai film komedi Maaf Saya Menghamili Istri Anda kurang solid karena ada beberapa bagian yang melodramatik (kecenderungan yang selalu kami dapati dari skenario-skenario tulisan Monty), lengkap dengan music score yang didayu-dayuin. Dan film ini bisa jadi lebih baik jika tidak dikerjakan dengan terburu-buru (film ini adalah satu dari proyek suting 7 hari Monty Tiwa/Rudi Soedjarwo). Karena dengan hasil teknis seperti itu, film ini bisa saja ditandingi oleh, misalnya, Bajaj Bajuri yang juga pernah sama lucunya. Seharusnya film bioskop memang lebih cinematic dari film TV. Kan kita beli tiket. Mesti beda dong, ah.

Tapi overall, ini adalah debut penyutradraan yang menjanjikan dari Monty Tiwa.

Penulis/Sutradara: Monty Tiwa
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Mulan Kwok, Shanty, Rizky Mocil, Eddie Karsito.
Produser: Rudi Soedjarwo, Novi Christina
Produksi: Sinemart Pictures

Jadwal Tayang
Official Site

Comments (100)

Category: Review

Coklat Stroberi (2007)

Posted by ferrysiregar on Thursday, 21 of June , 2007 at 11:18 pm

Setelah setan dan band indie, ada satu lagi objek yang paling sering dieksploitasi di film Indonesia. Coba tebak apa. Hint: kalau saja tiga objek ini kita satukan dan kita jadikan ide untuk bikin film, bunyinya bisa seperti ini:
- Setan gay bikin band indie, atau
- Daripada bikin band indie yang menyembah setan, mendingan menyembah gay, atau:
- Gara-gara diteriakin “setan!” waktu manggung dengan band indie, seorang cowok jadi gay.
Yes. Satu lagi objek yang sering dieksploitasi itu adalah gay. Oke, kami juga sering menggunakan gay jokes. Tapi kami melakukannya secara tepat guna (ciee tepat gunaaaaaa…). Sayangnya, Coklat Stroberi mengeksploitasi isu gay secara politically-incorrect. We’ll get to that later.

Nonton Coklat Stroberi sungguh bikin frustrasi karena kita akan merasa tertipu. Dengan menyindir sinetron di pembukaannya, film ini seharusnya bisa jadi sesuatu yang lebih baik dari yang diejeknya. Sayang, tidak begitu jadinya.

Coklat Stroberri bercerita tentang dua orang cewek yang, karena tidak mampu membayar uang kontrakan, mesti rela rumah kontrakan mereka dimasukin dua orang baru: dua cowok yang mestinya dari baunya sejauh 10 meter saja sudah bisa diketahui kalau mereka gay. Yang satu jelas-jelas melambai lebih meliuk dari ujung pohon di Rayuan Pulau Kelapa, yang dengan cowok yang satu lagi selalu berbisik-bisik lebih intim dari Raja Kelana (idenya Dodi. Garing memang. Hi hi hi…). Masalahnya adalah, ketidaktahuan kedua cewek ini yang dijadikan ide utama film ini (premis, ya, katanya). Sehingga saat kedua cewek ini digambarkan naksir cowok-cowok ini, kita jadi merasa sebal karena mereka bodoh sekali, thus, film menggunakan logika yang selalu dipakai oleh sinetron.

Secara teknis, film pertama dari Ardi Oktaviand yang tadinya sutradara iklan ini memang terlihat membosankan. Gambar-gambar yang ditampilkan Rudi Soedjarwo dengan tujuh hari sutingnya saja jauh lebih membuat kita tertarik untuk terus mengikuti. Beberapa adegan malah terasa sangat out-of-place, termasuk karakter-karakternya yang berdiri di belakang neon sign besar dengan tulisan-tulisan yang kami yakin dimaksudkan untuk jadi puitis seperti SILENCE dan PRECIOUS. Untung tidak ada MY PRECIOUS sehingga kami tidak harus berharap munculnya Gholum.

Kenapa kami bilang politically-incorrect? Ini terjadi di resolusi film ini dan untuk tidak men-spoil endingnya, unfortunately, anda memang harus tonton sendiri.

Sutradara: Ardy Octaviand
Penulis: Upi
Pemain: Marrio Merdhithia, Nino Fernandez, Nadia Saphira, Marsha Timothy
Produser: Adiyanto Sumardjono, Upi, Khristo Damar Alam
Produksi: Investasi Film Indonesia

Jadwal Tayang
Official Site

Comments (89)

Category: Review

3 Hari Untuk Selamanya (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Saturday, 16 of June , 2007 at 12:51 pm

Film kelima Riri Riza adalah road movie tentang dua orang yang sepupuan bernama Yusuf dan Ambar (Nicholas dan Adinia), keduanya baru lulus SMA, yang naik mobil dari Jakarta ke Jogja dengan misi mengantar seperangkat piring dan gelas antik untuk prosesi acara pernikahan kakaknya Ambar. Perjalanan yang seharusnya cuma sehari jadi tiga hari. Tiga hari yang (seharusnya) merubah hidup mereka.

3 Hari Untuk Selamanya (seharusnya) sejiwa dengan film-film yang berjalan karena disetir lebih oleh karakter-karakternya ketimbang plot (bahasa pinternya “character-driven“, katanya sih) yang (seharusnya) menarik penonton ke dalam dunia yang didiami karakter-karakternya dengan atmosfer yang pekat, dengan musik yang menghanyutkan (atau tanpa musik sama sekali) dan ide-ide yang dengan kuat mencuatkan kegelisahan karakter-karakternya. Lihatlah lagi Y Tu Mama Tambien, Lost in Translation, Waking Life, atau (kalau anda beruntung) Chuck & Buck di mana dua dari filmmaker favorit kami, Chris Weitz dan Paul Weitz yang bertanggung jawab atas film-film supercool seperti About A Boy dan American Pie berperan sebagai aktor.

Riri Riza patut diberi pujian karena konsisten membuat film karena ingin menyuarakan sesuatu ketimbang jadi pedagang film dan karena mau mengambil resiko menangani genre di negeri di mana bahkan reviewer dari media paling top saja nge-bash film ini karena “tidak ada ceritanya”.

Riri juga berhak atas kredit karena berhasil membuat road movie yang lebih berhasil ketimbang road movie yang dielu-elukan sebagai salah satu milestone perfilman Indonesia yang berjudul Cinta Dalam Sepotong Roti yang sepretensius judulnya.

Masalahnya, 3 Hari Untuk Selamanya belum berhasil menjadi sajian yang solid. Saat di beberapa sisi oke banget, di sisi lain masih kurang ngaceng.

Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti berhasil menciptakan penampilan duo yang cukup megang, rileks, dan sangat believable. Sayangnya, pilihan para pemain pendukungnya terasa mengganggu. Selain Agus Ringgo Rahman yang lebih over-exposed dari bulu dada Jeremy Thomas (atau lipgloss-nya Jeremy Teti), pemunculan Tarsan sebagai Pak Haji mesum lebih disturbing ketimbang amusing.

Kalau sebagian besar penonton dan reviewer secara koor bilang “flaaaaat…” sebenarnya tidak bisa disalahkan juga. Bahkan momen yang paling berhasil di film ini at best saja masih terasa kayak kopi decaf (sok ye banget dah, gue). Dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalah sutradara dan penulis skenario. Penulis skrip Sinar Ayu Massie sudah cukup cerdas tidak terjebak untuk memberikan Nicholas dan Adinia karakter-karakter yang stereotip. Sekalipun keduanya seharusnya bertolak belakang, yang satu gaul banget dan into free sex, tapi yang lebih tidak gaul tidak digambarkan culun. Tapi dialog-dialog yang diberikan ke mereka lebih bikin geli ketimbang jujur. Bukankah kalimat “orang yang gagal adalah orang nggak pernah mencoba” lebih cocok dibaca di kartu Harvest ketimbang di film yang maunya cerdas dan cool? Justru kami tidak punya masalah dengan dialog-dialog yang katanya remeh temeh, asal sutradaranya bisa membuatnya jadi amusing buat diikuti kayak film Don’t Come Knocking (ada kok di Menteng). Sayangnya, ini yang nggak selalu berhasil dibangun Riri Riza.

Film-film sejenis 3 Hari Untuk Selamanya biasanya, sekalipun di permukaan tenang, mengeluarkan aura dan energi yang dihasilkan dari kegelisahan yang dirasakan dan ingin diventilasikan oleh filmmakernya. Lost in Translation adalah hasil dari kesepian yang dirasakan Sofia Coppola atas perkawinannnya yang gagal bersama Spike Jonze (katanya). Easy Rider adalah kegelisahan Dennis Hopper dan Peter Fonda tentang hidup di Amerika pada jaman itu. Untungnya lagi, kedua film itu didukung oleh soundtrack berisi lagu-lagu berenergi eksplosif. Sayang sekali lagu-lagu Float yang mengisi 3 Hari Untuk Selamanya terlalu nge-float untuk mampu memberi power pada film ini.

Tapi film ini bukan sepenuhnya merupakan kegagalan. Film ini bahkan lebih baik dari Gie dan masih memiliki momen-momen precious, terutama yang dihasilkan dari interaksi Nicholas-Adinia. Dan setelah menyaksikan film-film sampah yang neverending, film ini memberikan setitik pencerahan dan Riri Riza layak diberikan penghargaan untuk mencoba.

Sutradara: Riri Riza
Penulis: Sinar Ayu Massie
Pemain: Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Tarsan, Agus Ringgo Rahman
Produser: Mira Lesmana
Produksi: Miles Films, Sinemart
Durasi: 112 menit

Official Site
Jadwal Tayang Blitz
Jadwal Tayang 21

Comments (98)

Category: Review

Malam Jumat Kliwon (2007)

Posted by ferrysiregar on Tuesday, 12 of June , 2007 at 8:37 pm

SUATU HARI DI KANTOR SEORANG PRODUSER “KORROR”

Shanker Rs. berdiri memandangi sebuah plakat yang baru saja digantungnya di dinding, tepat di atas kursinya. Tertulis:

“BEST PRODUCER OF HORROR
SHANKER Rs.”

Plakat itu ditandatangani oleh seseorang dengan nama “KHRESNA Sr.”. Shanker telah belajar dari seseorang yang telah jadi long-time collaborator-nya bahwa you can be as many people as you wanna be. Dan, kalau tidak ada yang mau memberi pujian atas film-filmnya, “your other self” selalu bisa diandalkan untuk untuk membuatnya kembali ceria.

Dia kembali duduk dan membolak-balik tumpukan skenario siap bikin yang berserakan di atas mejanya. Beberapa judul terbaca: “Setan Tuyul“, “Nini Towok“, “Nenek Gerondong“, “Kolor Ijo“. Dia terlihat kesal dan menelpon sekretarisnya.
“Ya, Pak?” jawab sekretarisnya.
You janji bawa skrip yang judulnya nama tempat. Mana?” hardik Shanker.
“Nama tempat-tempat yang berhantu udah habis, Pak. Terakhir Terowongan Casablanca.”
“AHH..! Bukannya ada satu lagi tuh. Di dekat Menteng, ada jembatan. I sering liat hantu-hantu di situ.” kata Shanker.
“Itu Taman Lawang, Pak. Dan itu bukan hantu,” kata sekretarisnya.
“AH, I tidak mau tau. You cari nama tempat yang berhantu.” Shanker menutup telpon.

Pintu dibuka dan seseorang melongokkan kepalanya ke dalam sambil tersenyum lebar.
“KOYA MY BRODEEERRR…” seru Shanker. Koya Pagayo masuk dan memeluk Shanker. Keduanya semakin lama semakin akrab, terlebih-lebih setelah peristiwa FFI 2006 yang membuat keduanya dicemooh secara nasional. Untung masih ada Kompas yang memuat kisah hidup Koya di halaman satu dengan dramatis dan membuatnya terlihat sebagai korban, ketimbang penjahat hak cipta.
You got something for me, Broder?” tanya Shanker.
Yes. Gue punya ide brilian, Bro. Ceritanya…” Belum selesai Koya berbicara, Shanker memotongnya.
“Judul, judul, Broder. You tau I tidak peduli soal cerita. Title! Title!
“Malam Jumat Kliwon.” Koya tersenyum.
“Malam… Jumat… Kliwon.” Shanker manggut-manggut. “JENIUS! JENIUS, Broder!”
Keduanya tertawa dan berpelukan. Shanker mencengkeram pantat Koya dengan gemas.
Ouch. I love when you do that, Bro,” kata Koya.
I’ll give you another one later. Tell me… setan-setan apa aja yang bisa kita masukin di sini?” tanya Shanker.
“Semua, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan!” Senyum Koya tersenyum lebar. Shanker tertawa dan kembali memeluknya.
“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.
“Ouch. I love when you do that, Bro,” kata Koya.
I’ll give you another one later. Now tell me… tiap berapa menit sekali kita bisa menampilkan setan-setannya?” tanya Shanker.
“Setiap menit, Broder! Malam Jumat Kliwon itu malam setan-setan pada gentayangan sepanjang malam! Dan sebagai bonus, gue bakal masukin satu adegan dari Silent Hill!” Senyum Koya semakin lebar. Shanker kembali memeluk Koya.
“JENIUS! JENIUS, BRODER!” Shanker kembali meremas pantat Koya.
Ouch. I love it when you do that, Bro.”
I’ll give you one squeeze at the premiere setiap kali hantunya muncul, Broder,” kata Shanker.
Koya tersenyum sumringah.

Tiba-tiba di luar terdengar anak-anak SMP mulai upacara bendera. Letak sekolah itu tepat di belakang kantor Shanker. Seorang anak terdengar membacakan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Saat anak itu akan sampai pada kalimat: “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” Shanker menutup jendelanya.
I tidak suka kalimat itu, Bro. Bayangkan kalau orang Indonesia cerdas, kita susah cari duit, Broder.” kata Shanker.
Koya hanya mengangguk-angguk.
“Ok lah. Ge cabut dulu, Bro. Persiapan suting,” Koya beranjak.
“Ok, Broder. Jangan lupa perjanjian kita,” kata Shanker.
“Don’t worry, Bro,” Koya keluar. Keduanya lupa untuk mencari cerita untuk film Malam Jumat Kliwon, tapi rupanya itu bukan masalah buat keduanya.

Tak lama kemudian, Malam Jumat Kliwon mulai ditayangkan di bioskop. Cerita ecek-eceknya tentang lima orang anak muda yang diteror setan-setan di sebuah bangunan bekas rumah sakit. Lucunya, tak ada satupun yang punya niat untuk keluar dari situ. Editingnya juga paling ancur yang pernah dilihat di film bioskop, dengan musik-musik yang masih curian. Tapi memang filmnya tetap laku. Pembukaan UUD 45 ternyata tidak jalan. Dan saat premiere, Koya duduk di sebelah Shanker. Tak ada satupun yang tahu, dari mana asal suara “OUCH!” setiap kali setan muncul di layar. Tapi kami tahu…

Sutradara: Koya Pagayo
Pemain: Robertino (The only good thing here), Ben Joshua, Gracia Indri, Debby Kristi.
Produser: Shanker Rs. Bsc.
Produksi: Indika Entertainment
Durasi: 90 menit

Comments (120)

Category: Review

Mengejar Mas Mas (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Saturday, 26 of May , 2007 at 8:46 am

As if satu film seperti I Love You, Om tidak cukup, Rudy Sudjarwo dan Monty Tiwa merasa perlu untuk membuat film dengan ide yang sama. Bedanya, kalau I Love You, Om adalah film… err… horror, Mengejar Mas-Mas adalah film komedi. Well, tidak sepenuhnya tepat jika disebut “komedi”, sih. Secara adegan yang benar-benar lucu dalam film ini sama jarangnya dengan jumlah orang jujur di DPR, atau Viagra asli di warung-warung obat kuat sepanjang Jalan Hayam Wuruk (tanya Ferry kalau tidak percaya). In fact, tidak jelas apa yang ingin diceritakan Rudy/Monty di sini, secara tidak ada plot yang benar-benar kuat. Apakah ini tentang seorang cewek yang mencoba menggaet seorang laki-laki yang usianya jauh lebih tua? Nggak juga. Justru di sini, laki-lakinya yang mengejar-ngejar si cewek. Apa ini tentang seorang cewek metropolis yang mengejar-ngejar seorang laki-laki desa? Nggak juga. Justru laki-laki desanya (dan Jogja, gitu loh. It’s hardly a desa) yang mengejar-ngejar cewek metropolisnya. Apakah ini simply tentang orang-orang yang terlibat benturan budaya kota dan desa? Kalau begitu, skenarionya hanya mampu menampilkan masalah-masalah yang artifisial (cewek kota ditandai dengan celana pendek yang lebih tinggi dari lipatan paha, cowok kampung ditandai dengan blangkon). Apakah ini semata-mata komedi ringan yang cuma ingin membuat penonton tertawa? Nggak lucu jugaaa…

Jawabannya ternyata jauh lebih simpel: Mengejar Mas-Mas adalah proyek mengejar setoran. Dibikin secara instan dan asal. Sejauh ini, Mengejar Mas Mas mendapat nilai terendah dari serentetan proyek tujuh-hari-suting Rudy Sudjarwo/Monty Tiwa setelah Mendadak Dangdut dan Pocong 2. (Sialnya, masih ada Maaf Saya Menghamili Istri Anda dan Cintapuccino). Di sini semuanya serba contrived. Supaya si cewek Jakarta bisa ke Jogja, bapak si cewek dibikin mati dan ibu si cewek pacaran lagi sehingga membuat si cewek marah. Supaya si cewek bisa tinggal sama seorang pelacur, cowok si cewek mesti pergi naik gunung untuk beberapa hari. Supaya penonton ber-demand rendah bisa terkenyut-kenyut hatinya, si mas-mas dibikin tidak mampu ngeluarin duit buat ngebetulin rem sepedanya yang blong.

Kalaupun misalnya aman di skenario, film ini masih harus berurusan dengan tokoh utamanya (Poppy Savia) yang sama sekali gagal membuat kita peduli padanya. Marah-maraaaah… mulu.

Yang bisa ditonton di film ini adalah akting Dinna Olivia yang cihuy. Tapi masalahnya lagi, Dinna Olivia juga salah kasting sebagai pelacur murahan yang sekali service cuma laku 50 ribu perak. Mbak-mbak di Stadium yang tampangnya gitu aja bisa 10 kali lipat (tanya Ferry kalau nggak percaya).

Beberapa momen yang benar-benar lucu (termasuk profesi yang diakui Dinna Olivia untuk menutupi pekerjaan aslinya) mengurangi kancut yang seharusnya diterima oleh film ini.

Tapi, mbok ya jangan mikirin diri sendiri. Bukan berarti kalian bisa suting dengan bujet rendah banget, lantas tiket yang kami beli bisa lebih rendah dari harga biasa, kan? Bukan berarti kalian sutingnya cepet, lantas durasi filmnya pendek sehingga penderitaan kami pas nontonnya nggak mesti terlalu lama, kan? Kan? Kan? KAAAAAAAAAN???

Sutradara: Rudy Sudjarwo
Penulis: Monty Tiwa
Pemain: Dinna Olivia, Poppy Savia, Dwi Sasono, Elmayana Sabrenia, Ira Wibowo, Roy Marten.
Produser: Lala Hamid
Produksi: DePic Production
Durasi: 94 menit

Official Site
Jadwal Tayang

Comments (152)

Category: Review

Love is Cinta (2007)

Posted by ferrysiregar on Friday, 18 of May , 2007 at 11:04 am

Love is Cinta dan Cinta adalah cewek ribet. Asli. Cerita film ini ada cuma karena Cinta (Acha Septriasa) ingin mendengar kata “Aku cinta padamu” dari Ryan (Irwansyah). Mereka sudah lama dekat dan Ryan sudah bilang “Gue sayang elo”. Tapi rupanya ini tidak cukup buat Cinta. Dia mau dengar kata “cinta”. Jadi di sepanjang film, Cinta selalu teriak-teriak histeris “GUE PENGEN DAPET KEPASTIAAAAAAANN..!!” Ribet banget, kan? Hari gini geto, looo…

Masalah terbesar dari film ini adalah, baik penulis skenario Armantono dan sutradara Hanny R. Saputra adalah pencerita yang buruk. Di tangan storyteller yang kompeten, ide tipis ini bisa saja jadi film yang manis. Sayangnya kita memang tidak bisa berharap banyak dari penulis film Heart dan Mirror ini yang selalu tidak mampu memberikan dialog yang natural. Semuanya mesti over-the-top. Ini membuat Acha Septriasa yang memang dari sononya sudah freaky, jadi tambah menyeramkan. Di sini Acha kelihatan seperti versi manusia dari boneka Bride of Chucky. Setiap kali dia ngomong kami selalu tutup kuping. Kacaunya lagi, Armantono terlalu jadul untuk menulis skenario tentang anak muda. Coba, mana ada jaman sekarang anak SMA lulus-lulusan di jalanan sambil nyanyi Di Sana Senang Di Sini Senang? Yang ada juga Di Sana Nyimeng Di Sini Nyimeng. (Well, mungkin bukan but you got the point, right?)

Plot-nya mau dibikin magical kayak Fly Me to Polaris. Tapi jatuhnya simply ridiculous. Ryan yang tadinya akan meninggalkan Cinta untuk kuliah di Amerika, batal pergi. Dan, (tanpa memberikan spoiler seperti yang selalu dilakukan para reviewer KOMPAS –aduuuh, bodoh-bodoh sekali ya mereka itu–) Ryan berganti wujud sebagai Doni yang diperankan Raffi Ahmad. (Mungkin cuma karena Raffi Ahmad pinter nangis sedangkan Irwansyah mesti dibantu sepuluh botol Insto). Semuanya terjadi dalam satu sequence yang melibatkan malaikat botak yang dijamin membuat anda cekikan ketimbang terharu.

Durasi 140 menit (!!!) sebagian besar dihuni scene-scene nggak penting, yang terutama melibatkan seorang cowok yang suka sama Cinta yang terlihat seperti versi murah dari Nicholas Saputra (kurang shameless apa lagi, coba?). Dan Hanny R. Saputra semakin ke sini semakin buruk penyutradaraannya. Di tangan Hanny, plot holes jadi plot lakes. Tunggu sampai anda melihat sebuah majalah dengan sampul dengan headline: SEORANG GAY MATI BUNUH DIRI. Majalah apa tuuuuuuuuu… Dan banyak lagi yang kalau didaftar cuma bikin kami merasa sama bodohnya dengan para filmmaker film ini.

Dihiasi lagu-lagu corny yang hazardous for your ears.

Sutradara: Hanny R. Saputra
Penulis: Armantono
Pemain: Acha Septriasa, Raffi Ahmad, Irwansyah, Henidar Amroe, Tio Pakusadewo
Produser: Chand PArwez Servia
Produksi: StarVision

Jadwal Tayang

Comments (117)

Category: Review

Suster Ngesot (2007)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 13 of May , 2007 at 4:56 pm

Ground Control to Major Dodi…
Ground Control to Major Dodi…
Where are you, Dod?
Elo janji elo yang bakal nge-review film horror setelah
Angker Batu.
Kita nggak boleh ngebiarin pembaca kelamaan nunggu. Kita harus menyelamatkan mereka, Dod.
Yeah… gue tau elo bakal bilang “Buat apa mencoba kalau mereka nggak mau diselamatkan?”. Gue tau elo bakal bilang. segunung kancut pun kita kasih ke Suster Ngesot, orang-orang bakal tetep menuhin bioskop.
Tapi gue tetep ngerasa kita mesti terus nulis, Dod. Dan akhirnya kemarin gue nonton.

Lo tau nggak? Suster Ngesot adalah titik terendah dari sepak terjang para pedagang itu (bukan filmmaker) dalam memanfaatkan selera rendah dari sekelompok masyarakat yang kebetulan jadi group terbesar dalam demografi penonton bioskop Indonesia. Nia Ramasiapatuhnamanya can’t act. Yang lebih parah, Mike Lewis bahkan nggak bisa ngomong! Bahkan susternya aja nggak ngesot. Cuma tangannya doang yang ngeraba-raba kasur buat megang tangan korbannya. Itu pun nggak pernah berhasil. Pernah ada satu kali susternya nemplok di belakang mobil kayak cicak. Mungkin satu-satunya yang ngesot adalah IQ para pembuatnya.

Jadi ceritanya si Nia Ramasiapatuhanamanya jadi perawat dan tinggal di asrama perawat. Anehnya di asrama perawat itu kayaknya nggak ada yang ngerti hygene. Kamar mandi jorok banget! (Eh, elo masih pengen jadi perawat? Jangan masuk asrama situ, ya). Terus si Nia Ramasiapatuhnamanya nemuin buku. Di buku itu muncul huruf-huruf orang yang bakal mati. Pertama yang muncul huruf S. Laki-laki yang namanya Syamsul mati. Terus muncul huruf H. Yang namanya Hasan mati. Terus huruf I. Orang yang namanya Indira mati. tadinya gue berharap huruf berikutnya bakal T. Jadi tepat menggambarkan filmnya. SHIT. Ternyata bukan.

Asli jelek mampus, Dod. Maag gue sampai kambuh.
Elo balik dong, Dod. Elo mesti nge-review
Malam Jumat Kliwon

 

Temen elo,

Ferry 

P.S. Film ini juga ditulis sama penulis I Love You, Om… juga. Hebat banget dia nulis dua film dua-duanya dapet lima kancut. 

Sutradara: Arie Aziz
Penulis: Aviv Elham
Pemain: Nia Ramadhani, Mike Lewis, Donita, Lia Waode, Jajang C. Noer, Arswendy Nasution, Mastur.
Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Produksi: MD Pictures
Durasi: 87 menit

Jadwal Tayang

Comments (94)

Category: Review

Angker Batu (2007)

Posted by ferrysiregar on Tuesday, 1 of May , 2007 at 8:12 am

Kami benar-benar tidak punya masalah dengan fakta bahwa Angker Batu me-rip-off plot semua film zombie (dari mulai Zombie sampai 28 Days Later) dan mengganti mayat hidup dengan berbagai macam setan. Malah kami menganggap langkah ini cukup pintar. Yang bikin kami sebal adalah, filmmakernya tidak mampu menciptakan sedikitpun ketegangan. Jadi kayak anak sekolah pas ulangan, sudah dikasih contekan pun masih salah tulis. Setelah menonton KALA (yang secara misterius langsung menghilang dari bioskop), nonton Angker Batu bikin sakit mata. Kualitas gambarnya sama dengan Dunia Lain The Movie. Inilah yang terjadi kalau orang tetap saja melahap film horror apapun yang dikeluarkan para pencari untung (bukan filmmaker). Semakin lama mereka semakin tidak peduli dengan kualitas. Besok-besok mereka pasti akan mulai suting pakai kamera handphone. CDMA pula. Dua orang jurnalis TV yang bekerja untuk sebuah stasiun TV Korea pergi ke sebuah daerah di Jawa bernama Angker Batu untuk mencari dua rekan mereka yang hilang saat meliput pembangunan sebuah resort di daerah itu. Penting banget emang, sampai-sampai pembangunan resort saja diliput. Ketika mereka di sana, kota itu sudah kosong ditinggal penduduknya. Tak lama kemudian, setan-setan pun mengepung mereka. Nggak nyerang, sih. Cuma nari-nari mengelilingi mereka dengan koreografi yang mungkin dibikin oleh seorang yang drop-out dari Ari Tulang School of Dance. Aaah… Kalau bioskop yang memutar film seperti ini masih saja dipenuhi penonton, mungkin kita belum berhak untuk menuntut supaya film Indonesia bisa maju. Seperti lagu Radiohead yang dinyanyikan Dodi sepanjang nonton film ini: “Yuduit tuyorself yudu… datswat riliherts…” Seorang cewek ABG di belakang kami berkomentar: “Iiihh… kemasukan jugaaaa…” Dodi berang dan menjawab: “IYA! KEMASUKAN TOMYOOOOORK!” Cewek ABG itu membalas: “Emang ada, ya? Setan apa tuh?” Dodi menjerit histeris frustrasi dan keluar dari bioskop. Sampai review ini diposting, saya belum tahu dia ada di mana. Mungkin dia ke Angker Batu ngajar setan-setan dance.

Sutradara: Jose Poernomo
Penulis: Jose Poernomo, Hilman Mutasi
Pemain: Mieke Amalia, Yama Carlos, Susilo Badar, Imelda Therinne, Nuri Maulida, Bayu S. Wiguna, dan ratusan setan.
Produser: Jose Poernomo
Produksi: Liquid Media
Durasi: 86 menit

Jadwal Tayang

Comments (37)

Category: Review

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com