Sinema Indonesia

Gue Kapok Jatuh Cinta (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:52 pm

Kabar baik: Gue Kapok Jatuh Cinta ternyata jauh lebih terhormat ketimbang sepupunya yang lebih kaya, Jomblo.

Kabar buruknya: jika anda berniat untuk menontonnya sekarang, filmnya mungkin sudah menghilang sama sekali di bioskop-bioskop Jakarta.

Tanpa nama dan bujet besar, Gue Kapok Jatuh Cinta terasa kayak film independen yang bagus yang sedikit demi sedikit memikat hati anda hingga akhirnya anda jadi begitu peduli dengan nasib karakter-karakternya.

Film nyeritain tentang lima sahabat (yang nama-namanya diambil dari nama-nama penyanyi band-band terkenal Indonesia) dan kesehari-harian mereka menangani urusan persahabatan dan perempuan. Ada yang belum bisa melupakan mantan pacarnya, ada anak orang kaya yang menyembunyikan identitasnya karena kuatir kalau cewek yang mendekatinya cuman buat materi, ada yang jadi selebriti karena jadi ahli Hong Shui, ada yang cuma happy-go-lucky, ada yang menyembunyikan masalahnya dengan menjadi party-goer.

Saya nggak bisa menghindari untuk nggak membandingan film ini dengan Jomblo (kabarnya, Gue Kapok Jatuh Cinta tadinya berjudul Jomblo Forever). Bedanya dengan Jomblo yang jauh lebih high-profile, karakter-karakter di film ini nggak terperosok jadi sebatas karikatur aja (dan nggak ada yang pake kostum ayam kok, tenang aja). Semua karakter utama berkembang dan sama kuatnya. Dan lagi, sekalipun ini film cowok, film ini nggak menjadikan karakter-karakter perempuannya cuman jadi sebatas pelengkap penderita.

Ada banyak dialog di film ini, tapi kita nggak merasa kayak lagi dikuliahin pas dengerinnya. Sekalipun dipaparin secara upbeat, tapi kita bisa ngerasain ke-moody-an temanya.

Gue Kapok Jatuh Cinta jujur memaparkan kehidupan anak muda dan nggak berusaha jadi politically-correct. Dan yang pasti, film ini lebih tahu masalah drug, jadi nggak ada orang yang berhalusinasi melihat hanoman cuman karena nge-gele.

Kelemahannya, ada banyak bagian kurang significant (yang bikin saya beberapa kali tertidur) yang mestinya di-trim sehingga bisa mengurangi durasi yang naujubilla panjang buat film dengan tema seperti ini. Joke-jokenya juga nggak selalu berhasil meskipun banyak yang bener-bener lucu dan berkelas.

Kesimpulannya, dengan segala kelemahannya, Gue Kapok Jatuh Cinta lebih berhak bertahan lebih lama di bioskop-bioskop dan ditonton lebih banyak pemirsa.

CATATAN:
Lembaga Sensor Film ternyata semakin hari semakin over-acting dan berpikiran sempit. Shot-shot yang nunjukin ekstasi semuanya dipotong sehingga merusak film ini karena terasa lompat-lompat. Emang anak-anak langsung pengen neken cuman karena ngeliat gambar ekstasi? Please deh. Itu LSF jangan cuma dipenuhi orang-orang tua konservatif deh. Dikasih kerjaan lain aja biar nggak ganggu kebebasan berekspresi rakyat (dan tolong jangan berlindung di balik alasan “kebebasan yang kebablasan”. Kalian lebih buruk dari Soeharto. Geez…

Pemain: Oka Antara, Dude Harlino, Teuku Wisnu, Stan Lee, Big Dicky, Hilyani. Penulis: Awi Suryadi. Sutradara: Thomas Nawilis dan Awi Suryadi

Comments (4)

Category: Review

Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:51 pm

Waktu kami mendengar ada yang akan bikin film dengan judul Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll, mata kami berbalik 180 derajat sampai kelihatan putihnya saja. Setelah Joan Baez, Bob Dylan, (dan kesucian kata “indie”?) di-disgrace oleh beberapa film Indonesia, kami tidak sanggup lagi menyaksikan rock direndahkan di bioskop. Ternyata kami salah besar. Realita, Cinta, dan Rock n Roll yang berani memakai kata “rock ‘n roll” yang sangat berat tanggung jawabnya, dengan gemilang berhasil mengharumkan kata suci itu. Jiwa film ini bener-bener rock ‘n roll!

Ceritanya kira-kira seperti ini: dua orang muda bernama Nugi (Herjunot Ali) dan Ipang (Vino G. Bastian) menjalani hidup mereka seperti layaknya kita semua: mimpi buat punya band sekalipun kita sucks, berpikir bahwa orang tua adalah makhluk yang paling aneh di bumi, dan lari-lari di jalan dengan hanya memakai celana dalam (kalau anda belum pernah ngelakuinnya, lakuin sekarang deh). Di sinopsis, cerita yang ditulis sendiri oleh Upi mungkin kedengarannya nggak jelas dan dangkal. Tapi bukan berarti nggak punya tujuan. Malah, ini adalah film lokal tentang anak muda yang paling jujur, berani, liar, dan sama sekali nggak pretensius.

Vino dan Junot menampilkan performance yang paling bersinar yang pernah ditunjukkan aktor muda, mungkan sepanjang sejarah film Indonesia. Dan menurut kami, Nadine Chandrawinata juga memberikan penampilan yang sangat pas untuk karakternya sebagai cewek bernama Sandra yang akan menguji persahabatan mereka. Kehadiran karakter Sandra memberikan warna lebih dalam film ini.

Karakter-karakter lain yang sangat unik termasuk seorang ibu hippie new age pengikut Hare Khrisna (Sandy Harun) dan bapak transeksual peminat salsa dan tae kwon do (Barry Prima) menjadikan film ini selalu penuh dengan kejutan dan scene-scene yang sangat memorable. Tidak pernah kami tertawa terbahak-bahak menonton film Indonesia karena filmnya bener-bener lucu. Biasanya kami tertawa terbahak-bahak karena filmnya bodoh. Film ini sedikit goyang dalam pernceritaan di tengah-tengah (ini yang membuat film ini dapat 4 bintang dan bukan 5). Tapi segera menghentak kembali mendekati akhir.

Realita Cinta dan Rock ‘n Roll akan kami catat sebagai salah satu film terpenting dalam film sejarah film Indonesia. Sejauh yang kami ingat, ini adalah film Indonesia pertama yang politically-incorrect. Tapi film ini juga berkelas, ber-taste, dan wooo hooooo… WE LOVE IT! (Dodi Mahendra)

Sementara beberapa sutradara cowok mencoba membuat film cowok tapi ujung-ujungnya cengeng dan cemen, seorang sutradara perempuan berhasil ngegambarin kehidupan anak-anak cowok dengan nge-geber. Jangan mengharapkan ada dialog-dialog filosofis atau puitis di film ini. Yang ada cuma dialog yang kita dengar sehari-hari. Film ini punya big balls and bigger heart. Upi is a genius. YOU GO, GURL! (Nanda Meilani)

Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll bukan saja membuat saya berbaikan lagi dengan Dodi, tapi juga membuat kami percaya bahwa film Indonesia punya masa depan. Yang cerah banget! Kalau saja kita punya lima sutradara seperti Upi di Indonesia, dan setiap orang bikin dua film setahun, perfilman Indonesia akan berada di safe zone. Kenyataan bahwa Realita, Cinta, dan Rock a€~n Roll adalah film kedua Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta yang ngeganggu, membuat kami berharap supaya sutradara-sutradara kita yang film pertamanya sucks akan menghasilkan film kedua dan seterusnya yang hebat (maaf, Koya Pagayo dan sutradara Psikopat, mungkin tidak termasuk).

Film ini lebih dari layak buat disejajarkan sama film-film coming-of-age penting kayak Fast Times at Ridgemont High, Lucas dan The Breakfast Club karena berhasil menangkap jiwa rebel anak-anak muda. Upi menunjukkan kalau dia adalah filmmaker Indonesia yang brilian dan juga asik.

Sampai di sini saja review saya karena saya mau nonton Realita Cinta dan Rock ‘n Roll lagi di bioskop. Ini adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat filmmaker Indonesia. (Ferry Siregar)

You want to go watch this new movie that everyone says is so good you’d be totally disrespectful to that mystery critics call the “Indonesian film industry.” You decide to go one afternoon, the three o’clock matinee, though no one calls it that anymore, at Kelapa Gading 21. This is an ABG movie, you think, and you want to see it where ABGs would see it, even though you’re like, pushing thirty.

And man, what wouldn’t you kill to be ABG again! In the middle of answering calls on their mobiles, making out, running back and forth to what you think would be the toilet but turns out to be the lobby to pick up more late-arriving friends, these kids actually found time to laugh at all the jokes in the screen, cry slow river of tears at all the sad moments and just sit still not saying anything whenever what appears on the screen tells them to sit still and don’t say anything just yet this is serious. We’ll give you more jokes soon. They look so happy.

This is rare, you think. The last time you went to an ABG movie, Garasi, the kids were laughing at the sad scenes, cried at the try-hard jokes and the try-hard clothes and slept through all the other bits.

You like the movie too. You think maybe it’s the kids’ enthusiasm that’s infecting you. But then you realize, after the first 20 minutes you don’t even hear the kids anymore. Probably around the time Tino Saroengallo in his bad hippie wig says “Boleh juga, boleh juga, a€¦” over and over again at the dinner table and you think, this whole Hare Krishna parody is totally lame, but it’s true, my dad talks like that at the dinner table, and what the fuck, why am I laughing?

You’re starting to forget yourself. You stop hearing the critic inside you telling you things like, this boy-girl-boy triumvirate is so Y Tu Mama Tambien, Vino and Junot, these kids look so Kids!, this looking for your dad but hello! he’s now a transvestite! thing is totally ripped off from Almodovar.

No, now you just want to be Vino G., cruising around all the fun of adolescence in his restored vintage Toyota Premiere. Get your belly to go six-pack like his the way he does it, smoke endless chains of cigarettes. Grow your fringe and cut it at Firman’s, tell him to give you the Vino G. Magnificent Fringe, get it to completely cover your left eye like a patch, so you can aim better at all life’s fun.

Sometimes the lime-faced critic inside you tries to get your attention again. Whispering things like hey you fun guy don’t you think it’s so typical that Barry Prima gets his respect back only after he reprises Jaka Sembung and kungfu-kicks a thief into submission? What about when Junot says that the only kind of family he knows is one that has a father and a mother, not a middle-aged transvestite with a taste for salsa (the dance not the condiment) and flower-arrangement? Isn’t all this just so typical, so not queer-friendly?

And you say shut up you irritating prick. Maybe you’ve seen too much Almodovar. This is Jakarta, not Barcelona. These are high-school kids who can’t even stand five minutes of Home Ec., not geeks in your Queer Politics 6969. They probably think Germaine Greer was in Anal Highway 3. I too wanted Junot to say something nice like don’t worry mama I don’t care what gender you choose in life and bury his head in Barry Prima’s warm bosom, but when he didn’t I was actually grateful to Upi (Avianto, the director. ed.) for putting the real over the ideal. And for choosing to tell a story rather than lecture me. (Mikael Johani)

Sutradara/Penulis: Upi. Pemain: Vino G. Bastian, Herjunot Ali, Nadine Chandrawinata, Sandy Harun, Barry Prima.
Produksi: Virgo Putra Film

Comments (12)

Category: Review

Gotcha (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:51 pm


“When curiosity becomes a curse” (Ketika keingintahuan menjadi kutukan)

Tagline film Gotcha secara bull’s eye menggambarkan situasi perfilman Indonesia. Banyak orang tak punya bakat ingin tau gimana rasanya bikin film (atau jadi filmmaker). Keingintahuan mereka berubah menjadi kutukan buat penonton film dan perfilman Indonesia setelah mereka berulang kali menghasilkan film-film sampah yang membuat penonton jera menonton film Indonesia.

Gotcha, satu lagi film buatan filmmaker reclusive (menghindari sorotan publik) Koya Pagayo (kali ini menggunakan nama Pingkan Utari), merupakan satu lagi film Indonesia yang membuat harapan kita semakin tipis akan munculnya film yang tidak meminta kita menitipkan otak kita sama Mbak-Mbak penjaga 21 di pintu masuk.

Ide untuk ngebuat film horor komedi memang langkah yang terhormat, mengingat selama ini film horor lokal hanya mampu membuat kita ketawa cekikikan ketimbang mencengkeram pegangan kursi erat-erat. Tapi, dasar para filmmakernya nggak punya bakat, Gotcha cuman membuat kita meringis karena teringat akan mahalnya popcorn dan teh hijau bioskop 21. Film horor komedi cuma akan berhasil kalau filmmnya bodoh-bodoh pinter. Gotcha, sayangnya, cuman bodoh bodoh bodoh.

Di awal-awal, film Gotcha sebenernya menjanjikan. (Harap dienget, kalimat barusan merupakan hasil dari perendahan standard secara gila-gilaan setelah menonton terlalu banyak film kancut). Ceritanya adalah tentang lima orang anak SMA yang karena ingin tau, membuka sebuah gudang tua di sekolah mereka. Hantu-hantu yang menghuni gudang itu keluar dan menakut-nakuti mereka. Salah satu hantu diperankan oleh Mpok Atik, sehingga kita tau bahwa film horror ini dimaksudkan untuk jadi film horror culun kayak film Hong Kong dengan mayat hidup yang lompat-lompat dan baru diem setelah jidatnya ditempelin kertas kuning. Sayangnya, skrip yang ditulis oleh kolaborator abadi Koya Pagayo, Ery Sofid, nggak tau mesti mengarah kemana. Para aktor mengimprovisasi semau mereka sehingga keluar joke-joke lokal yang kita nggak ngerti tentang apa. Ibu (atau bapak) sutradara juga clueless. Dan filmnya pun berakhir sebagai lelucon yang menyakitkan, di mana yang ditertawakan adalah penonton karena masih mau menonton film Koya.

Mungkin, para filmmaker kita sekarang bisa digambarkan kayak mayat hidup film horror Hong Kong: lompat-lompat tutup mata nggak tau kemana. Mungkin harus ada yang nempelin kartu kuning ke kening mereka. Atau kartu merah lah sekalian. PRIITT!! Stay the fuck away from the cinema and back to your coffin!

Berwarna, Video transfer ke 35mm, 90 menit
Pemain: Arie K. Untung, Fikri Ramdhan, Herichan, Kirana Larasati, Maya Septha.
Sutradara: Pinkan Utari
Penulis: Ery Sofid
Art: Koesnadi W.S.
Editor: Aziz Natandra
Musik: Rezza Rohan (curian)
Produser: Chandra Willim
Produksi: Grandiz Media Production

Leave a comment

Category: Review

Lovely Luna (2005)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:51 pm

Seorang cowok menyukai bintang kampus tanpa menyadari sahabat ceweknya menaruh hati padanya. Hmmm… kayaknya kami sudah pernah menonton film dengan plot seperti ini sebanyak… 214 kali. Dan matinya, tidak ada hal baru yang ditawarkan di sini. Basi. Film ini tidak ada bedanya dengan sinetron yang anda coba hindari, dengan akting yang membuat anda sakit gigi (Dodi Mahendra benar-benar sakit gigi setelah menonton film ini). Sebuah film yang bahkan tidak sanggup mencapai level target penontonnya sendiri (remaja dengan IQ yang tidak terlalu tinggi). Debut penyutradaraan layar lebar yang tidak menjanjikan dengan skenario yang ditulis oleh Upi Avianto yang juga menjabat sebagai produser.

Sutradara: Lasja Fauzia. Skenario: Upi Avianto. Pemain: Daanish, Junot, Radhit, Denny, Donna Harun.

Leave a comment

Category: Review

Rumah Pondok Indah (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:50 pm

Yang sering bilang kalau bikin film itu susah adalah pembohong. Pembohong pembohong pembohong.

Liat aja Rumah Pondok Indah. Di-syuting dengan murah pake video dengan para pemain yang memang sudah keliatan serem seperti Ruhut Sitompul dan Titi Qadarsih (mungkin buat ngemat make-up) di hanya satu lokasi. Memang banyak film luar yang cuman di-syut di satu lokasi kayak Cube, dua pertiga dari film Saw, dan banyak lagi. Tapi para filmmakernya bekerja keras muter otak buat bikin skrip yang cerdas dan para pemainnya bekerja keras supaya bisa nampilin akting yang cemerlang. Tapi kita nggak bisa bilang gitu tentang Rumah Pondok Indah.

Yang bisa dicatat dari film ini adalah kesadaran para produsernya, film seperti apa yang mereka buat, siapa target penonton mereka. Jika anda menganggap diri anda penonton film berkualitas dan anda datang ke bioskop untuk nonton film ini, anda nggak berhak untuk marah-marah. Posternya saja udah jelas bilang: “Cuman buat penggemar film sampah ajah”. Untuk ini, saya ngucapin terima kasih ke produsernya karena banyak film Indonesia yang berhasil mengelabui penonton dengan menutupi film busuk dengan poster art yang keren.

Rumah Pondok Indah juga nggak berusaha untuk terlihat lebih berkelas dari yang sebenernya. Nggak ada editing sok stylish seperti Psikopat atau semua film Koya Pagayo, atau fast-motion nggak makna seperti di Jomblo, nggak ada usaha buat ngebungkus produk jelek dengan ngeluarin Original Soundtrack (karena music score-nya juga dicomot entah dari film India mana). Yang penting, Rumah Pondok Indah ngasih apa yang dimau target audience-nya: pemunculan hantu yang banyak. Kayaknya semua tokoh di film ini akhirnya jadi hantu kecuali yang memang udah nakutin tadi. Filmnya sadar kalau target audience-nya nggak cukup cerdas buat memikirkan plotnya. Makanya keseluruhan cerita, bahkan termasuk twist-nya mereka ceritain semua di sinopsis. Untuk ini, kami rela mengurangi tiga kancut dari rating awal Rumah Pondok Indah menjadi:

Sekarang pertanyaannya, salah nggak sih kalo produser film tetep bikin film-film kayak Rumah Pondok Indah? Salah nggak kalau mereka mikir: “Ngapain repot-repot bikin film bagus kalo film kayak Brownies aja bisa bikin sutradaranya dapet piala (apa tuh namanya lupa)?” Menurut saya sih, mereka nggak salah. Siapa yang salah? Tau ah. (Nanda Meilani)

Pemain: Chintami Atmanegara, Selvi Rani, Arswendi Nasution, Rama M. Nalapraya. Sutradara: Irwan Siregar. Produksi: Indika Entertainment.

Leave a comment

Category: Review

Psikopat (2005)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:50 pm

Adik-adik,

Sekarang ada yang bisa kalian lakukan sepulang sekolah di SD Kartini. Pernah liat aluminium foil yang selalu digunakan mama buat membungkus makanan? Nah, ternyata aluminium foil bukan cuma untuk itu, tapi ternyata juga bisa digunakan untuk membuat… topeng pembunuh psikopat. Kalau papa kalian punya handycam, kalian juga bisa bikin film dengan memakai topeng itu. Ajak saja teman-teman satu sekolah kalian yang paling annoying dan terlihat bodoh. Terus, just shoot. Setelah selesai, perlihatkan ke semua teman-teman. Tapi ingat… JANGAN DIPUTAR DI BIOSKOP, YAAAAA!!!

***

Alasan kenapa saya baru menulis review film ini sekarang adalah karena tidak ada satupun dari kami yang mau menulisnya. Padahal kami menonton film ini pada hari pertama pemutaran. Nanda Meilani tidak pernah mau mengangkat telpon saya selama seminggu, sedangkan Ferry Siregar menghindar dengan pergi ke Danau Toba. Sumpah, untuk me-review film ini, saya tidak tahu harus mulai dari mana. Sistem rating yang kami gunakan, dari nol sampai 5 bintang, tidak cukup untuk me-rating film ini. Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan sistem rating baru.

Memperkenalkan:

KANCUT RATING SYSTEM

Dari satu kancut sampai lima kancut. Semakin banyak kancutnya, semakin buruk pula filmnya. Dan untuk Psikopat, kami memberinya:

OH MY GAWD. Sumpah, kami menyesal sering mengata-ngatai Koya Pagayo. Karena saking jeleknya, Psikopat membuat Koya terlihat seperti Peter Jackson dan Ada Hantu Di sekolah adalah King Kong. Di press release, sutradaranya mengatakan bahwa film ini adalah sebuah totalitas. Ternyata dia memang benar. Film ini “totally stupid, totally crap, totally worthless, totally annoying.”

Film ini menceritakan tentang sekelompok anak muda yang pergi ke sebuah vila yang kemudian dibunuh satu per satu oleh seorang pembunuh yang memakai topeng yang dibuat dari aluminium foil. Ternyata pembunuhnya adalah penjaga warung yang mereka temui dalam perjalanan dan salah satu dari anak-anak muda itu, yang lesbian tepatnya, adalah anak dari pembunuh itu. Ooopss… Spoiler. Emang kenapa? Ayo, tuntut saja kami ke pengadilan.

Gambar burem, seolah-seolah film ini disyut dengan menggunakan lensa yang terbuat dari plastik. Dan kami semua di Sinema Indonesia bakal rela patungan buat memberi editornya duit per bulan. Asal saja dia mau berhenti bekerja sebagai editor.

Kami sempat mencari-cari skrip film ini, yang ternyata hanya berisi satu halaman yang kira-kira isinya seperti ini:


EXT. HUTAN. MALAM

Apong, Amel, Rosa, Dence, Yongky, dan Mita pergi ke hutan. Ternyata, satu per satu dari mereka hilang. Apong hilang pertama kali.

Amel : Apa? Apong hilang? Apoooong..!!! Apoooong…!!!
Rosa : Apooooong…!!! Apoooong…!!

Kemudian Rosa juga hilang.

Dence : Apa? Rosa hilang? Rosaaaa…!!! Rosaaa…!!!
Yongky: Rosa kemana? Rosaaaa…!!! Rosaaa…!!!

Ternyata kemudian Yongky hilang.

Mita : Apa? Yongky hilang? Yongkiiii…!! Yongki…!!!
Dence : Ya ampun, Yongki ke mana? Yongkiiii… Yongkiii…!!!

Begitu sampai semua pemain hilang semua.

Ancur. Film ini ancur. Kami tidak tahu lagi harus bilang apa.

Mas sutradara “Psikopat”,
Kami tahu sewaktu kecil anda pernah bersumpah di bawah bulan purnama untuk jadi seorang sutradara. Cuman sekarang, lupakan saja. Buka Kompas hari Sabtu, cari pekerjaan baru. Mungkin anda berpikir, film kedua anda yang berjudul Psycho 21 akan lebih baik dari ini. Tidak mungkin, lupakan saja. Tolong, lupakan saja.

Sutradara: Nggak Penting. Pemain: Nggak Penting I, Nggak Penting II, Nggak Penting III, dkk.

Comments (2)

Category: Review

Apa Artinya Cinta? (2006)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:49 pm

Sebelumnya, kami mau bilang bahwa Sunil Soraya sebenarnya cerdas. Dia tahu bahwa Samuel Rizal itu bisa jadi charming kalau diam, atau bicara tidak lebih dari satu kata. Makanya dia diberi karakter yang bicaranya hanya satu kata satu kata per kalimat. Namanya pun singkat. “Dara”. Mungkin kependekan cari “Gundara”, atau “Jandara”, atau “RaDARAda Slow”.

Kami tahu, banyak filmmaker lain di Indonesia yang jealous dengan Sunil Soraya yang kabarnya memproduksi Apa Artinya Cinta dengan bujet lebih dari 30 milyar (6 kali lipat dari rata-rata biaya produksi satu film Indonesia). Banyak yang mendoakan Apa Artinya Cinta? bakal flop. Kami tidak bisa menyalahkan Sunil, karena kalau kami punya papi kaya raya, kami juga akan membuat proyek film kami yang berjudul Nyi Blorong Takes Manhattan jadi kenyataan. Dan ternyata, Apa Artinya Cinta? bukan film yang super-buruk. Terus terang, kami lebih tahan nonton Apa Artinya Cinta? ketimbang Mirror. Apa Artinya Cinta? dengan segala keculunannya cukup segar. Chemistry antara Shandy Aulia dan Samuel Rizal bukan jarang terasa. Dan lagi, menonton film ini seakan bukan cuma mengikuti karakter-karakternya, kami seakan mengikuti perjuangan Sunil yang berusaha keras menyutradarai film pertamanya. Kami bahkan sering sekali berseru, “Go Sunil! Go Sunil!”.

Dengan bujet yang kabarnya jauh lebih gede dari Eiffel… I’m in Love yang diproduseri Sunil, sayang sekali Apa Artinya Cinta? memiliki kualitas teknis yang jauh di bawah pendahulunya. Kami tidak tahu apakah telah terjadi kesalahan lab saat memproses negatif filmnya, ataukah Sunil mencoba untuk memberi style pada filmnya a la Tony Scott dengan tone yang kekuning-kuningan. Sayangnya, kalau di film Tony Scott kuningnya enak di lihat, di Apa Artinya Cinta? bikin sakit mata.

****

Film dibuka dengan scene monolog Samuel Rizal. Di latar belakangnya adalah sebuah pelabuhan yang banyak yacht-nya dan… bendera Amerika. (Oooo… Sunil mau kasih tau kalau film ini disuting di Amerika… Baiklah).

Kemudian dilanjutkan dengan segmen di Indonesia di mana seorang anak perempuan yang bernama Aliza (Shandy Aulia) kesengsem dengan tetangganya yang liburan dari kuliahnya di San Fransisco bernama Dara yang mungkin atau mungkin bukan gay yang diperankan oleh Samuel Rizal dengan wig yang dipakai Dessy Anwar saat dia ingin terlihat seperti Martina Navratilova.

Kelucuan-kelucuan dari situasi ini memang sering berhasil. Sekalipun kami nggak bisa menyalahkan orang yang menuduh kalau Sunil berusaha memasukkan elemen-elemen dari semua film Indonesia yang pernah berhasil belakangan ini (isu gay, perempuan hamil dalam mobil, bahkan dua kata dari judulnya saja diambil dari Ada Apa Dengan Cinta?, lengkap dengan tanda tanyanya.
Mungkin akan lebih berhasil jika Apa Artinya Cinta? dibuat sebagai parodi (biarpun film yang paling banyak diparodikan di sini adalah Eiffel… I’m in Love, dan film Sunil Mencoba Membuat Film).

Episode kedua adalah segmen di San Francisco yang ternyata kualitas teknisnya sama buruknya dengan yang di Indonesia yang membuat film Koya Pagayo terlihat seperti film M. Night Shyamalan. Padahal bagian ini disyut dengan kamera Panavision.

Biaya yang katanya dihabiskan demikian banyak di visual efek ternyata dihabiskan untuk adegan kebut-kebutan di jalan San Francisco dengan computer-generated images yang terlihat seperti gambar di PlayStation (kalau gitu, ngapain jauh-jauh ke San Francisco? Suting di Condet aja.)

Tapi setelah menonton film ini, ternyata kami mendapat pelajaran yang paling berharga dalam hidup ini. Apa Artinya Cinta? adalah pertanyaan mahal yang tidak ada gunanya dipertanyakan. (Aduh, kami semakin terdengar seperti KOMPAS).

Pemain: Samuel Rizal, Shandy Aulia, Onky Alexander, Sari Nila, Dimas Beck. Sutradara: Sunil Soraya. Durasi: 134 menit.

Comments (4)

Category: Review

Jomblo (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:49 pm

Dalam filmnya yang pertama, Ungu Violet, Rizky Hanggono bilang: “Hanya keledai yang bikin kesalahan dua kali, Dok.”? Saya tidak tahu apakah penulis skenarionya memang ngelakuin riset, dan nemuin bahwa keledai selalu bikin kesalahan dua kali. Yang saya tahu, Rizky sudah mengulang kesalahannya: main film lagi.

Tapi, akting Rizky yang bikin penonton miris (sampe membuat saya kasihan padanya) adalah masalah terkecil yang mesti saya hadapi waktu nonton Jomblo.

Setelah Realita, Cinta dan Rock n Roll membuat kami berpikir kalau datang ke bioskop untuk nonton film Indonesia adalah aman, sekarang muncul sebuah film yang membuat kami kembali ragu tentang masa depan film Indonesia.

Jomblo adalah sebuah film komedi yang tasteless dan tak berkelas. Saya lebih milih ditampar bitch-slap sampe pening ketimbang mesti ngeliat Dennis Adhiswara menggaruk-garuk bijinya lagi. Sebuah majalah bilang kalau Jomblo adalah film yang sangat “memperhatikan kultur Indonesia.” Beda dengan beberapa film lokal lain yang “mencangkokkan sebuah konsep Amerika dan memaksakan sebuah plot ke sebuah Indonesia” (entahlah apa artinya). Mengingat majalah ini adalah majalah yang paling terkemuka di sini, berarti kita bisa menarik kesimpulan bahwa kultur Indonesia bisa disimpulkan dengan satu gesture: menggaruk biji. Nggak salah kalau banyak yang nganggap kalau Indonesia adalah negara yang kurang menghargai perempuan, mungkin karena kami tidak punya biji.

Saya nggak bisa ngejelasin kenapa banyak sekali orang Indonesia yang merasa cool kalau menentang “pencangkokan konsep Amerika” atau Hollywood dalam sebuah film. Banyak film Amerika cerdas yang menyamar sebagai film bodoh yang dipenuhi lelucon-lelucon jorok (American Pie, There’s Something About Mary) dan karakter-karakter bodoh yang kerjanya cuman mengisap ganja (Harold and Kumar Go To White Castle). Sayangnya, Jomblo sepertinya dibikin oleh orang-orang kurang cerdas yang bahkan nggak tau kalo ganja nggak memberikan efek halusinasi. Paling bikin laper.

Parahnya lagi, seperti halnya yang terjadi dengan Garasi, film ini dijangkiti Orde Baru Syndrome sehingga berpikir bahwa sebuah film mesti membawa pesan moral (istilah “kritik yang membangun”? juga termasuk dalam syndrome ini). Ketimbang bercerita, Jomblo malah menguliahi kita sepanjang film. Dalam satu adegan, salah satu karakter yang baru aja beli kondom buat ML sama ceweknya, membatalkan niatnya setelah ngeliat sepasang cowok-cewek pulang dari mesjid. Yang paling bener, cara yang paling bagus buat bikin seorang cowok hilang nafsu adalah dengan nonton Jomblo karena film ini turn-off dengan dialog-dialog yang (maunya) intelijen dan (maunya) puitis yang kayaknya dikumpulin dari stiker-stiker murah tahun 80′an seperti: “Cinta bisa memilih, tapi cinta tidak bisa menunggu.” Nunggu bus.

Tunggu sampai adegan di mana Christian Sugiono bertengkar dengan Rizky Hanggono gara-gara seorang perempuan.

Rizky: Aku membuat puisi terindah untuknya!
Christian: Aku membuat lagu untuknya!
Rizky: Dia bidadari pagiku!
Christian: Dia dewi malamku!

Di scene berikutnya, Christian Sugiono nyanyi sambil main gitar: “Dewi malamkuuuu…“

Usaha filmmakernya untuk memberikan style pada filmnya, termasuk beberapa animasi 2-D, memang harus dihargai biarpun jarang yang berhasil.

Yang bisa dicatet adalah penampilan dari aktor baru Ringgo Agus Rahman yang mainnya rileks dan bagus banget. Juga Nadia Saphira yang main sebagai pacar Ringgo. Karena mereka berdua, saya hampir bisa (hampir, lho) memaafkan penampilan Dennis Adhiswara yang over-acting to the point di mana saya merasa eneg. Rizky Hanggono, hmmm… mending jadi pacar gue aja deh. Come to mama…

Tergantung dari selera humor anda, anda bisa tertawa terbahak-bahak atau anda bisa mual dan lari keluar bioskop dan bergegas pulang buat nonton Bajaj Bajuri yang bener-bener lucu sebagai obat. Judge it for yourself. Tapi buat kami, mendingan nonton Bajaj Bajuri. Jauh.

Sebuah debut penyutradaraan yang tidak menjanjikan dari Hanung Bramantyo… Apa? Ini bukan film pertamanya?… Masa sih?… Apa? Dia menang piala Citra? Bohong ah… Kamu tukang bohong… (Nanda Meilani)

Sutradara: Hanung Bramantyo. Skenario: Salman Aristo, Aditya Mulya, Hanung Bramantyo. Pemain: Ringgo Agus Rahman, Christian Sugiono, Denis Adhiswara, Rizky Hanggono, Nadia Sahira, Rianti R. Cartwright. Produksi: Sinemart Pictures.

Comments (14)

Category: Review

Banyu Biru (2005)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:49 pm

Dengan durasi 78 menit, nonton film ini berasa dua hari (tanpa makan minum dan buang air kecil. Ya, sebegitu menyiksanya). Debut Teddy Soeriaatmadja (”Culik” yang terlalu amatiran tidak kami hitung) berambisi lebih besar dari kapabilitasnya untuk bercerita tentang kehidupan, hubungan ayah-anak, dan cinta. Ini adalah (lagi-lagi) film Indonesia dengan ide besar yang gagal dengan sangat menyedihkan. Skenario yang ditulis oleh Prima Rusdi dan Rayya Makarim (dibantu nama-nama “besar” seperti organizer JIFFest Orlow Sungkew) terlihat dan terdengar seperti skenario mahasiswa sekolah film yang jumawa tanpa keahlian. Salah satu prinsip storytelling film adalah journey karakter utamanya. Namun, karakter utamanya di sini hanya bermimpi. Sah-sah saja sebenarnya kalau filmmaker mau mengesampingkan pakem, tapi harus dikompensasi dengan sesuatu yang memadai, tidak seperti ini. Tora Sudiro tidak meyakinkan sebagai seorang laki-laki yang mengalami perjalanan mental untuk berdamai dengan masa lalunya. Penyutradaraan Teddy juga sangat lemah. Film yang memulai trend obsesi terhadap warna dan framing (yang tidak bagus-bagus amat juga). Untuk mengecoh publik, filmmakernya mencoba memberi embel-embel “surreal, magical, road movie” pada film ini. Seharusnya cukup dengan kata: “crap art”. Kasihan penonton film kita…

Sutradara: Teddy Soeriaatmadja. Skenario: Prima Rusdi, Rayya Makarim. Pemain: Tora Sudiro, Dian Sastrowardoyo, Slamet Rahardjo, Didi Petet, Oscar Lawalatta. Durasi: 78 menit.

Leave a comment

Category: Review

Cewe Matrepolis (2006)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:48 pm

Damn. Tadinya kami mau menghabiskan waktu sampai 9 Juli dengan tenang nonton World Cup. Dodi lagi jatuh cinta lagi sama old flame-nya, Zidane. Sedangkan saya selalu nunggu wasit-wasit bikin scene. Graham Poll emang Poll! Bye bye Poll. C’mon guys. Can we rest in peace for a while and not reviewing craps like Cewe Matrepolis? Ya ollooo…

Apakah anda benar-benar perlu konfirmasi kami tentang keburukan film dengan judul seperti Cewe Matrepolis? Ya olloooo…

Biar saya ceritain sebuah cerita…

Pada suatu hari, seorang produser terbangun di tengah malam. EUREKA! Katanya. Setelah mujur secara komersial dengan film horor bergenre kancut, dia mengira dirinya seorang jenius. “Tau apa itu Sinema Indonesia? Ha ha ha… !!” Pikirnya.

Tapi setelah filmnya tentang anak SMA ternyata tidak ditunggu 2,5 juta anak SMA, kepercayaan dirinya mulai surut. Tapi malam ini dia merasa kembali dapat ilham.

Besoknya, dia mengumpulkan anak-anak buahnya.

“Saya punya ide jenius,” katanya. “Kita bikin film tentang cewek-cewek matre.”

“Wah, jenius itu Pak. Jenius, jenius. Belum ada tuh yang pernah bikin!” seru anak-anak buahnya bersamaan.

“Judulnya Cewek Matrepolis!” ujar produser itu lagi.

“Wah jenius itu, Pak. Jenius… jenius,” kata anak-anak buahnya.

“Dan nggak usah pake “K”. Jadi judulnya, Cewe Matrepolis,” kata produser itu.

“Gilaaaa…. JENIUS BANGET TUH, PAK. JENIUUUUUUSSS…” kata para anak buahnya.

“Saya tau siapa yang pantas jadi penulisnya,” kata Sang Produser.

“Siapa Pak?”

“Penulis Panggil Namaku 3X!”

“Gilaaaa…. Anak itu memang jenius. Film itu memang jeniuuss…” seru anak-anak buahnya kegirangan.

Produksi pun dimulai. Nama PH hampir diganti dengan JePe (Jenius Production).
Kru-kru yang dipilih pun adalah kru-kru jenius.

Plot yang jenius ini bercerita tentang empa oran cewe yan materialisti. Satu simpanan Ari Sudarsono setelah hampir ketabrak oleh komentator bola itu saat lari dari rumah karena mau diperkosa bapaknya. Satu lagi anak orang kaya yang punya bapak yang suka main perempuan. Satu lagi… mmm… kenapa ya dia? Sampai lupa. Satu lagi, yang gendut, ternyata (mungkin) anak Ari Sudarsono.

Cara pembuatan cerita dan skrip film ini memang jenius. Ambil koran Lampu Merah selama seminggu. Pilih empat yang paling klise. Terpilihlah empat cerita dengan headline sebagai berikut:

1. Mau diperkosa bapak sendiri, lari, ketemu om-om, jadi piaraan si Om, jatuh cinta ama ponakan si Om. Gawat.

2. Anak orang kaya perlu duit, mau merek di karaoke, ketemu bapaknya sendiri. Sial tuh anak.

3. Cewek matre jatuh cinta sama cowok, cowoknya udah punya istri, nangis deh tuh cewek.

4. Produser film jenius, ngeluarin film waktu Piala Dunia. Jenius amat tuh produser.

Memang, mesti ada yang membangunkan filmmaker yang berpikir mereka membuat film jenius, padahal jauh. Wake uuuuuupp…!!!

Kalau review ini agak cynical dari review-review manis kami sebelumnya, maafkan kami. But please, biarkan kami menikmati World Cup kami. Mariiii…

Berwarna, Video transfer ke 35mm, 90 menit Pemain: Nita Ferlina, Amalya Sutamarza, Indah Pelapory, Ferdy Thaeras, Emmie Lemu. Sutradara: Effi Zen Penulis: Anggie Art: Alwi Editor: Pramoo Naidu, Hendrajat, De Ghodot (aneh-aneh memang namanya) Musik: Sudah lah Produser: Shanker RS. Bsc. Produksi: Indika Entertainment

Leave a comment

Category: Review

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com