Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:08 am
Setiap filmmaker punya figur yang secara sadar atau nggak sadar jadi influence karya-karya mereka. Ada yang terinspirasi oleh Martin Scorsese, ada yang ter-influence sama Stanley Kubrick, dan semua anak SMP ter-influence sama Tarantino. Sutradara film Bangku Kosong, Helfi Ch. Kardit, memilih figur yang lebih keren: Koya Pagayo. Setidaknya, sekarang para juri FFI 2006 punya alasan lebih untuk keukeuh kalau Koya Pagayo (atau Nayato Fio Nuola, whatevah) adalah seorang auteur, whatever artinya lah. Kalau ngeliat film-filmnya Koya Pagayo mah, AUTEUR paling artinya Angle-angle kamera yang selalU muTEUR-muteur.
Ceritanya terjadi di suatu kelas di suatu sekolah di mana ada satu bangku yang dibiarkan kosong karena ada hantunya. Suatu hari, seorang guru baru yang diperankan oleh VJ Cathy (dalam film yang menurunkan derajat MTV) menyuruh seorang siswi duduk di situ. (Btw, penyanyi Reza dalam penampilannya post-pesantren-affair dan post-20-kilo-karena-stress jauh lebih menakutkan dari filmnya). Tak lama kemudian, seisi kelas jadi kemasukan setan. Tapi ekspresi VJ Cathy melihat siswi-siswi terbang-terbang di kelas tetep flat. Mungkin VJ Cathy mesti liat ekspresi Dodi melihat Sanjaya Malakar nggak dieliminasi di American Idol setelah pake rambut tomahawk.
Satu lagi film horror moron murahan, walaupun opening credit-nya lumayan ok.

Starring:
ADHITYA PUTRI, VJ CATHY, BELLA ESPERANCE, TITIES SAPUTRA, REZA ARTAMEVIA, PIET PAGAU, KEKE HARUN, ADI SURYA ABDI
Sutradara:
HELFI CH KARDIT
Penulis:
ARIS MUNANDAR/HELFI CH KARDIT/DANIEL TITO
Produksi:
STARVISION
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:07 am
Gosip: katanya para produser yang jenius itu percaya bahwa film horror tidak akan laku kalau kemunculan hantunya kurang dari 44 (mungkin dari nomer kancut setan). Berangkat dari kepercayaan itu, Hantu Jeruk Purut punya penampakan hantu 47 kali (ini nggak termasuk setiap kemunculan Angie yang memang udah serem dari sananya).
Koya Pagayo di sini bergeser sedikit ke sub-genre slasher dengan meminjam elemen yang tak sedikit dari Final Destination. Hantu Pastur Jeruk Purutnya sendiri cuma bikin cekikikan, karena sosoknya yang berjalan tanpa kepala, tapi badannya panjang banget, mungkin disambung sama Piala Citra yang didapat Koya Pagayo kemaren.
Sebenernya film-film Koya Pagayo tidak membutuhkan review. Badan kami sekarang juga udah jadi panjang karena udah eneg banget. Udah ah. Capek deueeeh…

Pemain:
ANGIE, SHEILA MARCIA, SAMUEL C. HECKENBUCKER
Sutradara:
KOYA PAGAYO
Penulis:
ERY SOFID
Produksi:
INDIKA ENTERTAINMENT
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:06 am
Salah satu penyesalan kami yang paling lawas adalah tidak menulis tentang Denias: Senandung Di Atas Awan lebih awal. Setelah serentetan film kancut yang seakan tak pernah putus, film yang disutradarai John de Rantau ini terasa kayak matahari pagi waktu kita bangun setelah tidur dua hari dua malem abis nonton Jakarta Movement. Segar. Hangover udah lewat. Tinggal bertanya-tanya kita ada di mana dan celana kita ke mana. Sumpah, kami malu sudah meremehkan film manis ini cuma karena posternya yang kayak didesain sama desainer grafis iklan perumahan Cibodas Permai (Nyokap Ferry baru beli rumah di sana. Pagi-pagi sering kedengeran suara macan).
Denias: Senandung di Atas Awan menceritakan tentang seorang anak petani di pedalaman Papua yang percaya bahwa yang membuat seseorang bisa lebih perkasa dari gunung dan hantu hanyalah jika orang itu sekolah (lebih masuk di akal dari ibu saya yang bilang orang harus sekolah biar bisa dapet pekerjaan bagus). Saat sekolah darurat di desanya hancur dan pengajarnya pergi, Denias pergi ke kota di balik gunung untuk belajar di sebuah sekolah di sana. Tapi hambatan yang dia temui bukan cuma dari anak kepala desanya yang menganggapnya sebagai rival, tapi juga birokrasi yang masih feodal (Wow! I rhyme!).
Film ini membuat kami sadar kalau negeri memang punya alam yang indah. Dan Albert Fakdawer sebagai Denias juga berhasil membuat kita ingin melihatnya berhasil. Kelemahan skenario yang berlama-lama di desa asal Denias (bagian yang ada Mathias Muchus-nya kalau dihilangkan dijamin bisa membuat film ini lebih kuat) sebelum memulai cerita yang sesungguhnya termaafkan oleh setengah kedua film yang megang, lucu, dan sangat menyentuh. Akting Marcella Zalianty (yes, pemenang Aktris Terbaik FFI tahun lalu) yang bikin kami cekikikan juga terbalaskan oleh penampilan yang memainkan Enos, anak happy-go-lucky yang suka maling yang jadi sahabat Denias yang mencuri scene setiap kali dia muncul.
Tadinya saya berpikir, kalau dibilang ini film anak-anak, film ini bisa diibaratkan puding yang adukannya kurang rata, masih ada ketul-ketul yang keras (adegan perempuan terbakar kaku dan gosong kayaknya terlalu mengerikan untuk anak-anak). Tapi kemudian saya sadar bahwa film anak tidak selamanya mesti punya sensibilitas Disney. Apalagi kita tinggal di negara yang tidak terlalu beradab. Itung-itung buat persiapan anak-anak menghadapi kerasnya hidup di sini.
Pendeknya, Denias: Senandung di Atas Awan adalah kejutan yang sangat manis tahun ini. Kami juga berani bilang bahwa sejauh ini, this is the best movie of the year.

Alenia Pictures & EC Entertainment mempersembahkan Alenia Productions “Denias: Senandung Di Atas Awan” Starring Albert Fakdawer, Ari Sihasale, Michael Jakarimilena, Marcella Zalianty, Nia Sihasale Zulkarnaen. Penata Sinematografi Yudi Datau Editor Andhy Pulung Penata Artistik Budi Riyanto Karung Penata Suara Dwi Budi Priyanto Adityawan Susanto Penata Musik Dian HP Skenario Jeremias Nyangoen Masree Ruliat Monty Tiwa John de Rantau Produser Eksekutif Ingrid Pribadi Nia Sihasale Zulkarnaen Produser Ari Sihasale Sutradara John de Rantau
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:05 am
Seorang teman bilang, Koper adalah film yang bisa membawa ingatan kita terbang ke masa lalu. Saya tidak bisa protes, karena selama nonton film ini, saya serasa kembali merasakan pengalaman yang setiap hari saya alami waktu masih sekolah di SMP: disetrap. Ya, nonton Koper memang terasa sebagai sebuah hukuman. Dan penderitaan kami serasa never-ending karena kami harus menonton Koper selama empat kali. Yang pertama, saya dan Ferry sudah ngorok bahkan sebelum Anjasmara menemukan koper itu. Yang kedua, kami sudah ngorok saat Anjasmara duduk sama Jenar Maesa Ayu nggak pakai baju. Yang ketiga, Ferry nonton sendiri. Saya curiga karena dia dengan serius bilang kalau di Koper ada Michele Rodriguez sebagai bintang tamu. Saya yakin dia lagi nggak waras. Akhirnya saya terpaksa nonton lagi sendirian. Dan dengan bantuan supply nachos dan popcorn yang tak terbatas, akhirnya saya berhasil nonton sampai selesai. (Sekarang ngerti kan, kenapa baru sekarang review ini turun?)
Koper seharusnya diberi judul: Banyu Biru Part Deux: Bigger, Longer, and Uncut. Paling nggak penonton yang mau nonton sudah tersaring dulu sebelum masuk bioskop, yaitu pseudo intelektual dan orang-orang yang masih mau menggunakan internet dengan kecepatan 28 kbps. Masalah terbesar Koper adalah masalah kronis yang menjangkiti filmmaker Indonesia: tidak mengenal target audience-nya. Cewe Metropli$ membidik ABG-ABG kota. Seharusnya filmmakernya tau taste ABG-ABG kota jauh lebih tinggi ketimbang film busuk mereka. Garasi pengen menarik audience dari fan base indie band. Tapi seharusnya mereka bisa menawarkan musikalitas dan attitude yang membuat band indie dicintai fans-nya in the first place. Richard Oh jelas membuat Koper untuk kalangan intelektual. Seharusnya dia tau kalau target audience-nya nggak suka diceramahi. Pesan-pesan yang ingin dia sampaikan seharusnya bisa masuk ke kepala audience tanpa mereka sadari. Berikan audience cerita yang menarik untuk terus diikuti lalu fuck them in the ass with whatever messages he wants to say when they’re off guard. Hidup bahasa Inggris.
Anjasmara berperan sebagai seorang pegawai kantor pemerintahan. Dia pecundang. Tapi untuk memberi tahu penonton bahwa dia pecundang tidak perlu sampai penonton bilang, “Yes Richard, we got it. Move on.” Suatu hari dia menemukan sebuah koper yang tidak tau isinya apa, dan orang-orang mulai memperhatikan dan menghormatinya. Saya tidak mempersoalkan keputusan filmmakernya untuk menyajikan cerita dengan bungkusan surealisme. Bahkan saya akui, beberapa gimmick seperti tulisan di billboard cukup berhasil. Yang saya sesalkan adalah ketidakmampuan filmmakernya untuk membuat penonton rela masuk ke dalam dunia yang diciptakan Richard. Ini sebagian disebabkan oleh akting para pemainnya yang tidak meyakinkan. Anjasmara tetap Anjasmara di manapun. Dan saya selalu meringis melihat akting Jenar Maesa Ayu. Ketidakpercayaan penonton pada dunia Koper membuat film ini kehilangan keberpihakan penonton. Akhirnya, waktu penutupan film yang sebenarnya bagus, penonton cuma bilang, “Yeah, Man. Whatever.”
Film seharusnya bukan bombardir gimmick. Tapi storytelling. Richard Oh pembuat gimmick yang baik. Tapi sebagai storyteller film, dia masih harus belajar banyak. Anggap ini sebagai tamparan sayang, karena saya rasa Richard punya potensi untuk jadi filmmaker yang bagus ke depan.
Pemain: Anjasmara, Maya Hasan, Jenar Maesa Ayu
Sutradara: Richard Oh
Penulis: Richard Oh
Pengarah Sinematografi: Yadi Sugandhi
Art Director: Teguh Ostenrik
Costume: Dimas
Musik: Andi Rianto
Editor: Wawan I. Wibowo
Produser: Tati Gobel, Richard Oh
Produksi: Metafor Pictures
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:04 am
MMO (Mean Mode *On*)
Sekarang para kritikus film kita yang pintar-pintar dan punya wawasan luas itu rupanya punya kalimat yang cerdas yang kini selalu ada di dalam review-review mereka: “Ceritanya bagus karena tak biasa.” Film “I Love You, Om” juga mendapat pujian karena menampilkan “kisah cinta yang tak biasa”. Tapi kalau film Indonesia terus dibuat hanya buat menawarkan “cerita yang tak biasa”, lebih baik para filmmaker mulai bikin film tentang tokai berwarna pelangi, atau ingus rasa vanila.
Maaf beribu maaf. Tapi kami hampir saja menyudahi subscription web hosting Sinema Indonesia dan menggantinya dengan website tentang sesuatu yang lebih mungkin membuat hati kami tenang. Website tentang cara membuat bunga tiruan dengan menggunakan kertas toilet bekas, misalnya.
Kami sudah punya perasaan yang sangat nggak enak waktu akan nonton film ini. Kami sangat khawatir kalau filmmakernya bakal men-treat subject matter yang sangat sensitif seperti ini dengan menggunakan sensibilitas seekor kambing. Dan ternyata setelah nonton, kami terpaksa minta maaf ke kambing karena mereka pasti punya sensibilitas yang lebih halus. (Kalau nggak, kenapa mereka selalu bilang “Embeeeekkkenwiforgivyu…” tiap kali mereka disembelih buat kurban?).
Anyway, kami sudah banyak nonton film-film dengan tema yang provokatif. Ken Park, Lolita. Bahkan Spanking the Monkey (1994) bikinan David O. Russel yang nyerempet incest membuat pikiran kami cerah. Karena filmnya dibikin dengan sensitif dan filmnya berakhir dengan rewarding.
Oke. Daripada para kritikus itu nggak mudeng (Marah? Terserah! Kami memang pintar lagi sombong). Lebih baik kami jelasin dengan lebih gampang. Film-film tersebut memang memprovokasi pikiran dan nilai-nilai yang kami anut pas nonton. Capek otak kami diputer-puter, dibentur-benturkan. Tapi pada akhirnya kami dipaksa buat membuka wawasan. Karena banyak argumen-argumen yang cerdas yang nggak bisa dianggap angin lalu dalam film-film di atas. Hasilnya, biarpun kami nggak mesti harus selalu setuju dengan nilai-nilai yang dianut film-film tersebut, tapi kami dapat wawasan yang lebih luas. Singkatnya, kami dapat pencerahan.
Tapi, I Love You, Om nggak punya penawaran apa-apa selain citarasa yang ancur (BTVBW. Atau Bad Taste in a Very Bad Way). Ini adalah film yang pinginnya jadi provokatif dan menawarkan “cerita yang tak biasa”, tapi akhirnya cuma terpeleset dan jadi sepotong eksploitasi.
Semua yang ada di dalam plot seakan cuma dimasukkan buat mencari sensasi saja. Anak umur 11 tahun jatuh cinta sama laki-laki umur 35 tahun, yang ceweknya jadi lesbian. Kenapa nggak sekalian ibu si anak kecil itu datang dan nawarin supaya laki-laki itu menidurinya aja ketimbang anak kecilnya? Atau pacarnya yang lesbi itu diperkosa fotografernya? Atau laki-laki itu dibikin mati ketabrak? Oh maaf, ternyata ini memang ada di dalam cerita I Love You, Om…
Kalau anda enjoy melihat anak perempuan umur 10 tahun menyumpel-nyumpel dadanya yang memang belum ada (oh my God…) buat datang ke diskotek, mungkin ini adalah film untuk anda. Anda juga dapat bonus: art direction yang cheap dan tasteless, bad acting, and ke-amatir-an total.
Trivia: Sakurta Ginting yang annoying di Mendadak Dangdut, di sini annoying x 100. Oh, somebody please get Desta a new manager karena manejernya ngebiarin dia muncul di sini. And The Upstairs? Oh… my… God…
Yang lain, please stay away from this. If you like this movie, don’t ever read our reviews ever again. Please.

Pemain: Restu Sinaga, Rachel Amanda, Karenina, Desta, Ira Wibowo
Sutradara: Widi Widjaya
Penulis: Aviv Elham
Kru lain tidak layak disebutkan di sini
Produser: Jeremias Nyangoen, Widi Widjaya
Produksi: Gunja Films
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:03 am
Rudy Sudjarwo mendadak buat film yang sutingnya mendadak selesai. Setelah selesai nonton, saya mendadak yakin bahwa masa depan perfilman Indonesia yang cerah masih sangat jauh. Ketika para “kritikus” mendadak memuji-muji film ini, saya mendadak yakin bahwa perfilman Indonesia yang berkualitas memang masih sangat jauuuuh…
Pertama saya harus mengacungkan jempol kepada filmmakernya yang memutuskan untuk membuat film dengan bujet serendah mungkin, karena jujur saja, film-film mahal seperti Apa Artinya Cinta? membuat pembantu saya, Bik Jesika (sumpah itu memang namanya), selalu kena serangan jantung setiap kali dia mendengar nilai bujet film itu dari saya.
“Tiga puluh milyar, Bik!”
“Oooh….!”
“Tiga puluh milyar!”
“OOOOOOOOHHHHH….!”
“Tiga puluh mi…”
BRUK!!! Bik Jesika pun terjatuh.
Ok. Kembali ke Mendadak Dangdut. Filmmakernya punya niat dan usaha yang terhormat. Tapi masalahnya (berbeda dengan life in general di mana yang paling penting adalah proses), dalam bidang seni yang paling penting adalah RESULT. Siapa peduli Marquis de Sade nulis novel dengan menggunakan tokainya sendiri. Hasilnya toh luar biasa sinting dan jenius. Siapa peduli Bik Jesika ngerajut sweater (switer, kalo katanya) dengan menggunakan benang bekas. Hasilnya cantik bener. Siapa peduli Rudy Sudjarwo men-shoot film ini hanya seminggu atau sewindu. Yang penting hasilnya. Tapi, apakah Mendadak Dangdut hasilnya bagus?
Mari kita kesampingan kenyataan bahwa camerawork Mendadak Dangdut (yang dikerjakan oleh Rudy sendiri) terlihat mirip besutan adik saya Viktor yang baru aja masuk SMA di Jalan Brawijaya. Kalo pas nonton film dia, saya secara nggak sengaja selalu berkomentar, “Ke kiri dikit, Vik. Yak! Ke kanan dikit. Nah!” Dan ketika melihat adegan di salah satu filmnya yang berjudul “Mengejar Maling Sendal” saat bintang utamanya, Bik Jesika (bless her), berlari mengejar-ngejar penjahat, tiba-tiba saya merasa sedang naik perahu yang lagi disundul-sundul ikan hiu dari bawah. Bikin mual. Adegan Petris dan kakaknya berlari dari kejaran polisi di Mendadak Dangdut juga terasa begitu.
Tapi camerawork adalah masalah Mendadak Dangdut yang terkecil. Titi Kamal sebagai Petris di gelandang kanan, ketimbang membuat penonton berempati padanya, kita malah pengen nampar. Dalam tiap adegan, kalau dia tidak marah-marah, ya dia nangis. Nggak ada subtlety. Tapi mungkin ini bukan kesalahan Titi doang. Skrip Mendadak Dangdut memang secara emosi terasa selalu mendadak . Tidak ada journey (kami tidak pernah se-setuju ini dengan TEMPO). Skripnya juga yang membuat aktor cilik Sakurta Ginting, yang mempesona di Rindu Kami PadaMu-nya Garin Nugroho, di sini jadi sangat annoying. Pertama kali dia mengomentari susu Petris, masih agak lucu. Kedua kali udah annoying. Setelah berulang kali, filmnya jadi terasa tasteless dan sangat mengganggu.
Mendadak Dangdut bukannya tidak memilki momen-momen di mana joke-nya kena. Dan lagu Jablai memang sangat catchy (kudos to Andy Rianto). Tapi ternyata Mendadak Dangdut hanya mengandalkan Jablai untuk jalan. One-joke movie nggak pernah berhasil. Apalagi one-song movie. Dan hanya karena seorang filmmaker mau membuat film dengan subject matter yang corny, bukan berarti filmnya bisa digarap dengan corny pula. Siapa bilang West Side Story atau Saturday Night Fever nggak corny? Tapi keduanya well-made dan berhasil jadi tontonan yang asik dan berkelas. Satu hal yang paling berhasil dari Mendadak Dangdut: membuktikan bahwa dibutuhkan good taste untuk membuat film tentang bad taste.

Pemain: Titi Kamal, Kinaryosih, Dwi Sasono, Sakurta Ginting.
Sutradara: Rudy Sudjarwo
Penulis: Monty Tiwa
Kameraman Rudy Sudjarwo
Art: Wiendy Widasari, Jacqueline T. Slamet, Gita Nasution
Editor: Rudy Sudjarwo, Adjeng MJ, Khristo Damar Alam
Musik: Andy Rianto
Sound Designer: Adityawan Susanto, Trisno
Produser: Novi Christina, Mitzy Christina
Produksi: Sinemart Pictures
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:03 am
Sejak membaca sinopsisnya, kami tahu kami akan menyukai film ini: simpel, jelas, menarik, yang mengingatkan kami pada film Janji Joni. Setelah menontonnya, saya dan Dodi keluar dari bioskop dan diam untuk beberapa saat. Tanpa komunikasi, kami tahu apa yang ada di kepala satu sama lain: ada beberapa hal yang ngeganjel, tapi kami tetap ingin menyukai film ini.
Untuk memulainya, cerita tentang seorang screw-up yang diberi tugas mencari seekor ayam sebagai maskot perusahaan kecap milik bapaknya yang sekarat adalah formula klasik yang dijamin bisa membuat penonton tekun untuk mengikuti ceritanya, kalau saja filmmakernya bisa membuat kita tertarik pada perjuangan karakter utamanya. Tapi di sini letak kelemahan terbesar Maskot. Momen-momen yang seharusnya milik karakter utama terlalu sering disabotase karakter-karakter pembantu. Dan saat karakter-karakter pendukung lebih menarik ketimbang karakter utama, sebuah film jatuh dalam suatu kondisi yang disebut deep shit.
Yang mestinya disalahkan adalah casting director yang memilih aktor seperti Ariyo Wahab yang kharismanya nggak cukup ngejeger buat membawa cerita seperti ini. Bahkan kalaupun misalnya tokoh utama dimainkan oleh aktor yang punya star power lebih kuat, dia masih harus berjuang dengan skrip yang memberikan semua poin-poin juicy ke karakter-karakter pembantu. Sementara itu, karakter utama hanya terbawa arus. Dia nggak pernah mengambil keputusan yang membuat plot terus berjalan. (Saya nggak percaya saya bisa secerdas ini).
Untungnya sebagai film yang didesain sebagai komedi, ada banyak sekali saat-saat yang bisa membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak. Bahkan kalau kelucuan bisa lebih konsisten sepanjang film, Maskot bisa jadi lebih berhasil ketimbang film komedi yang satunya lagi: Berbagi Suami. Kekuatan Maskot terletak di comedic timing yang umumnya pas banget.
Kami juga menyukai dan mendukung film ini karena tidak mencoba untuk berpura-pura menjadi lebih berat dari yang sebenarnya. Tidak ada nilai pretensius dalam film ini. Saat film-film lain terjebak dengan tema-tema besar tapi jatohnya ringan kayak bulu ayam, film ini hanya mencoba untuk bercerita.
Dari segi teknis, film ini adalah gabungan dari hasil kerja yang serius dan yang setengah-setengah. Jatohnya mungkin sepertiga serius. Computer-generated Images (CGI) dalam film ini bisa dicatat sebagai CGI yang paling bagus dari semua yang pernah dibikin di film Indonesia. Sayangnya, ini nggak didukung dengan sinematografi yang bisa dibanggakan. (Ya, kami memperhatikan aspek rasio layar lebar film ini yang sudah seperti film-film Hollywood). Apalagi dengan editing yang nggak cukup mulus dan seharusnya bisa memotong banyak bagian-bagian yang berpotensi untuk membuat pikiran penonton melayang ke lain tempat.
Akting para pemain juga sangat jomplang antara yang bagus banget (Butet Kartaradjasa, Epy Kusnandar) dan yang jelek banget (aktor-aktor yang jadi direksi, plis deh). Sementara itu, Ariyo Wahab dan Uli Auliani di peran utama cuma sebatas biasa-biasa saja.
Tapi, film ini adalah film yang sangat layak untuk ditonton ketimbang kebanyakan film-film Indonesia belakangan ini. Dan adalah hasil kerja yang terhormat dari para filmmaker dengan perusahaan barunya.
35mm/Berwarna/118 menit
Sutradara: Robin Moran
Produser:
Ari M. Syarif & Robin Moran
Penulis: Joko Nugroho & Ari M. Syarif Director of Photography: Faozan Rizal Editor: Wahyu Ichwan Diardono & Robin Moran
Art: Kekev Marlov
Music: Bobby Suriadi
Produksi: Random Pictures
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:02 am
Sebelumnya kami minta maaf karena terlambat me-review Ekskul. Masalahnya, iklan film ini di berbagai media dari TV sampai friendster bilang:
“25 juta Pelajar telah menunggu film ini untuk diedarkan”.
Kami takut harus mengantri lama (saya lagi asam urat, Dodi masih nggak bisa ngelurusin kaki setelah pertama kali fitness, dan Nanda lagi di Cannes!), makanya kami menunggu sampai kemaren. Ternyata kami nggak harus ngantri, tapi sempet nggak jadi nonton di pertunjukan sore karena ada cewek SMA yang tiba-tiba bilang, “Sinema Indonesia, ya?” (kami menyesal menaruh foto kami di website). Dodi buru-buru ngajak cabut sementara saya sudah mau ngajak nonton bareng (ceweknya cakep banget).
Anyway, kembali ke Ekskul. Sebelum kami nonton, kami mendengar banyak berita bagus tentang film ini. Kami senang mendengarnya. Berbeda dengan kepercayaan orang banyak, kami selalu berharap film Indonesia yang kami tonton itu bakal bagus. Kami selalu mulai dari nilai 5 bintang. Lalu kami kurangi sedikit demi sedikit setiap kali Dodi bilang “Bete.” Atau tiap kali dia ngajak pulang.
Koya Pagayo kali ini kelihatannya puas dengan hasil karyanya karena PD untuk memakai nama aslinya, Nayato Fio Nuola (terakhir kali dia menggunakan nama aslinya adalah di film pertamanya, The Soul). Skrip disuplai oleh Eka D. Sitorus yang selama ini dikenal sebagai pelatih akting di banyak film Indonesia. Ekskul bercerita tentang seorang pelajar SMA bernama Joshua (Ramon Y. Tungka) yang selalu jadi sasaran cemoohan (bahasa susahnya ‘object of ridicule‘) anak-anak lain di sekolahnya. Sementara itu di rumah, dia selalu ditinju dan ditendangi bapaknya. Suatu hari, Joshua Snaps dan menyandera anak-anak yang selalu mengerjainya di ruangan BP dengan menggunakan sebuah pistol.
Seperti yang kami bilang di “Coming Soon”, kami berharap film ini bisa jadi sebuah film “guilty pleasure“. Sayangnya, film ini terlalu serius menanggapi dirinya sendiri. Jadinya, menonton Ekskul serasa makan malam dengan Angelina Sondakh dan mendengarkannya berbicara tentang kebanggaannya menjadi anggota DPR dan duta orang utan. Anda ingin pergi dari situ, tapi nggak enak sama orang utannya.
Film dibuka dengan menjanjikan dengan Ramon yang mengunyah scene dengan gape. Kami sangat terkesan dengan penampilan Ramon di sini, jauh dibandingkan waktu dia masih di MTV. Dan sebenarnya, kami rasa Eka Sitorus pada umumnya berhasil melatih akting para pemain Ekskul. Ironisnya, akting para pemain yang sudah baik sering disabotase oleh skenario yang dibikin oleh Eka sendiri. Di sampingnya strukturnya yang nggak berhasil, tak lama setelah film mulai, beberapa karakter yang jahatnya seperti Leli Sagita mulai bermunculan, termasuk karakter kepala sekolah yang lebih mirip tokoh antagonis dari Tersanjung 6, lengkap dengan penggosok kukunya.
Film Ekskul juga punya kesamaan dengan anti-masterpiece Hanny Saputra, Heart. Kalau film Heart berusaha menarik simpati penonton dengan membuat tokohnya sakit-parah-sebentar-lagi-mati, Ekskul juga mengambil jalan pintas untuk membuat kita kasihan sama tokoh Joshua. Joshua digantung di gerbang sekolah, kepalanya dimasukkan ke toilet, ditunjuk-tunjuk sambil diketawain dalam slow motion, dan perlakuan-perlakuan yang terlalu outrageous lainnya. Mungkin aja terjadi sih, tapi demikian juga halnya dengan Mayang Sari dan Halimah pergi arisan bareng naik bajaj sambil haha hihi. Mungkin aja terjadi, tapi bakalan aneh dan bakal mengecewakan banyak orang karena kebanyakan kita pengen showdown terus berlanjut.
Dengan berat hati, karena demerit di atas, mari kita kurangi film ini setengah bintang menjadi 41/2.
Terus, hanya beberapa menit setelah opening yang menjanjikan, Nayato nggak bisa nahan buat nggak memakai gaya editingnya yang overblown dan annoying. Sering kali kita nggak bisa melihat ekspresi pemainnya karena gambarnya maju mundur, tiba-tiba slow motion, fast motion, dikasih-kasih flash, dsb. Mungkin maunya kayak Natural Born Killers, atau Buser. Untuk ini, terpaksa kami kurangi setengah bintang lagi menjadi 4 bintang.
Yang paling bikin kami menganga, kok hari gini masih berani-beraninya bikin film dengan soundtrack curian? Saya kira filmmaker yang paling beruntung di Indonesia adalah para filmmaker dari Indika Entertainment. Sementara filmmaker lain (bahkan yang dari MultiVision) sibuk bikin music score, mereka tinggal ngopi dari CD atau MP3, dari mulai Hans Zimmer sampai Danny Elfman. (Kami yakin para kritikus di KOMPAS tidak tahu soal ini dan sekarang pasti lagi bengong dan malu tahu ini dari kami. Hi hi hi hi…). Karenanya, harus kita kurangi satu bintang menjadi 3 bintang.
Sebenarnya, kami selalu memaafkan hal-hal kecil di film Indonesia. Makanya kami tidak mengurangi bintang lagi sekalipun banyak yang janggal, seperti kenyataannya bahwa seluruh kru yang terlibat pembuatan Ekskul tidak bisa menghitung (1 +1 =1), dan the fact that seseorang yang punya poster-poster film Michelangelo Antonioni, Gus Van Sant, dan Jean-Luc Godard bisa jadi seorang loser. Gimana Dodi yang cuman punya poster-poster film Tinto Brass.
Tiga bintang. Wow. Lupakan Hanung Bramantyo. Koya Pagayo’s coming to FFI.
Sayangnya di akhir film ada sesuatu yang bener-bener bikin Dodi lari keluar sambil teriak, “TIDAAAAAAAK…!!!”. Sebuah tulisan berisi pesan dari filmmakernya yang harus anda baca sendiri, yang membuat film ini jadi super-pretensius, sebuah sifat yang berasosiasi kental dengan Bang Oma, dan beberapa penceramah agama/TV personality/bintang iklan. Maaf, kami terpaksa mengurangi 5 bintang dari film ini. Makanya nilai akhirnya menjadi 2 kancut. Wahai filmmaker film Ekskul, maafkanlah kami.

Berwarna, 90 menit
Pemain: Ramon Y. Tungka, Metha Yunatria, Sheila Marcia, Indra Brasco, Teguh Leo.
Sutradara: Nayato Fio Nuola
Penulis: Eka Dimitri Sitorus
Art: Koesnadi WS
Editor: Aziz Natandra
Musik: Curian
Produser: Shanker RS. Bsc.
Produksi: Indika Entertainment
Category: Review
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:02 am
Kalau saja Belahan Jiwa dirilis akhir Desember sebagai film penutup tahun 2005, pasti film ini akan bisa lebih dikenang sebagai film yang menyimpulkan situasi perfilman Indonesia tahun ini: A joke. A very, very bad joke.
Paling tidak, Belahan Jiwa akan diingat sebagai film di mana serombongan aktris-aktris papan atas Indonesia melakukan career suicide secara massal. Dan bunuh dirinya bukan sesederhana mengiris pergelangan tangan. Ini bunuh diri yang sangat menyakitkan. Misalnya dengan mengunyah puluhan paku payung, diikat lalu digelitikin selama setengah jam sampai lemes, dipaksa nonton sinetron selama 48 jam nonstop, dimasukkan ke dalam sebuah ruangan penuh dengan pembawa acara infotainment yang cara ngomongnya semua sama, dipangku sama Gus Dur, lalu diceburkan ke dalam kolam penuh ikan piranha.
Review ini adalah pendapat saya pribadi karena Dodi Mahendra yang belum pulih dari trauma setelah menonton Apa Artinya Cinta?, sekarang gila setelah menonton Belahan Jiwa. Saya harus mengurungnya di rumah karena dia menolak untuk keluar dengan memakai celana. Kasihan dia.
Apapun yang telah anda lalui di dunia ini tidak akan cukup mempersiapkan mental anda untuk menonton film ini. Di infotainment, Raam Punjabi bilang bahwa dia memproduksi Belahan Jiwa untuk memberikan sesuatu yang berbeda kepada penonton. Bapak Raam, kalau kami bilang kami bosan sama sayur asem, bukan berarti kami terus mau makan sop laler ijo.
Belahan Jiwa dibuat sebagai psychological drama. Rachel Maryam, Dinna Olivia, Marcella Zalianty, dan Nirina Zubir adalah sahabat karib yang menganggap mereka semua adalah soulmates. Perempuan-perempuan ini bukan seperti tokoh-tokoh yang di Sex and the City, karakter-karakter di Belahan Jiwa adalah orang-orang yang tidak ingin anda temui di dalam hidup anda. Ada pelukis gila yang suka melukis dengan darah yang selalu teriak-teriak, ada juga arsitek dengan wig berwarna biru yang yang bisa bikin mimpi buruk. Semua elemen di film ini dimasukkan semata-mata sebagai shock value. Ada anak kecil diperkosa oleh bapaknya sendiri, ada perempuan yang menggugurkan kandungan supaya darahnya bisa dipakai untuk melukis, dan beberapa lagi. Semua dilakukan dengan tidak bertanggung jawab. (Di rumah duka, mana ada orang Batak nyanyi lagu Butet).
Skrip yang ditulis sendiri oleh Sekar penuh dengan dialog yang menggelikan, baik disengaja atau tidak. Alexander Wiguna yang memerankan love interest dari semua perempuan di film ini adalah korban yang paling parah. Para filmmakernya pasti sadar bahwa dia tidak punya karisma dan kemampuan akting yang cukup untuk membawakan karakternya. Hasilnya, Alexander jadi bahan tertawaan para penonton (bahasa Inggrisnya, the object of ridicule, gitu loh). Marcella Zalianty masih memainkan karakternya sama seperti dia bermain di film-film sebelumnya. Sementara Dian Sastro seolah-olah berakting sebagai… Dian Sastro.
Dan musik yang dibuat oleh Andi Rianto (oh my God, the music) lengkap dengan skor “jeng jeng jeng” yang sangat corny. Seolah-olah efek visual yang hampir membuat Sadako keluar dari layar belum cukup.
Film ini diregangkan sampai akhir untuk sebuah twist besar (yang tak orisinal) yang ketika dibuka hanya akan menghasilkan reaksi “heh?”, “oke deeeh”, atau “whaaaat?”? dari penonton. Atau hanya membuat penonton menguap.
Saya suka film psychological thriller karena saya suka pikiran saya dipermainkan oleh film, tapi pada akhirnya, film-film ini selalu memberikan sesuatu kepada saya sebagai penghargaan. Belahan Jiwa tidak memberikan apa-apa kecuali trauma, lihat saja teman saya Dodi.
Kelihatannya, Sekar Ayu Asmara membenci dunia dan dia ingin menyiksa kita semua. Gawatnya lagi, dia menemukan partner in crime se-powerful Raam Punjabi. Lari, dan selamatkan diri anda.

Pemain: Dian Sastrowardhoyo, Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Dinna Olivia, Nirina Zubir, Indah Kalalo, Alexander Wiguna. Sutradara/penulis: Sekar Ayu Asmara. Durasi: 91 menit.
Category: Review
Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:01 am
Paranomal Ki Kusuma meng-carpe-diem-kan mimpinya untuk jadi action star. Hasilnya, muncullah Constantine chubby Indonesia dengan kumis tipis mempesona siapapun yang memandangnya. Kalau Constantine versi Keanu Reeves harus melawan malaikat-malaikat sesat dan Lucifer himself, Ki Kusuma (yang memerankan tokoh dengan nama Mas Adi Kusuma) mesti berjuang lebih berat karena mesti melawan Torro Margens dengan ultra-annoying mode *on* dan sekelompok perempuan berpakaian hitam dengan kacamata cengdem (se-ceng ngadem) dan bedak yang cemong-cemong. Scaaareey…
Mas Adi yang bisa berlari vertikal di dinding, bisa jadi invisible, mesti menjinakkan bom, menghentikan usaha Torro Margens untuk menguasai dunia. Berat. Tapi toh Mas Adi masih sempat sholat lima waktu. Bahkan dia sempat sholat di atas air di kolam renang (iseng banget kan?). Sementara itu, adu kesaktian di antara jagoan-jagoan ini terlihat seperti adu kekuatan visual effect yang diciptakan dengan komputer-komputer ber-processor 486.
Salah satu film terburuk yang pernah dibuat di bumi, dan mungkin di neraka.
Oh, filmmakernya bilang film ini ratingnya adalah ADULT PG-17. Harap dibaca: Tidak direkomendasikan untuk penonton dengan IQ di atas 17.

Betacam SP, transfer ke 35mm
Berwarna (tapi ancur), 90 menit
Pemain: Ki Kusuma, Torro Margens, Marcellino, Kiki Amalia.
Sutradara: Purnomo A. Chakil
Penulis: Tisa TS dan Tim Creative PKP
Art: What Art?
Editor: What Editor?
Musik: Menurut Lo?
Produser: Ki Kusuma
Produksi: Putra Kusuma Productions
Category: Review