Sinema Indonesia

Inikah Rasanya Cinta (2005)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:43 pm

Maaf, kami tidak akan menghabiskan waktu menulis review panjang tentang salah satu film terburuk yang pernah dibuat manusia ini. Di-syut dengan video dengan segala akal-akalan, akting, dan atmosfer sinetron. Semua yang terlibat dengan produksi ini harus dipenjara. (Ntar dulu, mereka semua sekarang sedang dipenjara!).

Sutradara: Ai Manaf. Skenario: Mia Amalia, Bhudita Arini. Pemain: Allysa Soebandono, Gilbert Marciano, Fedi Nuril. Durasi: 90 menit.

Leave a comment

Category: Review

Dealova (2005)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:43 pm

Biarpun banyak yang bilang kami adalah orang-orang sinikal, sebenarnya kami adalah dua orang optimistis. Setiap kami akan menonton film Indonesia termasuk Dealova kami selalu berpikiran positif walaupun tanda-tanda film ini akan jadi jelek sudah kelihatan:

a. lihat posternya. Website kami saja jadi terlihat corny karena ada posternya.

b. judulnya nggak ada hubungannya sama ceritanya.

c. diangkat dari satu lagi teen-lit yang best seller.

d. sehari sebelum menonton, Ferry Siregar mimpi dikejar-kejar komodo.

Tapi toh kami tetap berharap Dealova akan menjadi sebuah mahakarya yang akan membuat kami mulai memborong semua teen-lit, chick-lit, selu-lit terbitan Gagas Media dan penerbit serupa di Gramedia.

Tapi ternyata, kami masih harus menunggu lebih lama lagi.

Oke, kalau ngomong soal cerita, plot di film Dealova cukup untuk dibuat tiga film teen-lit. Seorang cewek SMA bernama Karra bertemu dengan seorang cowok pendiam dan ketus yang bernama Dira (ini karakter yang mesti ada di semua film remaja di Indonesia) yang selalu menghinanya. Sementara itu, Karra diperkenalkan oleh kakaknya dengan salah seorang personil band-nya (sejak Janji Joni, semua film remaja juga mesti punya adegan main band) yang bernama Ibel.

Dira yang juga anak baru di SMA Karra, dimusuhi oleh siswa-siswa lain terutama oleh satu geng yang diketuai oleh seorang siswa yang bertampang super culun yang juga gemar memakai narkoba.

Ibel ternyata naksir Karra, tapi pada saat yang bersamaan, kebencian Karra terhadap Dira tumbuh menjadi cinta. Tapi ternyata ada twist yang sangat orisinal. Apakah itu? Ya ampun, ternyata Dira sakit parah dan nyawanya tinggal sebentar lagi. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Siapa yang peduli?

Kalau anda ingin membaca komentar panjang tentang kelemahan skenario, kami hanya cukup meng-copy-paste komentar-komentar kami atas film-film teen-lit lain. Dari segi teknis, film yang disyut menggunakan kamera High Definition video ini hanya membuktikan bahwa filmmaker yang tidak begitu paham tentang digital video seharusnya tidak lagi berani mencoba-coba memakainya. Sebaiknya bikin film dengan menggunakan film seluloid saja. Kualitas gambar yang ditampilkan Dealova bahkan lebih buruk dari kamera Video8 yang digunakan Ferry Siregar waktu dia masih SMP. Dari segi penyutradaraan, sutradara Dian Sasmita boleh dikatakan punya nyali super gede untuk mencantumkan kata-kata “A Film By Dian Sasmita” di posternya. Kalau saya jadi Dian, saya akan menggunakan nama samaran, mungkin dengan menggunakan anagram Namita Sasdi (wah, boleh juga tuh). Shot-shot yang ditampilkan tidak pernah jelas motivasinya.

Ketika kami memutuskan untuk duduk sampai credit title selesai, kami kaget membaca bahwa musik untuk film ini dikerjakan Addie MS dengan Australian Philarmonic Orchestra (!) Kalau saya jadi Addie MS, saya mungkin akan menggunakan nama samaran. Mungkin dengan menggunakan anagram: Die, I’m Sad. Scoring yang dibuat Addie MS jelas terlalu ambisius dan salah tempat untuk film anak bawang seperti ini.

Di websitenya, sutradara film ini, Namita Sasdi, mengatakan bahwa ini adalah film tentang kesempatan kedua. Hmmm… kami ragu apakah Namita Sasdi layak diberi kesempatan kedua untuk membuat film.

Pemain: Evan Sanders, Jessica Iskandar, Benjamin Joshua, Rizky Hanggono. Sutradara: Dian Sasmita. Durasi: 105 menit.

Comments (3)

Category: Review

Untuk Rena (2005)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:42 pm

Buat kami, pengalaman nonton Untuk Rena adalah sebuah harapan, kenyataan, dan rock and roll.

Harapan:
Sebelum menontonnya, kata yang muncul dalam pikiran kami adalah: “neo-realisme”, seperti film-film Iran yang juga memakai pemain anak-anak dengan akting yang sangat realistis.

Kenyataan:
(Ini memang agak maksa), film ini tidak “neo” karena film ini terlihat, terdengar, dan terasa seperti sequel Nakalnya Anak-Anak starring Kak Seto bikinan tahun 1980-an. Tidak juga realistis karena semua karakter dalam film ini berbicara seperti di sandiwara TVRI waktu mereka masih syuting pakai film 8mm starring Marlia Hardi.

Rock ‘n Roll:
Di bioskop, kami rasanya ingin melempar batu (rock) ke layar, atau rolling-rolling di karpet.

Ferry Siregar berusaha untuk menelpon Miles Films ketika selesai menonton, karena dia tidak percaya bahwa film ini dibuat oleh sutradara yang juga telah membuat Petulangan Sherina dan Eliana Eliana. Tapi setelah saya mengucap kata “Gie”, Ferry mengurungkan niatnya.

Untuk Rena adalah film anak-anak yang nyaris tanpa keceriaaan anak-anak. Film ini terasa hanya sebagai sebuah mekanisme untuk memanfaatkan momen pasar.
Skenario yang ditulis Key Mangunsong dari cerita Riri Riza penuh dengan dialog-dialog fabrikasi dengan bahasa seperti text-book bahasa Indonesia waktu kami masih SMP, dengan plot yang menimbulkan kebingungan seperti setelah menonton film David Lynch (catatan: ini bukan pujian).

Surya Saputra berperan sebagai seorang laki-laki bernama Yudha yang datang ke sebuah panti asuhan. Anak-anak di panti itu, diketuai oleh seorang anak perempuan bernama Rena, curiga kalau Yudha datang untuk mengambil salah seorang dari mereka. Ketimbang berfokus pada premise yang menjanjikan, cerita berjalan tanpa konsistensi. Rena yang paling keras menentang keberadaan Yudha, jadi malah yang paling sering bepergian dengan Yudha, tanpa alasan yang cukup kuat.

Keberadaan pemain anak-anak di film ini hanya ditampilkan untuk menimbulkan cute factor. Anak-anak ini memang cute, sayang skenario hanya memberi dialog-dialog yang membosankan.

Satu-satunya karakter yang mengesankan adalah rekan kerja Yudha yang diperankan Nobuyuki Suzuki yang “steal the show”. Biar sajalah. Show-nya juga nggak menarik-menarik amat.

Katanya, film ini ditujukan sebagai tontonan keluarga sambil menunggu berbuka puasa. Bagus, karena ketika menonton film ini, banyak yang akhirnya melakukan ibadah: tidur.

Semua elemen: penyutradaraan, musik, sinematografi, art, bisa digambarkan hanya dengan satu kata: generik. Kalau obat generik lebih afdol diberikan di puskesmas, Untuk Rena lebih pas untuk ditayangkan di televisi saja. Eh, Miles Films itu kan yang bikin Rumah Ketujuh, bukan? Hmmm… Berarti menonton Untuk Rena adalah sebuah Harapan, Kenyataan, Rock ‘n Roll, dan… DEJA VU.

Pemain: Maudy Ayunda, Surya Saputra, Karlina Inawati, Nobuyuki Suzuki. Sutradara: Riri Riza. Durasi: 104 menit.

Leave a comment

Category: Review

Tentang Dia (2005)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:42 pm

Rudy Soedjarwo rupanya ingin membuktikan kepada orang-orang yang meremehkannya bahwa dia adalah sutradara dengan visi yang besar. Dia pun membuat film dengan konsep yang besar. Hampir setiap scene diambil dalam satu shot. Hasilnya, kadang dia berhasil, namun lebih sering gagal.

Cerita tentang seorang perempuan dengan hati yang sedang luka yang mendapat teman seorang perempuan pelayan warung yang (lagi-lagi) ternyata sakit parah, gagal menarik simpati penonton karena skrip yang lemah, yang diangkat dari cerita pendek karangan Melly Goeslow. Sayang sekali, akting dari aktor-aktornya sudah lumayan bagus, terutama Adinia Wirasti yang sangat menjanjikan. Rudy Soedjarwo seharusnya tidak berusaha membuktikan apa-apa, selain bercerita.

Sutradara: Rudy Soedjarwo. Skenario: Titien Wattimena. Pemain: Sigi Wimala, Adinia Wirasti, Fauzi Baadilla.

Comments (1)

Category: Review

Panggil Namaku 3X (2005)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:42 pm

Tadinya kami berpikir bahwa ini adalah film porno karena kami kira judulnya adalah kependekan dari “Panggil Namaku XXX”. Ternyata kami tidak seberuntung itu. Yang kami dapatkan adalah setan perempuan yang harus masuk ke tubuh seorang cewek SMA untuk bisa membalas dendam karena diperkosa di toilet sekolah. Agak aneh. Karena ketika kami masih SMA, untuk merokok sebatang bertiga saja selalu ketahuan.

Anyway, film kesekian dari Koya Pagayo ini tidak menunjukkan sedikitpun kemajuan (mungkin dia harus cari nama palsu lagi, dan mulai dari awal lagi). Kami akui, kine transfer (proses transfer dari video ke seluloid) film ini lebih bagus dari film-film Indonesia lain yang menggunakan proses serupa. Tapi cerita yang ditawarkan penulis skenario (salah satunya adalah Anggie yang main di film Virgin), sangat tidak segar (basi gitu, low), ditambah dengan dialog-dialog yang mengundang komentar “oke, deeeeh” (bahasa Inggrisnya “Oh, pleease…”). Sepertinya tidak ada keinginan untuk membuat film ini terasa sepserti terjadi di dunia nyata.

Cerita dibuka dengan pengenalan seorang cewek pintar yang cupu, yang dijuluki: Si Cupu. Sebelum kami melanjutkan, kami mau tanya: kenapa sih karakter-karakter cupu di film Indonesia mesti diperankan oleh aktor atau aktris yang sebenarnya cakep dan cukup hanya dengan membuka kaca mata atau melepas rambut mereka jadi karakter cakep? CUPU BANGEEET! Kenapa nggak mencontoh metamorfosa Barbra Streisand di film The Mirror Has Two Faces? Itu baru tantangan!!

Anyway, Si Cupu selalu ditindas oleh cewek-cewek cakep yang selalu minta dibikinin PR. Sampai akhirnya ada hantu perempuan yang menawarkan jasanya untuk melawan para penindasnya, hanya dengan memanggil nama hantu itu tiga kali. Hasilnya, Si Cupu menjadi lebih percaya diri dan berani memakai make-up sehingga cowok populer di sekolahnya naksir padanya.

Gerakan kamera yang ditata sendiri oleh Koya Pagayo dan Dharma You (memang, nama-nama kru di film Pagayo selalu aneh-aneh. Kami curiga itu semua adalah nama palsu Koya Pagayo) membuat kami merasa mual. Setan perempuan yang selalu muncul dengan musik JENG JENG JENG! tidak membuat kami takut tapi sebal.

Di tengah-tengah, film agak menarik karena jadi sadis. Si Cupu dihajar sampai babak belur di kamar mandi sekolah (lagi), dan ada pertarungan antara si Cupu dan Si Cakep yang memakai sling seperti film silat. Yang kurang hanyalah tendangan ala Eva Arnaz dengan kolor merah jambu yang kelihatan (dan bulu ketek, tentunya). Tapi menuju akhir, filmnya mencoba untuk jadi serius lagi.

Musik di film ini sangat mengganggu. Nama komposer musiknya Kenz Mocci, seperti nama-nama palsu di film Vivid Interaktif yang biasa kami tonton. Hebatnya, beberapa music score jelas-jelas diambil dari film luar. Aduh, betapa memalukannya kalau film ini masuk festival film internasional (Crap-Fest Film Festival ada nggak, ya?)

Film yang katanya dibuat berdasarkan kisah nyata ini, dirilis dengan warning buat perempuan-perempuan hamil. Kalau tertawa karena nonton film jelek memang berbahaya buat ibu-ibu hamil, memang sebaiknya jangan menonton film ini.

Pemain: Hayria Lontoh, Rionaldo Stockhorst, Nita Ferlina, Raffi Ahmad. Sutradara: Koya Pagayo.

Comments (2)

Category: Review

Me Vs. High Heels (2005)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:41 pm

FYI, chick-lit adalah novel tipis dengan template cerita sebagai berikut: seorang cewek tomboy naksir cowok yang suka cewek feminin. Variasinya bisa didapat dengan mengganti posisi kata-kata di atas. Itu saja.

Film ini berada di titik nadir perfilman Indonesia di mana anda sah-sah saja ingin membunuh semua karakter dalam film ini, sebelum telinga anda dirusak oleh efek suara yang sangat mengganggu. Tidak ada bakat yang bisa dilihat dalam film ini, hanya sekelebat gambar hasil syutingan murah di atas pita video dan skenario yang seperti ditulis anak umur 14 tahun (jangan samakan dengan penulis skenario film Thirteen). Seharusnya judulnya diganti menjadi: Penonton Vs. film Me Vs. High Heels.

Trivia: Sutradara Pingkan Utari dan Nayato Fio Nuola (The Soul) adalah orang yang sama.

Sutradara: Pingkan Utari. Skenario: Maria Ardelia. Pemain: Ayushita, Hengki Kurniawan, Raffi Ahmad, M. Dwi Andika, Ardina Rasti.

Comments (2)

Category: Review

Anne Van Jogja (2005)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:41 pm

Skenario film ini adalah salah satu pemenang lomba penulisan skenario yang diadakan salah satu departemen pemerintah. Salah satu indikasi betapa buruknya pemahaman tentang penulisan skenario, dan pembuatan film di negara ini.

Film tentang seorang perempuan blasteran yang dimainkan oleh Rachel Maryam (yang kelihatan menyesal berada di film ini) yang menderita setelah ayahnya yang Jawa dan kaya meninggal. Dia harus hidup terlunta-lunta bersama ibunya yang orang Belanda (yang belakangan meninggal juga). Melodrama yang membuat penonton menderita, bukan karena terserap filmnya, tapi karena kualitas film ini dari segala sisi yang sangat buruk. Karakter Anne yang waktu kecil berbicara fasih bahasa Indonesia, ketika dewasa (Rachel) malah memiliki aksen (aksenan) Belanda yang sangat kental.

Buruk luar biasa. Seharusnya pemerintah (yang tidak tahu cara membuat film) memberikan dana kepada filmmaker beneran ketimbang buang-buang duit seperti ini. Film yang juga didanai pemerintah sebelum ini: Panggung Pinggir Kali yang sama buruknya. Keduanya di-syut dengan video.

Sutradara: Bobby Sandi. Pemain: Rachel Maryam, Imam Soetrisno, Tutik Budihardjo, Heru Prasetyo. Durasi: 90 menit.

Comments (3)

Category: Review

Bad Wolves (2005)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:40 pm

Jangan percaya dengan judulnya karena Bad Wolves IS NOT bad. Tapi, it’s VERY VERY BAD. Jadi seharusnya judulnya diganti jadi Very Very Bad Wolves. (Kami dengar, Richard Buntario sedang membuat sekuelnya. Mungkin saja dia akan menggunakan judul itu. Oh Tuhan, tolong lah kami).

Bad Wolves dibuka dengan adegan orang-orang berlari ketakutan. (Seharusnya ini yang kami lakukan ketika melihat poster film ini, sehingga kami tidak harus kehilangan dua jam dari hidup kami. Memang hidup kami membosankan, tapi menonton Bad Wolves membuat kami merasa menyesal dilahirkan di dunia). Disusul beberapa adegan panjang penuh dialog yang tak berarti. Richard Buntario mungkin berpikir, selama dia menggunakan beberapa dialog dalam bahasa Inggris, kita akan terkesima. Sayangnya, tak ada satu pun karakter dalam film ini yang mengucapkan kata “wolves” dengan benar.

Bad Wolves bercerita tentang beberapa geng di Jakarta, satu di antaranya menjadi sangat berkuasa karena memiliki drug jenis baru yang diberi nama The Joker. Terus terang, nama drug-nya terlalu keren untuk film kacangan seperti ini. Seharusnya hanya diberi nama “The Wajik”. Sementara itu, ada satu geng yang menjauhi narkoba, namanya Bad Wolves. Karena menolak mengedarkan narkoba, Bad Wolves difitnah sehingga dikejar-kejar geng se-Jakarta. Kalau dunia ini memang adil, seharusnya filmmaker film ini dikejar-kejar penonton se-Indonesia yang merasa tertipu sudah membayar tiket untuk menonton film yang super buruk.

Secara teknis, Bad Wolves hanya lebih baik satu tingkat ketimbang film Richard Buntario sebelumnya, 5 Sehat 4 Sempurna dan Cinta 24 Karat. Adegan perkelahian massal di akhir film, ketimbang membuat kami tertegun, malah membuat kami dan semua penonton di bioskop tertawa terbahak-bahak. Sayang sekali, karena kami melihat banyak pemain di film in memiliki potensi.

Harus kami akui, sequence di mana Bad Wolves harus berkelahi melawan geng-geng yang mengejar mereka, bisa jadi sequence yang menegangkan. Sayangnya, Richard Buntario kelihatan sama sekali tidak mengerti cara men-syut film.

Sekalipun kami sedikit menyesal membuang waktu menonton film ini, kami merasa terhibur setelah membuat review-nya karena kami berpikir telah melakukan sesuatu yang berharga. Kami menonton Bad Wolves, supaya anda tidak perlu menontonnya.

Pemain: Zack Lee, Fathir Muchtar, Sultan Djorghi, Indra Bekti. Sutradara: Richard Buntario

Comments (4)

Category: Review

Mirror (2005)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:40 pm

Di poster, saya tidak tahu, apakah Nirina kelihatan takut karena melihat hantu, atau dia takut dicerca penonton yang menonton film horror yang sama sekali tak seram ini. Yang jelas, film ini adalah mirror-an dari betapa tidak orisinalnya (sebagian besar) film Indonesia.

Mirror bercerita tentang seorang anak SMA bernama Kikan (Nirina) yang terkenal usil menakut-nakuti teman-temannya. Suatu hari, dia dapat indera ke-enam. Kalau dia tidak melihat bayangan orang di mirror, orang itu akan meninggal. Mau tahu bagaimana dia mendapatkan indera keenam itu? Saya tidak akan memberitahu anda karena anda layak tertawa terpingkal-pingkal di bioskop ketika menyaksikannya sendiri.

Anehnya, setelah Kikan punya indera keenam itu, lantas banyak sekali orang di sekitarnya yang meninggal, padahal tadinya dunia baik-baik saja. Oh, dari film ini, kita bakal dapat pengetahuan bahwa penyebab kematian orang di Indonesia hanya dua: gantung diri dan kecelakaan mobil. Helllooo… mbok ya kreatif dikit. Masih banyak cara mati yang lebih menarik, ketelen jarum pas ngejahit celana dalem, kek. Atau kesetrum pas nge-blow rambut, kek.

Terus terang, ide soal mirror itu menarik juga. Tapi kayaknya filmmakernya nggak pede, ngerasa bahwa itu saja nggak cukup buat dijadiin film horror. Maka mereka masukin deh tuh, soal Kikan yang juga jadi punya kemampuan ngeliat orang yang udah mati kayak film Sixth Sense dan The Eye. Kenapa siiii…? Kenapa nggak sekalian aja si Kikan juga bisa ngelihat UFO? Bukan apa-apa, jadinya kemampuan Kikan ngelihat orang mati jadi kayak tempelan banget. (Ada adegan, Kikan ketemu setan anak kecil bawa tangan yang berdarah, yang bilang,”Kak, bisa masangin tangan aku, nggak?” Terus dia ketemu setan lain yang bilang,”Kak, bisa masangin kaki aku nggak?”. Terus dia ketemu banci yang bilang,”Bo, bisa masangin toket ijke, nggak?” Becanda, ding.)

Dialog di film ini sedikit, tapi setiap ada di dialog, yang ada para penonton selalu cekikikan. (Oooo… mungkin karena itu karakter utama film ini bernama Kikan).

Coba saja simak dialog berikut ini:

Kikan : Ibu guru jangan pergi. Kalo ibu pergi, nanti ibu akan meninggal.
Teman Kikan I : Jangan dengerin, Bu. Dia kan terkenal usil. Dia sering pura-pura kemasukan paranormal.
Teman Kikan II : Siapa?
Teman Kikan I : Houdini.
Teman Kikan II : Houdini bukan paranormal, tau.
Teman Kikan I : Jadi apa?
Teman Kikan II : Astronot.
Seisi kelas : Gerrrrrr….

Kita juga jadi tau, kalau kita makan cabe rawit, kita bisa tahan nggak tidur-tidur. Nah, berarti sekarang polisi kalau mau memberantas ekstasi, cukup dengan menyediakan cabe rawit di diskotek-diskotek. Diskotek-nya jadi HOT, tapi drug-free.

Anehnya lagi, Kikan yang takut mati, tapi dia malah baca tabloid sambil nyetir. Bukan buku teen-lit yang kecil, tapi tabloid yang segede-gede bagong, Bo. Ck… ck… ck… Kikan, Kikan. Kau membuatku terus cekikikan.

Pak Hanny Saputra, kalau mau buat film horror, kenapa nggak bikin Virgin 2: Virgins Strike Back atau Virgin 2: Virgin Boogaloo aja? (Nanda Meilani)

Pemain: Nirina Zubir, Jonathan Mulia, Henidar Amroe. Sutradara: Hanny R. Saputra. Durasi: 110 menit

Leave a comment

Category: Review

12:00 AM (2005)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:40 pm

Satu hal yang bisa disyukuri dari film 12:00 a.m., film ini akan mematikan trend film horor kacangan di Indonesia.

Seorang mahasiswi dan pacarnya yang fotografer dihantui oleh hantu perempuan cantik. Tak lama, teman-teman mereka juga dihantui. Dan tak lama, satu per satu mereka mati dibunuh oleh hantu itu yang berubah menyeramkan, merangkak keluar dari karung, dengan asimilasi gaya (gayaan) dari film The Grudge dan Audition.

Film dengan shot-shot dan editing stylish tanpa motivasi dan makna, dengan skenario berkualitas nihil dan akting yang jeleknya mencengangkan. Dijamin akan membuat otak anda keram, tanpa harus menunggu jam 12 malam.

Catatan: Bahasa Inggris menggunakan 12 a.m. Bukan 12:00 seperti bahasa Indonesia. Tapi sudah lah.

Trivia: Sutradara Koya Pagayo dan Nayato Fio Nuola (The Soul) adalah orang yang sama.

Sutradara: Koya Pagayo. Skenario: Ery Sofid. Pemain: Robertino, Olga Lydia, Rionaldo Stockhorst, Inong, Fenita Jayanti. Durasi: 105 menit.

Comments (4)

Category: Review

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com